
Beberapa hari kemudian.
Siang yang ceria. Langit Meksiko terdapat gumpalan awan putih yang sangat indah. Langit biru di tambah matahari yang bersinar terang membuat suasana siang itu terasa sedikit panas. Angin yang bertiup juga tidak terlalu kencang.
Leona duduk di depan mobilnya sambil memainkan ponsel. Wanita itu membaca pesan singkat dari Kwan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Bibirnya mengukir senyuman. “Kwan, aku akan memberikan hadiah untukmu jika kau berhasil berpacaran dengan Alana,” ucap Leona pelan sambil mengetik layar ponselnya. Pesan itu ia kirimkan dengan bibir tersenyum.
Sejak kejadian malam itu, Jordan tidak lagi pernah muncul di hadapan Leona. Sejak kejadian itu juga Leona tidak lagi melakukan tindakan bodoh. Ia menjadi manusia normal seperti dulu untuk sejenak. Leona banyak melakukan perawatan agar nanti ia pulang ke Sapporo tidak membuat curiga semua orang. Termasuk Ibu tercintanya.
Siang ini, selesai perawatan di salon. Leona memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling kota Meksiko. Pastinya dengan jalan kaki. Panas yang terik membuat hatinya berpikir dua kali. Leona merasa kali ini kesiangan.
Leona memandang wajah beberapa pengguna jalan yang berlalu lalang. Wanita itu melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Sudah sejauh ini mereka mengelilinginya Meksiko tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Zean. Pria itu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Memang kabar terakhir yang di terima Leona kalau Zean berangkat ke Brazil untuk membentuk pasukan barunya dan membuat pertahanannya di sana.
Leona tidak bisa terburu-buru berangkat ke sana. Ia juga harus segera kembali ke Sapporo secepatnya.
Mobil sport yang berhenti beberapa meter di depan Leona membuat perhatian Leona teralihkan. Sejak tadi, belum ada mobil yang berani parkir di hadapannya. Tapi, tidak tahu siapa kini ada yang parkir di depan Leona berdiri. Untuk beberapa detik, pengguna mobil itu bertahan di dalam. Tidak ada satu orangpun yang keluar hingga membuat Leona penasaran.
__ADS_1
Hingga tidak lama kemudian, pintu terbuka dari dua sisi. Oliver keluar dari bangku kemudi di susul oleh Jordan yang juga keluar dari balik jok penumpang. Dua pria itu terlihat sangat cool. Ekspresi dingin mereka membuat mereka berdua terlihat lebih berkarisma.
Leona memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia memperhatikan Jordan dengan saksama. Tidak tahu kenapa, siang itu hatinya merasa berbunga-bunga ketika melihat Jordan lagi ada di hadapannya. Ternyata sikap sok tahu Jordan selama ini membuat Leona menjadi kesulitan untuk melupakannya.
Jordan tidak memandang ke arah Leona sedikitpun. Sesuai dengan janjinya kepada Leona. Jika ia bertemu lagi, maka ia akan bersikap layaknya orang tidak saling kenal.
Oliver juga melakukan hal yang sama dengan Jordan. Pria itu berjalan dengan santai tanpa mau memandang Leona yang kini berdiri dan menatapnya dengan saksama.
Jordan dan Oliver lewat begitu saja di hadapan Leona. Ya, seperti pengguna jalan lainnya. Mereka terlihat seperti orang yang tidak saling kenal.
Deg, jantung Leona terasa sakit. Saat Jordan melewatinya begitu saja. Leona benar-benar merasa sakit hati. Tanpa sadar, wanita itu memandang punggung Jordan hingga pria itu pergi menjauh darinya.
Leona mengepal kuat tangannya saat melihat Jordan memegang pinggang Katterine dan merangkulnya dengan mesra. Tidak ingin terlalu lama terbakar api cemburu, wanita itu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Jordan di sana.
Di dalam mobil Leona memegang ponselnya dan melekatkannya di telinga. Ia menghubungi Aleo untuk memberi tahu kepulangannya.
__ADS_1
"Kak, aku akan berangkat sekarang," ucap Leona pelan sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu menghidupkan mesin mobil dan menginjak gas mobilnya hingga berulang kali. Suara mobil sport yang Leona tumpangi menjadi perhatian semua orang.
Tapi, tidak dengan Jordan, Oliver dan Katterine. Mereka bertiga justru melanjutkan perjalanan mereka tanpa peduli dengan mobil Leona yang berisik.
Leona memandang Jordan melalui spion. Bukan rasa bahagia justru ia semakin kesal. Hingga pada akhirnya Leona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berangkat menuju ke bandara untuk pulang ke Sapporo.
Setelah mobil Leona benar-benar menjauh, Jordan menghentikan langkah kakinya. Pria itu memandang kepergian mobil Leona dengan tatapan penuh arti. Rahangnya mengeras. Sebenarnya sejak tadi ia bertarung dengan perasaannya sendiri.
Hatinya menolak keras untuk bersikap cuek seperti itu kepada Leona. Tapi, mau bagaimana lagi. Jordan harus melakukan hal itu untuk membuat Leona sadar dengan rasa cinta yang sebenarnya wanita itu rasakan.
"Leona, ketika kita bertemu lagi nanti. Aku akan berjuang dan tidak akan melepasmu. Untuk saat ini, mungkin kau butuh waktu untuk sendiri. Aku hargai itu. Aku tidak akan mengganggumu dulu saat ini," gumam Jordan di dalam hati.
Oliver memandang wajah Jordan dengan tatapan penuh arti. "Pangeran, besok kita harus pulang ke Cambridge."
"Aku kangen sama Daddy," ucap Katterine dengan wajah riangnya.
__ADS_1
Jordan mengangguk pelan. Pria itu memandang ke belakang sebelum melanjutkan langkah kakinya. Setelah menemani kedua orang tuanya berkunjung ke kota Sapporo, Jordan bertekad untuk mengusik hidup Leona lagi. Dan ... membuat wanita itu menjadi kekasihnya.