Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 55


__ADS_3

Di sebuah gudang, berkumpul beberapa pria berbadan tegap di sana. Mereka melihat ke arah Pieter yang sudah mulai sadarkan diri. Pria itu diikat dengan posisi duduk di atas kursi kayu. Kaki dan kepalanya terdapat darah kering. Karena luka yang ada ditubuhnya tidak segera di obati, kini kulitnya mulai membiru karena membengkak. Sakitnya juga sungguh luar biasa rasanya.


Pieter berada di tangan yang tidak tepat. Ya, seperti itulah mungkin yang ia pikirkan ketika ia membuka mata nanti. Pangeran Martine tidak kunjung turun tangan untuk menyelamatkan nyawanya. Justru pria itu lebih tertarik melindungi nama baiknya sendiri. Tidak peduli jika ia harus membunuh Pieter atau Lusya. Selama kerahasiaan tentang dirinya terjaga.


Perlahan, kedua mata Pieter bergerak. Pria-pria yang sudah menangkap Pieter hanya bisa bersikap waspada. Mereka tidak mau lalai hingga membuat sumber masalah itu kabur lagi.


Pieter merasakan perih yang luar biasa ketika pertama kali ia sadar. Bahkan kakinya yang terkena tembakan rasanya seperti sudah tidak terasa lagi. Kepalanya pusing karena dia kehilangan banyak darah. Namun, ketika ia ingin memegang kepalanya tiba-tiba Pieter merasa ada yang menghalangi. Tangan dan kakinya terikat hingga ia tidak bisa bergerak bebas.


"Apa ini?" gumamnya di dalam hati. Pieter mengangkat kepalanya untuk melihat tempat dirinya berada saat ini. Ia memperhatikan wajah beberapa pria yang jumlahnya sekitar lima orang saja. Pieter tidak kenal dengan mereka.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan. Kenapa kalian menangkapku?" ucap Pieter dengan suara yang lemah. Ia tidak sanggup berteriak lagi karena kini kondisi tubuhnya benar-benar memprihatinkan.


Seorang pria berjalan ke depan. Ia menatap wajah Pieter dengan tatapan membunuh. Dengan geram ia menjambak rambut Pieter dan menarik kepala itu seolah mainan yang bisa ia geser ke mana saja. Kepala Pieter di arahkan ke belakang agar bisa melihat dinding yang ada di belakang sana. Lebih tepatnya sebuah simbol yang terlukis di dinding tersebut.


Betapa kagetnya Pieter ketika melihat simbol Gold Dragon ada di dinding ruangan sempit tersebut. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya akan tertangkap lagi dengan geng mafia yang menjadi musuh bebuyutannya itu.


"OLIVER! Di mana dia! Apa yang ia inginkan? Dia ingin membunuhku? Di mana dia? Kenapa dia tidak ada di sini!" ucap Pieter dengan umpatan-umpatan yang ia tujukan pada Oliver.


Pria-pria yang menjadi pasukan Gold Dragon itu hanya bisa saling memandang tanpa mau mengatakan apapun. Pria yang tadi menjambak rambut Pieter, menghempaskan kepala Pieter begitu saja dan membiarkan Pieter sendirian di ruangan pengurungan tersebut. Ruangannya mirip penjara karena memang hanya di tutupi oleh pintu berbahan besi. Ada pintu lesu di ruangan tersebut yang bertujuan sebagai kamar mandi.


Seorang pria lain berjalan mendekati Pieter dan melepas ikatannya. Mereka pergi meninggalkan Pieter setelahnya. Tanpa memberikan perawatan atas sakitnya atau memberikan makan minum. Dia ditinggalkan begitu saja.


"Apa yang kalian inginkan!" Pieter berusaha bangkit. Namun tiba-tiba ia terjatuh karena kakinya tidak bisa berjalan dengan normal lagi. Sakitnya semakin menusuk ketika ia memaksakan kakinya untuk berdiri.


Pintu jeruji besi itu di gembok dan di jaga beberapa pria. Mereka membelakangi Pieter dan bersikap tidak peduli. Seolah teriakan dan umpatan Pieter hanya angin lalu saja.


Di sisi lain, pria yang menjambak Pieter tadi mulai bingung. Dia adalah pasukan Gold Dragon yang selama ini menjadi kepercayaan Oliver. Bisa di bilang ia pasukan Gold Dragon yang telah lama karena masih hidup hingga detik ini sejak kepemimpinan Zeroun Zein.


Mereka datang terlambat saat itu. Ketika datang yang mereka lihat adalah Pieter yang sedang melarikan diri. Mereka tidak menunggu perintah lagi. Berlari kencang mengejar Pieter sambil berpikir momen yang tepat untuk menangkap pria itu. Sayang, ketika sudah tertangkap justru mereka mendapatkan kabar buruk kalau Jordan dan Oliver hilang setelah rumah itu meledak. Awalnya mereka berpikir kalau hilangnya Jordan dan Oliver ada campur tangan Pieter. Tidak di sangka ketika sadar tadi justru Pieter bersikap seolah tidak tahu kalau sebenarnya Oliver telah menghilang.


"Bos, apa yang harus kita lakukan? Sampai kapan kita mengurungnya?"


"Aku juga tidak tahu. Bos Oliver dan Pangeran Jordan menghilang tanpa kabar. Bos Zeroun tidak bisa dihubungi hingga detik ini."


"Bagaimana dengan Nona Letty?"

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain memberi tahu Bos Letty soal keberadaan Roberto yang sudah mulai membaik dan Pieter."


"Bos, apa mungkin Bos Oliver akan kembali?"


"Kita pernah kehilangan Bos Zeroun saat itu. Dia kembali dalam kondisi baik-baik saja. Aku harap keberuntungan kali ini masih berpihak pada Gold Dragon."


"Bos, jika Pieter bukan dalang dari hilangnya Bos Oliver dan Pangeran Jordan, lalu siapa yang sudah melakukan semua ini. Sepertinya ia bukan orang biasa. Strateginya saat rapi bahkan serapi strategi yang dibuat Bos Zeroun dulu."


Pria itu menahan langkah kakinya. Ia menghela napas dengan kasar dan memandang ke luar jendela. Tidak ada Oliver rasanya sangat jauh berbeda. Ia butuh pria tangguh itu ada di sini untuk memimpin Gold Dragon lagi.


"Aku juga tidak tahu. Tidak ada petunjuk apapun yang bisa membongkar identitas musuh kita kali ini. Ia bermain sangat bersih."


***


Monaco


Pangeran Martine baru saja mengadakan pesta. Semua orang yang diundang untuk datang ke istana merasa sangat bahagia. Bahkan sebagian merasa beruntung karena bisa bertatap muka secara langsung dengan Pangeran Monaco yang terkenal dengan sifat ramah dan baik hatinya itu.


Pangeran Martine menyambut kedatangan tamu undangan dengan senyuman andalannya. Dia memang pria gagah yang tampan dan sangat mempesona. Setiap wanita pasti ingin menjadi permaisurinya. Tidak tahu bagaimana tipe wanita yang diinginkan pria itu. Hingga detik ini ia belum juga menikah dengan alasan belum ada yang tepat di dalam hatinya.


"Dad, semua ini juga berkat dukungan Daddy."


Pangeran Martine tersenyum penuh ketulusan seolah tidak ada kelicikan di dalam hatinya. Ia memandang seorang pria yang menjadi kepercayaannya. Kepalanya mengangguk dan memberi kode agar menunggunya di suatu tempat.


"Martine, sudah saatnya kau menikah."


"No, Dad. Tidak sekarang. Dad, ini pesta yang luar biasa. Martine ingin menemui beberapa kolega penting di sana. Apa boleh Martine tinggalkan Daddy sendiri di sini?"


"Silahkan, Nak. Daddy juga ingin segera tidur. Tubuh Daddy tidak sekuat dulu." Pria itu tertawa renyah dan memamerkan keriput di wajahnya. Martine hanya tersenyum dan menunduk hormat.


"Selamat tidur, Dad."


Pangeran Martine pergi meninggalkan ayah kandungnya di temani beberapa pria di belakangnya. Setiap orang yang berpapasan dengan Pangeran Martine menunduk hormat dengan penuh ketulusan. Pangeran Martine mengukir senyuman sambil mengangkat tangannya ke udara.


"Silahkan nikmati pestanya." Lagi-lagi pria itu dibanjiri pujian. Tidak pernah ada yang menyangka jika pria setampan itu hanya iblis yang sedang menggunakan topeng.

__ADS_1


Pintu terbuka. Pangeran Martine masuk ke dalam sendirian. Dua pria yang sempat mengawal dirinya tertahan di depan pintu. Pangeran Martine berjalan masuk dan memandang pria yang sudah menunggunya di sana.


"Ada apa?"


Pria itu menunduk hormat menyambut kedatangan Pieter. "Selamat malam, Pangeran."


"Katakan saja informasi yang kau bawa. Aku tidak memiliki banyak waktu."


"Kami sudah membunuh Lusya. Pieter hilang. Saat kami mencarinya, kami tidak berhasil menemukannya. Rumah itu berhasil kami ledakan. Namun, saat ledakan terjadi kami tidak berhasil menemukan keberadaan Pangeran Jordan dan Oliver. Bahkan kami juga tidak berhasil menemukan jenazahnya. Saat ingin melakukan pencarian di atas puing-puing itu lagi, tiba-tiba istri pangeran Jordan tiba. Kami segera pergi meninggalkan lokasi. Namun, saat kami menguping pembicaraan mereka sejenak. Sepertinya mereka juga tidak mengetahui keberadaan dua pria itu saat ini. Mereka menghilang begitu saja, Pangeran."


Pangeran Martine hanya diam untuk menganalisa keadaan yang kini ia hadapi. Ia masih berpikir dan tidak mau berkomentar apapun.


"Bukankah kau juga aku tugaskan untuk membunuh istrinya?" Sorot mata Pangeran Martine berubah tajam ketika ia mendengar kabar kalau Leona masih hidup.


"Kami hampir berhasil membunuhnya. Tapi, perampok sekitar menggagalkan rencana kami, Pangeran. Maafkan kami Pangeran."


Pengawal itu berpikir kalau Zean hanya perampok yang biasa beroperasi di lokasi tersebut. Memang saat itu Zean menggunakan topeng hingga ia terlihat seperti perampok yang ingin merebut harta mangsanya.


"Cari Pieter sampai dapat! Hanya dia yang mengetahui tentangku! Aku tidak mau dia menyeret namaku hingga akhirnya mereka tahu kalau aku dalang semua ini."


"Baik, Pangeran."


Pangeran Martine tidak pernah menyangka kalau masih ada Roberto yang telah mengetahui keberadaannya. Ia hanya berpikir kalau orang yang bisa mengancam ketenangannya saat ini hanya Pieter seorang.


"Pangeran, bagaimana dengan istana Cambridge? Apa kita lakukan penyerangan lagi? Wanita yang di kirim Lusya ternyata telah lama bekerja sama dengan mereka. Racun itu gagal membunuh Ratu Emelie."


Pangeran Martine semakin menggeram mendengar kabar kegagalan dari bawahannya. Ia ingin sekali memberi pelajaran, namun saat ini pesta sedang berlangsung. Pangeran Martine tidak mau terlihat tidak maksimal nantinya.


"Kalian memang tidak berguna! Sebelum kalian berhasil menangkap Pieter dan mengetahui keberadaan dua pria itu, sebaiknya jangan lakukan hal apapun. Aku tidak mau ada cela yang membuat mereka menyadari keberadaan kita di balik semua ini."


"Baik, Pangeran."


"Jika Pieter sudah tidak berguna, kau bisa membunuhnya di tempatnya berada saat ini. Aku tidak suka memberikan kesempatan kepada orang yang gagal berkali-kali!"


"Baik, Pangeran."

__ADS_1


Pangeran Martine memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan pria itu. Ia ingin melanjutkan pesta yang sedang berlangsung itu. Bibirnya tersenyum. Ia menghilangkan perasaan kacau dam bingungnya malam itu. Bergabung dengan tamu undangan untuk menikmati pesta yang ia selenggarakan.


__ADS_2