
"Mama," teriak Leona. Wanita itu segera memeluk Serena dengan wajah khawatir. Ia bahagia karena kini Serena dan Daniel juga ada di sana. Bersamanya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Maafkan mama karena datang terlambat."
"Leona baik-baik saja."
Letty dan Miller juga muncul. Tatapan Letty terhenti pada Zean yang kini berdiri memandang Leona dari kejauhan.
"Zean, kenapa pria itu ada di sini?" ucap Letty dengan tatapan penuh arti. Kali ini rasa curiga Letty sudah tidak bisa dibendung lagi. Bagaimana mungkin Zean bisa muncul di tempat terpencil itu sedangkan mereka harus menerima petunjuk dari Leona dulu baru bisa tiba di sana.
"Ya, Zean tadi yang menolongku," jawab Leona sambil memandang Zean yang kini telah berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, di mana Marco?"
"Marco?" celetuk Leona. Wanita itu segera memutar tubuhnya dan masuk ke dalam. Hanya sebagian saja yang terkena ledakan hingga membuat bangunan itu masih berdiri kokoh.
Serena dan yang lainnya juga mengikuti Leona dari belakang. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu yang memang sudah mulai gelap.
Leona memegang handle pintu dan mendorongnya. Ia sudah tidak sabar untuk menyelamatkan Marco yang kini terkurung di sana. Sedangkan pasukan yang mereka bawa telah sibuk bertarung mengalahkan pasukan milik Pangeran Martine yang tersisa.
"Sayang, di mana Marco?" Serena terlihat bingung ketika melihat ruangan itu kosong. Tidak ada siapapun di sana.
"Aku melihat mereka membawa Marco masuk ke dalam ruangan ini, Ma."
"Sepertinya mereka sudah kabur." Daniel menunjuk jendela yang terbuka.
Leona terlihat sangat kecewa saat itu. Ia bahkan harus terjatuh dan terduduk di lantai. Padahal tadinya ia berharap bisa mendapatkan petunjuk untuk bertemu dengan Jordan dan Oliver.
"Sayang, tenanglah."
Tiba-tiba saja Leona ingat dengan Pangeran Martine. Namun, saat mendengar alasan pria itu menangkap Marco membuat Leona ragu menuduh pria itu terlibat.
"Ma, pria yang menginginkan Marco adalah Pangeran Martine. Pangeran Monaco."
"Pangeran Monaco?" celetuk Serena tidak percaya. Sudah lama ia tidak mendengar nama negara itu. Hal pertama yang membuatnya ingat dengan Monaco adalah Damian dan Adriana.
***
Marco telah pasrah dengan keadaan yang kini menimpahnya. Percuma saja menutupi keberadaan Jordan dan Oliver. Pangeran Martine dan timnya sama sekali tidak percaya dengan perkataannya. Saat ini Marco dan tim Pangeran Martine sedang dalam perjalan menuju rumah sakit rahasia yang menjadi tempat persembunyian dua pria tangguh tersebut.
"Aku tidak pernah memiliki niat untuk menjadi orang jahat seperti ini. Tapi, aku tidak mau mati," gumam Marco di dalam hati. Ia melirik kanan dan kiri secara bergantian. Di sana ada dua pria berbadan tegap dengan senjata api yang selalu mengancam nyawanya.
__ADS_1
Di depan mobil yang di tumpangi Marco ada mobil Pangeran Martine. Sepertinya pria itu ingin turun tangan langsung kali ini. Mengingat sudah ada yang melihat wajahnya secara langsung. Setelah membunuh Jordan dan Oliver, ia akan pikirkan cara lain untuk membersihkan nama baiknya. Pangeran Martine yakin, dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki maka semua bisa teratasi.
Saat jam menunjukkan pukul 10 malam, rombongan Pangeran Martine telah tiba di kota Bristol. Kota yang menjadi pilihan Marco untuk menyembunyikan Jordan dan Oliver.
Sesuai dengan petunjuk yang diberikan Marco, mereka mulai memasuki wilayah pedesaan yang sangat terpencil. Bahkan tidak ada perhatian dari pemerintah di sana. Lokasi itu benar-benar pantas menjadi tempat persembunyian.
Mobil-mobil itu berhenti di depan rumah sederhana yang hanya berdinding kayu. Pangeran Martine sedikit tidak percaya dengan lokasi yang kini mereka tuju.
"Turun dan pastikan petunjuk yang dia berikan. Aku tidak suka dibohongi!" perintah Pangeran Martine kepada supirnya.
"Baik, Pangeran." Supir itu turun dari mobil. Ia berjalan ke mobil belakang tempat Marco berada.
Kaca terbuka. Seorang pria yang duduk di samping Marco menatap wajah supir itu dengan saksama.
"Ada apa?"
"Ini lokasi yang ia berikan. Bagaimana mungkin tempat seperti ini menjadi tempat pengobatan?"
Marco memandang rumah kayu yang sebenarnya pintu masuk ke rumah sakit rahasia. Ia menunduk setelahnya karena perasaan bersalah memenuhi pikirannya.
"Hei kau! Turun dan tunjukkan di mana tempatnya. Jika kau hanya berbohong, maka malam ini adalah malam terakhirmu hidup di dunia!"
Marco di seret paksa turun dari mobil. Pria itu harus menahan rasa sakitnya. "Ini adalah lokasi yang benar. Saya tidak berbohong."
"Di sana." Tunjuk Marco dengan tangan gemetar. Tidak mau menunggu lama, mereka segera berjalan ke arah rumah kayu tersebut. Pangeran Martine juga memutuskan turun dari mobil.
Marco masuk ke dalam rumah sederhana itu ketika seorang pria berbahan tegap mendobrak pintunya. Setelah itu Marco berhenti dengan wajah ragu-ragu.
"Apa kau bercanda?" teriak pria itu dengan tatapan tidak suka. Di sana hanya ada ruangan berukuran 5 kali 8 meter. Tanpa ada pintu lainnya selain pintu masuk. Bahkan jendela cuma dua. Itupun mengarah ke depan.
"Tidak!" jawab Marco.
"Tunjukkan atau aku akan!" Lagi-lagi pistol menancap di pelipis Marco. Pria itu semakin gemetar bahkan harus kencing di celana kali ini. Kakinya benar-benar tidak bisa berdiri dengan tegak.
Seorang pria menatap jijik terhadap Marco. Sedangkan sisanya tertawa dengan wajah menyepelekan.
"Ba ... baiklah." Marco berjalan ke tengah-tengah ruangan. Saat ia menginjak sebuah tombol, tiba-tiba lantai di rumah itu terbelah. Ada tangga yang bisa menuntun masuk ke dalam sana.
"Di sana. Ini adalah rumah sakit rahasia." Marco tidak mau banyak kata lagi. Jika nanti dia disalahkan dan di tuntut mungkin dia sudah siap karena sudah memberi tahu keberadaan Pangeran Jordan dan Oliver.
"Ternyata di sini letak rumah sakit terpendam itu," sambung Pangeran Martine. Pria itu benar-benar tertarik. Ia melangkah lebih duku di ikuti orang kepercayaannya di belakang. Marco masih tetap di seret agar mengikuti Pangeran Martine dari belakang.
__ADS_1
Setelah tiba di lantai bawah. Semua sama seperti rumah sakit pada umumnya. Ada beberapa ruangan dan alat-alat medis. Hanya saja penghuninya tidak seramai rumah sakit pada umumnya.
Selain masuk dari jalan yang di tunjuk Marco, masih ada jalan lain agar bisa masuk ke dalam. Marco biasa masuk dari jalan ini hingga akhirnya ia menunjukkan jalan rahasia ini kepada Pangeran Martine.
Dokter yang biasa mengurus Jordan dan Oliver berjalan melalui lorong yang menjadi Pangeran Martine dan yang lainnya berkumpul. Dokter itu tahu kalau ia kedatangan tamu yang tidak di undang. Wajahnya sontak panik ketika melihat tamunya kali ini adalah orang-orang berbahaya.
"Siapa kalian?" tanya dokter itu sambil memperhatikan wajah tamunya satu persatu.
"Selamat malam, dokter. Senang bertemu dengan Anda," sapa Pangeran Martine.
"Anda siapa?" tanya dokter itu dengan wajah polosnya. Bukan sengaja-sengaja di buat. Tapi memang dokter itu tidak terlalu kenal dengan orang-orang terkenal yang berada di luar Inggris.
"Mungkin Anda tidak kenal dengan saya. Bagaimana dengan pria ini?" Pangeran Martine memutar tubuhnya. Ia meminta bawahannya untuk menyeret Marco dan memamerkan wajah pria tersebut.
"Tuan Marco?" celetuk dokter itu kaget.
Pangeran Martine tersenyum puas. Tidak lama lagi rencananya akan berhasil. "Jika Anda tidak mau celaka, sebaiknya Anda bekerja sama dengan saya dokter. Katakan, di mana Anda menyimpan pria bernama Jordan dan Oliver?"
Dokter itu tertegun. Seharusnya ia tidak memberi tahu keberadaan mereka berdua. Tapi kali ini ia tidak di hadapkan pilihan. Mau tidak mau Dokter tersebut harus memberi tahu tempat Jordan dan Oliver berada.
"Baiklah, saya akan memberi tahu kalian. Ikuti saya." Dokter itu memutar tubuhnya. Ia membawa rombongan Pangeran Martine menuju ruangan yang menjadi tempat perawatan dua pria tangguh tersebut.
Setelah melangkah beberapa meter, dokter tersebut berhenti di depan pintu. "Di dalam sana. Keadaan mereka masih kritis. Mereka belum sadar hingga detik ini."
Pangeran Martine meminta bawahannya untuk memeriksa keadaan di dalam. Saat pintu terbuka, tiba-tiba seorang perawat muncul dari dalam ruangan tersebut. Perawat itu kaget bukan main ketika melihat gerombolan orang di hadapannya.
DUARRR
Tanpa ampun salah satu pengawal Pangeran Martine menembak perawat itu begitu saja. Hingga akhirnya ia tewas di tempat dengan tubuh dipenuhi darah segar.
Dokter dan Marco semakin ketakutan. Mereka tidak bisa membayangkan hidup mereka ketika nanti peluru panas itu menancap di salah satu bagian tubuh mereka.
Setelah perawat itu tewas, mereka kembali melanjutkan langkah mereka. Masuk ke dalam untuk memeriksa kebenaran dari kalimat yang dikatakan dokter tersebut.
Ternyata pintu itu bukan menghubungkan sebuah kamar. Ada beberapa pintu lagi di dalamnya.
"Jangan main-main!" ancam seorang pria pada dokter tersebut.
"Tidak. Saya tidak main-main. Pintu pertama adalah ruangan mereka," jawab dokter itu terbata-bata.
Sambil menyeret paksa dokter tersebut, mereka bersama menuju ke pintu nomor satu. Pintu itu di dobrak begitu saja karena tidak sabar u tuk memeriksa isi di dalamnya. Ketika pintu terbuka, terdapat dua pria berbaring di sana. Seperti apa yang dikatakan dokter tersebut. Mereka belum sadar.
__ADS_1
Pangeran Martine tersenyum ketika melihat dua pria yang kini berbaring tidak berdaya itu.
"Luar biasa!"