
"Serena, apa kau masih sering ke salon?" tanya Emelie penasaran. Karena di usia Serena yang sudah tua, tetap saja wanita itu masih tangguh dan seksi.
"Tidak terlalu sering. Aku lebih sering ke rumah sakit untuk periksa. Karena minuman keras kini aku jadi mudah sakit," jawab Serena dengan suara berbisik. Emelie tertawa mendengar jawaban Serena.
Saat Serena dan Emelie sedang asyik berbincang, tiba-tiba seorang wanita muncul dan memberi tahu akan kabar kedatangan suami mereka. Serena tersenyum puas karena sesuai perkiraan, Daniel dan yang lainnya tiba.
"Serena, apa sekarang waktunya?" tanya Emelie mulai deh degan. Dia sendiri tidak tahu apa yang akan di lakukan Zeroun setelah melihat penampilannya. Bisa saja kali ini dirinya yang akan mendapat hukuman dari Zeroun. Walau bersikap sok berkuasa tetapi Emelie tetap saja takut jika Zeroun marah kepada dirinya.
"Ya." Serena terlihat santai. Berbeda dengan Emelie. Jelas saja, dia memiliki Daniel yang kini bersikap menurut. Berbeda jika dibandingkan mereka baru pertama menikah dulu. Daniel yang biasa bersikap angkuh dan sok hebat.
Serena meminta semua wanita berkumpul. Mereka berjalan ke bibir pantai untuk menari. Ada musik yang begitu keras di sana. Dengan wajah ceria mereka bersenang-senang untuk membuat para suami geleng kepala. Tidak lupa masing-masing dari mereka memegang sebotol wine. Sebenarnya itu hanya pelengkap saja. Sama sekali tidak di teguk. Mereka juga sadar diri kalau kini sudah mudah terserang penyakit.
Ketika Daniel dan yang lainnya tiba. Mereka syok bukan main melihat istri mereka memakai pakaian seksi. Sempat mematung beberapa detik sebelum akhirnya mereka tersadar dan geleng-geleng kepala.
"Apa ini? Kenapa pesta mereka lebih meriah dari kita?" protes Daniel tidak terima. Zeroun yang sudah kalang kabut tidak lagi bisa menjawab protes Daniel. Pria itu berlari kencang untuk mendekati sang istri.
Masing-masing mereka melepas jas yang mereka gunakan dan berlari menjemput istri masing-masing. Sesuai dengan rencana Serena, sudah bisa dipastikan kalau Daniel dan yang lainnya akan tobat dan tidak akan memiliki pemikiran untuk berpesta seperti tadi.
"Serena, bagaimana ini?" bisik Emelie dengan debaran jantung tidak karuan.
"Semua akan baik-baik saja." Serena mengukir senyuman. Ia hendak meneguk minumannya karena Daniel sudah semakin dekat.
"Emelie." Zeroun yang pertama kali tiba. Pria tiu segera memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukannya. Bagaimana kalau ada yang melihat?"
Daniel juga muncul di ikuti Jordan dan yang lainnya. Mereka semua menutupi tubuh istri mereka dengan jas yang mereka miliki.
"Aku tahu ini semua pasti ide mu," bisik Daniel geram. Pria itu sampai mencium leher Serena hingga merah karena geram. "Apa sekarang kau senang? Apa ini?" Daniel mencium aroma alkohol dari minuman yang dipegang Serena. "Awas saja kau. Berani sekali kau minum minuman seperti ini lagi. Kau ingin sakit."
Marah Daniel marah sayang. Tentu saja Serena tidak takut sama sekali. Wanita itu justru mengangguk pelan. "Aku senang. Ayo kita mandi di pantai."
__ADS_1
"Ehm, baiklah. Ayo kita bersenang-senang," teriak Daniel penuh semangat. Mereka semua tertawa dan bercanda di bibir pantai. Ombak yang kencang membuat suasana siang itu semakin terasa mengasyikkan.
"Baby girl, apa kau sudah bosan hidup?" Jordan memegang pinggang Leona dengan tatapan khasnya. Walau tidak ada senyuman sama sekali tapi Leona tahu kalau suaminya tidak akan marah karena ulahnya kali ini.
"Ini pesta terbaik yang pernah aku temui. Ayo kita menari di sana." Leona mengalungkan kedua tangannya di leher Jordan. Tidak lupa memberi kecupan cinta di bibir sebagai bujukan agar sang suami tidak marah.
"Ehm, baiklah. Jangan lepas jasnya!" ancam Jordan lagi.
"Tidak janji!" jawab Leona dengan tawa ledekan.
Semua orang terlihat bahagia. Walau sedikit protes tapi tidak ada satu pria pun yang berani marah. Mereka tahu dan sadar kalau mereka yang salah. Tidak seharusnya mereka meninggalkan wanita yang mereka cintai. Karena bersama pasangan akan selalu ada kebahagiaan yang tiada tara.
Ada satu orang yang hanya berdiri dengan rasa cemburu di sana. Dia adalah Letty. Sambil memegang kedua lengannya wanita itu memutuskan kembali saja ke hotel. Di sana tempatnya orang yang berpasangan. Bukan untuk dirinya yang masih sendiri.
"Sepertinya aku tidak cocok di sini," gumam Letty sedih. Hingga tiba-tiba saja sebuah mantel bulu menyelimuti tubuhnya yang seksi.
Letty memutar tubuhnya. Ia memandang Miller berdiri di sana dengan seragam polisinya. Pria itu terlihat gagah. Wajahnya yang seolah cuek membuat Letty ingin mencubitnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Mommy dan Daddy memintaku datang. Kenapa kedua orang tuaku tidak bergabung dengan mereka? Kelihatannya seru."
"Kau datang karena di suruh Tante Sonia?"
"Ya." Tidak tahu kenapa Letty terlihat kecewa. Ia berharap kalau Miller datang karena dirinya. Dengan kesal wanita itu melepas mantel yang ada di tubuhnya dan berjalan pergi begitu saja.
"Kenapa kau melepasnya?" teriak Miller. Ia mengutip mantel bulu yang tergeletak di atas pasir dan membersihkannya secara perlahan.
"Benda itu sangat panas!" jawab Letty asal saja. Ia mempercepat gerakannya menuju ke mobil.
__ADS_1
"Hei, kau marah? Kenapa kau tidak berubah? Keras kepala!" umpat Miller sambil menatap wajah Letty. Satu tangannya memegang pergelangan tangan Letty agar wanita itu tidak pergi meninggalkannya.
"Aku yang salah?" Letty menunjuk wajahnya sendiri.
"Letty, jika aku ada salah kau harus mengatakannya. Bukan marah seperti ini." Miller kembali menutup tubuh Letty yang sejak tadi menggodanya.
"Kau harus menutupnya agar aku bisa bersikap dengan sewajarnya."
Letty memalingkan wajahnya dan menahan mantel di tubuhnya agar tidak terlepas lagi. Ia memutuskan diam saja daripada harus ribut dengan Miller.
"Kau belum menjawab ku. Di mana kedua orang tuaku?" tanya Miller lagi.
"Mereka sudah pulang."
"Mereka pulang? Lalu untuk apa mereka memintaku datang ke sini?" Miller menghela napas kasar dan bersandar di samping mobil. Ia menonton pasangan-pasangan yang kini sedang bersenang-senang.
"Kau tidak mau bergabung?"
"Aku tidak suka pesta."
Miller menaikkan satu alisnya. "Kau yakin?"
Letty memutar tubuhnya dan masuk ke mobil. Miller juga tidak mau kalah dan segera duduk di balik jok penumpang.
"Sekarang mau ke mana?" tanya Miller ketika Letty menghidupkan mesin mobilnya.
Letty hanya diam sambil melajukan mobilnya. Wanita itu tidak tertarik untuk banyak bicara dengan Miller.
"Oke, baiklah. Aku akan ikut ke manapun kau pergi." Miller bersandar dengan posisi yang nyaman. Pria itu terlihat lelah dan memutuskan tidur di dalam mobil.
__ADS_1