
Ben baru saja selesai makan. Ia terlihat kaget ketika melihat Zean kembali muncul di kediamannya. Walaupun begitu, tidak ada wajah keberatan di sana. Ben justru senang karena Zean datang menemuinya dalam keadaan baik-baik saja. Ben kembali ingat kalau semalam Zean berpamitan untuk pergi ke mansion Cosa Nostra. Neraka dunia yang tidak pernah mau dimasuki oleh orang seperti Ben.
"Paman, siapa wanita ini? Apa dia kekasih paman?” tanya Ben ketika melihat Clara yang ada di dalam gendongan Zean. Anak kecil itu tidak menyangka kalau Zean kembali muncul namun bersama seorang wanita. Apa lagi kini keadaan mereka berdua dalam keadaaan basah.
“Tidak, dia hanya teman paman saja. Apa Paman boleh meletakkannya di kamar?” tanya Zena sambil memandang wajah Ben. Wajah Zean juga terlihat pucat karena kelelahan. Tidak lagi memiliki kendaraan membuat Zean harus membawa Clara menuju rumah Ben dengan berjalan kaki.
“Tentu.” Ben membawa Zean ke kamar yang ada di rumah itu. Anak kecil itu juga mengambil selimut dari lemari. Ia tidak mau Clara sakit.
“Tante itu pakaiannya basah. Dia akan sakit jika pakaiannya tidak segera di ganti yang kering," ucap Ben penuh pengertian.
Zean termenung. Ia tidak mungkin mengganti pakaian Clara sendiri. Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Namun, meminta bantuan juga sama siapa?
“Paman, ini pakaian ibu ku. Kau bisa memberikannya kepada tante ini.” Ben memberikan selimut dan pakaian bekas ibu nya. Zean menerima pakaian dan selimut yang Ben berikan. "Jika paman ingin mengganti pakaian. Paman bisa ambil di lemari. Di sana ada banyak pakaian ayah."
“Terima kasih, Ben," ucap Zean dengan senyuman.
“Baiklah. Aku akan keluar. Panggil aku jika paman membutuhkan sesuatu." Ben segera pergi meninggalkan kamar. Ia tidak mungkin bertahan di kamar tersebut sebagai pengganggu.
Di dalam kamar, Zean menyelimuti tubuh Clara dengan selimut. Ia tidak berani jika harus mengganti pakaian Clara. Hingga akhirnya Zean memutuskan untuk membangunkan Clara dari tidurnya saja. Hanya itu satu-satunya cara terbaik saat ini.
“Clara, bangunlah.” Dengan lembut Zean menepuk pipi Clara. Walau tidak tega tapi ia harus melakukan semua ini agar Clara tidak sakit. Cukup lama Zean membangunkan Clara hingga akhirnya wanita itu mulai membuka matanya.
"Kepalaku sakit," lirih Clara sambil memegang kepalanya yang sakit.
Clara membuka matanya secara perlahan. Kepalanya terasa pusing karena terlalu banyak air yang masuk melalui hidung dan mulut saat ia melompat tadi. Namun Clara masih bisa tersenyum melihat Zean ada di hadapannya.
“Kita ada di mana?” Suara Clara berubah serak. Wanita itu terlihat sangat lemah.
“Kita ada di rumah salah satu warga. Anak kecil. Dia sangat baik," jawab Zean pelan juga.
“Apa dia bisa di percaya?” tanya Clara khawatir.
“Bahkan dia yang membantuku menemui tempat mereka menyekapmu. Clara, ini ada baju. Pakailah. Kau akan sakit jika terlalu lama memakai pakaian basah.” Zean memberikan baju yang tadi diberikan Ben.
“Baiklah. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga akan mengganti pakaianku. Di luar. Berteriaklah jika kau melihat hal yang mencurigakan. Aku ada di depan pintu." Zean beranjak dari tempat tidur.
Clara mengangguk. Ia memandang jendela yang terbuka lebar. Tiba-tiba saja Clara merasa takut. Trauma itu membuatnya menjadi penakut saat ini. Jika sedang sendirian Clara selalu saja merasa di incar dan akan di culik kembali.
“Zean, apa kau mau menemaniku? Aku takut.”
Zean terlihat bimbang. Tapi, ia sendiri juga tidak tenang jika membiarkan Clara sendirian walaupun jarak mereka sangat dekat. Bagaimanapun juga kini orang yang di incar oleh musuh mereka adalah Clara.
“Baiklah. Kau bisa memakainya di sini.” Zean memutar tubuhnya. Ia tidak mau melihat Clara yang sedang ganti baju. Clara menurunkan kakinya ke lantai. Ia membuka satu persatu pakaiannya dan menggantinya dengan yang kering. Senyum kecil terukir di bibir Clara.
“Aku tidak pernah seberani ini jika ada di dekat pria. Entah kenapa, aku sangat percaya sama Zean. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab,” gumam Clara di dalam hati. Wanita itu kembali duduk setelah ia selesai mengganti pakaiannya. “Aku sudah menggantinya.”
Zean memutar tubuhnya dan memandang wajah Clara. “Apa kau sakit?”
Clara menggeleng pelan. “Aku hanya lelah saja.”
Tok tok.
__ADS_1
“Paman, apa aku boleh masuk?”
“Ya, silahkan Ben.” Pintu terbuka. Ben muncul bersama makanan dan minuman hangat di tangannya. Anak kecil itu tersenyum riang melihat Clara sudah bangun.
“Tante sudah bangun?”
Clara memandang wajah Zean. “Dia adalah Ben. Anak kecil yang tadi aku ceritakan.”
“Sudah,” jawab Clara dengan senyum ramah.
“Aku membelinya di toko depan. Semoga saja paman dan tante suka.” Ben meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih, Ben.”
“Sama-sama, paman.”
“Ben, kemarilah.” Zean menepuk sisi tempat tidur yang ia duduki. Ben segera mendekat tanpa rasa takut sedikitpun.
“Ada apa paman?”
“Awalnya paman tidak mau datang ke sini. Paman tidak mau membuatmu dalam masalah. Tapi, keadaaan sudah seperti ini. Apapun yang terjadi nanti, kau harus ikut dengan paman. Berjanjilah agar tidak menjauh dari paman.”
Ben terlihat berpikir. Ia sendiri tidak mau Zean dan Clara tertangkap lagi. “Mereka tidak akan datang ke sini.”
“Ben, kita juga harus memikirkan hal terburuk yang akan terjadi.”
Saat mereka sedang berbicara serius, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari depan rumah. Hal itu membuat Ben dan Zean terperanjat kaget. Mereka saling memandang dengan wajah waspada.
“Siapa yang datang?”
Zean berdiri dan memegang tangan Ben dan Clara. Kini misi di dalam hidupnya adalah melindungi mereka berdua layaknya anak dan istri yang harus ia lindungi bahaya. “Ben, lakukan apa yang paman katakan. Kau harus tetap tenang. Apapun pertanyaan mereka jawab dengan ekspresi wajah yang tenang agar mereka tidak curiga. Paman akan melindungimu dari sisi yang tidak bisa mereka lihat.”
Ben mengangguk pelan. “Bagaimana kalau mereka langsung menembak dan membunuhku?”
Zean menarik tubuh Ben dan memeluknya erat. “Percaya pada paman, itu semua tidak akan terjadi.”
“Paman akan melindungiku?”
“Ya.”
Clara memegang tangan Ben dan menciumnya. “Ben, kami akan menjagamu. Kau harus percaya pada kami.”
“Baiklah.” Ben tersenyum. Ia melangkah pergi meninggalkan kamar di ikuti oleh Zean dan Clara. Anak kecil itu terlihat ketakutan. Namun, ia juga tidak mau terlihat sedang takut di depan orang yang kini datang mengunjunginya. Ben melihat wajah Zean dan Clara sekali lagi sebelum membuka kunci pintu. Secara perlahan ia membuka pintu rumahnya.
“Anda siapa?” tanya Ben dengan wajah bingung.
“Apa mereka ada di sini?”
Zean mengenal suara wanita yang kini berbicara dengan Ben. Ia melepas genggamannya di tangan Clara dan berjalan ke arah pintu. Seperti apa yang dipikirkan Zean, ternyata Leona yang berdiri di sana. Wanita itu tersenyum melihat Zean baik-baik saja.
“Kenapa kau tidak memberi tahuku jika kini berada dalam kesusahan?” ujar Leona dengan wajah sedih.
Zean memandang wajah Jordan dan juga Oliver. Hatinya lega ketika melihat bala bantuan telah datang.
“Maafkan aku. Aku belum pernah berada di posisi sesulit ini.” Clara muncul di belakang Zean hingga membuat Leona tercengang. Ia tidak percaya kalau Zean tidak hilang sendirian. Ada Clara bersamanya. Selama ini ia tidak pernah mendapat kabar kalau Zean dan Clara memiliki hubungan spesial.
__ADS_1
“Clara?”
“Leona? Apa itu benar Leona?” tanya Clara pada Zean.
“Ya, dia Leona.”
Clara segera berlari untuk memeluk Leona. Tangis wanita itu pecah ketika sudah berada di pelukan Leona. Clara merasa sangat tenang ketika Leona sudah berhasil menemuinya. Padahal jelas-jelas sejak awal ia sendiri yang menolak Zean untuk memberi tahu keberadaannya kepada Leona.
“Clara, apa yang terjadi?” tanya Leona bingung. Ia memeluk Clara dengan penuh kasih sayang.
“Leona, aku senang kau ada di sini. Ceritanya panjang. Beruntungnya aku bertemu dengan pengawalmu. Kalau saja aku tidak bertemu dengannya, aku bukan lagi Clara yang kalian kenal,” ucap Clara di sela tangisnya.
“Pengawal?” celetuk Leona tidak percaya. Ia memandang Zean seolah menagih sebuah penjelasan. Sedangkan Zean hanya mengangkat kedua bahunya tanpa mau menjelaskan apapun.
***
Melihat keadaan Zean dan Clara yang begitu menyedihkan, Leona memutuskan untuk membawa mereka ke rumah sakit sebelum pergi meninggalkan kota tersebut. Ia juga butuh penjelasan dari Zean kenapa ia bisa bersama Clara dan kenapa juga Clara menganggapnya sebagai seorang pengawal S.G. Group.
Setibanya di rumah sakit, Clara di bawah ke ruangan khusus untuk di periksa. Sedangkan Zean menolak karena ia merasa keadaannya baik-baik saja. Pria itu merasa senang karena sahabatnya datang di saat ia membutuhkan pertolongan.
“Terima kasih,” ucap Zean sambil memandang Leona, Jordan dan Oliver yang kini duduk di hadapannya.
“Kau sudah sering menolong kami. Ini lah gunanya sahabat,” jawab Leona.
“Aku tidak pernah mau merepotkan kalian. Tapi, memang saat ini aku membutuhkan bantuan kalian. Mereka sangat kuat. Sedangkan aku sendirian,” jawab Zean sedih.
“Di mana The Devils?” tanya Oliver penasaran.
“Aku melarang mereka menjemputku ke sini. Aku datang ke sini hanya untuk liburan saja. Tidak aku sangka, perintah yang aku katakan membawa bencana bagi diriku sendiri.” Wajah Zean diselimuti penyesalan. “Aku tidak mau pergi sendirian lagi!”
“Pantas saja mereka berkata kalau kau sedang bersenang-senang,” sambung Jordan dengan wajah serius.
“Mereka bilang seperti itu?”
“Ya,” ujar Jordan lagi.
“Mereka benar-benar minta di hukum. Karena masalah ini aku kehilangan orang terbaikku. Aku sangat sedih ketika melihat ia memejamkan mata di hadapanku!” Zean mengambil minuman dingin di hadapannya dan meneguknya dengan rakus. Entah apa hukuman yang akan ia berikan kepada bawahannya nanti.
“Lalu, bagaimana dengan Clara?” tanya Leona penasaran.
Zean terdiam sejenak sebelum tersenyum. “Semua masalah ini karenanya!”
“Benarkah? Tapi kelihatannya kau tidak sedang mengalami masalah. Kau terlihat bahagia,” sindir Oliver tidak percaya.
“Kau ini. Kau tidak lihat tubuhku di penuhi luka. Semua ini karena aku menyelamatkannya.”
“Menyelamatkannya?” Leona mengeryitan dahi.
Zean terlihat salah tingkah. “Ya, maksudku dia muncul dan aku tidak tega melihatnya di sakiti. Apa lagi aku tahu dia sahabat Kak Aleo bukan?” jawab Zean pelan. Ia tidak mau sahabatnya berpikir yang aneh-aneh.
“Leona, bagaimana bisa kau menemuiku di sini? Dan Cosa Nostra sialan itu. Apa kalian sudah bertemu dengan mereka?”
“Tentu saja kami menemui mereka dulu sebelum menemuimu. Ini wilayah mereka. Jika ingin berkunjung kita harus meminta ijin di pemilik rumah,” jawab Oliver.
“Apa kalian berhasil menyerang mantion mereka hingga mereka membiarkan kalian berkeliaran bebas seperti ini?” Zean benar-benar penasaran dengan apa yang sudah dilakukan sahabatnya.
__ADS_1
“Tidak perlu menyerang. Hanya sedikit menakut-nakuti saja. Pria tua itu ternyata pria penakut jadi sangat mudah membuatnya takut,” jawab Leona dengan senyuman.