
Seorang pria sedang memukul samsak tinju tanpa kenal lelah. Hal itu sudah berjam-jam ia lakukan. Dengan wajah yang dipenuhi dendam pria itu tidak peduli dengan kucuran keringat yang kini membasahi tubuhnya. Justru keringat itu membuatnya terlihat jauh lebih gagah karena otot-otot tubuhnya semakin terbentuk.
Pieter membayangkan samsak tinju yang kini ia pukul adalah wajah Oliver. Malam ini ia harus menang. Apapun akan ia lakukan agar ia menang.
Bayang-bayang sang kekasih masih di sisi selalu saja menghantui. Suara langkah kaki dan tawa wanita manis itu membuatnya semakin hari semakin gila. Hanya ada dendam dan emosi yang kini memenuhi pikiran Pieter.
Hanya ada satu pemenang malam ini. Jika pieter harus kalah, maka ia lebih memilih mati saja malam ini. Baginya akan jauh lebih bahagia pergi dan menemui orang yang ia cintai dari pada tetap hidup dalam kesendirian.
"Pukulan yang bagus!"
Suara seseorang yang berada di belakang pieter membuat pria itu menghentikan gerakannya. Dia berbalik dan melihat Zeroun. Zeroun berjalan mendekat. Pria itu berpakaian layaknya pemimpin geng seperti waktu masih muda dulu. Ia memberikan senyuman terbaiknya kepada Pieter sambil menggenggam sebotol air minum.
"Aku tidak memberikan obat apapun di dalamnya," ucap Zeroun ketika memberikan air minum itu kepada Pieter. Pieter segera menerima botol minum itu. Tanpa menunda lagi, ia meneguknya dengan rakus lalu sisanya ia siramkan ke atas kepalanya untuk mendinginkan diri.
Tatapan Pieter beralih pada pria yang berdiri di belakang Zeroun. Kali ini Zeroun tidak datang sendirian, ada Lukas yang menemani.
"Apa Anda membawa seorang ayah yang nantinya akan memohon agar aku mengampuni putranya?" sindir Pieter sambil berjalan menuju ke sebuah kursi kayu.
"Dalam dunia kami tidak ada yang seperti itu. Lukas datang ke sini hanya ingin melihat lawan putranya malam ini. Kau pasti tahu, sebagai ketua mafia Aku tidak akan memihak Oliver maupun dirimu. Aku akan berada di tengah untuk menyaksikan kemampuan yang kalian miliki. Memberikan hadiah apa saja yang diinginkan oleh sang pemenang."
"Ya. Aku harap apa yang Anda katakan sama dengan apa yang Anda lakukan nanti. Anda pasti tahu pertarungan malam ini dipenuhi dengan orang-orang anda. Saya hanya sendirian. Jika kalian ingin membunuh saya dalam hitungan detik saja saya akan tewas."
"Jika sejak awal Saya menginginkan hal seperti itu maka sudah saya lakukan sejak kemarin. Untuk apa saya memberikanmu tempat tinggal dan makanan yang layak?"
"Bukankah sering seperti itu? Memberi makanan enak sebelum membunuh target?" Pieter masih belum bisa percaya 100% kepada Zeroun. Walau selama beberapa hari ini Zeroun benar-benar memperlakukannya dengan begitu tulus.
"Baiklah terserah kau saja. Aku tidak suka memaksa orang lain untuk percaya padaku." Zeroun melempar kunci mobil kepada Pieter. "3 jam lagi. Kau pasti tahu di mana tempatnya."
Zeroun memutar tubuhnya dan membawa Lukas pergi dari sana. Dengan sorot mata tidak suka, Lukas menatap wajah Pieter beberapa detik sebelum berpaling. Pria itu berjalan dengan tenang tanpa melakukan keributan.
Pieter tersenyum kecil sambil memandang kunci mobil di tangannya. "Mereka benar-benar berkuasa!"
***
Malam Yang dinanti semua orang telah tiba. Malam ini memang benar-benar berkesan karena ada dua peristiwa yang akan terjadi dalam waktu bersamaan. Lokasi pernikahan Alana dan Kwan terlihat megah dan modern. Ada banyak bunga Lily di lokasi resepsi.
Alana terlihat cantik dengan gaun pengantin yang kini melekat di tubuhnya. Senyumnya mengembang indah karena kini pria yang ia gandeng telah sah menjadi suaminya. Ramainya tamu undangan membuat kebahagiaan Alana semakin lengkap. Begitu juga dengan rasa bahagia yang kini dirasakan oleh Kwan.
Leona dan Jordan berdiri di sana dan berjalan mendekati Alana dan Kwan. sepasang suami istri itu sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk pengantin baru yang kini sedang berbahagia.
"Alana ... Kwan. Selamat. Ini adalah hari bahagia yang selalu aku impikan. Melihatmu menikahi wanita yang kau cintai membuat hatiku menjadi sangat bahagia," ucap Leona sambil memberikan hadiah berbentuk kotak kecil yang sudah ia persiapkan sejak kemarin.
"Terima kasih, Kak Leona." Alana menerima kado dari Leona dengan wajah yang berseri. Tidak ada hal apapun yang diharapkan Alana dari Leona selain kehadiran wanita itu malam ini. Ia tahu kehadiran Leona sangat berarti bagi suaminya. Kekayaan yang dimiliki Alana dan Kwan juga sudah lebih dari cukup. Apapun yang mereka inginkan pasti bisa dengan mudah mereka dapatkan.
Leona hanya tersenyum sebelum bergelayut manja di lengan Jordan. Sepasang suami istri itu belum juga mengetahui pertarungan yang akan segera berlangsung beberapa menit lagi.
"Kak, kami ke sana dulu ya. Ada beberapa tamu undangan yang harus kami sambut kedatangannya," ujar Kwan dengan wajah bahagianya.
"Ya. Kami juga ingin mencicipi makanan yang ada. Perutku terasa lapar saat ini," jawab Leona sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Setelah Alana dan Kwan pergi, tiba-tiba Emelie muncul di belakang Jordan dan Leona. Wanita itu terlihat mencari sang suami. wajahnya terlihat gusar.
"Jordan Apa kau melihat Daddy mu?" Kepala Emelie miring kanan dan kiri dengan wajah bingung.
"Tidak, Mom," jawab Jordan apa adanya. Memang sejak tadi pria itu tidak ada bertemu dengan Zeroun. Bahkan Oliver juga tidak ada.
"Mommy tidak tahu apa yang kini dilakukan oleh Daddy mu. Tiba-tiba saja dia menghilang. Gedung ini sangat luas. Mommy tidak akan sanggup mencarinya sendirian. Beberapa orang sudah mommy tanya namun tidak ada yang melihat keberadaan Daddymu."
"Mungkin Daddy sama Katterine, mom," ucap Leona.
"Tidak Leona. Katterine tadi izin sama Mommy. Dia ingin menemani Oliver membeli sesuatu di luar sana. Katterine juga bilang dia tidak bisa mengikuti pesta dansa nantinya."
"Mungkin Daddy berkumpul dengan teman lamanya. Bagaimanapun juga Daddy pernah menjadi pemilik utama dari Z.E. Group. Malam ini para pengusaha yang pernah bekerja sama dengan Z.E group telah berkumpul mom."
"Kau benar, Jordan. Mungkin Daddy mu terlalu asyik berbincang dengan teman lamanya hingga tidak sempat menemui mommy. Ya sudah kalau begitu mommy mau ke kamar saja. Mommy sudah lelah seharian berada di tempat keramaian seperti ini. Acaranya juga sudah tidak cocok lagi untuk wanita seusia mommy."
"Baiklah, Mom. Jika nanti kami bertemu dengan Deddy kami akan meminta Deddy untuk menemui Mommy di kamar."
"Terima kasih, sayang. Mommy ke kamar dulu ya."
Emelie berjalan pergi menuju ke kamar hotel. Wanita itu belum sadar kalau putrinya telah berbohong. Katterine tahu apa yang sudah direncanakan oleh Zeroun. Maka dari itu ia mengatakan kepada Emelie kalau ingin pergi untuk menemani Oliver membeli sesuatu. Jika malam ini Oliver tidak muncul di lokasi pesta, sudah pasti akan menimbulkan banyak tanya. Maka dari itu Katterine membuat alasan seperti itu.
Saat semua orang sedang tertawa bahagia karena merayakan resepsi pernikahan Alana dan Kwan. Di sisi lain, Oliver telah bersiap-siap untuk bertarung dengan Pieter.
Pertarungan itu dilakukan di sebuah ruang bawah tanah yang menjadi tempat berkumpulnya para preman yang ada di San Francisco. Untuk malam ini wilayah bawah tanah itu dikuasai oleh gold dragon.
Zeroun duduk di depan arena pertarungan sambil meminum beberapa gelas minuman beralkohol yang tersedia di hadapannya. Sebenarnya pikirannya malam ini sangat kacau. Di sisi lain dia lagi lagi harus membohongi sang istri. Sedangkan di sisi lain ia harus melihat anak angkatnya bertarung tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya nanti.
Lukas duduk di samping Zeroun. Pria itu juga menuang minuman ke dalam gelas dan meneguknya dengan begitu rakus. Walau pertandingan itu hanya berlangsung beberapa jam saja tapi rasanya seperti berlangsung selama berhari-hari.
Tanpa diketahui semua orang, seorang wanita dengan pakaian pria juga telah tiba di lokasi tersebut. Wanita itu adalah Katterine. Dengan kacamata hitam dan topi, penyamarannya terlihat sangat sempurna. Bahkan demi melengkapi penyamarannya ia harus duduk di sebuah meja bar dan memegang gelas yang berisi minuman beralkohol. Kedua matanya terus saja menatap arena pertarungan yang akan digunakan oleh sang kekasih. Debaran jantungnya tidak karuan ketika pertarungan itu akan segera dimulai.
Zeroun berdiri ketika waktunya telah tiba. Ia meminta dua jagoan keluar dari tempat mereka agar segera memulai pertarungan. Pieter dan Oliver muncul secara bersamaan dari pintu yang berbeda. Mereka hanya menggunakan celana boxer berwarna hitam hingga memamerkan lekuk tubuh mereka yang kuat dan kokoh. Sorak tepuk tangan menyambut kehadiran dua jagoan itu. Walau lingkungan itu dikuasai oleh Gold Dragon. Tapi malam ini Zeroun memberikan kebebasan bagi semua orang untuk menentukan siapa jagoan mereka.
Pertarungan itu dimulai ketika bunyi denting yang terdengar dengan begitu jelas. Untuk detik-detik pertama Oliver berhasil memukul wajah Pieter hingga pria itu terjatuh.
Pertarungan itu semakin sengit ketika Pieter berusaha berdiri dan mulai membalas pukulan Oliver. Mereka saling pukul-memukul hingga keringat dan darah bercampur menjadi satu. Suara dari pendukung masing-masing semakin memekakkan telinga. Zeroun berusaha tenang di tempat ia duduk. Tidak sama dengan Lukas yang mulai gelisah dan ingin segera masuk ke dalam arena pertarungan.
Babak pertama dimenangkan oleh Oliver. Kali ini semua orang benar-benar lega. Termasuk Katterine yang berusaha tetap tenang pada kursinya. Jika babak kedua di menangkan oleh Oliver lagi maka pertarungan malam ini sudah pasti Pieter lah yang dinyatakan kalah.
Lukas menarik tubuh Pieter dari ring tinju dan memberikan sebotol minuman kepada putranya. Ia memukul pundak Oliver dengan wajah yang bahagia.
"Kau pasti bisa menang. Kau jagoan Daddy. Selama ini Daddy tidak pernah meminta apapun darimu. Malam ini daddy minta agar kau memenangkan pertarungan."
"Jangan pernah ragukan kemampuan ku, dad," jawab Oliver dengan wajah yang meyakinkan.
Oliver memandang wajah Pieter yang sudah babak belur. Punggung pria itu memar dan dipenuhi luka. Bahkan di perutnya juga ada luka sayatan. Pertarungan malam ini memang bukan pertarungan biasa. Setiap pemain dipersilakan membawa senjata tajam. Bahkan jika salah satu petarung dinyatakan tewas maka hal itu akan dianggap hal yang wajar. Maka dari itu Lukas tidak bisa tenang malam ini.
Pertarungan kembali dimulai setelah beberapa saat beristirahat. Emosi dan dendam Pieter semakin menjadi. Walau tubuhnya sudah berulang kali tumbang dan mengerang kesakitan tapi ia tetap semangat untuk menang.
__ADS_1
Pieter berhasil mencekik leher Oliver. Satu hal yang membuat kaget semua orang yang ada di sana. Oliver terlihat berusaha melepas tangan Pieter. Tapi beberapa orang sudah pasti menyadarinya. Oliver tidak benar-benar menolong dirinya sendiri. Pria itu mulai menyerah dan membiarkan Pieter menyiksa dirinya.
"Aku akan menyelesaikannya. Kau harus mati di tanganku."
"Jangan terlalu percaya diri karena kemampuanmu tidak ada apa-apanya," jawab Oliver agar Peter semakin emosi.
Lukas beranjak dari tempat duduknya. pria itu tidak lagi bisa duduk dengan tenang ketika melihat putranya semakin pucat. Cekikkan Pieter memang benar-benar kuat dan mematikan.
"No!" teriakan seorang wanita yang dipenuhi dengan isak tangis membuat perhatian beberapa orang tertuju padanya. Termasuk Zeroun. Katterine berdiri di pinggiran ring tinju sambil menangis. Rambutnya tergerai indah ketika topinya terhempas begitu saja. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya dengan tatapan memohon. Apapun akan dia lakukan yang terpenting Pieter mau melepaskan kekasihnya.
"Maafkan kami. Tolong, lepaskan Oliver."
Suara Katterine yang lembut membuat kalimatnya tidak bisa di dengar dengan jelas. Di tambah lagi wanita itu berbicara sambil menangis.
"Katterine? Bagaimana bisa dia ada di sini?" Zeroun terlihat sangat bingung. Pria itu segera beranjak dari kursinya untuk menenangkan Katterine.
Oliver memiringkan wajahnya untuk menatap wajah Katterine. Hatinya mulai tidak tega melihat tetes air mata yang semakin deras dari pipi wanita yang ia cintai. Hanya satu hentakan saja yang dilakukan Oliver berhasil membuat cekikan Pieter terlepas. Untuk mengulur waktu sedikit lebih lama Oliver memberikan tendangan di bagian perut pieter hingga pria itu jatuh.
"Katterine, Kenapa kau ada di sini? Tempat ini sangat berbahaya!" ujar Zeroun dengan wajah tidak suka.
"Aku mohon akhiri pertarungannya, Dad. Aku tahu kalau hanya Daddy yang bisa menghentikan semua ini," ucap Katterine dengan penuh permohonan.
"Tidak sayang. Daddy tidak bisa melakukannya. Pertarungan akan berakhir ketika waktunya sudah tiba."
"Kapan dad? Apa ketika Oliver telah tiada baru pertarungan ini akan berakhir?" protes Katterine dengan suara seraknya. Melihat sang ayah tidak bisa melakukan apa-apa wanita itu ingin masuk ke lokasi pertarungan. Namun dengan cepat Zeroun mencegahnya dengan menggenggam satu tangan Katterine.
"Lepaskan aku, Dad!"
"Ikuti peraturannya!'
"Oliverku terluka." Katterine terus saja berusaha keras agar terlepas dari genggaman Zeroun.
"Dia akan baik-baik saja."
"Tidak, Dad. Malam ini Oliver akan menyerahkan nyawanya untuk Pieter. Dia bertekad untuk menebus rasa bersalah yang telah ia lakukan."
Pernyataan Katterine membuat Zeroun membisu. Pria itu segera memandang ke lokasi pertarungan lagi. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Katterine. Oliver mulai menyerah dan membiarkan Pieter menghajar seluruh bagian tubuhnya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Zeroun tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menyaksikan pertarungan itu sampai selesai. Lukas sendiri mulai menggeram. Jika saja putranya sampai tewas mungkin malam ini pieter juga akan tewas di tangannya. Ia tidak peduli dengan aturan yang dibuat Zeroun jika hal buruk itu benar-benar terjadi.
Oliver berbaring di atas ring tinju dengan luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Pieter berjalan tertatih-tatih mendekati Oliver. Di tangan pria itu telah ada benda tajam yang siap menusuk dada Oliver. Tetes darah dan keringat semakin menjadi di tubuhnya karena memang bisa di bilang kondisi Pieter sudah hancur-hancuran malam ini.
"Hanya ada satu yang menang," ujar Pieter dengan penuh kesombongan. Dengan napas tersengal Oliver menatap kedua mata Pieter yang dipenuhi dengan dendam dan amarah. Pria itu berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Pieter terhadap bagian tubuhnya. Kedua matanya terpejam sambil membayangkan senyum Katterine yang begitu manis.
"Maafkan Aku," gumam Oliver ketika Pieter semakin dekat.
"Jangan. Aku mohon jangan lukai Oliver!" teriak Katterine. Zeroun hanya bisa diam membisu memandang sesuatu yang terjadi di hadapannya. Genggamannya semakin kuat agar Katterine tidak berhasil menerobos masuk ke arena pertarungan. Napas Zeroun sendiri semakin tidak karuan saat senjata tajam itu semakin dekat dengan tubuh Oliver. Di lubuk hati Zeroun dipenuhi harapan kalau Oliver akan menangkis benda berbahaya itu.
Pieter melayangkan senjata tajamnya ke udara sambil mengincar bagian dada Oliver. "Selamat tinggal!"
__ADS_1