Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 22


__ADS_3

Katterine menemui Oliver ketika pria itu sedang menyiapkan makanan di atas meja. Awalnya Putri Cambridge itu ingin menunggu Oliver datang menjemputnya. Tapi, dia sangat bosan di dalam kamar. Katterine juga ingin melihat kesibukan Oliver di dapur.


"Sudah selesai?"


Oliver memandang wajah Katterine sambil meletakkan garpu di atas meja. "Aku sudah bilang agar kau menunggu di kamar saja. Kenapa harus keluar?"


Katterine menghela napas dan duduk di salah satu kursi. Ia memperhatikan hidangan yang di buat sang kekasih. Telur mata sapi, daging dan roti. Aromanya sangat lezat hingga membuat Katterine tidak sabar untuk melahapnya.


"Susu atau jus jeruk?" tanya Oliver sambil meletakkan gelas kosong di dekat Katterine.


"Jus jeruk saja."


Oliver menuang jus jeruk ke dalam gelas Katterine. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di dekat Katterine.


"Apa masih terasa pusing?"


Katterine mengangguk. Ia mengambil alat makannya dan siap untuk memasukkannya ke dalam mulut. Memang terlihat jauh berbeda. Katterine yang biasa terlihat ceria dengan segala tingkah anehnya kini terlihat murung tidak bersemangat.


Oliver memandang wajah Katterine dengan saksama. Ia merasa ada yang hilang. Melihat wanita itu sedih ia merasa bersalah.


"Selama ini aku berpikir kalau senyum dan candaannya hal yang biasa. Ternyata aku salah. Ketika hari ini aku tidak melihat keceriaan di wajahnya, aku baru sadar kalau tingkah anehnya selama ini sangat berharga."


"Kenapa tidak makan?" Katterine melihat Oliver yang sejak tadi hanya diam sambil memandang wajahnya.


"Kau masih marah padaku?"


Katterine menggeleng pelan. "Tidak."


"Kenapa kau murung seperti ini?"


"Apa yang harus aku katakan?"


Mendengar jawaban Katterine membuat Oliver memutuskan untuk kembali diam. Pria itu memutuskan untuk ikut sarapan bersama dengan Katterine. Sepertinya waktunya masih kurang tepat untuk mengajak Katterine diskusi soal foto dan video yang berisi wajahnya.


Katterine mengunyah makanannya dengan lembut. Pikirannya masih melayang walau sudah jelas-jelas ia percaya jika pria itu bukan Oliver.


"Maafkan aku Oliver. Aku ingin segera melihat kejelasannya. Jika pria itu bukan dirimu, aku yakin dalam hitungan jam saja kau pasti akan kembali untuk menjelaskan semuanya dan menunjukkan bukti yang kau dapatkan," gumam Katterine di dalam hati.

__ADS_1


"Aku akan pergi menemui Miller. Apa kau mau ikut?"


Katterine hanya menggeleng pelan. "Aku ingin tidur saja di rumah."


"Baiklah."


"Apakah akan lama?" tanya Katterine lagi.


Oliver menggeleng pelan. Ia mengusap lembut tangan Katterine. "Tidak. Hanya beberapa jam saja. Aku akan segera menemuimu jika sudah selesai."


Setelah sarapan yang ada di atas meja habis, Katterine beranjak dari kursinya dan membawa piring kotor untuk di bersihkan. Oliver juga membantu Katterine berberes. Pria itu menahan tangan Katterine ketika ingin mencuci piring bekas sarapan mereka.


"Jangan. Biar aku saja."


Oliver mencuci tangan Katterine yang sempat terkena sabun agar kembali bersih. Pria itu memegang pinggang Katterine dan mendudukkan wanita itu di meja dapur yang tidak jauh dari tempat mencuci piring. Oliver segera mencuci piring dan gelas yang ada di sana.


"Sejak kapan kau mencuci piring?" tanya Katterine dengan wajah tidak percaya.


"Sejak kapan kau mencuci piring?" tanya Oliver balik. "Bukankah biasanya ada orang yang datang untuk membersihkan rumah. Kenapa hari ini harus membersihkannya sendiri?"


Katterine kembali diam. Ia memutuskan untuk duduk manis dan tidak banyak protes lagi. Katterine memperhatikan dapurnya yang tapi. Tidak ada sedikitpun kotoran atau belas pecahan telur di dekat kompor. Oliver memasak dan membersihkan semua itu sendiri. Ada senyum kecil di sudut bibir Katterine.


"Aku berpikir kalau nanti kita menikah, aku tidak perlu -"


Prankk


Piring yang ada di genggaman Oliver terlepas hingga pecah di bak cuci piring. Katterine segera berdiri dan memeriksa Oliver.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya." Oliver masih syok ketika mendengar pernyataan Katterine. Pria itu memandang wajah Katterine yang kini sedang sibuk memeriksa tangannya dan memastikan tidak ada yang terluka.


"Aku baik-baik saja." Oliver memegang tangan Katterine. Ia memandang wajah wanita itu dengan begitu serius.


"Kau bilang menikah?" tanya Oliver untuk kembali memastikan.


"Ya. Ada yang salah? Bukankah pacaran adalah awal dari sebuah hubungan sebelum pernikahan? Kau tidak mau menikah denganku?"

__ADS_1


Oliver mematikan air yang sejak tadi mengalir deras. Ia menarik tangan Katterine dan membawa wanita itu kembali ke kursi. Oliver duduk dan meletakkan Katterine di atas pangkuannya. Katterine sendiri sempat syok melihat tingkah laku kekasihnya. Namun ia bahagia karena kini Oliver sudah mau bersikap lembut padanya.


"Tunggu. Kau bilang menikah? Kapan?" tanya Oliver dengan serius.


Katterine menyipitkan kedua matanya sambil memandang wajah Oliver. Ia ingin kembali memastikan kalau pria itu tidak sedang bercanda atau berusaha menghiburnya.


"Lihat saja, aku akan mengerjaimu karena kau sudah membuatku menangis tadi," gumam Katterine dengan penuh kelicikan.


"Setelah Kak Jordan dan Kak Leona pulang dari bulan madunya."


Oliver membulatkan kedua matanya. "Seminggu lagi?"


"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?" teriak Katterine dengan kesal.


"Bukan bukan seperti itu ...."


"Lalu?"


"Apa itu tidak terlalu cepat?"


Katterine seperti Ratu pagi itu. Ia merasa menang dan sangat berkuasa. Bukankah biasanya ia yang harus mengemis-ngemis kelembutan dari Oliver?


"Baiklah, aku juga harus mempersiapkan segalanya. Bagaimana kalau 1 bulan lagi."


Oliver diam sejenak. Ia benar-benar berpikir keras dengan kalimat yang diucapkan Katterine


1 bulan lagi dia akan menikah. Tapi, jika menolak dalam keadaan seperti ini tentu akan membuat Katterine kembali sedih.


"Bagaimana kalau 3 bulan lagi?"


"Deal!" jawab Katterine cepat. Wanita itu langsung memeluk Oliver dengan erat. Ia tidak menyangka kalau Oliver benar-benar siap menikah dengannya.


"Aku sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu!"


Oliver hanya diam mematung ketika mendapat pelukan Katterine. Ia baru saja sadar kalau sudah masuk ke dalam jebakan Katterine.


"Sudah aku duga. Ada yang salah sejak awal. Bisa-bisanya aku mengatakan 3 bulan lagi," umpat Oliver di dalam hati. Ia hanya memegang tubuh Katterine agar wanita itu tidak terjatuh.

__ADS_1


Sebenarnya tidak ada yang salah dari permintaan Katterine. Oliver sendiri memang sangat mencintai Katterine dan ingin menjaga wanita itu seumur hidupnya. Namun, tadinya ia berpikir kalau mereka bisa memiliki banyak waktu sebelum memutuskan untuk menikah. Tidak di sangka kejadian lagi ini membuat satu keputusan yang tidak bisa dibantahkan lagi.


"Musibah membawa berkah!" gumam Katterine dengan riangnya. Wanita itu sudah lupa dengan kesedihannya. Justru rasa bahagia yang memenuhi hatinya.


__ADS_2