Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tak Termaafkan


__ADS_3

Leona dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju ke bukit tempat markas Zean berada. Zean memang memiliki markas yang cukup besar di bukit itu. Tapi, pasukan The Devil miliknya tidak sebanyak dulu.


Leona merasa tidak perlu membawa banyak pasukan. Ia membawa jumlah yang sudah jauh lebih banyak dari jumlah pasukan milik Zean. Leona juga menolak tawaran Jordan saat ingin membawa pasukan miliknya.


Siang itu Leona dan Jordan ada di mobil yang sama. Leona tidak menolak saat Jordan menawarkan diri untuk mengemudi mobil yang ingin ia bawa.


Kwan mengemudikan mobilnya sendiri. Mobil pria itu ada di belakang mobil Jordan dan Leona. Di belakang mobil Kwan, ada mobil pasukan Queen Star yang berbaris dengan begitu rapi.


“Setelah membunuh pria itu, apa kau mau menjadi Leona yang seperti dulu?” ucap Jordan penuh basa-basi. Ia merasa suasana di dalam mobil itu sangat sunyi dan membosanan. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengajak Leona mengobrol.


“Ya, tapi aku tidak akan meninggalkan Queen Star. Dunia seperti ini sangat nyaman. Aku akan tetap memimpin mereka dengan caraku sendiri. Mungkin kami bisa memilih bisnis yang lain. Minuman keras misalnya seperti Oliver,” ucap Leona dengan senyuman.


Jordan mengukir senyuman sebelum menggeleng pelan. “Kau ini. Sulit sekali tobatnya,” ucap Jordan sebelum menambah laju mobilnya. Pria itu ingin segera tiba di lokasi pertempuran mereka.


***


Zean berdiri di depan lemari kaca yang berisi banyak senjata api. Pria itu terlihat sedang berpikir. Ia tidak tahu, sejata apa yang pantas untuk ia gunakan melawan pasukan Queen Star.

__ADS_1


"Bos, mereka telah tiba," ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Zean.


Zean menghela napas sebelum mengambil sebuah pistol. Pria itu menggenggam senjata apinya dan siap melindungi markas tercintanya.


Zean memandang layar monitor cctv yang ada di hadapannya. Pria itu mengukir senyuman saat bisa melihat wajah Leona lagi. "Kalian boleh membunuh siapa saja yang datang. Tapi, tidak dengan Leona," ucap Zean masih dengan bibir tersenyum kecil.


Beberapa pria berbadan kekar saling melempar pandangan mereka. Wajah mereka bingung. Kini posisi mereka sedang di serang. Pemimpin yang menyerang markas mereka adalah seorang wanita bernama Leona. Namun, dengan sadar Zean meminta mereka untuk tidak membunuh Leona.


"Apa ada yang belum mengerti?" ucap Zean saat bawahannya tidak juga memberi jawaban.


"Baik, Bos. Kami paham. Kami tidak akan melukai Nona Leona," jawab salah satu pria yang ada di sana.


Di sisi lain, Leona dan Jordan melangkah masuk dengan wajah yang curiga. Bangunan yang mereka masuki tidak terlihat seperti markas. Lebih tepatnya sebuah rumah untuk tempat berlibur yang ada di perbukitan. Bukan hanya desainnya saja yang indah. Pemandangan yang mengelilingi bangunan rumah itu juga sangat fantastis.


Leona dan yang lainnya terlihat sangat waspada ketika lokasi yang mereka datangi terlihat sunyi dan seolah tidak berpenghuni.


"Baby girl, apa kau yakin kalau kita tidak salah lokasi?" ucap Jordan dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu terlihat mengamati lokasi sekitar dengan begiti waspada. Kwan yang saat itu ada di sebelah kiri Leona juga terlihat waspada.

__ADS_1


Leona melangkah maju untuk memeriksa sebuah ruangan yang sangat ia curigai. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara sepatu yang berjalan mendekati posisi mereka.


"Selama siang, Leona sayang," sambut Zean dari kejauhan. Saat Leona dan yang lainnya telah tiba di tengah-tengah ruangan berukuran luas tersebut, Zean dan pasukannya berkumpul dan mengepung mereka.


Leona menatap wajah pasukan milik Zean yang kini mengepungnya.Tidak ada rasa takut sama sekali saat Zean mengepungnya.


Kwan melipat kedua tangannya dan menatap wajah Zean dengan tatapan menghina. Sedangkan Jordan, ia memperhatikan Zean dengan seksama dan memikirkan strategi untuk memenangkan pertarungan siang itu.


"Kau pikir bisa mengalahkanku dengan cara mengepung seperti ini?" ucap Leona sambil mengukir senyuman kecil. "Aku sangat yakin, Zean. Hari ini juga kau akan mati di tanganku."


"Leona, apa kau sangat mencintaiku? Kau tidak bisa jauh dari hidupku. Kau terus-terusan memikirkanku. Ya, walaupun niatnya untuk balas dendam. Apa kau menduakan pria yang ada di sampingmu itu dengan namaku?" ledek Zean dengan wajah yang sangat luas.


Jordan mengeryitkan dahinya. Banyak sedikitnya apa yang dikatakan Zean benar adanya. Selama ini memang nama Zean yang ada di pikiran dan di hati Leona.


“Tutup mulutmu!” teriak Leona.


Zean tertawa kecil saat melihat Leona emosi. Ia juga memandang wajah Kwan dan Jordan dengan tatapan yang sangat tajam. "Begini saja, Honey. Ada aturan main yang harus kau patuhi sebelum bertarung. Jika kau kalah, kau harus menjadi milikku. Jika kau menang, kau boleh membunuhku. Bagaimana? Apa kau sudah siap jika mati di tanganku?" ucap Zean lagi.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin pernah terjadi. Selama aku masih ada di sampingnya," sambung Jordan cepat.


"Kau yang akan mati lebih dulu, Pecundang!" timpal Kwan dengan gigi menggertak.


__ADS_2