
Jordan duduk di sofa dengan wajah sedih. Ia tidak menyangka kalau Leona akan bersikap seperti itu terhadap dirinya. Ini sungguh menyakitkan. Bagaimanapun juga Lusya bukan siapa-siapa bagi mereka. Saat pagi tiba Jordan tidak juga tidur. Ia hanya diam di kamarnya sambil menunggu Leona kembali. Namun, sudah semalaman ia menunggu tapi Leona tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan kembali.
Hingga saat pintu terbuka, Jordan terlihat sangat bahagia. Pria itu berjalan ke arah pintu untuk menyambut istrinya.
"Sayang." Jordan segera memeluk Leona dan meminta maaf. Ia tidak mau masalah ini sampai berlarut dan menimbulkan dampak yang buruk bagi pernikahan mereka yang baru berumur jagung.
"Maafkan aku." Leona memeluk Jordan dengan erat. Wanita itu menangis karena tidak bisa memendam kesedihannya sendirian.
Jordan memegang pipi Leona dan menatap wajah Leona dengan saksama. "Kenapa kau yang menangis? Aku yang salah. Seharusnya aku ceritakan apa yang ingin aku lakukan agar kau tidak salah paham."
Leona menggeleng pelan. "Seharusnya aku yang seperti itu. Seharusnya aku menceritakan semuanya tanpa harus menutupi apa yang terjadi."
Jordan menatap wajah Leona dalam-dalam. Ia tahu kalau kali ini Leona tidak sedang bercanda dan berbohong. Wanita itu benar-benar serius.
"Aku tahu Lusya punya niat jahat terhadap kita. Tapi, aku tidak mau mengatakannya kepadamu. Aku tahu semua itu setelah kita tiba di Swiss. Aku ingin mencari bukti kejahatannya. Aku tahu Lusya tidak sendirian, jadi aku ingin tahu siapa-siapa saja yang sudah bekerja sama dengannya. Awalnya aku mengira dia akan merusak bulan madu kita. Tapi, setelah aku tahu dia menggunakan Mommy untuk mengancammu. Aku tidak bisa diam saja. Jadi aku sering-sering mengunjungi kamarnya hanya untuk memeriksa panggilan masuk dan keluar dari ponselnya. Aku sudah menyimpan beberapa nomor namun belum sempat menyelidikinya."
Jordan tercengang ketika mendengar penjelasan Leona. Ia tidak menyangka kalau Leona sudah serapi itu menyusun rencana. Bahkan tanpa mau merepotkan dirinya.
"Jika sampai aku memberi tahumu, akting dan amarahmu tidak lah murni. Itu bisa membuat Lusya tidak tidak lagi percaya padaku. Aku belum selesai melakukan penyelidikan. Bukankah orang licik seperti dirinya seharusnya dihadapi dengan kecerdasan bukan kekerasan?"
__ADS_1
"Maafkan aku sayang. Aku tidak menyangka kalau kau sudah pusing selama ini. Aku juga baru saja mengetahui semuanya beberapa hari ini setelah pihak kapal memberi tahuku identitas pria itu. Dia hanya pria bayaran yang di bayar Lusya untuk memukulnya."
"Aku bahkan tidak tahu."
"Oke, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi, melukai Lusya itu sama saja membuat rekan nya di luar sana menyusun rencana lain."
"Baiklah, untuk sementara di depan Lusya kita terlihat tidak akrab dulu. Dengan begitu kau masih bisa keluar masuk ke kamarnya. Sebelum bulan madu berakhir, kita harus bisa menangkap dalang semua ini."
"Sedikit lagi. Setelah informasinya terkumpul, kita bisa menangkap Lusya. Mungkin saat pulang bulan madu nanti kita tidak bisa tenang beberapa hari. Aku tahu orang-orang jahat ada di sekitar kita."
"Aku tidak merasa sakit hati. Justru aku bahagia karena kita terlihat seperti artis film."
Jordan dan Leona tertawa sambil berpelukan. Mereka yakin, rencana apapun yang sudah direncanakan oleh Lusya pasti bisa dengan mudah mereka hadapi dan selesaikan.
***
Di sisi lain, Oliver berdiri di balkon dengan wajah sedih. Masih terbayang jelas bagaimana Katterine mengusir dirinya tadi. Ia tahu wanita itu sangat trauma. Tapi, Oliver tidak mau di benci oleh Katterine hingga seperti itu.
__ADS_1
"Kau bisa jelaskan semuanya sekarang!" Tiba-tiba saja Zeroun muncul di belakang Oliver. Dengan ekpsresi dinginnya, pria itu memandang ke arah lain tanpa ingin memandang wajah Oliver secara langsung.
"Bos, seseorang telah menggunakan topeng yang mirip dengan wajah saya. Dia membunuh pengusaha di kota ini agar saya menjadi buronan. Berkat bantuan Miller, masalah itu bisa diselesaikan. Tapi, terakhir kali ia menjebak Katterine dan menculiknya dengan menggunakan wajah saya. Saya tidak menyangka kalau semua ini bisa terjadi."
"Hanya segitu kemampuanmu? Apa ini kekuatan yang dimiliki pemimpin Gold Dragon? Kau lupa kalau Gold Dragon sangat keras dan sangat waspada. Kenapa kali ini kau bisa seceroboh ini? Apa jadinya dengan putriku jika tadi malam kau tidak berhasil menemukannya? Apa kau pikir dengan kata maaf bisa menyelesaikan semuanya? Dan pria itu! Semirip apa dia hingga bisa mengelabuhi Katterine yang selama ini sangat waspada."
Zeroun tidak mau menerima penjelasan Oliver begitu saja. Pria itu harus memberi teguran agar Oliver tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
"Bos, saya tahu semua ini kesalahan saya." Oliver hanya bisa menunduk. Ia benar-benar tidak tahu harus berbicara apa lagi untuk membela dirinya kali ini. Posisinya benar-benar terpojokkan.
"Kau harus diberi pelajaran Oliver!" Dengan tangan terkepal kuat Zeroun melangkah maju. Kali ini Oliver sendiri sudah pasrah seberapa sakit dan seberapa banyak Zeroun memukulnya ia tidak akan membalas. Mungkin semua ini memang hal yang harus ia terima karena susah ceroboh menjaga Katterine.
"Jangan lakukan itu, Dad!"
Saat Zeroun mengangkat tangannya ke udara, tiba-tiba Katterine muncul. Wanita itu berlari dan segera memeluk Oliver.
"Jangan lukai Oliver, Dad. Pria itu benar-benar mirip. Katterine yang salah. Seharusnya sejak awal Katterine percaya dengan perkataan Oliver agar semua ini tidak terjadi. Oliver mengajak Katterine ikut bersama dengannya, tapi Katterine tidak mau."
Zeroun menurunkan tangannya. Ia hanya diam melihat Katterine memeluk Oliver kala itu. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika melihat pemandangan manis tersebut. Oliver memeluk Katterine dan mengakui kesalahannya. Pria itu sudah jauh berbeda dari Oliver si pria es. Kali ini ada kehangatan di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ayah dan anak sama saja!" umpat Zeroun di dalam hati. Ia kembali ingat saat dulu dirinya mengerjai Lukas. Hal yang sangat lucu dan tidak bisa terlupakan begitu saja hingga detik ini.