Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Markas Zean


__ADS_3

Leona dan pasukan Queen star tiba di depan gedung yang terlihat sunyi tanpa penghuni. Jalanan yang ada di belakang mereka juga sudah tidak di lalui kendaraan lagi. Jam sudah menunjukkan hampir puku dua pagi. Sudah waktunya bagi semua orang beristirahat.


Kwan yang sejak tadi berdiri di samping Leona terlihat bingung. Ia terus saja bertanya-tanya di dalam hati akan tujuan Leona ke toko roti pada malam hari. Ya, memang kini mereka berhenti di depan markas Zean.


“Kak, apa kau bercanda? Apa ada yang salah dengan kepalamu?” tanya Kwan lagi untuk kembali memastikan tujuan Leona datang ke tempat itu.


“Hancurkan gedung ini. Jika ada yang menghalangi ....” Leona menahan kalimatnya. Rasa tidak tega itu masih melekat di hatinya sejak Zean mencurahkan hatinya waktu itu. Namun, Leona tidak ingin menjadi wanita yang lemah. “Bunuh saja!” sambung Leona lagi. Kini perintah yang di katakan Leona seperti perintah orang yang tidak lagi memiliki hati. Tidak semua yang ada di dalam gedung itu orang yang bersalah. Leona tahu akan hal itu. Tapi, untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Ia terpaksa membantai habis semua penghuni gedung itu.


“Baik, Bos,” jawab pasukan Queen Star dengan serempak.


“Kak. Kau yakin?” ucap Kwan dengan wajah tidak percaya. Di mata Kwan, mereka akan menyerang toko roti dengan penghuni tidak berdosa. “Apa toko ini pernah menjual roti yang membuatmu sakit perut hingga kau menjadi dendam dan ingin membantai mereka?” ucap Kwan masih dengan wajah tidak paham.


“Gedung ini adalah markas Zean,” jawab Leona tanpa mau memandang.


“Markas?” Wajah Kwan terlihat kaget. Pria itu kembali memperhatikan bangunan yang ada di hadapannya. Memang cukup mustahil jika gedung berdesain gaya modern itu di sebut markas.


Leona melangkah masuk ke dalam. Kwan yang masih berdiri di sana juga memutuskan untuk masuk mengikuti jejak kaki Leona. Walau dalam kondisi tidak baik, tapi Kwan tetap bertekad untuk melindungi Leona dari bahaya.


Kedatangan pasukan Queen Star di sambut dengan puluhan peluru dari dalam. Pasukan The Devils cukup waspada. Mereka berjuang keras untuk menghalangi musuh mereka menguasai markas besar yang mereka miliki. Sebagian memberi kabar kepada pasukan lainnya. Pagi itu semua orang yang sedang tidur dengan nyaman, harus dikejutkan dengan penyerangan musuh yang muncul tiba-tiba.


Leona mengeluarkan dua pistol dan menggenggamnya dengan erat. Ia mengarahkan pistol itu ke arah beberapa pria yang ingin menghalangi langkahnya. Kwan juga sudah mengeluarkan senjata apinya dan menembak beberapa musuh yang mengincar tubuh Leona.

__ADS_1


Mereka berdua menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam markas yang membuat Kwan sendiri sangat penasaran dan dipenuhi sejuta tanya. Langkah Kwan dan Leona terhenti saat melihat pintu besi dengan kode di sana. Mereka tidak akan bisa masuk jika tidak tahu kombinasi enam angka yang ada di sana.


Kwan berjalan mendekat sambil memperhatikan angka-angka yang ada. Ia mengukir senyuman. “Kak, ini cukup berbahaya. Dua kali kita masukan salah, maka akan ada bahan peledak yang meledak dan membahayakan nyawa kita,” ucap Kwan. Pria itu tahu kalau pintu itu sudah di pasang alat pengaman untuk musuh masuk ke dalamnya.


Leona melangkah mendekat. Wanita itu memperhatikan kombinasi angka yang pernah Zean masukkan saat menyeret paksa dirinya waktu itu. Leona ingat dua angka terakhir, tapi ia tidak bisa mengetahui empat angka di depannya.


DUARR DUARR


Dari arah belakang, beberapa pria menembak ke arah Leona dan Kwan. Dengan gerakan cepat mereka berdua menghindari dan memberikan tembakan balasan di sana. Suasana di lantai dasar yang dipenuhi dengan aneka roti kering itu terlihat kacau. Terdengar suara tembakan di mana-mana. Bahkan suara sirine polisi juga terdengar dari kejauhan. Meksiko milik Zean. Seperti itulah informasi yang pernah mereka dapatkan. Polisi-polisi itu tiba juga sudah pasti ingin melindungi markas milik Zean.


“Kak, ini cukup beresiko. Apa kali ini kita akan berhadapan dengan polisi juga?” tanya Kwan untuk kembali memastikan niat Leona.


Leona menekan beberapa angka yangmenurutnya bisa membuka pintu besi tersebut.Namun, usaha pertamanya gagal. Leona tidak berhasil membuka pintu tersebut karena kodenya. Bersamaan dengan itu, sirine polisi terdengar semakin dekat. Pasukan Queen Star juga sudah waspada di sana. Mereka menunggu Leona membuka pintu tersebut agar bisa dengan bebas menyerang markas inti milik The Devils.


Kwan sudah tidak lagi bisa bernapas dengan tenang. Jika sampai salah, maka tidak tahu nasip mereka selanjutnya bagaimana. Tapi, malam itu keberuntungan ada di pihak Leona. Pintu besi itu terbuka dan memberi jalan kepada Leona dan pasukan Queen Star untuk masuk ke dalam. Mereka segera berlari masuk dan menutup kembali pintu tersebut agar para polisi tidak bisa mengetahui keberadaan mereka.


Leona berjalan masuk sambil memikirkan angka yang tadi ia tekan. Angka itu adalah, kombinasi angka yang berisi tanggal, bulan dan tahun mereka berpacaran. Lagi-lagi perasaan melow memenuhi hati Leona. Namun, ia segera membuangnya karena tidak ingin terbawa suasana lagi.


Markas besar itu terlihat sunyi tanpa penghuni. Beberapa senjata api dan bahan peledak masih ada dan tersusun rapi pada tempatnya. Bahkan di bagian gedung yang menjadi garasi, mobil-mobil juga masih terparkir rapi.


Kwan terlihat kaget ketika melihat gedung berukuran sangat luas itu. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan untuk memastikan kalau ruangan itu benar-benar tidak berpenghuni.

__ADS_1


“Kak, mereka benar-benar meninggalkan Meksiko,” ucap Kwan pelan.


Leona hanya diam. Ia berjalan ke arah meja  yang pernah di datangi Zean. Wanita itu menarik lacinya untuk melihat isi di dalamnya. Seperti apa yangpernah Zean ceritakan. Pria itu menyimpan foto Leona sejak wanita itu berusia 17 tahun. Menulis beberapa informasi seputar makanan dan semua hal yang di sukai oleh Leona.


“Bos, bahan peledak sudahterpasang. Kita bisa pergi melalui pintu darurat yang ada di dekat garasi. Polisi masih berusaha masuk ke dalam. Kita harus segera pergi dan meledakkan gedung ini sebelum para polisi berhasil masuk ke dalam,” ucap salah satu pasukan Queen Star yang bertugas memasangbahan peledak untuk menghancurkan gedung tersebut.


Leona menutup lagi laci tersebut. Ia mengangguk pelan. “Ok, ayo kita hancurkan gedung ini.” Leona memainkan sebuah alat yang mengendalikan semua bahan peledak yang sudah terpasang. Wanita itu memakai topeng untuk menutupi identitasnya. Kwan dan seluruh pasukan Queen Star juga memakai topeng yang sama. Bukan hanya penampilan yang hampir sama. Tinggi dan berat tubuh mereka juga rata-rata sama. Membuat orang lain tidak akan bisa menebak, yang mana Leona yang asli.


“Ayo kak,” ajak Kwan sambil berlari pergi. Mereka melihat beberapa lorong yang menghubungkan dengan sebuah ruang rahasia yang sangat mencurigakan. Leona dan Kwan menghentikan langkah kaki mereka bersamaan. Ruangan tersebut membuat rasa penasaran di dalam hati mereka. Namun, waktu yang mereka miliki tidaklah banyak.


“Kak, sebaiknya kita segera pergi,” ucap Kwan sambil menarik tangan Leona.


Leona memandang wajah Kwan sebelum melanjutkan langkah kaki mereka. Tiba-tiba saja sebuah alarm berbunyi. Lampu di ruangan tersebut mati dalam hitungan detik saja. Hanya ada lampu alarm berwarna merah yang berkedip-kedip.


Genggaman Kwan di tangan Leona semakin kuat. Detik itu juga mereka sadar kalau kini posisi mereka terjebak. Segala pintu yang menghubungkan mereka untuk pergi meninggalkan markas tersebut tiba-tiba tertutup. Dan ... satu hal yang detik itu juga baru mereka sadari.


Ada banyak bom waktu yang otomatis aktif ketika para penyusup berhasil masuk di dalam markas berkas The Devils tersebut.


“Bos, kita memiliki waktu lima menit,” ucap salah satu pasukan.


Semua gelap. Tidak ada yang bisa melihat wajah satu sama lain. Mereka hanya bisa melihat kegelapan dengan sekilas cahaya merah di sana. Leona yang saat itu tidak tahu akan jebakan Zean, hanya bisa diam membisu sambil berpikir keras untuk menyelamatkan dirinya dan pasukan yang kini ikut bersamanya.

__ADS_1


"Apa Zean benar-benar meninggalkan Meksiko?" gumam Leona di dalam hati.


__ADS_2