Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 50


__ADS_3

Mobil hitam itu melaju cepat mengejar mobil Pieter di depan. Jalanan sunyi membuat kedua mobil yang saling berkejaran itu seperti sedang berada di arena balap. Letty memandang wajah pria yang kini ada di sampingnya. Ia masih penasaran kenapa pria itu ada di Cambridge.


"Miller, kau ke sini untuk membantu Oliver?" Letty tidak tahu harus bagaimana memulai pertanyaannya. Hingga akhirnya ia menggunakan nama Oliver untuk menyelidiki keberadaan Miller.


Miller tertawa kecil. Ia tetap fokus pada laju mobilnya sambil mengangguk pelan.


"Kakakmu membuat kekacauan di tempatku bekerja. Saat masalah belum selesai dia pergi begitu saja."


"Tunggu. Bukankah kau yang memintanya untuk pergi? Kau sendiri yang bilang kalau bisa mengatasinya sendiri."


"Ya, tapi pria bertopeng itu berulah lagi dan memakai wajah Oliver. Ada satu wartawan yang berhasil menangkap fotoku dan Oliver yang terlihat begitu akrab. Jadi ...."


"Mereka mengira kau bersekongkol dengan penjahat?"


"Tidak hanya itu. Mereka memberiku dua pilihan. Turun jabatan atau mengundurkan diri."


Letty menggaruk pelipisnya karena sadar kalau kini beban yang dihadapi Miller tidaklah mudah. Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena Miller membantu Oliver, pria itu kehilangan pekerjaan yang ia sayangi.


"Maafkan kami. Sejak awal kami tidak memiliki niat untuk menghancurkan karir mu."


"Hei, apa yang kau katakan? ini kabar baik."


"What?" Letty melebarkan kedua matanya sambil menatap tajam Miller.


"Aku akan mengundurkan diri. Menjadi penjahat tidak buruk. Kalian yang memiliki pekerjaan sebagai penjahat bisa tetap kaya," jawab Miller dengan wajah yang tenang.


"Miller, ini tidak lucu. Aku akan memberi tahu Kak Oliver soal ini."


"Tidak Letty. Aku serius. Aku menikmati hidupku yang sekarang. Percayalah!" Miller menambah laju mobilnya. Ia tidak mau kehilangan mobil yang ia kejar sejak tadi. Apa lagi kali ini mereka sudah memasuki jalanan yang dipenuhi dengan keramaian. Miller tetap ekstra hati-hati agar tidak membahayakan nyawa pengguna jalan yang lain.


"Aku tidak percaya jika ada orang yang bahagia menjadi penjahat!" sindir Letty sebelum memalingkan wajahnya. Wanita itu hampir saja lupa dengan musuh yang kini mereka kejar di depan sana.


Miller hanya tersenyum. Ia tetap fokus dan terus menambah laju mobilnya untuk mengejar mobil Pieter.


***


Di sisi lain, Oliver dan Jordan memutuskan untuk pergi mengikuti kemana Letty pergi. Walau tadi mereka terlihat sibuk sendiri, sebenarnya mereka memperhatikan kepergian Letty. Mereka tidak mau Letty berada dalam bahaya. Apa lagi saat ini mereka gak tahu kalau Letty bersama dengan Miller.


Leona yang tadinya memaksa ikut harus mengurungkan niatnya karena Serena dan Daniel melarang. Mereka bukan melarang tanpa alasan. Kali ini Leona memang harus menjaga kesehatannya demi program yang sudah mereka jalani. Serena tidak mau putrinya merasakan apa yang pernah ia rasakan.


Emeli membawa Serena ke dalam kamar tamu. Semua orang juga ada di dalam sana. Sebenarnya Serena baik-baik saja. Hanya luka sedikit pada bagian siku tangannya karena terbentur batu yang ada di rumput. Tidak parah dan tidak perlu dikhawatirkan. Dalam waktu singkat juga sudah pasti sembuh. Namun Emelie terlihat panik seolah luka Serena adalah hal yang begitu mengkhawatirkan.


"Serena, apa ini sakit?" Emelie membersihkan luka pada tangan Serena. Wajahnya benar-benar khawatir. Serena hanya tersenyum melihat sikap Emelie saat itu.


"Aku pernah merasakan luka yang lebih parah. Luka sekecil ini tidak ada apa-apanya."


"Jangan berbicara seolah kau paling hebat Serena. Aku tahu kau wanita tak terkalahkan. Tapi, kondisimu akhir-akhir ini tidak baik. Aku takut luka ini membuat kesehatanmu memburuk."


Karena tidak mau membantah Emelie, Serena memutuskan untuk mengunci mulutnya. Ia memandang wajah Daniel dan Zeroun yang memutuskan duduk di sofa. Sedangkan Katterine dan Leona ada di atas tempat tidur menemani Serena.


"Emelie, aku dengar dari Zeroun kalau keadaanmu sedang tidak baik. Apa kau sudah periksa ke dokter?" Mendengar pertanyaan Serena, Emelie menahan gerakannya. Ia terlihat gugup seolah sedang ketahuan berbohong.


"Emelie, ada apa? Kenapa wajahmu berubah seperti itu? Maafkan aku jika aku salah." Serena memegang tangan Emelie. Ia tidak ingin ada perselisihan lagi. Ia takut Emelie salah paham dengan kekhawatirannya kali ini.


"Serena, sebenarnya aku tidak sakit."


Zeroun yang tadi hanya diam di sofa segera beranjak dan mendekati posisi sang istri. Ia butuh penjelasan yang lengkap dari Emelie. Bahkan Zeroun yang selama ini sangat teliti merasa sudah tertipu atas kepura-puraan istri tercinta.

__ADS_1


"Emelie, apa maksudmu?" tanya Zeroun ketika tiba di samping Emelie.


Katterine dan Leona saling memandang dengan wajah bingung. Namun, mereka memutuskan menjadi pendengar setia saja daripada salah langkah.


"Maafkan aku, Zeroun." Emelie meletakkan alat medis yang ia gunakan untuk mengobati luka Serena. Wanita itu memandang wajah Serena agar bisa mendapat kekuatan untuk menjelaskan semuanya.


"Tadinya aku ingin menjadikan sakit ini sebagai alasan agar Katterine segera pulang. Tapi, ketika aku memergoki orang yang dengan sengaja memberikan racun ke dalam ramuan yang aku minum. Aku menjadi bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana. Syukurnya aku masih punya pelayan setia. Setiap kali ramuan itu sudah di beri racun, dia akan memberi kode di minumannya. Minuman itu akan diberi racun seminggu dua kali. Waktunya tidak tentu."


"Emelie, ini masalah yang serius. Kenapa kau merahasiakannya dariku?"


Emelie mulai gemetar mendengar suara Zeroun yang meninggi. Belum memandang wajahnya saja Emelie sudah tahu kalau Zeroun benar-benar marah kali ini.


"Karena aku tidak ingin ada peperangan lagi. Aku lelah Zeroun. Di usiaku yang sekarang, aku hanya ingin ketenangan. Aku ingin duduk di sebuah sofa bersama denganmu sambil melihat anak-anak hidup bahagia bersama pasangan mereka. Bukan ketidaktenangan seperti sekarang."


Serena mengusap tangan Emelie. Ia berusaha membuat wanita itu tetap tegar.


"Emelie, kau tidak perlu menyimpan masalahmu sendiri. Kau harus memberi tahu Zeroun. Dia suamimu."


"Suami?" Emelie memandang wajah Katterine dengan mata berkaca-kaca.


"Serena, apa ada suami yang katanya cinta tapi dia selalu saja menyembunyikan rahasia dari istrinya? Bahkan di saat putriku hampir tewas dia tidak memberi tahuku sama sekali! Apa itu yang dinamakan pernikahan? Pasangan kita menyembunyikan dan merahasiakan hal penting dari kita."


Zeroun merasa terpojokkan dan bersalah saat itu. Ia tidak menyangka kalau Emelie bisa mengetahui semuanya.


Serena memandang Zeroun. Ia tahu tujuan Zeroun melakukan semua ini. Namun ia juga tahu alasan Emelie marah.


"Emelie, kau masih punya sahabat yang akan mendengar apapun keluhanmu. Kau bisa menceritakannya kepadaku jika kau kesal dengan Zeroun."


"Aku sangat mencintainya. Bagaimana bisa aku kesal dan marah padanya." Emelie menghapus air matanya. "Aku bahkan berusaha menjadi wanita berguna kali ini. Aku membantu mereka secara diam-diam."


Serena sangat tertarik dengan pengakuan Emelie kali ini. "Apa yang sudah kau lakukan?"


"Miller? Mom, mommy meminta Miller datang ke sini?"


Emelie mengangguk. "Mommy tahu kalau hari ini istana akan di serang. Tapi mommy tidak menyangka kalau musuh kita akan menggunakan seragam istana."


"Emelie, ini sudah keterlaluan. Bagaimana jika tadi kau benar-benar dalam bahaya? Bagaimana jika tadi Serena tidak datang tepat waktu?" protes Zeroun kesal.


"Aku sudah pasrah, Zeroun. Bahkan jika aku harus mati hari ini aku rela. Aku lelah dengan semuanya. Aku ...." Serena menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Ia tahu kalau wanita itu sedang terpuruk dan tidak bisa bicara baik-baik kali ini.


"Apa bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Serena sambil memandang wajah Zeroun.


Zeroun memandang wajah Serena dengan tatapan tidak setuju. Namun, ia tahu Emelie juga tidak akan bisa di ajak bicara kali ini. Memaksanya sama saja menimbulkan masalah baru. Hingga akhirnya Zeroun memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar tersebut. Diikuti Daniel, Katterine dan Leona.


Serena mengusap punggung Emelie yang kini menangis sedih. Ia berharap wanita itu bisa kembali tenang.


"Apa ini sebabnya kau mengirim pesan kepada Shabira agar datang menemuimu? Kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita ini Emelie?"


"Ya, Serena. Aku tidak tahu kalau Shabira ada di rumah Biao untuk membicarakan pernikahan Alana dan Kwan."


"Shabira memintaku datang. Dia bilang kalau kau tidak baik-baik saja. Aku sangat khawatir hingga memutuskan untuk datang ke sini tanpa kabar."


"Serena, Zeroun masih meninggalkanku ketika aku tidur. Dia mengurus Gold Dragon secara diam-diam. Apa dia pikir ketika aku mengetahuinya, aku akan mempersulitnya?"


Serena menghapus air mata Emelie.


"Zeroun tidak seperti itu. Dia tidak memberi tahumu karena dia mencintaimu. Dia tidak mau kau memikirkan masalah yang ia hadapi. Emelie, Zeroun adalah tipe pria yang tidak pernah mau memberi beban kepada wanitanya. Kau tidak perlu salah paham."

__ADS_1


"Awalnya aku berusaha berpikir jernih Serena. Tapi, saat Katterine semalam masuk rumah sakit. Aku sangat terpukul."


"Katterine masuk rumah sakit?" tanya Serena dengan wajah tidak percaya.


"Ya, walau aku tidak tahu jelas apa sebabnya. Tapi Zeroun pergi menemui Katterine secara diam-diam."


Serena kali ini memutuskan untuk diam. Ia harus bisa merangkai kata yang bagus untuk membujuk Emelie.


"Serena, terima kasih sudah datang."


Serena tersenyum sambil mengusap lengan Emelie. "Jangan katakan terima kasih. Kita keluarga yang harus saling membantu."


Emelie memeluk tubuh Serena. Ia merasa jauh lebih tenang karena sudah berhasil melampiaskan rasa kesalnya.


***


Daniel berjalan mengikuti Zeroun. Sedangkan Katterine dan Leona memutuskan untuk tidak mengikuti dua pria tersebut.


"Zeroun, apa benar yang dikatakan Emelie? Kau masih memelihara sifat burukmu itu?"


Zeroun menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa. Ia menghela napas dengan wajah lelah. Daniel duduk di samping Zeroun dengan senyuman.


"Semakin tua wanita semakin sensitif bukan?"


Zeroun tertawa kecil. "Apa Serena juga seperti itu?"


"Ya. Bahkan lebih parah dari Emelie."


Zeroun tertarik dengan cerita Daniel. Pria itu memukul Daniel dengan sedikit tenaga.


"Apa yang dilakukan wanita tangguh itu?"


"Ini soal Aleo. Aleo sangat dekat dengan Clara. Tapi, sepertinya Serena suka dengan Tamara." Daniel mengatur posisi duduknya. "Clara wanita yang baik. Serena juga tahu itu. Bahkan wanita itu baru saja kehilangan orang tuanya. Aleo tidak bisa kembali ke Sapporo hingga beberapa Minggu hanya demi menemani Clara. Kau tahu apa yang dilakukan Serena?"


"Tentu saja dia akan menghubungi Aleo dan mengatakan sakit. Aku tahu Aleo akan pulang dengan alasan itu."


"Ya, kau benar. Tapi Aleo pulang bersama Clara bahkan Clara tinggal di rumah. Untuk sementara."


"Pasti Serena sangat kesal."


"Bukan hanya itu saja. Serena meminta kepada Tama agar Tamara mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi dokter pribadinya. Yang lebih parah lagi, Tamara juga tinggal di rumah. Jika kau jadi Aleo, apa yang kau pikirkan?"


Zeroun tertawa dengan girang. Ia tidak menyangka bisa sebahagia itu mendengar penderitaan yang kini dirasakan Aleo.


"Aku lelah setiap malam mendengar curhatan Aleo. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan."


"Mau aku bantu?"


"Apa yang bisa kau lakukan?"


"Kau tidak suka ada dua wanita di rumah itu. Serena tidak suka dengan Clara. Aku akan membuat Clara pergi dari rumah itu."


"Apa kau bisa melakukannya?"


"Tentu saja itu sangat mudah. Aku tidak menyangka bisa ikut campur dalam urusan anak-anak kita."


Daniel menghela napas. "Kau harus ingat Zeroun, kalau di dalam ruangan sana masih ada wanita yang kesal dan kecewa padamu Pikirkan cara untuk membujuknya."

__ADS_1


Zeroun memandang ruangan yang digunakan Serena istirahat. Ia kembali ingat dengan Emelie dan mulai memikirkan cara untuk membujuk Ratu Cambridge tersebut.


__ADS_2