
"Aku memang bodoh! Bisa-bisanya aku percaya dengan Leona. Aku bahkan tidak membantunya saat ia dalam kesulitan. Dia pergi hanya untuk balas dendamnya," ucap Serena dengan wajah sedih yang masih melekat jelas di wajahnya.
"Kak, kakak tidak salah. Kita sudah pernah membahas masalah ini setahun yang lalu. Memang hidup Leona baik-baik saja bukan? Kwan sendiri juga bilang kalau masalah Zean sudah terselesaikan dan kita tidak perlu khawatir," ucap Shabira dengan suara yang lembut.
Kwan menunduk dengan wajah bersalah. Pria itu tidak bisa mencari alasan lagi. Saat ini kejujuran adalah hal yang paling penting. Kwan juga tidak ingin semua orang salah paham terhadap dirinya dan Leona.
"Kondisi Tante sangat tidak stabil. Kak Leona tidak ingin Tante masuk rumah sakit lagi. Kak Leona sangat menyayangi Tante. Dia sengaja mengunci akses Tante agar tidak berhasil melacak keberadaan kami. Bahkan, jika sesekali pengawal yang Tante kirim berhasil menemukan kami. Kami sudah menyusun sebuah rencana agar pengawal itu tidak tahu apa yang kami kerjakan. Bukan hanya pengawal Tante, Kak Leona juga sudah memiliki akses ke kantor polisi yang ada di Brazil. Untuk wilayah kekuasaan Queen Star, kami tidak perlu takut melanggar apapun."
Shabira memijat kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing. "Kwan, berarti selama bertahun-tahun ini kalian habiskan untuk membentuk geng mafia? Bukan berbisnis?" ucap Shabira dengan rasa kesal dan kecewa di dalam hati.
"Ya, Ma. Maafkan Kwan dan Kak Leona," ucap Kwan dengan wajah sedih. Seandainya saja ia tahu kalau akhirnya akan seperti ini, mungkin Kwan tidak ingin membohongi semua orang.
"Lalu dengan Jordan? Apa kalian tahu kalau Jordan putra dari Paman Zeroun?" tanya Shabira lagi. Kali ini hanya dia yang bisa angkat bicara. Ia memberikan posisi sebagai pendengar kepada Serena dan Daniel.
Kwan menggeleng pelan. "Aku tidak tahu soal pertemuan mereka. Saat itu aku ada di San Fransisco untuk mengurus masalah yang Paman Daniel berikan. Saat aku pulang, sudah ada Jordan dan Oliver di sana. Letty meminta kak Leona untuk membunuh Jordan. Tapi, karena dia tidak berhasil membunuh Jordan, Letty menjadi dendam kepada Kak Leona."
"Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi ...," ucap Serena dengan suara lirih. Masih terbayang jelas bagaimana perih hatinya ketika ia kehilangan anak pertamanya. Serena tidak mau berada di posisi seperti itu lagi.
__ADS_1
"Kak, semua akan baik-baik saja," ucap Shabira sambil mengusap lembut pundak Serena. Aku yakin, Leona wanita yang kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini.
***
Di dalam ruangan operasi. Semua tim medis sedang berjuang keras menyelamatkan Leona. Operasi mereka kali ini di fokuskan untuk mengambil peluru yang menancap di pinggang dan perut Leona.
Sudah berjam-jam mereka berusaha. Menyetabilkan detak jantung dan tekanan darah pasien. Suasana di ruangan operasi itu sangat menegangkan. Walau sudah sering berada di ruang operasi dan menghadapi pasien luka tembak.
Tapi kasus Leona kali ini cukup berbeda. Peluru yang tertancap di perutnya berada di dekat rahim. Para dokter berjuang keras agar Leona tetap memiliki rahim. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, maka akan membuat pasien mereka tidak memiliki keturunan sama sekali.
"Dok, tekanan darah pasien menurut. Detak jantung melemah. Pasien mengalami pendarahan yang sangat parah," ucap seorang perawat dengan tatapan yang tidak berkedip ke arah monitor detak jantung.
Dokter itu mengambil sebuah peluru yang ada di perut Leona. Kali ini usahanya tidak sia-sia. Peluru itu berhasil mereka ambil tanpa menyentuh dan melukai rahim sang pasien. Namun, setelah semua peluru keluar. Mereka belum bisa bernapas dengan tenang. Detak jantung dan tekanan darah Leona semakin menurut. Tim medis segera menutup luka operasi pada tubuh Leona. Darah dari selang infus juga menetes dengan deras.
Perlahan tapi pasti. Detak jantung Leona semakin stabil. Walau belum bisa di bilang melewati masa kritis. Tapi, keadaan seperti ini sudah berhasil membuat Leona tetap bertahan. Dan operasi mereka sudah bisa dikatakan berjalan dengan lancar.
"Setelah pasien sadar, kita akan melakukan pemeriksaan ulang. Kita akan melakukan operasi di kepala jika memang keadaan pasien mengalami masalah," ucap dokter itu lagi sebelum melepas sarung tangan yang ia kenakan.
__ADS_1
Beberapa perawat bernapas lega sambil menatap wajah cantik Leona. Dokter tersebut mengukir senyuman dan mengusap lembut dahi Leona. Dokter itu juga memperhatikan beberapa luka yang ada di tubuh Leona.
"Apa kau seorang petarung? Kau harus cepat sembuh, Nona. Bukankah kau harus tetap hidup agar lawanmu tidak merasa menang?" ucapnya lagi.
Beberapa perawat yang ada di ruang operasi tersebut memandang wajah dokter tersebut. Mereka saling melempar pandang sebelum membersihkan segala alat medis yang sudah mereka gunakan untuk operasi Leona tadi.
Seorang perawat mengikuti langkah kaki dokter tersebut dari belakang. Ia terlihat sangat penasaran dengan sikap dokter yang terlihat peduli dengan pasien di ruang operasi. Satu pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Dok, Anda mengenal pasien?" ucap perawat itu dengan wajah penasaran.
Dokter tersebut menghentikan langkah kakinya. Ia mengukir senyuman kecil sambil menggeleng pelan. "Wajahnya mengingatkanku pada seseorang," jawabnya pelan.
"Seseorang?" celetuk perawat itu masih dengan wajah penasaran.
"Sudahlah jangan memikirkan hal lain. Dimana keluarga pasien? Aku ingin menemui mereka?" tanya dokter itu lagi.
"Ada di depan, Dok," ucap perawat itu dengan senyuman ramah.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita temui mereka," ucap dokter tersebut sambil melangkah ke arah pintu. Ia juga sudah tidak sabar menyampaikan kepada keluarga pasiennya kalau operasi berjalan dengan lancar.