
Leona berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Ia terlihat tidak bersemangat malam itu. Di sampingnya ada paperbag yang baru saja di antar oleh pelayan rumah utama. Isi di dalam paperbag itu adalah gaun. Serena memesannya secara khusus untuk dikenakan oleh Leona. Wanita itu ingin putri tercintanya terlihat cantik ketika bertemu dengan Zeroun dan Emelie nantinya.
Namun, sudah hampir satu jam Leona hanya diam di sana. Ia tidak tertarik sama sekali untuk bertemu dengan tamu yang datang malam itu. Wanita tangguh itu lebih memilih berbaring di atas tempat tidur dengan posisi nyamannya.
"Mereka hanya tamu, untuk apa aku menyambut mereka? Aku juga tidak kenal dengan mereka," gumam Leona di dalam hati dengan wajah malasnya. Secara perlahan, Leona memejamkan mata. Jika nanti lapar ia akan meminta pelayan rumah utama untuk mengantar makanan ke kamar tidurnya. Leona tidak ingin berkumpul dengan yang lainnya untuk melewati jamuan makan malam tersebut. Biasanya, setiap kali ada tamu di rumahnya, Leona juga tidak pernah mau di ajak berkumpul kecuali tamu tersebut bagian dari keluarganya.
Suara ketukan pintu membuat Leona kembali membuka matanya. Kedua matanya memandang ke arah pintu. Aleo muncul di sana. Pria itu mengenakan setelan yang sangat tapi. Ia mengeryitkan dahi saat melihat Leona tidak juga bersiap. Padahal Aleo sempat berpikir kalau kini ia akan menjemput adik tersayangnya yang sudah wangi dan terlihat cantik.
"Kenapa belum ganti baju? Tamu kita sudah datang. Mereka sudah berkumpul di bawah," ucap Aleo sebelum duduk di samping Leona. Ia mengambil paperbag yang ada di atas tempat tidur dan memeriksa isinya.
"Aku tidak enak badan, kak," ucap Leona mencari-cari alasan. Wanita itu memiringkan tubuhnya dan membelakangi Aleo. Ia tidak mau turun ke lantai bawah. Wanita itu bersikeras dengan keinginan hatinya. Ia ingin tidur dan tidak bertemu dengan siapapun malam itu.
Aleo memandang jam yang melingkar di tangannya. "Sepuluh menit cukup kan untuk ganti baju. Wajahmu juga sudah cantik, jadi tidak perlu bedak yang terlalu tebal." Aleo beranjak dari tempat tidur.
Leona masih pada posisinya membelakangi Aleo. Ia tidak peduli dengan ancaman apapun yang akan dikatakan oleh Aleo.
"Leona, kakak akan membantumu membujuk mama. Tapi dengan syarat, kau harus bersikap baik malam ini," ucap Aleo dengan suara pelan.
Leona memutar tubuhnya dan memandang wajah Aleo. Harapan yang diberikan Aleo merupakan harapan yang sangat menguntungkan. Leona tidak inginmenyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Tapi, saat kembali membayangkan sebuah makan malam yang membosankan itu. Leona memutuskan untuk merengek lagi agar Aleo tidak memaksanya.
__ADS_1
"Kak, bukankah tamu kita akan menginap. Kenapa harus malam ini. Besok pagi juga aku akan menemuinya kan?" Leona duduk di atas tempat tidur. Wanita itu menatap wajah Aleo dengan kesal.
"Pilihan ada di tanganmu. Jika kau mau kakak membantumu, sebaiknya sekarang bantu kakak juga. Mama akan marah sama kakak jika kau tidak turun dan bergabung dengan yang lainnya." Aleo mengukir senyuman. Pria itu mengacak-ngacak rambut Leona. “Di gerai seperti ini jauh lebih bagus,” ucap Aleo sebelum melangkah pergi. Pria itu memasukkan satu tangannya di dalam saku dan berjalan cepat ke arah pintu. Meninggalkan Leona yang masih belum pasti mau turun atau tidak.
Leona menghela napas kasar dengan kedua mata menyipit. Wanita itu meraih paperbag yang ada di hadapannya dan mengeluarkan isinya. “Kenapa tidak warna hitam? Aku terlihat feminim jika mengenakan gaun seperti ini,” umpat Leona kesal sebelum berbaring lagi di atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya. Gaun yang ada di tangannya ia gunakan untuk menghalangi cahaya lampu yang menyinari matanya.
***
Di lantai bawah, Serena berpelukan dengan Emelie. Suasana di ruangan berukuran luas itu terasa sangat haru. Baik Emelie, Shabira maupun Serena telah meneteskan air mata karena terlalu rindu. Mereka merasa kalau waktu terlalu cepat berlalu. Tapi, rasa rindu yang kini memenuhi hati mereka membuat mereka tidak bisa mengatakan kalau 20 tahun itu waktu yang singkat. Rasanya sudah beratus tahun lamanya mereka berpisah.
“Maafkan aku, Serena,” ucap Emelie di sela isak tangisnya.
“Apa ini putramu, Serena? Aleo?” ucap Emelie sambil berjalan mendekati Aleo. “Dimana Kwan dan Leona?” tanya Emelie sambil mencari-cari.
“Kak, Kwan akan datang besok. Dia masih ada urusan di San Fransisco. Kalau Leona ....” Shabira menahan kata-katanya sambil menatap wajah Serena.
“Leona sedang bersiap di kamar. Tadi dia baru saja pulang. Mungkin baru selesai mandi,” jawab Serena cepat.
Emelie mengangguk pelan sambil menatap wajah Jordan dan Zeroun. Sejak pertama kali tiba di Sapporo, hanya nama Leona yang memenuhi pikirannya. Emelie ingin melihat wajah cantik Leona secara langsung. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk wanita yang membuat putra kesayangannya itu tergila-gila.
__ADS_1
Jordan memandang sekeliling rumah utama. Pria itu mengukir senyuman kecil. Wanita tangguh yang selama ini ia kenal sebagai wanita biasa, ternyata memiliki keluarga yang sangat hebat di belakangnya. “Pantas saja ia tidak pernah tertarik dengan uang. Ternyata ia adalah putri dari konglomerat,” gumam Jordan di dalam hati.
“Katterine, Jordan. Kalian sudah besar,” ucap Serena sambil mengukir senyuman. Wanita itu memegang tangan Katterine dan memeluk wanita itu. “Apa kau tidak ingat lagi dengan Tante?” tanyanya dengan suara pelan.
“Saya kenal Tante Serena. Mommy selalu bercerita tentang kebehebatan yang Tante miliki,” jawab Katterine dengan senyuman indah.
Serena semakin terharu. Wanita itu memandang wajah Emelie dengan tetes air mata yang lagi-lagi jatuh. “Hai, Jordan. Kau sudah besar dan semakin tampan. Tubuhmu bahkan jauh lebih tinggi daripada Aleo,” ucap Serena lagi.
“Ma ...” ucap Aleo tidak terima.
Daniel tertawa riang sambil memegang pundak Aleo. “Kau tetap jagoan Papa.”
Setelah acara penyambutan penuh air mata itu terlewati, Serena mengajak semua orang untuk ke meja makan. Wanita itu melirik wajah Aleo dengan tatapan menuduh. Leona tidak juga muncul walau kini sudah lebih dari setengah jam berlalu. “Anak itu memang benar-benar sangat keras kepala,” gumam Serena di dalam hati.
Jordan duduk di samping Aleo dan Katterine. Barisan ia duduk ada Zeroun. Pria itu memandang kursi yang kosong yang ada tepat di samping dirinya. Kursi kosong itu menjadi jarak antara dirinya dan Aleo.
“Dimana dia? Kenapa dia tidak ada di sini?” gumam Jordan dengan wajah kecewa. Jordan ingin Leona segera muncul dan duduk di sampingnya.
Saat semua orang tengah sibuk berbicang di meja makan, dari arah tangga terdengar suara benturan sepatu high heels dengan marmer. Jordan mengukir senyuman kecil. Pria itu memejamkan mata. Ia tahu langkah kaki itu milik siapa. Walau arena meja makan itu begitu berisik, tapi hanya suara sepatu Leona yang kini memenuhi pendengarannya.
__ADS_1
Posisi Jordan membelakangi tangga. Saat semua orang mengalihkan pandangan mereka terhadap kemunculan Leona, Jordan sendiri yang tidak mau memutar tubuhnya. Ia sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Leona nanti saat melihat wajahnya.