
Leona baru saja selesai mandi. Wajahnya terlihat kesal dan tidak bisa di tenangkan lagi. Saat bangun tidur, ia belum melihat pesan singkat dari Jordan maupun panggilan tidak terjawab dari Pangeran Cambridge itu. Karena terlalu kesal, Leona mematikan ponselnya agar Jordan tidak lagi bisa menghubunginya.
Leona membuka pintu lemari dengan kasar. Ia mengambil rok mini berwarna hitam dan tangtop berwarna hitam juga. Leona memakainya satu persatu hingga melekat sempurna di tubuhnya yang seksi. Setelah melihat penampilannya begitu seksi, ia mengambil jaket hitam dan mengenakannya.
Leona berjalan ke arah cermin untuk merias diri. Hanya riasan natural. Setelah memberi warna merah di bibirnya, Leona beranjak dari meja rias. Ia meninggalkan ponselnya begitu saja dan berjalan ke arah meja. Leona mengambil kunci mobil dengan tatapan dingin.
Pagi itu ia ingin berkeliling kota London untuk menenangkan diri. Semakin dekat dengan tanggal pernikahan memang masalah selalu saja menghampiri hubungan sepasang kekasih. Tidak terkecuali Jordan dan Leona.
Seorang pelayan menyambut Leona di bawah tangga. Ia menunduk hormat dan memberi senyuman ramah. "Selamat pagi, Nona. Sarapan sudah di siapkan."
Leona memandang ke arah meja makan sekilas. Ia terlihat tidak berselera untuk makan pagi ini. "Aku akan makan di luar."
Leona melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan pelayan tersebut begitu saja tanpa peduli dengan usaha yang sudah dilakukan pelayan itu untuk menyiapkan sarapan pagi.
Leona masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Ia memandang keadaan sekitar sebelum menginjak gas mobilnya. Leona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan kediaman Edritz Chen yang ada di London.
***
Jordan terlihat kebingungan. Ia memeriksa seluruh tempat tidur dan segala sudut ruangan kamarnya. Wajahnya terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Dimana ponsel itu!" umpatnya kesal.
Tadi malam, Jordan memiliki niat untuk menghubungi Leona. Namun, karena tiba-tiba cuaca di sana mendung dan dikelilingi badai petir. Jordan tidak lagi menggunakan ponselnya. Ia mematikan ponselnya sejenak. Tadinya setelah hujan reda ia ingin segera menghubungi Leona. Tidak di sangka ia justru ketiduran.
Jordan sudah bisa menebak bagaimana wajah tunangannya itu saat ini. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Namun, kini ketika ia ingin menghubungi Leona. Jordan tidak bisa menemukan keberadaan ponselnya.
"Aku meletakkannya di atas sini, sekarang di mana dia?" Jordan melempar selimut ke lantai. Saat benda yang ia cari tidak kunjung ditemukan, pria itu menarik seprei dan melempar bantal guling ke lantai.
"Kenapa tidak ada!" umpat Jordan dengan kesal. Pria itu berjongkok di lantai dan mengintip di bawah tempat tidur. Kali ini ia berhasil, Jordan menemukan ponselnya tergeletak bebas di bawah ranjang. Pria itu berusaha meraih ponselnya.
"Jordan, apa yang kau lakukan?"
Sapaan seseorang yang terdengar secara tiba-tiba itu membuat Jordan kaget. Pria itu sampai harus terbentur ujung ranjang bagian kepalanya. Jordan duduk di lantai dengan ponsel di tangan kirinya.
Emelie melanjutkan langkah kakinya. Ia memandang wajah Jordan dengan bingung. "Apa itu sakit?" tanya Emelie sambil berusaha melangkah cepat agar bisa memeriksa kepala putranya yang baru saja terbentur.
"Jordan baik-baik saja, Mom." Jordan segera melihat ponselnya. Betapa kagetnya Pangeran Cambridge itu ketika melihat ponselnya tidak aktif.
"Apa-apaan ini!" umpatnya di dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau risau kan?" Emelie semakin bingung melihat putranya tidak tenang seperti itu.
Jordan beranjak dari lantai dan berjalan ke arah nakas. Ia ingin mencharge ponselnya agar bisa aktif kembali.
"Sejak tadi malam Jordan tidak menghubungi Leona, Mom. Leona pasti marah," ucap Jordan sambil berusaha membuka laci. Ia melihat beberapa ponsel miliknya di sana. Jordan memilih salah satu dan segera menghidupkannya. Ia duduk di atas tempat tidur.
"Kau bisa menjelaskannya nanti. Mommy yakin Leona tidak akan marah," ucap Emelie memberi semangat.
"Mudah-mudahan, Mom." Jordan melekatkan ponselnya di telinga. Sudah berulang kali ia menghubungi nomor Leona tapi tidak juga bisa dihubungi. Jordan tidak menyerah, pria itu terus berusaha menghubungi wanitanya.
"Sayang, ada yang mau mommy bicarakan," ucap Emelie hati-hati.
Jordan memandang wajah Emelie sekilas sebelum mengangkat tangannya ke udara. "Lima menit, Mom." Jordan berjalan mendekati balkon. Ia berusaha menghubungi Leona. Hatinya benar-benar sangat khawatir. Sedangkan Emelie hanya duduk diam tanpa mau memulai kalimat yang ingin ia sampaikan.
"Ke mana dia?" Jordan segera menekan nomor Oliver. Siapa lagi yang bisa membantunya di saat genting seperti ini selain bos mafia tersebut. Setelah tersambung, Jordan memasang wajah berseri.
"Oliver, aku ingin pergi menemui Leona. Bersiaplah!"
Jordan segera mematikan teleponnya. Ia memandang wajah Emelie untuk mendengar cerita ibunya. Pria itu duduk di kursi kecil yang ada di hadapan Emelie. Ia memegang tangan Emelie dan mengukir senyuman indah.
__ADS_1
"Mom, apa yang ingin mommy bicarakan?"
"Jordan, ini tentang ... kau dan Leona."