Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Makan Malam


__ADS_3

Satu jam kemudian.


Jordan sudah duduk dengan tenang di depan meja makan. Matanya terus memeriksa ke arah tangga, Leona tidak kunjung muncul. Dengan gusar, Jordan beranjak dari duduknya dan melangkah cepat menuju ke arah kamar Leona. Ia menjejaki anak tangga dengan cepat dan pasti. “Apa yang dilakukan wanita itu hingga satu jam belum juga keluar kamar!” umpat Jordan dengan wajah kesal.


Satu pengawal yang berdiri di depan kamar Leona menunduk hormat sebelum membukakan pintu kamar Leona. Ia memberi jalan kepada Jordan untuk masuk ke dalam.


Jordan masuk ke dalam kamar. Matanya memeriksa setiap sudut ruangan yang tidak terlihat sosok Leona di sana. Dari belakang, seorang pengawal datang dengan membawa sebuah kunci dan memberikannya kepada Jordan.


“Wanita itu sedang mandi, Pangeran. Mungkin anda ingin memeriksanya.” Jordan mengambil kunci itu dengan sedikit senyuman tipis.


Perlahan Jordan membuka pintu kamar mandi dan menemukan Leona di dalam sana. Jordan melirik sebentar ke arah pengawalnya dan memberi satu kode untuk meninggalkannya sendiri. Pengawal itu menunduk hormat sebelum melangkah mundur dan meninggalkan kamar itu.


Jordan berjalan perlahan mendekat ke bak mandi. Terlihat Leona yang tertidur pulas di sana. Jordan mendekati Leona dan  mengusap lembut pucuk kepala Leona. Leona terperanjat kaget, saat melihat Jordan yang kini ada dihadapannya.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa ada di sini?” teriak Leona sambil menutup tubuhnya dengan tangan.


“Aku hanya menolongmu,” jawab Jordan dingin.


“Menolong kau bilang? Pergi kau dari sini!” Memalingkan wajahnya karena malu. Wanita itu tidak habis pikir. Ia bos mafia dengan sikap yang selalu waspada. Tapi, tidak tahu kenapa berada di dekat Jordan semua kemampuan dan kewaspadaannya hilang begitu saja.


“Apa kau tahu, aku sudah beberapa kali melihat wanita, meregang nyawa karena bak mandi.” Jordan berusaha menakut-nakuti Leona.

__ADS_1


“Jangan menakutiku! Pergi dari sini!” teriak Leona sambil menutup bagian d**anya.


“Baiklah, aku akan keluar. Cepat turun, kita akan segera makan malam.” Jordan berjalan santai meninggalkan Leona, dengan ekspresi tidak bersalah sama sekali. Pria itu menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan hingga tidak terdengar suara sedikitpun.


“Kenapa aku bisa bertemu dengan pria seperti dia!” umpat  Leona penuh rasa emosi. Wanita itu segera beranjak dari bak mandi untuk menyelesaikan mandinya. Ia tidak ingin berendam lagi karena memang tubuhnya sudah terasa jauh lebih segar dari sebelumnya.


***


Leona sudah memakai gaun yang di sediakan pelayan wanita untuknya. Gaun pendek berwarna putih dengan sentuhan mutiara yang mengkilap. Leona memandang kagum tubuhnya yang kini berdiri di depan cermin.


“Akhirnya aku bisa memakai gaun seperti ini lagi.” Leona memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Ia bahagia. Wanita itu sangat merindukan gaun seperti itu. Sudah hampir dua tahun terakhir ini ia memakai celana pendek dan jaket hitam saja. Tidak ada gaun santai yang seperti biasa ia kenakan. Hari ini penampilannya kembali ke Eleonora yang dulu. Gadis cantik dan lugu dengan senyuman yang sangat indah.


Leona menyentuh pipinya dengan lembut. Ia mengukir senyuman indah sambil memandang pantulan wajahnya, “Aku sangat merindukan penampilan seperti ini. Sedikit lagi. Setelah pria itu mati maka semua akan berakhir,” ucap Leona dengan mata berkaca-kaca.


“Sepertinya itu sebuah tanda pengenal. Tapi, pengenal atas apa?” gumam Leona di dalam hati.


Seluruh pengawal khusus yang menjaga Jordan saat ini adalah  bagian dari Gold Dragon. Mereka semua sengaja diperintahkan oleh Oliver untuk menjaga Jordan kemanapun pria itu berada. Oliver tidak bisa menjaga langsung Jordan, hingga akhirnya ia memberi perintah kepada seluruh pasukan mafia miliknya.


Leona memandang pria yang duduk diam di depan meja makan. Pria itu sama sekali tidak menyambut kedatangannya. Jordan terlihat fokus pada tatapan kosongnya ke arah lain. Satu pelayan menarik kursi Leona dan mempersilahkannya untuk duduk di sana.


Leona berdehem pelan, untuk memecah lamunan Jordan. Jordan tersadar dari lamunanya, dan memandang wajah Leona dengan penuh arti.

__ADS_1


“Kau sangat pantas mengenakan gaun ini.” Jordan memperhatikan setiap inci tubuh Leona. Pinggang yang ramping, kaki Leona yang jenjang. Leona terlihat sangat seksi dan menggoda malam ini.


“Apa kita bisa mulai makan malamnya,” ucap Leona tanpa basa-basi. Wanita itu memiliki sifat yang sama dengan Serena. Sangat mudah lapar dan tidak bisa menunda waktu makannya.


“Baiklah, aku rasa kau sudah sangat lapar,” ucap Jordan dengan senyuman. Pria itu memulai makan malamnya dengan Leona. Wajahnya terlihat sangat bersemangat.


Leona menatap wajah Jordan sesaat, sebelum mengalihkan pandangan matanya ke beberapa menu yang baru saja di hidangkan.


Satu pelayan wanita, menuang sup kepiting ke dalam mangkuk kecil yang ada di hadapan Leona. Leona tertegun, menelan salivanya untuk menahan selera. Ingin rasanya ia segera mengambil sup itu dan menghabiskannya dengan segera. Perutnya begitu keroncongan, Leona benar-benar ingin segera makan saat ini.


“Leona, kenapa kau hanya diam. Apa kau tidak menyukai makanan ini. Aku akan menyuruh koki, untuk memasak makanan kesukaanmu.” Jordan tersenyum memandang Leona.


“Jangan, aku sangat menyukainya.” Leona mengambil satu sedok sup itu, dan mencicipinya dengan penuh penghayatan.


“Apa kau menyukainya?” tanya Jordan yang sudah memulai makan malamnya.


Leona mengangguk cepat. “Sup ini sangat enak, aku sangat menyukainya,” jawab Leona dengan senyuman indah. Wanita itu bersikap sewajarnya agar tidak terlihat kalau kini sedang memikirkan jalan kabur dari mansion mewah tersebut.


Jordan tersenyum tipis, sebelum melanjutkan makan malamnya. Leona makan dengan begitu banyak, Jordan hanya tersenyum kagum melihat tingkah lucu Leona.


“Kau sangat menggemaskan, Leona,” gumam Jordan di dalam hati.

__ADS_1


Leona menatap wajah Jordan lagi sebelum memasukkan makanannya ke dalam mulut. Wanita itu terus saja memperhatikan pengawal-pengawal milik Jordan yang berlalu lalang di sekitar ruangan tersebut.


“Pria ini. Kapan dia tidak waspada dan memberikancelah kepadaku untuk kabur. Aku sudah tidak tahan berlama-lama berada di dekatnya,” gumam Leona dengan wajah kesal. Hatinya terus saja mengumpat kesal walau kini ada makanan yang terus saja masuk ke dalam mulutnya.


__ADS_2