Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 84


__ADS_3

Semua orang berbahagia malam ini. Walau sebagian harus menderita sebelum mendapatkan kebahagiaan itu. Tapi, pengorbanan itu seperti tidak ada sakitnya ketika pada akhirnya permusuhan telah berkahir.


Resepsi pernikahan Alana dan Kwan telah selesai. Para tamu undangan telah pulang. Bahkan beberapa pelayan terlihat sibuk membersihkan aula.


Namun, di mata pengantin baru itu acara tidak berakhir. Ya, setelah Aleo dan Tamara jadian acara tambahan telah di buat Kwan dan Alana. Memang yang tersisa hanya beberapa saja. Para orang tua memutuskan kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.


Kwan dan Alana tersenyum bahagia melihat saudaranya berkumpul. Ya, walau tidak lengkap. Diva sekeluarga tidak dapat hadir karena ada masalah di dalam kehidupan mereka. Putra putri dari pasangan Sonia dan Aldi juga tidak bisa datang karena ada urusan mendadak yang harus mereka selesaikan.


Di meja bundar itu hanya ada Leona, Jordan, Kwan, Alana, Aleo dan Tamara. Cukup sedikit memang. Walau sudah hampir jam 12 tapi Oliver dan Katterine tidak juga menunjukkan batang hidung mereka.


"Kalian belum tidur?" Letty muncul dengan pakaian tidurnya. Wanita itu memandang wajah semua orang sebelum duduk di salah satu kursi.


"Maafkan aku, Kwan. Aku tidak bisa hadir tadi karena kepalaku sedikit pusing," dusta Letty dengan wajah yang menyakinkan.


"Tidak masalah. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Kwan khawatir.


"Sudah jauh lebih baik." Letty menuang minuman beralkohol yang ada di hadapannya. Tanpa mengajak yang lain untuk minum, wanita itu menghabiskan minumannya dengan rakus.


Tak tak. Suara high heels seorang wanita mengalihkan pandangan semua orang yang ada di sana. Dari arah pintu masuk terlihat Katterine dan Oliver yang baru saja tiba. Dengan memakai pakaian serba putih mereka justru terlihat seperti sepasang pengantin. Bibir Katterine tersenyum bahagia. Di tangannya ada sebuah paper bag.


"Apa tidak kelihatan?" tanya Oliver tanpa memandang.


"Tidak akan ada yang sadar kecuali kau meringis kesakitan di sana nanti," jawab Katterine tetap dengan senyuman manis.


"Berjalanlah lebih lambat agar lukamu tidak semakin melebar."


Oliver hanya diam menuruti permintaan sang kekasih. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Penampilannya kali ini memang cukup rapi hingga membuat semua orang tidak sadar kalau di balik bajunya ada tubuh yang babak belur.


"Katterine, kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru kembali?" tanya Leona khawatir.


"Maafkan aku, Kak. Aku membeli hadiah untuk Kwan dan Alana. Tapi terjadi sesuatu di jalan."


"Apa kalian baik-baik saja?" Alana terlihat sangat khawatir. Wanita itu sampai harus beranjak dari duduknya.


"Ya. Aku dan Oliver baik-baik saja." Katterine berjalan mendekati Alana untuk memberikan hadiah yang ia bawa. "Alana, aku harap kau menyukainya."


"Terima kasih, Katterine."


Kwan merasa lega karena orang yang sejak tadi ia tunggu telah tiba. Pria itu memainkan botol kosong dan siap memulai permainan.


"Oke, waktunya bermain. Semua orang diharapkan duduk pada kursinya masing-masing."


Saat semua orang duduk bersama pasangan mereka masing-masing, Letty duduk sendirian dengan bangku kosong di sampingnya. Ia benar-benar jenuh. Bahkan berulang kali mengumpat karena Miller tidak kunjung muncul.


"Di mana dia? Sesibuk apa dia hingga tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan Kwan dan Alana?" gumam Letty di dalam hati.


Saat semua orang sedang asyik bermain, Jordan justru memandang wajah Oliver dengan begitu teliti. Ia tahu kalau ada yang salah dari penampilan Oliver malam ini. Pria itu tidak seperti biasanya. Terlihat jelas seperti ada yang ditutupi. Sejak kecil mereka sudah sering bersama, wajar saja kalau Jordan tahu jika Oliver sedang menyembunyikan sesuatu.


Tapi Jordan juga tidak mau semua orang tahu. Sebisa mungkin ia menyimpan rasa penasaran itu sendirian. Jordan tahu kalau dia bertanya di saat yang seperti ini tentu saja membuat perhatian semua orang teralihkan. Acara yang seharusnya membahagiakan harus berakhir berantakan.


"Kak Aleo," teriak Kwan ketika ujung botol berhenti di hadapan Aleo. Kwan terlihat bahagia karena bisa memiliki kesempatan untuk mewawancarai kakaknya yang terkenal santai itu.


"Kak, mau tantangan atau jujur?" tanya Kwan dengan senyum jahatnya.


"Jujur. Aku pria yang tidak suka berbohong. Berbeda denganmu," sindir Aleo puas.


Kwan mendengus kesal. "Kenapa kau jadi dendam seperti ini kepadaku. Baiklah. Aku akan membalas kakak malam ini."


Kwan menatap wajah Tamara sebelum memandang wajah Aleo lagi.


"Jika saja Tamara tidak hadir dalam hidup kakak, apa kakak akan menikah dengan Clara?"


Deg. Semua orang tercengang mendengar pertanyaan Kwan malam itu. Bahkan Alana yang kesal mencubit perut Kwan dengan begitu kuat.


"Alana, kenapa kau mencubitku?" protes Kwan.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Lihatlah bagaimana wajah Tamara saat ini," bisik Alana.


"Tenang saja. Aku yakin Kak Aleo bukan pria mudah menyerah," jawab Kwan santai.


Aleo memandang wajah Tamara dan menggenggam tangan wanita itu. "Sama sepertimu Kwan. Kau sangat suka bergonta-ganti pasangan dulunya. Tapi pada akhirnya kau menikah dengan Alana. Kenapa kau tidak menikah dengan salah satu wanita yang pernah kau ...." Aleo mengangkat alisnya.


"Kak!" protes Kwan mulai takut jika aibnya di bongkar di depan Alana.


Aleo dan Leona sama-sama tertawa melihat wajah takut Kwan malam itu. Ibarat senjata makan tuan, seperti itulah yang dirasakan Kwan malam ini.


"Jika aku tidak pernah bertemu Tamara, mungkin saat ini aku masih duduk di kantor sambil memikirkan pekerjaan. Clara memang wanita yang baik. Tapi, aku tidak pernah merasakan sebuah getaran cinta ketika ada di dekatnya. Mungkin dia hanya pantas menjadi sahabat saja. Tidak lebih."


Jordan tepuk tangan atas jawaban Aleo. Tepuk tangan pria itu di sambung oleh yang lainnya. Tamara tersenyum bahagia mendengar jawaban Aleo. Walau masih malu-malu dan canggung tapi ia tidak lagi risih ketika Aleo memegang tangannya dengan lembut.


"Baiklah. Next!"


***


Saat yang muda-muda telah asyik bersenang-senang. Kini para orang tua sedang sibuk merayu istri mereka. Salah satunya Zeroun. Kembali dengan mulut berbau alkohol membuat Emelie murkah. Mungkin kalau dulu ia masih bisa terima. Tapi kini, saat Zeroun sudah tua ia benar-benar ingin menjaga kesehatan sang suami.


"Baby ...."


"Pergilah. Aku tidak mau tidur denganmu malam ini." Emelie memiringkan tubuhnya ke samping hingga membelakangi Zeroun. Wanita itu menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya.


"Aku bertemu dengan ...." Zeroun benar-benar pusing memikirkan alasan yang tepat untuk membujuk istrinya.


"Aku lelah mendengar alasanmu. Kau memang suka meninggalkanku di saat aku tidak siaga."


"Emelie, tidak seperti itu. Tadi aku harus segera pergi menemui Lukas. Ya. Lukas. Mobil Lukas menabrak seorang kakek tua di jalanan. Kau tahu bagaimana emosinya Lukas bukan? Bukan minta maaf ia justru memulai keributan di sana."


"Lalu kau datang ke sana untuk berdamai dengan pria yang di tabrak Lukas? Apa pria itu baik-baik saja?" tanya Emelie seperti mulai tertarik.


"Ya. Aku datang tepat waktu jadi masalah ini bisa cepat selesai." Zeroun merasa bangga dengan alasan yang baru saja ia buat.


Di sisi lain, Lana juga sedang menghakimi sang suami. Di depannya Lukas duduk dengan kepala menunduk.


"Ini semua karena Bos Zeroun. Aku pergi untuk membantunya." Lukas tidak tahu lagi alasan apa yang harus ia gunakan selain menjual nama Zeroun.


"Oh ya. Kebetulan memang kalian berdua menghilang secara bersamaan. Kalau boleh aku tahu, masalah apa yang dihadapi Bos Zeroun hingga ia membutuhkan bantuanmu?"


Lukas menunduk semakin dalam. Jika salah menjawab semua bisa semakin berantakan.


"Sebenarnya hanya masalah kecil. Bos Zeroun ingin membelikan kalung berlian untuk Nona Emelie. Tapi kalung itu hilang. Jadi aku harus membantunya mencari."


Lana mengangguk seolah percaya. "Apa gunanya pengawal istana dan Gold Dragon yang kita punya?"


"Mereka juga sudah membantu, tapi tidak juga berhasil."


"Lalu, kalung itu bisa ditemukan atau tidak?"


"Tidak. Wajah Bos Zeroun benar-benar kecewa tadi."


Lana membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia lelah mengintrogasi suaminya. Wanita itu lebih memutuskan tidur saja.


"Lana, apa kau sudah memaafkanku?" tanya Lukas hati-hati.


"Hemm. Tidurlah. Aku lagi baik hati malam ini." Lukas tersenyum mendengar jawaban sang istri. Ia tidak pernah tahu kalau hari esok akan menjadi hari yang buruk ketika kebohongan yang ia katakan ketahuan.


***


Acara sudah benar-benar berakhir. Semua orang sudah kembali ke kamar untuk beristirahat. Katterine berjalan pergi meninggalkan kamar hotelnya. Wanita itu mengintip dan memastikan tidak ada yang melihatnya pergi meninggalkan kamar.


Sambil membawa kotak di tangannya, Katterine berjalan menuju kamar Oliver. Kwan dan Alana memiliki bisnis hotel. Kali ini hotel yang mereka gunakan sebagai tempat resepsi adalah hotel mereka sendiri. Maka dari itu semua kamar terbaik diberikan kepada keluarga tercinta untuk istirahat. Sisanya untuk tamu undangan yang rumahnya benar-benar jauh.


Katterine mengetuk pintu kamar Oliver dengan hati-hati. Berharap pria itu belum tidur dan masih bisa membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Katterine?" Oliver mengeryitkan dahi ketika melihat Katterine ada di depan kamar hotel yang ia tempati. Pria itu memeriksa lorong kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat kedatangan Katterine.


"Aku ingin mengobati lukanya." Katterine menunjuk bagian perut Oliver yang lukanya masih basah.


"Masuklah." Oliver menarik tangan Katterine dan membawa wanita itu masuk. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Tidak lagi wajar bagi Katterine masuk ke dalam kamar pria seperti ini. Tapi, ia tidak bisa tidur jika belum memastikan luka Oliver baik-baik saja.


Sambil berjalan masuk Oliver membuka topeng yang ia pakai. Ya, berkat bantuan Pieter pria itu bisa muncul di hadapan semua orang dalam keadaan baik-baik saja. Pieter memberikan pinjaman topeng yang mirip wajah Oliver. Pria itu meletakkan topengnya di atas meja. Setiap kali keluar pria itu harus memakai topeng agar semua orang tidak tahu apa yang sudah ia lakukan.


"Duduk sini." Katterine membuka kotak yang ia bawah. Wanita itu memilih beberapa alat medis untuk membersihkan luka Oliver.


"Kata dokter akan cepat kering. Jangan khawatir." Oliver menjatuhkan tubuhnya di samping Katterine.


"Aku tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri." Katterine memandang wajah Oliver dengan saksama.


"Buka."


"Buka?" tanya Oliver bingung.


"Ya. Buka bajunya. Apa kau mau aku yang membukakannya?" tawar Katterine dengan wajah tidak keberatan.


"Tidak. Aku bisa melakukannya." Oliver segera membuka kaos yang ia gunakan. Meletakkannya di gagang sofa. Ketika baju itu terbuka, terlihat jelas perban yang basah karena darah yang keluar dari luka yang ia dapat.


"Apa ini yang kau bilang baik-baik saja?" protes Katterine kesal.


Oliver hanya bisa pasrah ketika sang kekasih membuka satu persatu perbannya untuk menggantinya yang baru.


"Bersandarlah agar aku bisa lebih muda mengobatinya."


Oliver menghela napas dengan kasar sebelum bersandar. Kedua matanya tidak bisa berpaling dari wajah Katterine. Walau hanya menggunakan piyama biru tapi wanita itu tetap saja terlihat sangat cantik. Wajahnya yang polos membuat Oliver merasakan sesuatu yang aneh.


"Sial! Apa yang aku pikirkan!" gumam Oliver ketika pikiran nakal mulai memenuhi isi pikirannya.


"Aku tidak suka melihatmu terluka," ucap Katterine sambil memasang perban di bagian perut Oliver.


"Aku pemimpin geng. Luka seperti ini sudah bisa aku dapatkan."


"Apa tidak sakit?" Katterine melirik Oliver sejenak sebelum melanjutkan tugasnya.


"Tidak."


Suasana berubah hening hingga beberapa saat. Baik Oliver maupun Katterine kini melamun.


"Oke sudah selesai." Katterine tersenyum bahagia ketika di tubuh Oliver telah terpasang perban yang baru. "Lukanya akan segera kering."


"Katterine, jika nanti kita menikah. Apa kau mau mengobatiku ketika aku terluka?"


Katterine tersenyum. "Kau tidak akan terluka lagi setelah kita menikah." Katterine menjatuhkan kepalanya di dada bidang Oliver. "Karena setelah menikah nanti kau hanya akan menghabiskan waktumu untukku. Bukan untuk Gold Dragon lagi."


Oliver mematung ketika tubuh hangat kekasihnya kini ada di dada bidangnya. Memeluknya hingga membuat sensasi hangat dan gelenyar yang aneh.


"Apa kau tidak ngantuk?" tanya Oliver sambil mengusap rambut Katterine.


"Tidak." Katterine mulai memejamkan matanya. Ia sangat ngantuk tapi tidak mau tidur sendirian di kamarnya. Tidur di dalam dekapan Oliver adalah tempat ternyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Kenapa kau bisa muncul di tempat tadi? Apa kau pikir itu tidak berbahaya? Semua yang ada di sana adalah pria. Bagaimana kalau ada yang berani menyentuhmu sembarangan? Jika kau sudah tahu sejak awal, kenapa berpura-pura seperti tadi? Kau memang wanita yang pandai akting."


Oliver terus saja berbicara tanpa sadar kalau lawan bicaranya kini sudah tidur dengan lelap.


"Melihat Kwan dan Alana menikah membuatmu ingin segera menikahimu. Sepertinya perkataanmu yang dulu menjadi nyata. Dulu kau pernah bilang, jika nanti aku sudah jatuh cinta padamu justru aku yang akan mengejar-ngejar dirimu."


"Katterine, bagaimana kalau pernikahan kita di percepat saja?" Oliver menunduk untuk melihat wajah Katterine. Tapi sayangnya wanita itu sudah tertidur pulas di dalam pelukan Oliver.


"Pasti kau sangat lelah." Oliver mengusap pipi Katterine dengan senyuman. Pria itu mengangkat tubuh Katterine dan membawanya menuju ke tempat tidur. Ia membaringkannya di sana dan menyelimuti Katterine secara hati-hati agar Katterine tidak terbangun.


"Selamat tidur."

__ADS_1


***


__ADS_2