Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tamara?


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Sejak Angel tahu kalau wanita yang tadi ia operasi adalah Leona, Angel memberikan perhatian lebih kepada wanita berusia 29 tahun itu. Ketika keluarga pasien belum di beri kesempatan untuk menjenguk Leona, justru Angel yang dengan setia berada di dalam. Ia menjaga dan menemani Leona. Sesekali Angel juga mengajak Leona berbicara. Ia sangat menyayangi Leona. Leona sudah seperti adik perempuannya sendiri.


"Leona, jika adikku masih ada. Mungkin dia akan tumbuh menjadi wanita yang cantik seperti dirimu. Usia kalian juga tidak jauh berbeda bukan?" ucap Angel sambil memegang pergelangan tangan Leona. Wanita itu membersihkan darah kering yang masih ada di tangan Leona.


Angel menghentikan gerakannya sejenak. Ia membayangkan wajah Aleo, Kwan, Jordan dan semua orang yang kini sedang mengkhawatirkan Leona. Bibirnya tersenyum kecil. "Kau harus bangun Leona. Mereka sangat mengkhawatirkanmu."


Angel melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. Berdasarkan perhitungan waktu Angel, seharusnya Leona sudah bangun. Namun, tidak tahu kenapa wanita itu tidak juga mau membuka matanya.


"Leona, apa kau mau di temani oleh seseorang? Kau boleh pilih, satu orang saja," ucap Angel sambil memandang wajah Leona. Wanita itu lagi-lagi harus menghela napas ketika Leona tidak memberi respon apapun.


Angel memandang ke arah lain. Ia kembali ingat dengan Diva. Ibu kandung yang sangat ia cintai. Diva pernah masuk ruangan operasi seperti ini juga beberapa waktu yang lalu. Saat ia mencoba untuk bunuh diri karena frustasi. Diva marah. Ya, wanita itu marah pada takdir.


Angel meneteskan air mata saat membayangkan kejadian malam itu lagi.


Sebulan yang lalu.


"Ini tidak benar, Adit! Putri kita masih hidup. Dia kini berada di suatu tempat," lirih Diva dengan air mata yang terus menetes deras. Ia memandang wajah suaminya yang kini berlutut di hadapannya. Pria itu memegang kedua tangannya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan berusaha mencarinya," ucap Adit dengan kedua mata berkaca-kaca. "Aku pasti akan menemukan putri kita, Sayang."

__ADS_1


Diva menangis tersedu-sedu. Wanita itu menunduk dengan mata terpejam. Hatinya benar-benar terasa perih seperti terluka. Ia menyalahkan takdir yang seolah-olah sedang mempermainkan hidupnya selama ini.


"Kenapa aku selalu saja menderita seperti ini? Kenapa? Apa tidak cukup dengan penderitaan yang aku alami ketika aku hamil dan melahirkan Angel seorang diri? Kenapa sekarang aku harus diberi cobaan seperti ini lagi. Aku tidak sanggup berpisah dari putriku."


Angel hanya diam di balik dinding. Di dalan gendongannya ada anak kecil yang sedang tidur lelap. Angel tidak ingin mengganggu momen hari kedua orang tuanya. Kini ia hanya berani berdiri sebagai pendengar setia.


Diva sudah menceritakan semuanya. Angel sudah tahu kalau dirinya bukan anak kandung Adit. Walau begitu, Angel selalu menyayangi Adit layaknya ayah kandung.


Angel meneteskan air mata. Namun, ketika mendengar suara sepatu mendekat, Angel segera menghapus tetes air mata tersebut.


"Angel, apa kau sudah lama ada di sini?" ucap Adit sambil menatap wajah Angel.


Adit mengangguk pelan sebelum melangkah maju. Tubuhnya terlihat sangat lelah. Adit terlihat pucat dan tidak lagi memperhatikan kesehatannya saat ini.


"Papa sangat ingin mencari keberadaan adikmu yang hilang. Tapi, untuk mencari bayi yang sudah hilang selama 27 tahun ...." Adit memejamkan mata. Pria itu terlihat kesulitan melanjutkan kalimatnya.


"Pa, biar Angel meminta sejumlah uang kepada suami Angel. Angel yakin, uang itu pasti akan cukup untuk membayar orang agar bisa mencari keberadaan adik Angel yang hilang," ucap Angel dengan wajah sedih. Ia tidak tega melihat Adit menanggung beban sendirian seperti ini.


Adit menggeleng pelan. "Papa hanya takut, kalau nanti saat kita mencari keberadaan adikmu. Justru kita mendapatkan kenyataan kalau adikmu telah tiada," jawab Adit dengan wajah menyerah. Bahkan pria itu terlihat tidak bersemangat untuk memperjuangkan anak kandungnya yang hilang. Setelah anak mereka meninggal, Diva tidak lagi mau mengandung. Wanita itu benar-benar drop hingga tidak lagi mau mengandung. Ia tidak sanggup menahan rasa sedih karena kehilangan.

__ADS_1


"Pa, kita bisa meminta bantuan Tante Serena. Tante Serena wanita yang luar biasa. Angel yakin, mereka akan membantu kita," ucap Angel dengan suara yang hati-hati.


Adit mengangkat kepalanya. pria itu memutar tubuhnya dan memandang wajah Angel dengan saksama. Sudah lama iya tidak memberi kabar kepada sahabat terbaiknya. Adit merasa malu jika kembali mengusik hidup Daniel dan keluarganya ketika ia sedang kesulitan seperti ini.


Belum sempat Adit mengeluarkan kata, tiba-tiba terdengar pecahan kaca dari arah kamar. Angel dan Adit segera berlari ke dalam kamar untuk memeriksa suara yang baru saja mereka dengar. Tidak di sangka, setelah mereka tiba di dalam kamar. Tubuh Diva telah tergeletak di permukaan lantai. Pergelangan tangannya telah teriris dan mengeluarkan banyak darah. Diva menggunakan pecahan gelas untuk melukai tangannya.


***


Angel tersadar dari lamunannya ketika suara detak jantung Leona melemah. Wanita itu panik bukan main. Ia beranjak dari kursi dan memeriksa keadaan Leona. Angel juga memanggil perawat yang juga berada di dalam ruangan tersebut. Beberapa perawat masuk dan membantu Angel memeriksa keadaan Leona.


"Apa yang terjadi? Kenapa detak jantungnya melemah?" gumam Angel di dalam hati. Wajah wanita itu benar-benar panik. Ia tidak menyangka kalau malam itu Leona belum bisa melewati masa kritisnya.


Angel benar-benar panik malam itu. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke dalam ruangan tersebut. Wanita itu menatap wajah Angel dengan senyuman manis. Ia berdiri di samping tempat tidur Leona.


"Saya akan membantu Kakak memeriksa Kak Leona," ucap wanita itu dengan suara yang sangat lembut. Ia mengambil pergelangan tangan Leona dan mulai melakukan pemeriksaan. Wajahnya terlihat sangat tenang.


Angel hanya diam membisu. Ia memandang wajah perawat yang ikut masuk bersama dengan dokter wanita tersebut.


"Dia adalah Dokter Tamara, Dok. Dia Dokter yang di kirim oleh keluarga pasien. Salah satu dokter yang memiliki pengalaman yang luar biasa. Selama ini ia menetap di Amerika. Sepertinya, Dokter ini memiliki hubungan baik dengan keluarga pasien. Dokter Tamara sangat sulit di temui. Jadwalnya sangat padat," bisik seorang perawat yang berdiri di samping Angel.

__ADS_1


Angel memandang wajah Tamara lagi dengan alis saling bertaut. "Dokter Tamara? Apa dia Putri Paman Tama? Sahabat Papa yang ada di Jepang?" gumam Angel di dalam hati.


__ADS_2