Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tidak Terduga


__ADS_3

London


“Sayang, ingat apa yang tadi aku katakan. Jangan keluar rumah malam-malam. Hubungi aku jika terjadi sesuatu denganmu.” Jordan mengusap lembut pipi Leona. Pria itu benar-benar sangat khawatir jika harus meninggalkan tunangannya di London. Memang di rumah itu ada banyak pengawal dan pelayan. Tapi, tetap saja Jordan merasa tidak tenang. Bahkan tidak tega untuk meninggalkannya.


Leona merangkulkan kedua tangannya di leher jenjang Jordan. Ia mengukir senyuman manis. “Jordan sayang, apa kau lupa kalau aku bisa melindungi diriku. Tenang saja. Aku pasti akan segera menghubungimu jika terjadi sesuatu di kediamanku ini.” Leona berusaha keras agar Jordan percaya dengan apa yang ia katakan. Walau memang kini mereka tidak tinggal satu rumah, tapi jarak antara rumah Leona dan istana Jordan tidak lah jauh.


“Kau sering berbohong.” Jordan menatap tajam kedua bola mata Leona. “Jika kau mencintaiku, kau harus menjaga dirimu dengan baik. Setelah kita menikah nanti, biar aku yang akan menjagamu selama 24 jam.”


Leona memandang ke arah mobil. Ia bisa melihat wajah jutek Oliver karena terlalu lama menunggu. Leona mengangguk pelan dengan penuh semangat. “Oke, Pangeran. Jangan khawatir. Aku pasti baik-baik saja. Bukankah besok kita akan jumpa lagi? Oliver sepertinya sudah bosan karena terlalu lama menunggu.”


Jordan melekatkan hidungnya di hidung Leona. Pria itu mengukir senyuman indah. “Aku pulang dulu,” bisik Jordan mesra.


“I love you.” Leona menggerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri hingga hidung mereka bergesekan.


“I love you to.” Jordan menjauhkan wajahnya. Ia memandang wajah beberapa pengawal yang berdiri di depan pintu. Pria itu mengacak rambut Leona sejenak sebelum memutar tubuhnya dan berjalan ke arah mobil.


Leona melipat kedua tangannya di depan dada sambil melihat kepergian Jordan. Senyum manis di bibirnya tidak kunjung luntur. Jordan memang memaksanya untuk tinggal di istana. Tapi, Leona lebih nyaman tinggal di rumah orang tuanya yang ada di London. Sejak dulu setiap kali mengunjungi Zeroun dan Emelie, Daniel dan Serena selalu tinggal di rumah itu.


Oliver memandang wajah Leona. Ia menghidupkan klakson mobil sebelum melajukan mobilnya secara perlahan. Ia menutup kaca mobilnya setelah jarak mobilnya dan rumah itu sudah menjauh.


Leona memutar tubuhnya dan masuk ke dalam rumah. Ia merasa sangat lelah dan ingin segera membersihkan diri. Leona menahan langkah kakinya ketika mengingat oleh-oleh yang di belikan Oliver untuk Katterine. Hingga detik ini, baik Jordan maupun Leona belum tahu apa isi paper bag berukuran besar itu. 


“Seperti sebuah tas atau mungkin gaun? Oliver memang pria yang tidak peka. Aku berpikir kalau dia akan membelikan Katterine kalung, gelang atau cincin. Dia justru kepikiran untuk membeli sebuah barang.” Leona melanjutkan langkah kakinya. Ia sendiri sudah tidak sabar untuk menerima kabar dari Jordan mengenai isi oleh-oleh yang ingin diberikan Oliver kepada Katterine.

__ADS_1


***


Istana Cabridge.


Jordan dan Oliver baru saja tiba di istana. Dua pria itu segera turun dari dalam mobil ketika pengawal kerajaan membukakan pintu. Jordan membawa beberapa paper bag di tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan hadiah itu kepada kedua orang tuanya. Sedangkan Oliver, pria itu terlihat bingung. Jordan terlihat sengaja meninggalkan paper bag yang berisi hadiah untuk Katterine.


“Pangeran!” teriak Oliver untuk mengingatkan Jordan.


Tapi, Jordan terlihat tidak peduli. Pria itu terus saja berjalan masuk ke dalam istana tanpa memperdulika Oliver lagi. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi kedua orang tuanya ketika melihat hadiah spesial yangdipilihkan oleh Leona.


Oliver menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau ia mengambil hadiahnya dan membawanya masuk. Dengan langkah yang sangat berat, pria tangguh itu masuk ke dalam istana.


Di dalam istana, Jordan menghentikan langkah kakinya. Ia mengukir senyuman saat melihat kedua orang tuanya duduk dan mengobrol di ruangan keluarga. Ada Katterine juga di sana. 


“Mom,” teriak Jordan dengan suara sedikit teriak.


Jordan menghela napas ketika melihat adiknya berlari menghampiri. Bukan sekali saja ia di beri harapan palsu oleh Katterine. Sudah sangat sering. Kali ini Jordan tidak berharap di sambut apa lagi mendapat pelukan Katterine. Sudah pasti putri Cambridge itu berlari karena ingin memeluk Oliver.


Jordan berjalan dengan santai mendekati kursi. Katterine menghentikan langkah kakinya dengan wajah cemberut. Wanita itu memandang Jordan dengan kesal.


“Kak, kau menyebalkan sekali. Apa kau tidak merindukan adikmu ini?” protes Katterine dengan wajah sedih.


Jordan tertegun. Masih dengan wajah tidak percaya. Ia memutar tubuhnya untuk memastikan kalau Oliver ada di belakangnya. Setelah melihat wajah Oliver ada di sana, Jordan kembali memandang wajah Katterine untuk memastikan apa yang kini diinginkan wanita itu.

__ADS_1


“Bukannya biasanya kau selalu memeluk Oliver dan mengabaikanku,” ucap Jordan dengan wajah tenang.


Katterine memandang wajah Oliver sejenak sebelum memandang Jordan lagi. “Itu biasanya. Kalau sekarang, aku tidak mau memeluknya lagi. Dia pria yang menyebalkan,” ucap Katterine. Karena sudah tidak mood lagi, Katterine memutuskan untuk kembali ke sofa.


Oliver hanya diam saja mendengar perkataan Katterine. Pria itu melanjutkan langkah kakinya mendekati posisi Jordan dan yang lainnya berada. Paper bag yang berisi hadiah oleh-oleh untuk Katterine masih ia genggam.


“Mom, Dad. Ini ada oleh-oleh.” Jordan memberikan paper bag yang ia bawa kepada Zeroun dan Emelie.


“Untukku mana?” protes Katterine ketika melihat dirinya tidak di beri hadiah oleh Jordan.


“Aku tidak tahu apa yang kau inginkan. Jadi, aku tidak membelikan apapun untukmu,” jawab Jordan santai saja. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa dengan posisi nyaman. “Tapi, kau tenang saja Katterine. Oliver sudah membelikan oleh-oleh spesial untukmu. Apa kau tahu? Di saat kami tidak ingat denganmu, Oliver secara diam-diam pergi untuk mencari hadiah itu. Dia pria yang manisjuga ternyata,” ucap Jordan dengan tawa tertahan.


Oliver menatap wajah Jordan dengan tatapan kesal. Jika saja tidak ada Zeroun dan Emelie di sana, mungkin ia sudah berteriak dan membela dirinya.


“Benarkah?” tanya Katterine dengan wajah bahagia. Tentu saja kini hatinya juga berbunga-bunga. “Oliver, katakan saja kalau itu tidak benar. Kenapa wajahmu terlihat tertekan seperti itu,” sindir Katterine. Ia berjalan mendekati Oliver berada.


“Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku membeli ini karena di beri perintah oleh Nona Leona. Sebaiknya aku akui saja kalau hadiah ini memang aku berikan secara khusus untuknya,” gumam Oliver di dalam hati.


“Apa ini?” Katterine melirik paper bag yang ada di tangan Oliver. Hatinya sudah menggebu-gebu karena tidak sabar melihat hadiah pilihan Oliver saat itu.


“Ini hanya hadiah murah yang saya pilih untuk Anda, Putri. Saya harap Anda menyukainya.” Oliver memberikan hadiah itu kepada Katterine.


Katterine menerima hadiah itu. Karena sudah tidak sabar, Katterine membuka isinya detik itu juga. Wanita itu mematung ketika melihat isi di dalamnya.

__ADS_1


“Kenapa kau bisa kepikiran membelikanku hadiah seperti ini?”


Selamat menunaikan ibadah puasa buat reader tersayang yang berpuasa. Author mohon maaf jika selama ini ada salah ketik. Semoga kita semua diberi kesehatan dan dimudahkan segala urusannya ya. Selama bulan ramadhan Author slow update karena fokus ibadah. Tapi, insyah Allah up setiap malam. Walau Cuma 1 bab. Di usahakan lebih. Season 1 akan segera tamat. Mau crazy up biar cepet tamat tapi kesibukan dunia nata menyita banyak waktu. Terima kasih atas pengertiannya. Selama menunaikan ibadah puasa.


__ADS_2