Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 43


__ADS_3

Pieter berjalan menuju ke sebuah ruangan. Disampingnya ada Lusya. Mereka berdua berjalan dengan begitu cepat. Di sepanjang jalan menuju ruangan tersebut, Mereka melihat beberapa pria berbadan tegap berdiri di sana. Ruangan itu terlihat sangat temaram walau kini hari masih siang.


"Silahkan masuk." Seorang pria membuka pintu menyambut kedatangan mereka berdua. Tanpa menunggu lama lagi Pieter dan Lusya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Setelah tiba di dalam ruangan tersebut, lokasinya tidak sama dengan ruangan yang sempat mereka lewati. Ruangan tersebut terlihat sangat terang dan dipenuhi dengan angin yang segar. Bahkan dari jendela tersaji pemandangan yang begitu indah. Seorang pria duduk di sebuah kursi sambil memainkan sebuah piano. Pria itu terlihat sangat menikmati musik yang baru saja ia ciptakan.


Pieter berjalan mendekati pria tersebut. Sedangkan Lusya hanya diam di posisinya dengan wajah sedikit takut. Ia merasa bersalah karena tidak berhasil melaksanakan tugas yang telah dibebankan terhadapnya. Datang ke tempat itu dengan kegagalan sama saja seperti datang untuk menyerahkan nyawanya.


"Pangeran, saya sudah berhasil membereskan Roberto. Pria itu tidak akan pernah ditemukan."


Pria itu masih terlihat asyik dengan Pianonya. Ia mengabaikan kalimat yang disampaikan oleh Pieter. lama-kelamaan musik yang dimainkan pria itu terdengar sangat menyeramkan. Seperti sebuah musik malaikat maut yang ingin merenggut nyawa seseorang.


Lusya mulai tidak nyaman berada di ruangan tersebut. Namun tidak ada jalan untuk lari lagi. Kini posisinya telah terjebak di dalam ruangan tersebut.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, pria itu mengakhiri permainannya. Ia meneguk minuman yang berada tidak jauh dari posisinya. Setelah itu ia menatap wajah Pieter dengan tatapannya begitu tajam.

__ADS_1


Dia adalah Pangeran Martine. Pangeran yang kini memiliki tugas untuk memimpin Monaco. Wajahnya yang tampan membuat siapa saja tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang pembunuh. Dendamnya muncul ketika cerita tentang Damian sampai ke telinganya. Sejak saat itu ia mulai tertarik untuk menyelidiki kehidupan di dalam istana Chambridge.


Pangeran Martine merasa kalau tidak ada orang yang paling hebat selain dirinya. Tujuan utama kemunculan dirinya adalah kematian Zeroun dan Emelie. Ia tahu kalau sepasang suami istri itu adalah faktor utama yang harus ia singkirkan jika ingin menghancurkan istana Cambridge. Dengan begitu ia merasa Damian akan tenang.


"Kau yakin dia tidak akan ditemukan? Bukankah kemarin kau juga bilang seperti itu. Tidak ada satu orang pun yang akan menemukan Katterine. Tapi pada nyatanya kini wanita itu masih hidup dan berlindung di dalam istananya."


"Maafkan atas kelalaian saya. Tadinya saya pikir tanpa bantuan Anda saya bisa mengatasi semuanya. Tidak saya sangka kalau mereka bukanlah orang yang biasa."


Pangeran Martine tertawa geli mendengar jawaban dari Pieter. Pria itu berjalan mendekati Lusya yang sejak tadi terlihat tidak tenang.


Lusya masih belum berani memandang wajah pangeran Martine. Bahkan wanita itu menggenggam gaun yang ia gunakan dengan tangan dipenuhi keringat.


"Maafkan saya pangeran. Sejak awal saya memang wanita yang tidak berguna."


"Sssttt. Jangan pernah katakan kalau kau adalah wanita yang tidak berguna. Karena sejauh ini kau sudah banyak membantu ku."

__ADS_1


Pangeran Martine mengambil segelas minuman. Ia memberikan minuman itu kepada Lusya.


"Minumlah."


Lusya memandang minuman itu dengan wajah yang pucat. Ia benar-benar takut jika minuman yang kini diberikan kepadanya adalah minuman yang mengandung racun.


"Kau tidak mau menerima pemberianku lagi?"


"Maafkan saya Pangeran jika saya telah menyinggung perasaan Anda. Saya akan bekerja lebih baik lagi dan tidak akan mengecewakan anda. Tapi tolong jangan bunuh saya."


Pangeran Martine tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan yang diucapkan oleh Lusya. Ia menuang minuman itu ke lantai dan melempar gelasnya begitu saja.


"Kau tahu kalau aku sudah memberikan racun di dalam minuman itu? Sepertinya kemampuanmu naik satu tingkat."


Lusya menelan salivanya dengan penuh ketakutan. Ia tidak menyangka kalau Pangeran Martin benar-benar ingin membunuhnya dengan racun.

__ADS_1


"Baiklah kali ini kalian berdua harus bekerja sama. Jika gagal kalian akan tahu resikonya."


__ADS_2