
Pasukan Gold Dragon benar-benar panik ketika melihat Zeroun memejamkan mata. Ada rasa menyesal di dalam hati mereka karena menuruti perkataan Zeroun untuk membebaskan Pangeran Martine pergi. Jika saja sejak awal mereka menghalangi Pangeran Martine pergi dengan melakukan penyerangan. Mungkin saat ini Pangeran Martine juga akan cedera seperti apa yang di alami Zeroun.
"Bos." Salah satu pasukan Gold Dragon berusaha membangunkan Zeroun. Sambil memandang ngeri ke arah perut Zeroun, mereka mulai berpikir. Semua ini tidak mungkin akting semata. Seharusnya Zeroun segera bangun ketika Pangeran Martine telah pergi.
"Bos, bangunlah!"
Hingga tidak lama kemudian Zeroun membuka mata. Ia meringis kesakitan dan duduk.
"Apa kalian sudah melakukan yang aku perintahkan?" tanya Zeroun sambil membuka kancing kemejanya. Pria itu ingin memeriksa luka yang kini ia alami.
"Bos, apa ini hanya katung darah yang kita bawa tadi?" tanya pria itu lagi dengan wajah panik.
"Belatinya sangat tajam dan panjang. Aku merasa ada yang luka." Zeroun membuka kemejanya yang kini di penuhi darah. Ia melemparkan kain putih itu begitu saja. Membuka alat yang ada di tubuhnya. Sebenarnya semua sudah direncanakan Zeroun. Begini cara dia menjebak Pangeran Martine.
Membunuh bukan lagi bagian dari hidupnya. Ia tidak mau terus-terusan membunuh dan menyisakan dendam bagi orang sekitarnya. Tidak lama lagi dia akan memiliki banyak cucu dari kedua anaknya. Zeroun tidak mau di masa cucu mereka besar harus menanggung akibat dari perbuatan mereka seperti yang sekarang di alami Jordan dan Katterine.
"Hanya sedikit. Jangan khawatir." Zeroun membersihkan darah yang keluar dari perutnya. Karena belati yang digunakan Pangeran Martine sangat panjang. Walau persiapan Zeroun untuk menjebak Pangeran Martine sudah maksimal tapi tetap saja tubuhnya berhasil terluka.
"Dokter! Di mana dokter tadi!" ucap pria yang kini memandang luka Zeroun dengan rasa kasihan.
"Dokter itu sudah ada di atas, Bos," jawab pasukan Gold Dragon yang lain.
Belum saja menemui solusi tiba-tiba mereka merasakan sebuah getaran. Dinding-dinding mulai retak. Zeroun memandang keadaan sekitar dan mulai mengatur napasnya.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus segera pergi dari sini. Saya yakin pria itu sudah melakukan sesuatu agar kita terkubur di dalam sini."
"Baik, Bos." Dua pria segera membantu Zeroun berjalan. Mereka segera berlari menuju pintu keluar yang menjadi tempat mereka masuk.
Tidak lama kemudian mereka tiba di atas. Di sana hanya ada mobil-mobil terparkir. Zeroun duduk di sebuah batu besar untuk melihat apa yang terjadi. Seperti apa yang ia tebak, bangunan di bawah tanah itu runtuh setelah mereka tiba di atas dengan selamat.
Seorang pria mengambil alat medis dari dalam mobil. Ia ingin membersihkan luka Zeroun dan membuat darahnya berhenti mengalir. Sambil memperhatikan luka Zeroun, sesekali ia memandang wajah Zeroun yang terlihat melamun.
"Kita bisa membunuhnya dan menghilangkan jejak setelahnya, Bos. Kenapa Anda membiarkan pria itu lolos begitu saja? Jangankan seorang Pangeran. Jika saja dia seorang presiden atau Raja terkenal, kita bisa dengan mudah menghilangkan jejaknya. Tidak akan ada orang yang menangkap kita," ucap salah satu pasukan Gold Dragon dengan wajah tidak terima.
"Sampai kapan tangan ini kita gunakan untuk membunuh? Menembak orang sudah seperti memukul nyamuk yang berterbangan. Bahkan jauh lebih mudah. Sudah berapa banyak nyawa yang tewas di tangan kita? Apa kita pernah berpikir kalau di antara nyawa yang kita bunuh akan ada nyawa tidak berdosa yang hilang. Saya belajar dari Pieter. Pria itu kehilangan wanita yang ia cintai karena kesalahan siapa? Isabel atau Oliver?"
Pria itu terdiam. Bahkan saat tidak bersama Zeroun atau Oliver, ia sangat sering membantai orang-orang tidak bersalah hanya karena masalah sepele.
Zeroun tertegun mendengar pernyataan polos bawahannya. Hingga tidak lama kemudian ia tersenyum dan menepuk pundak bawahannya.
"Anggap saja seperti itu. Sudah waktunya kita pengsiun. Hidup dalam kedamaian bersama orang yang kita cintai." Zeroun kembali membayangkan Emelie dan keluarganya untuk membuatnya kembali semangat.
"Bagaimana dengan kami yang masih jomblo, Bos?" sambung pria lainnya yang ternyata menguping pembicaraan Zeroun dan pria tersebut.
Ekspresi wajah Zeroun tiba-tiba berubah dan membuat takut semua pasukannya. Ada rasa menyesal menanyakan hal sepele itu barusan.
"Queen Star memiliki banyak wanita tangguh!" jawab Zeroun dengan ekspresi dingin favoritnya. Suasana yang tadinya hening dan begitu mencekam tiba-tiba saja berubah menjadi canda tawa. Semua orang tertawa riang melepaskan rasa lelah mereka karena sudah bekerja keras selama beberapa hari ini. Jarang-jarang juga Zeroun mau bercanda dengan mereka seperti itu.
__ADS_1
Pria yang kini duduk di samping Zeroun hanya bisa tersenyum saja. "Beginilah jalan pikiran pria yang sudah memiliki anak. Bos Zeroun benar-benar jauh berubah. Ia tidak lagi memikirkan kekuasaan, melainkan ketenangan ...."
***
Leona tidak mau melepas pelukannya dari tubuh Jordan. Sambil menangis sejadi-jadinya, terkadang ia memukul pria itu dengan geram. Rasa rindu yang selama beberapa hari ini ia rasakan kini telah terbayar sudah. Walau Jordan kembali dalam keadaan tidak baik-baik saja, tapi tetap saja pria itu masih bisa membuka mata dan memanggil namanya.
"Kenapa kau begitu jahat, Jordan. Apa yang akan terjadi pada hidupku jika kau benar-benar pergi?" Leona mempererat pelukannya seolah ingin meremukkan tubuh Jordan. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitar yang kini memperhatikannya.
Rasa cinta Leona dan Jordan yang begitu besar membuat mereka akhirnya bertemu di tengah jalan. Tanpa sengaja. Ya, memang kekuatan cinta yang membuat mereka bertemu. Saat Leona dan Serena ingin berangkat ke rumah sakit bawah tanah. Mereka mendapat kabar kalau Jordan dan Oliver telah ditemukan. Dengan komunikasi mereka bisa bertemu di tengah jalan.
"Sayang, aku baik-baik saja. Hanya luka kecil."
"Leona, sebaiknya kita segera berangkat ke istana ya. Emelie dan Katterine pasti sangat mengkhawatirkan kalian saat ini."
"Ma, bagaimana dengan Daddy Zeroun?" tanya Leona dengan mata bengkak karena banyak menangis.
"Mama baru saja mendapat kabar kalau Zeroun baik-baik saja. Mereka juga dalam perjalanan menuju istana."
Leona memandang wajah Jordan sebelum bersama-sama masuk ke dalam mobil. Walau Leona tidak tahu kini Pangeran Martine kembali lolos, tapi setidaknya ia bisa tenang melihat suaminya ada di depan mata.
"Setelah hari ini aku tidak mau di tinggal sendiri. Susah atau senang kita harus bersama," ucap Leona pelan.
"Maafkan aku Leona." Jordan mengecup pucuk kepala Leona berulang kali. Pria itu tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa kembali pulang untuk berkumpul dengan orang-orang yang ia sayangi.
__ADS_1