
Beberapa hari kemudian.
Hari semakin kacau. Bagaimana tidak? Leona tetap bertahan dengan komanya. Alana pergi meninggalkan Kwan. Katterine memutuskan untuk kembali bersama dengan Zeroun dan Emelie ke Cambridge. Aleo telah fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Shabira dan Kenzo juga memikirkan nasip perusahaan mereka karena pada kenyataanya. Kwan sangat tidak bisa di handalkan.
Sejak perkelahian itu, Zean menghilang entah ke mana. Sedangkan Letty di kabarkan telah tiba di Hongkong dan di rawat oleh Lana di sana. Nasipnya beruntung. Seperti itu yang dipikirkan Kwan ketika ia geram.
Di rumah sakit yang masih setia menemani Leona adalah Jordan, Kwan, Serena dan Daniel. Walau mereka hanya berempat, tapi pasukan Gold Dragon, Queen Star dan The Devils telah menyebar untuk melindungi Leona dari bahaya. Dengan penjagaan yang begitu ketat, mereka tidak perlu khawatir lagi ada orang jahat datang menghampiri.
Sore itu, Jordan sendirian menemani Leona di rumah sakit. Ia mengusap lembut tangan Leona dengan wajah sedih. Tubuh Leona semakin kurus. Jika di hitung dari pertama kali ia masuk rumah sakit. Sudah satu bulan Jordan tidak mendengar suara wanita tangguh itu.
"Apa kau terlalu nyaman dengan posisi seperti ini hingga akhirnya tidak ingin bangun?" ucap Jordan sebelum meletakkan tangan Leona di atas tempat tidur. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menghibur Leona agar bangun dari komanya. Tapi, wanita itu tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Jordan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Pria itu terlihat frustasi dan bingung. Kini Cambridge juga dalam pemulihan akibat ledakan yang terjadi. Lagi-lagi pihak kepolisian menangkap orang yang salah. Katterine sendiri yang bilang kalau orang yang di tangkap bukan orang yang sudah menculiknya.
Jordan merasa tidak berguna dengan status yang ia miliki. Kini pria itu sangat kacau. Di tengah kehancuran kerajaan Cambridge ia lebih memilih untuk fokus menjaga wanita yang ia cintai. Bahkan tidak menerimanya sebagai kekasih saat itu.
Zeroun sudah memberi perintah kepada Jordan untuk kembali ke Cambridge. Bagaimanapun juga, Leona bukan istri Jordan. Mereka tidak memiliki ikatan yang bisa di banggakan selain pertemanan. Itu juga semua orang masih ragu, apakah Leona menganggap Jordan sebagai teman atau tidak.
"Leona, Daddy memintaku untuk kembali ke Cambridge. Hanya beberapa hari saja. Tapi, aku tidak mau. Aku ingin menjadi orang yang pertama kali melihatmu membuka mata." Jordan memandang wajah Leona dengan senyuman pahit. "Baby girl, bangun!"
Jordan semakin frustasi saat wanita yang ia ajak bicara tidak juga memberi tanda. Bahkan tidak terlihat sedang merespon.
__ADS_1
Saat Jordan telah sibuk mengumpat kesal, terdengar jelas suara pintu terbuka. Serena dan Daniel muncul di sana. Ada Kwan juga. Mereka bertiga memandang wajah Jordan yang kusut layaknya pakaian sebulan tidak di setrika.
"Jordan, sebaiknya kau istirahat saja. Kau perlu memperhatikan penampilan dan kesehatanmu," ucap Serena dengan wajah khawatir.
Kwan berjalan mendekati Jordan. Pria itu menepuk pundak Jordan. "Ayo, ikut denganku. Aku akan membawamu ke hotel untuk membersihkan diri. Kak Leona tidak akan bangun jika melihat penampilanku yang acak-acakan seperti ini."
Jordan menghela napas. Sebenarnya itu bisa meminta bawahannya untuk membawakan baju. Tapi Jordan juga berpikir kalau ia butuh tidur. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kasur yang empuk. Pria itu hanya duduk diam sambil menatap wajah Leona.
Serena dan Daniel saling melempar pandang. Mereka mengukir senyuman indah. "Leona sangat beruntung bisa di cintai oleh pria yang sangat setia dan sabar seperti dirimu, Jordan. Maafkan Leona karena sudah banyak merepotkanmu selama ini."
"Tidak, Tante. Tidak masalah!" ucap Jordan dengan senyuman kecil. "Jordan juga tidak bisa melakukan apapun ketika melihat Leona seperti ini." Jordan memandang wajah Leona lagi.
Serena dan Daniel menjaga Leona dengan baik. Mereka mengajak Leona bercerita layaknya sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Sayang, Sonia dan Aldi akan datang. Mereka juga akan datang bersama dengan dua anak mereka," ucap Daniel sambil memandang wajah Serena.
"Benarkah?" Serena terlihat berseri ketika mendengar Sonia akan datang menemuinya. Wanita itu memang pernah menjadi pelakor di antara hubungannya dan Daniel dulu. Namun, saat ia kembali mengingat pertolongan Sonia yang menyelamatkan Daniel dan Zeroun. Seketika Serena luluh dan memaafkan wanita itu dengan hati yang lapang.
Daniel melihat jam yang melingkar di tangannya. "Seharusnya mereka sudah sampai. Aldi bilang tadi sudah di jalan."
Serena memandang ke arah pintu. Wanita itu memasang wajah yang sangat serius. Walau sudah berumur, tapi ia tetap bisa merasakan seseorang mendekatinya. Dengan wajah yang sangat waspada, Serena memandang ke arah pintu itu hingga beberapa detik.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau lihat?" tanya Daniel bingung.
"Sepertinya mereka memang sudah dekat."
Daniel dan Serena sama-sama memandang ke arah pintu. Mereka telah siap menyambut kedatangan tamu mereka saat itu. Pintu terbuka. Seorang wanita yang sudah berumur namun masih terlihat elegan muncul. Sonia menatap wajah Serena dengan rasa bahagia.
Serena dan Daniel beranjak dari kursi mereka. Sepasang suami istri itu menyambut kedatangan tamu mereka.
"Sonia, Aldi," sapa Serena.
Dua wanita itu saling berpelukan dengan penuh kerinduan. Sudah lama sekali mereka tidak bertatap muka. Apa lagi berkumpul walau sekedar mengobrol.
"Serena, ini anak-anakku," ucap Sonia sambil menunjuk seorang pria dan seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Serena memandang wajah dua anak Sonia dengan senyuman indah. "Kalian sudah besar ya. Miller dan Natalie," ucap Serena sambil mengingat-ingat wajah kedua anak Sonia saat di foto dulu.
"Senang bertemu dengan Tante. Saat ini siapa yang sakit Tante?" tanya Miller dengan senyuman.
Serena memutar tubuhnya dan menunjuk ke arah Leona. "Kakakmu. Eleonora ...."
Miller memandang wajah Leona dengan tatapan yang sangat serius. "Kak Leona?"
__ADS_1