
Leona mengeryitkan dahi saat melihat gedung hotel mewah yang kini ada di hadapannya. Wanita itu tidak tahu apa tujuan Zean membawanya ke sebuah hotel. Tapi, jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Ia masih memiliki banyak waktu untuk menghubungi Kwan agar menyusulnya nanti. Malam ini juga ia harus kembali ke Sapporo. Kedua orang tuanya akan benar-benar murkah jika ia tidak pulang dan ingkar janji.
“Leona, ayo kita masuk.” Zean merangkul pinggang Leona dengan mesra. Pria itu mengukir senyuman indah dengan wajah yang sangat tenang. Sesekali ia memandang beberapa pria berbadan tegab dengan setelan hitam-hitam. Ada kode yang diberikan pria itu kepada beberapa pria berstatus bawahannya.
“Aku baru saja mendapatkan gaji. Jadi memutuskan untuk membuat kejutan kepadamu malam ini,” ucap Zean pelan.
Leona mengukir senyuman, “Aku saja yang membayar kamar hotelnya jika terlalu mahal bagimu.”
“Jangan! Aku ingin memberimu sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu,” ucap Zean sambil membelai lembut pipi Leona.
Leona menunduk malu dengan bibir tersenyum. Wanita itu merasa melayang karena mendapat pujian seperti itu dari pria yang sangat ia cintai. Ini pertama kalinya ia jatuh cinta. Hidupnya saat ini terasa seperti memiliki warna dan merasa dipuja.
Lift terbuka. Leona dan Zean berjalan ke kamar yang sudah dipersiapkan Zean. Pria itu membuka pintu kamar lalu membawa Leona masuk ke dalam. Sesuai dengan apa yang Zean katakan.
Kamar itu telah di hias dengan taburan bunga mawar yang indah dan beberapa kado kecil yang tersusun rapi di atas meja.
“Hari ini tanggal lahirmu. Walau tidak di bulan yang sama. Perayaan 25 tahun enam bulan,” bisik Zean.
Leona memasang wajah berseri. Walau sudah sering mendapat kejutan dari orang-orang yang menyayanginya. Tapi, kali ini kejutan yang ia dapatkan jauh lebih berarti. Kejutan itu berasal dari pria yang ia cintai. Cinta pertamanya.
__ADS_1
Zean melingkarkan kedua tangannya di perut rata kekasihnya. Pria itu mendaratkan satu kecupan mesra di pipi wanita itu, “Apa kau menyukainya, Honey?”
Leona mengangguk pelan, “Kejutan ini sangat indah.”
Tiba-tiba saja ponsel milik Leona berdering. Wanita itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas miliknya. Tertulis jelas nama Kwan di dalam layar ponselnya. Leona memandang wajah Zean. Pria itu pernah bilang kalau sangat cemburu jika ia terlalu dekat dengan Kwan.
“Apa kau mau mengangkatnya?” ucap Zean sebelum melepas pelukannya dari tubuh Leona. Pria itu berjalan pelan menuju ke jendela.
Leona memperhatikan ponsel itu dengan saksama. Bukan mengangkat panggilan masuk Kwan justru ia mematikan ponselnya. Memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tas lalu berjalan pelan mendekati posisi Zean berada.
“Jangan marah. Aku sudah bilang kalau Kwan adik sepupuku. Kami dekat sejak kecil,” bujuk Leona sambil memeluk tubuh kekar Zean dari belakang.
“Aku mencintaimu, Leona. Sangat-sangat mencintaimu,” ucap Zean penuh kebohongan. Sorot matanya menunjukkan kalau dirinya sedang tergila-gila terhadap Leona. Tapi, hatinya kini tertawa jahat. Bahkan sudah tidak sabar untuk melancarkan aksi balas dendam yang sudah ia susun selama bertahun-tahun lamanya.
“Aku juga mencintaimu,” ucap Leona. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Zean. Bibirnya tersenyum indah. Wanita itu benar-benar telah di mabuk cinta.
Zean mendaratkan bibirnya di bibir Leona. Pria itu menarik pinggang Leona agar lebih dekat dengan tubuhnya. Bibirnya terlihat ahli. Sentuhan lembut dan sangat memabukkan. Tapi, lama kelamaan. Pria itu tidak lagi sanggup mengontrol hasratnya. Bibirnya mema*gut bibir Leona dengan kasar dan tanpa perasaan.
Satu tangannya merema*as bagian belakang tubuh wanita itu dengan rasa gemas. Bahkan secara perlahan tangannya berusaha untuk menarik dres pendek wanita itu agar bisa menyentuh dengan bebas bagian berharga milik Leona.
__ADS_1
Leona tersadar. Wanita itu segera melepas kecupannya dan menjauhkan wajahnya. Satu tangannya menghapus bekas ciuman Zean. Wajahnya terlihat tidak suka dengan kelakuan kurang ajar Zean malam itu, “Apa yang ingin kau lakukan?”
Zean hanya diam memandang wajah Leona. Pria itu mengukir senyum kecil. sebelum meraih tangan Leona. Ia menarik tubuh Leona dan mendorong wanita itu ke jendela kaca yang ada di belakangnya.
Tanpa permisi dan kelembutan lagi. Pria itu mengunci tubuh Leona dan mema*gut bibir wanita itu lagi. Dengan kasar dan begitu rakus. Tidak ada perasaan sedikitpun. Sorot matanya terlihat menyeramkan dan jauh berbeda dengan sorot mata Zean yang selama ini dikenal Leona.
“Apa yang mau kau lakukan,” ujar Leona di sela-sela usahanya untuk berontak. Perlakuan Zean sudah sangat kurang ajar. Leona tidak bisa terima diperlakukan seperti wanita murahan seperti itu.
“Malam ini kita akan bersenang-senang, Honey,” bisik Zean sebelum mendaratkan bibirnya di leher jenjang milik Leona. Ia mengunci kedua tangan Leona agar tidak memukul dan mendorong tubuhnya. Tubuh wanita itu sudah terpojok di jendela kaca. Kedua kakinya di kunci oleh kaki Zean. Leona tidak lagi bisa bergerak.
“Lepaskan! Kau pria jahat, Zean!” teriak Leona dengan suara serak bercampur ketakutan. Ia sudah sangat percaya kepada Zean. Sudah enam bulan ini pria itu bersikap baik dan memanjakan dirinya. Tapi, malam ini pria itu berubah menjadi pria jahat yang tidak memiliki hati.
Zean melepas genggaman tangannya. Pria itu mengangkat tubuh Leona dan meletakkannya di bahu. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan tahap berikutnya, “Malam ini kau akan menjadi milikku, Eleonora,” gumamnya di dalam hati dengan senyuman licik.
Zean menurunkan tubuh wanita itu. Ia berusaha membuka pakaian yang melekat pada tubuh Eleonora. Tapi, tidak semudah itu. Leona berusaha menghalanginya. Bahkan satu tamparan keras mendarat di pipi Zean sebagai luapan rasa takut Leona malam itu.
“Lepaskan aku, Zean. Kau akan menyesal karena sudah memperlakukanku seperti ini,” protes Leona dengan napas terputus-putus. Ia ingin lari. Tapi, cukup sulit untuk menjauh dari Zean. Wanita itu bukan tipe wanita petarung. Ia hanya tahu menangis ketika sedih dan tertawa ketika bahagia.
“Aku hanya ingin melakukan hal yang memang seharusnya aku lakukan, Honey,” bisik Zean dengan senyum licik. Pria itu menarik tangan Eleonora dan membanting tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau lakukan, Zean?” protes Eleonora. Wanita itu terus berusaha untuk melepas genggaman tangan Zean. Pergelangan tangannya memerah karena cengkraman keras dari Zean. Tapi, pria yang ada di atas tubuhnya terlihat tidak peduli. Pria itu terus saja mencecap setiap inci wajah wanita yang ada di bawahnya.