Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Jalan-jalan


__ADS_3

Malampun kembali tiba. Setelah melewati makan malam, Alana dan Leona duduk di ruang keluarga. Ada sebuah majalah yang sedang di baca oleh dua wanita cantik itu. Mereka terlihat sangat serius. Serena dan Daniel memutuskan untuk beristirahat di kamar. Sedangkan Aleo sendiri belum pulang. Masih ada rapat yang harus ia hadiri.


Alana merasa sangat bosan. Wanita itu ingin berjalan-jalan untuk menjelajahi kota Sapporo. “Kak, aku boleh keluar?” ucap Alana dengan wajah penuh harap.


Leona menatap wajah Alana dengan saksama. “Boleh. Aku akan bersiap-siap dulu,” ucap Leona sambil tersenyum.


“Jangan! Kakak tadi bilang kalau sangat lelah karena berlatih hari ini. Sebaiknya aku pergi dengan supir saja,” ucap Alana dengan wajah yang sangat serius dan menyakinkan.


Leona menatap jam yang masih menunjukkan pukul delapan malam. “Baiklah. Aku akan siapkan supir. Jangan lama-lama tapi ya,” ucap Leona. Wanita itu sudah sangat mengantuk. Ia ingin segera tidur saja di dalam kamar.


“Terima kasih, Kak,” ucap Alana penuh semangat. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki dan berjalan ke arah tangga. Leona mengambil ponselnya dari atas meja. Wanita itu ingin meminta tolong kepada seseorang untuk menjaga Alana. Selama ini, ia sangat tahu, kalau pria yang kini ia hubungi sangat mencintai Alana.


Kesempatan emas seperti ini dimanfaatkan Leona untuk membuat hubungan Alana dan Kwan lebih dekat lagi. “Kwan, Alana akan segera berjalan-jalan malam ini. Kau bisa menemuinya dan menemaninya,” ucap Leona sebelum beranjak dari sofa. Wanita itu tersenyum indah saat mendengar suara bahagia yang terdengar dari kejauhan. Kwan terlihat sangat kegirangan.


Setelah selesai menghubungi Kwan, Leona memberi perintah kepada supir untuk meyiapkan mobil. Wanita itu juga memberi perintah kepada supir itu untuk mengantar kemanapun Alana ingin pergi nantinya.


***


Beberapa saat kemudian.


Alana turun dari mobil. Wanita itu memberi perintah kepada supir yang mengantarnya untuk pulang lebih dulu. Malam itu Alana ingin berjalan-jalan sendirian untuk menikmati kota Sapporo di malam hari. Selama ini, ia selalu di awasi dengan pengawal. Untuk liburannya kali ini, Alana ingin bebas. Jika ada pengawal, Alana meminta untuk menjaga jarak dengan dirinya.

__ADS_1


Ada beberapa toko yang di masuki Leona namun tidak ada satu barangpun yang berhasil ia bawa. Wanita itu terlihat sangat bingung. Sejak tadi, tidak ada satu barangpun yang berhasil membuatnya tertarik. Alana sampai merasa bosan. Wanita itu berjalan ke arah jalan yang terlihat sunyi. Hanya ada beberapa pengunjung saja yang berlalu lalang.


“Hei, Nona,” ledek beberapa pria yang bersandar di dinding. Mereka menatap wajah cantik Alana dengan tatapan penuh arti.


Alana berjalan cepat saat merasa ada yang aneh dengan dua pria yang baru saja ia temui. Wanita itu menunduk dengan tangan mencari-cari ponsel. Tidak ada nama lain yang ada di pikirannya selain nama Biao. Hanya sang Ayah yang bisa menolongnya jika dalam keadaan seperti ini. Walaupun kini, jarak mereka tidaklah dekat.


Sesekali Alana memperhatikan keadaan sekitar. Biasanya, beberapa pengawal yang menjaganya selalu terlihat. Tapi, kali ini tidak ada satupun yang memperlihatkan batang hidungnya. “Apa tunggu aku celaka, mereka baru muncul?” umpat Alana kesal. Wanita itu terus saja melangkah cepat untuk menjauh dari dua pria itu.


Tiba-tiba saja, sebuah tangan kekar menggandeng pinggang Alana. Wanita itu terperanjat kaget. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah pria yang sudah berani menyentuh tubuhnya. Kedua matanya mengerjap hingga beberapa kali saat melihat pria itu adalah Kwan.


“Baby, apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah malam, kenapa kau tidak pulang ke rumah?” ucap Kwan dengan bibir tersenyum indah. Walau di depan wajahnya terlihat tenang, tapi tidak dengan hatinya. Pria itu melirik tajam ke arah dua pria yang sudah berani memiliki niat jahat terhadap wanita yang ia cintai.


Satu tangan Kwan menggenggam sebuah belati. Pria itu memainkan belati itu di belakang punggung Alana untuk mengancam dua pria tersebut. Seperti apa yang di pikirkan Kwan. Setelah melihat belati yang sangat tajam milik Kwan, dua preman itu menghentikan langkah kaki mereka. Dua pria itu memutar tubuh dan mengurungkan niatnya untuk mengganggu Alana.


Kwan memasukkan kembali belati miliknya sebelum berjalan mengikuti jejak kaki Alana. “Baby, aku akan menemanimu untuk mencarinya,” tawar Kwan.


“Benarkah?” tanya Alana dengan wajah berseri.


“Ya.”


“Kwan, apa kau tahu. Warna kesukaan Kak Aleo apa? Aku ingin membelikan dasi untuknya. Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena dia telah membantuku menyelesaikan masalah di perusahaan semalam,” ucap Alana dengan senyuman indah.

__ADS_1


“Kak Aleo lagi. Padahal pria itu tidak ada di sini. Bisa-bisanya, nama Kak Aleo selalu muncul di dalam ingatannya,” gumam Kwan di dalam hati.


“Kwan, apa kau mendengarku?” tanya Alana sambil menepuk pelan pundak Kwan.


Kwan mengangkat kedua bahunya. “Pink,” jawab Kwan asal saja.


“Benarkah? Tapi aku belum pernah melihatnya mengenakan dasi berwarna pink.” Alana terlihat berpikir keras. Wanita itu memukul pelan wajahnya dengan jari.


“Dia tidak suka memakai barang pemberian orang lain,” ucap Kwan. Ia tidak ingin Alana terlalu perhatian kepada Aleo. Kwan cemburu. Pria itu sudah terlanjur cinta kepada Alana. Ia tidak ingin cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.


“Pria yang buruk,” ucap Alana dengan wajah kecewa.


“Berbeda denganku yang selalu menghargai barang pemberian orang lain,” ucap Kwan dengan bibir tersenyum.


Alana melirik ke arah Kwan sebelum menggeleng pelan. Wanita itu juga terlihat mengukir senyuman melihat tingkah lucu Kwan. “Kau pria yang murah senyum dan tertawa. Sangat jauh berbeda dengan Kak Aleo.” Alana mulai melangkahkan kakinya. Wanita itu memandang ke arah depan. Pemandangan malam yang sangat indah. Lampu bersinar terang menyinari setiap jalanan yang ia lalui. Beberapa orang yang berlalu lalang menambah keramaian di tempat tersebut.


“Alana, aku mau melakukan permainan. Tapi, permainan ini bisa dilakukan oleh dua orang. Apa kau mau membantuku?” Kwan menghentikan langkah kakinya. Pria itu menatap wajah Alana dengan saksama.


“Apa?” ucap Alana dengan wajah bingung.


“Nama permainannya....” Kwan memandang ke arah depan. Tepatnya di belakang Alana berdiri. Seorang pria mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya ke arah Alana berdiri. Kwan melebarkan kedua matanya sebelum menarik tangan Alana. “Alana, awas!”

__ADS_1


DUARR DUARR


__ADS_2