Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Sebelum Menikah


__ADS_3

Hari pernikahan telah tiba. Hari ini, semua orang telah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan antara Leona dan Jordan. Leona telah mengenakan gaun pernikahan yang di pilih Jordan. Sangat cantik dengan mahkota di atas kepalanya. Melihat pantulan dirinya di depan cermin saja sudah membuat Leona tidak berhenti tersenyum. Wanita itu merasa sempurna. Sangat sempurna. 


Di belakang Leona ada Serena dan Daniel yang sejak tadi memperhatikan wajah putrinya tanpa berkedip. Mereka juga bahagia bersama dengan kebahagiaan yang kini di rasakan oleh Leona.


“Sayang, kau terlihat seperti putri,” puji Serena dengan kedua mata berkaca-kaca.


Leona menghela napas dengan bahagia. “Ma, apa hari ini aku akan menikah dengan Jordan?”


“Ya, sayang. Kau akan menikah dengan pria yang kau cintai.” Sekali lagi Serena mengusap selendang yang ada di atas kepala putrinya. Ingin sekali ia memeluk putrinya dengan erat. Putrinya yang telah dewasa dan akan meninggalkannya. Ya, setiap kali membayangkan kalau kini Leona akan menikah dan akan meninggalkan hidupnya maka Serena mulai merasa sedih.


Serena kembali ingat dengan dirinya. Saat menikah hanya sebatang kara. Andai ia bisa menikah dengan di dampingi Tuan Wang mungkin rasanya akan jauh berbeda. Daripada berstatus sebagai pengantin wanita yang yatim piatu.


“Ma, apa mama baik-baik saja? Ada yang mama pikirkan?” Leona terpaksa membuka selendang yang menutupi wajahnya untuk melihat dengan jelas wajah ibunda tercintanya.


Serena menggeleng pelan. Setetes buliran air mata segera ia hilangkan karena tidak mau Leona khawatir di hari bahagianya.


“Ini air mata bahagia. Kau akan pergi meninggalkan rumah. Bagaimana nanti mama memanggilmu jika rindu?” Bibir Serena gemetar. Ia tidak bisa menahan air mata dan rasa sedihnya Leona beranjak dari kursi. Bersamaan dengan itu Daniel juga berjalan mendekati Serena. Mereka berdua sangat menyayangi Leona hingga tidak mau melihat Serena bersedih hingga seperti itu.

__ADS_1


“Ma, Leona akan selalu bersama mama. Leona akan sering-sering menemui mama. Nanti Jordan juga tidak akan melarang Leona menemui Mama.”


“Sayang, jangan seperti itu. Kau membuat Leona merasa berat untuk menikah.”


Serena menggeleng pelan. “Setidaknya masih ada Aleo.”


Leona tertawa kecil. Ia memeluk Serena dan berniat meledeknya. “Ma, tidak lama lagi Kak Aleo juga akan menikah.”


“Mama akan meminta Aleo tinggal di rumah. Tidak sepertimu yang harus ikut dengan suamimu.” Serena mencubit hidung Leona dengan gemas.


Daniel, Leona dan Serena tertawa bersamaan. Mereka menghilangkan rasa sedih yang tadi sempat memenuhi hati.


Di sisi lain, Aleo berjalan cepat untuk menemui Leona. Ia harus terlambat karena memang Aleo tidak datang bersama dengan Serena dan Daniel ke Cambridge. Di samping Aleo ada Tamara. Memang dari Sapporo mereka berada dalam satu pesawat. Tamara, Tama dan Anna. Ya, mereka bersama dengan Aleo menuju Cambidge.


“Sepertinya di sana,” ucap Tamara sambil menunjuk ke arah pintu yang di jaga oleh beberapa pengawal. Sangat ketat memang karena Jordan tidak mau terjadi sesuatu kepada calon istrinya. Apa lagi di hari pernikahannya seperti ini.


“Baiklah. Ayo  kita ke sana,” ucap Aleo sambil menarik tangan Tamara. Mereka ingin melihat wajah Leona sebelum wanita itu berangkat ke tempat pernikahan.

__ADS_1


“Kak Aleo.” Tiba-tiba seseorang memanggil nama Aleo dengan begitu bersemangat. Aleo dan Tamara sama-sama menghentikan langkah kaki mereka ketika mendengar sapaan itu.


Aleo memandang wajah wanita yang berdiri tidak jauh dari posisinya berada. Secara spontan tangannya yang sempat menggandeng tangan Tamara terlepas. Pria itu tersenyum melihat wanita yang sangat ia kenali berdiri di sana.


“Clara?” tanya Aleo ragu.


“Ya, ini aku.” Tanpa banyak kata lagi, wanita bernama Clara itu berlari mendekati Aleo. Ia segera berhambur ke dalam pelukan Aleo. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


“Aku merindukanmu,” ucap Clara dengan penuh rasa rindu.


Aleo memejamkan mata dengan wajah bahagia. Ini kejutan terhebat yang tidak pernah ia bayangkan. “Kenapa kau bisa di sini?”


“Tante Serena yang membawaku. Bukankah sudah saatnya kita menikah?” celetuk Clara tanpa peduli kehadiran Tamara di samping Aleo.


Deg. Tamara merasa ada yang aneh dengan debaran jangtungnya. Seperti  ada yang menusuk dan membuat rasa prih di dalam sana. Namun, sekuat mungkin Tamara mengukir senyuman dengan sikap biasa saja. 


“Saya ke dalam duluan ya, Kak Aleo?” ucap Tamara dengan sopan.

__ADS_1


“Ya,” jawab Aleo cepat. Pria itu memiliki banyak pertanyaan yang harus ia ajukan kepada wanita yang kini berdiri di hadapannya. Bukan niat hati melukai perasaan Tamara. Tapi memang hingga detik ini hubungan mereka belum mengalami kemajuan apapun. Hanya dekat seperti layaknya saudara sepupu.


Tamara melangkah ke kamar Leona.  Ia melangkah sangat pelan dan berniat menguping pembicaraan Clara dan Aleon. “Siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat sangat dekat? Apa mereka pacaran? Tapi, kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar ceritanya? Clara? Bukankah nama itu jelek sekali,” umpat Tamara sebelum masuk ke dalam.


__ADS_2