
Untuk beberapa saat Leona hanya diam tanpa tahu harus apa. Dia memandang Serena yang kini bersikap waspada terhadapnya.
Bersamaan dengan itu, para pengawal berkumpul. Mereka mengepung Leona dan tidak membiarkan Serena dalam bahaya.
Daniel yang baru saja muncul berlari mendekati Serena. Tadinya Serena berpamitan untuk mengambil air minum. Karena sudah cukup lama tidak kembali ke kamar jadinya Daniel memutuskan untuk menyusul.
Begitu juga dengan Serena. Setelah mengambil air minum ia dikejutkan ketika melihat para pengawal berbaring di lantai. Saat Serena memutuskan untuk menyelidiki masalah yang terjadi, tiba-tiba dia melihat seorang penyusup yang ingin pergi meninggalkan istana. Tidak pernah ia sadari kalau penyusup itu adalah putrinya sendiri.
"Aku harus kabur sekarang juga. Aku tidak mau tertangkap oleh mama," gumam Leona sambil memperhatikan cela yang ada. Akan semakin merepotkan jika satu istana tahu kalau dia adalah penyusup malam ini.
Leona mengangkat senjata apinya dan menarik pelatuknya. Namun dia mengarahkannya ke tempat yang tidak ada orang. Leona tidak mau ada nyawa yang hilang malam ini.
Saat Leona mulai berusaha berlari, Serena semakin waspada dan tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dia berlari kencang untuk mengejar Leona.
"Sial! Kenapa mama mengejarku terus!" umpat Leona di dalam hati.
BRUAK
Leona terjatuh ketika Serena menjegal kakinya. Walau tanpa menggunakan senjata tapi tetap saja Serena bisa dengan mudah mengalahkan musuhnya.
Leona tidak mau kalah. Wanita itu berjuang melawan ibu kandungnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau akan bertarung dengan ibu kandungnya sendiri. Pukulan demi pukulan berhasil dia hindari. Namun, ketika tiba-tiba saja dari arah belakang Daniel memegang tangannya bahkan memelintirnya hingga menyebabkan sakit yang luar biasa. Leona tidak bisa berbohong lagi. Dia meringis kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa terhadap orang tuanya.
"Aduh, Pa. ampun! Ini sakit!"
"Leona?" Serena dan Daniel kaget bukan main ketika mendengar rengekan Leona. Daniel segera melepas tangan Leona tanpa mau melukai putrinya lagi. Dengan cepat Serena menarik masker yang ada pada wajah Leona. Wanita itu menghela napas kasar ketika melihat putrinya yang kini menjadi lawannya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Serena kesal.
"Mom, jangan teriak kencang-kencang. Mama mau satu istana bangun?"
"Satu istana sudah bangun ketika kau mengeluarkan tembakan tadi!" jawab Serena asal saja. Benar saja. Tidak lama ketika Serena mengatakan kalimat itu, tiba-tiba Zeroun dan Emelie muncul.
"Ada apa ini?" Emelie yang terlihat takut segera berjalan mendekati besan dan mantunya. Ia tidak mau orang yang ia sayangi mengalami bahaya malam itu.
"Mom, ini hanya salah paham," jawab Leona sambil memikirkan alasan yang tepat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Salah paham?" sambung Zeroun dengan tatapan menyelidik.
"Ya, Dad. Tadinya Leona ingin melihat seberapa kemampuan pengawal istana kita. Tapi, mama dan papa harus muncul dan ikut campur."
"Leona, kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Alasan apa itu? Kau mengendap seperti pencuri. Bagaimana kalau penembak jitu menembakmu tadi." Serena benar-benar tidak habis pikir dengan sikap putrinya saat itu. Semakin lama ia semakin tidak mengenali karakter Leona.
__ADS_1
"Ma, kita baru saja di serang. Kebanyakan pengawal kita pengawal baru. Leona harus memastikan kalau mereka memiliki ilmu nela diri yang luar biasa."
"Tapi Leona ...."
"Sudahlah Serena. Mungkin Leona jenuh ada di kamar. Jordan tidak bersama dengannya malam ini." Emelie berusaha membela Leona agar tidak mendapat Omelan dari Serena lagi.
"Leona, jangan ulangi perbuatan seperti ini." Serena memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Daniel hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku putrinya. Pria itu mengacak rambut Leona sebelum mengikuti sang istri masuk ke dalam.
Leona menunduk ketika hanya ada Zeroun dan Emelie di sana.
"Sayang, masuklah ke dalam. Di sini anginnya sangat kencang. Tidak bagus untuk kesehatanmu," ucap Emelie dengan senyuman ramah.
"Baik, Mom." Dengan kepala menunduk karena perasaan bersalah Leona berjalan masuk ke dalam. Walau rencananya gagal, tapi ia bisa sedikit bahagia. Setidaknya hingga detik ini tidak ada yang tahu keadaan Jordan dan Oliver sebenarnya. Rasanya ketenangan yang ada di wajah Emelie dan Serena jauh lebih berharga jika dibandingkan apapun. Leona tidak mau dua wanita yang sangat ia sayangi itu terus-menerus jantungan karena memikirkan masalah yang terjadi. Sudah saatnya mereka tenang dan menikmati hidup mereka.
Di sisi lain, Katterine terlihat gelisah dengan tidurnya. Segala posisi sudah ia coba untuk menemukan posisi yang nyaman. Namun, tetap saja tidak bisa membuatnya terlelap.
Hingga lima belas menit kemudian Katterine berhasil memejamkan matanya. Dia mulai masuk ke alam mimpi dan mulai bermain di sana. Tiba-tiba Katterine mendengar seseorang masuk ke dalam kamar. Naik ke atas tempat tidurnya dan menarik selimut yang ia kenakan. Katterine ingin membuka kedua matanya tapi dia merasa antara sadar dan tidak. Semua antara nyata dan tidak nyata. Ketika wajah Oliver ada di depannya, dia tersenyum. Bibirnya gemetar dan kedua matanya berkaca-kaca.
"Kau merindukanku?"
Katterine terperanjat kaget ketika merasakan tangan dingin seseorang menyentuh tubuhnya. Di samping tempat tidur Emelie berdiri dengan wajah khawatir. Di sampingnya ada Zeroun yang juga memasang ekspresi wajah tidak kalah khawatir dari Emelie.
"Mom." Katterine memegang wajahnya yang ternyata telah basah. Dia melihat di atas nakas sebuah baskom berisi air dingin. Ternyata Emelie sengaja membasahi tangannya dan melekatkan tangannya yang basah di wajah Katterine.
Katterine termenung sejenak. Masih terbayang jelas wajah Oliver di alam mimpi tadi. Padahal dia merasa baru tidur sekitar 15 menit. Bagaimana mungkin ketika melihat jam sudah berlalu hampir dua jam.
"Ya, tentu saja. Sekarang masih jam 5, Mom. Kenapa mommy dan Daddy ada di sini?"
"Kau yang membuat Mommy dan Daddy datang ke sini. Pengawal yang menjaga kamarmu kebingungan ketika kau meneriakkan nama Oliver berulang kali."
"Benarkah seperti itu?"
"Katterine, apa kau pikir mommy dan Daddy sedang bercanda kali ini?"
"Sorry!" Katterine menunduk. Mengingat Oliver membuatnya sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya Katterine ingin menceritakan semuanya. Hanya saja semua alasan yang dikatakan Leona ada benarnya.
"Sayang, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kau dan Leona bertingkah aneh malam ini."
"Kak Leona?" ucap Katterine seperti orang bodoh.
"Ya. Leona membuat beberapa pengawal kita tidak sadarkan diri. Bahkan ia berniat untuk menembak penjaga di halaman samping. Apa kau tahu apa alasannya ketika Tante Serena bertanya?" tanya Emelie dengan wajah yang serius. Pertanyaan itu di jawab dengan gelengan kepala oleh Katterine.
__ADS_1
"Leona bilang ingin melatih kemampuan para pengawal istana. Apa kau pikir itu alasan yang tepat? Jelas-jelas kemampuan Leona sangat hebat. Jelas saja pengawal kita kalah. Itu sudah terbukti sejak Leona dan Jordan menikah." Emelie duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mendesah membayangkan kelakuan aneh putri dan menantunya. Tidurnya menjadi tidak nyenyak karena ulah dua wanita itu.
Zeroun hanya diam di sana sebagai pendengar setia. Jelas-jelas tadi saat Serena marah pada Leona, ia terus saja membela Leona. Tapi kini terlihat jelas kalau Emelie juga mencurigai keanehan yang ada pada diri Leona.
"Mom, semua baik-baik saja. Mommy dan Daddy bisa kembali ke kamar." Katterine menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Hal itu jelas saja membuat Emelie mengeryitkan dahi.
"Mau ke mana?"
"Aku ingin menemui Kak Leona."
"Katterine, kau tidak ingin tidur lagi?" tanya Emelie dengan wajah tidak percaya. Bagaimana mungkin putrinya yang tidak suka bangun pagi kini turun dari tempat tidur.
"Embun pagi sangat bagus untuk kesehatan, Mom," teriak Katterine dari kejauhan sambil berjalan cepat menuju ke arah pintu. Emelie dan Zeroun hanya bisa saling memandang sebelum sama-sama menghela napas.
***
Di sebuah desa terpencil yang ada di Bristol. Tidak pernah ada yang tahu kalau di kota itu ada dokter yang memiliki kemampuan luar biasa. Segala penyakit dan luka bisa ia sembuhkan. Dengan rumah sakit di bawah tanah, ia selalu menjadi pilihan para pejabat atau orang berduit yang tidak ingin sakitnya diketahui dunia atau media.
Dengan tangan di dalam saku, seorang pria berpakaian rapi berdiri di depan kaca. Ia memandang dua pria yang berbaring di dalam sana. Alat penunjang kehidupan masih terpasang dan tidak bisa di lepas demi keselamatan dua pria yang berbaring lemah itu.
"Bagaimana keadaan mereka, Dokter?"
"Anda keluarganya?"
"Anggap saja seperti itu. Aku adalah orang yang di kirim Tuhan untuk menyelamatkan dua pria ini."
"Salah satu dari mereka masih kritis. Efek ledakan itu sangat dahsyat. Mereka berjarak sangat dekat dengan lokasi yang menjadi sumber ledakan. Tapi, kami akan berjuang semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya."
"Apa salah satu dari mereka akan segera sadar?"
"Ya. Tapi tidak dalam waktu dekat. Paling cepat sekitar tiga hari lagi. Itu juga kalau kondisinya terus menunjukkan tanda-tanda kemajuan."
"Saat saya tahu siapa mereka. Saya sangat ingin membunuh mereka. Tapi, tidak tahu kenapa hati nurani saya berkata lain. Saya ingin melihat mereka hidup agar mereka bisa menjelaskan. Sebenarnya dendam apa yang sudah terjadi antara mereka dan Roberto. Kecelakaan Roberto seperti direncanakan. Orang terakhir yang sering di temui Roberto adalah adik dari salah satu pria ini."
Dokter itu mengangguk seolah mengerti dengan cerita pria tersebut. "Wajahnya tidak asing. Saya takut salah awalnya ketika ingin menebak. Salah satu pasien saya ini adalah seorang Pangeran Cambridge yang sangat terkenal. Semoga keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Jika kejahatan di balas dengan kejahatan. Maka kedamaian tidak akan pernah kita temui."
"Terima kasih, Dokter. Untuk sementara waktu, saya ingin merahasiakan keberadaan mereka berdua dari siapapun."
"Kota ini sangat terpencil. Tidak akan ada yang bisa menemui mereka. Saya jamin akan hal itu."
"Terima kasih, Dokter. Beri tahu saya jika salah satu dari mereka sudah sadar. Saya harus kembali ke Jerman. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Terutama bisnis Roberto yang kini terbengkalai begitu saja."
__ADS_1
Dokter itu hanya tersenyum saja melihat pria yang berbicara dengannya pergi. "Dia pria yang baik. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau orang yang sudah membunuh saudaranya adalah dua pria ini. Tapi, ia masih memiliki belas kasih untuk menolongnya."
Dokter itu juga pergi meninggalkan ruangan tersebut. Di dalamnya telah berbaring Jordan dan Oliver yang masih dalam kondisi lemah dan mata terpejam.