
Monaco
Pangeran Martine berada di sebuah ruangan. Ruangan itu terasa sangat sejuk karena angin malam masuk melalui jendela yang terbuka. Tapi, tidak tahu kenapa bagi Pangeran Martine ruangan itu terasa sangat panas hingga membuat peluhnya berkumpul di seluruh wajah. Ruangan yang biasa terasa nyaman itu sudah seperti ruangan sidang. Bahkan jauh lebih menyeramkan. Ketika hanya ada Pangeran Martine dan ayah kandungnya di dalam ruangan tersebut, tapi Pangeran Martine merasa kalau di ruangan itu ada banyak pasang mata yang sedang menertawakannya.
Zeroun tidak main-main dengan ancamannya. Pangeran Martine berpikir kalau dia tidak membuat ulah dan tidak mengusik ketenangan keluarga Zeroun Zein, maka video itu tidak akan pernah berguna. Namun, baru saja tadi pagi video itu sampai ke tangan ayah kandung pangeran Martine. Pria itu yang kini duduk di kursi roda itu merasa sangat kecewa. Bahkan dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Pangeran Martine adalah putra kebanggannnya. Anak satu-satunya yang selalu ia puji di depan semua orang. Pangeran Martine memang selalu terlihat sempurna di depan ayah kandungnya. Tutur katanya yang sopan dan sikapnya yang ramah membuat semua orang terkecoh. Sang ayah tidak pernah menyangka kalau putra kebanggannya adalah seorang pembunuh bayaran.
“Martine, apa ada yang ingin kau katakan? Daddy benar-benar kecewa denganmu. Sebenarnya dosa apa yang sudah daddy perbuat hingga membuatmu berubah menjadi seperti ini? Membunuh kau anggap itu sebuah permainan? Martine! Membunuh itu perbuatan terkutuk. Kau utahu kalau daddy tidak menyukai kekerasan!”
Di usianya yang mungkin sudah tidak lama lagi karena aneka penyakit menggerogotinya, pria itu masih berusaha membimbing anak kandungnya ke jalan yang benar. Ia tidak mau ketika pergi meninggalkan dunia ia justru membiarkan putranya berada dalam kesesatan.
“Daddy tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Daddy malu, Martine. Raja Zeroun tidak pernah mencari masalah dengan kita kenapa kita-”
“Dia yang membunuh Paman Damian! Apa daddy lupa? Atau daddy pura-pura lupa?” Martine mulai bersuara walau nada bicaranya masih tetap lembut.
“Martine, kau harus ingat apa yang pernah daddy katakan. Tidak akan ada akibat jika tidak ada sebab. Masalah yang pernah terjadi antara pamanmu dan Raja Zeroun bukan urusanmu. Kau masih terlalu muda udah mengorek informasi yang sudah lama di kubur itu!”
“Tidak, dad. Mereka sudah membuat daddy sedih karena kehilangan. Saya tidak bisa diam saja!” protes Pangeran Martine tidak terima.
“Lalu, apa yang akan daddy rasakan jika nanti daddy kehilangan dirimu, Martine?”
Pangeran Martine diam untuk memikirkan jawaban yang pas. Walau sebenarnya ia tidak tahu mau menjawab apa kali ini.
“Martine, Zeroun bukan pria sembarangan. Kau tidak akan mungkin bisa-”
“Aku bisa mengalahkannya. Bahkan jika daddy merestuiku, aku bisa membunuhnya detik ini juga!”
“MARTINE! Apa ini tujuan hidupmu sebagai seorang pangeran? Membunuh?” Dengan tangan gemetar, ia berusaha menahan emosinya. Kali ini ia tidak akan membiarkan putranya salah jalan. Ia ingin membimbing Pangeran Martine agar menjadi pribadi sesuai dengan apa yang ia harapkan selama ini.
“Daddy tidak mau tahu. Besok, kau harus pergi ke Cambridge. Kau harus minta maaf dengan semua orang yang sudah kau lukai.”
“No, Dad! Itu tidak mungkin. Mereka yang salah!” tolak Pangeran Martine sambil memalingkan wajahnya.
“Martine, kau-”Tiba-tiba saja dadanya terasa sakit. Dengan wajah menahan perih itu memegang dadanya. Hal itu membuat Pangeran Martine panik bukan main.
“Dad, daddy. Apa yang terjadi?” Pangeran Martine segera beranjak. Ia ingin memeriksa keadaan ayah kandungnya dan memastikannya baik-baik saja.
“Dad.”
“Martine, daddy mohon. Setidaknya sebelum daddy pergi, daddy bisa melihatmu sebagai putra kebanggaan daddy.”
Pangeran Martine masih bersih keras dengan pendiriannya. Namun kali ini kondisi ayah kandungnya tidak bisa di ajak bercanda. Martine tidak mau ayahnya kecewa.
“Baiklah, dad. Jika itu yang daddy inginkan.”
“Daddy akan menemanimu nanti. Kau akan tahu kebenarannya.” Pangeran Martine hanya mengangguk setuju. Tidak ada pilihan lain baginya selain mengabulkan permintaan ayah yang sangat ia cintai. Walau selama ini kehidupan Pangeran Martin di penuhi kekejaman. Tapi ia sangat menyayangi ayah kandungnya.
__ADS_1
***
Semua orang berkumpul di sebuah ruangan sambil mendengarkan cerita Jordan. Ada Letty juga di sana. Jordan memberi tahu alasan Zean muncul selamam beberapa hari ini. Semua orang yang ada di sana mengerti. Kecuali Letty. Walau alasannya sudah jelas tetap saja wanita itu terlihat tidak percaya.
“Mommy sudah yakin sejak awal kalau Zean anak yang baik,” ucap Emelie dengan senyuman.
Letty beranjak dari sofa yang ia duduki. Wanita itu mengambil jaketnya dan memalingkan wajahnya. Lana yang melihat kepergian Letty segera beranjak. Ia tidak mau anak angkatnya itu pergi lagi. Lana ingin Letty selalu ada di sampingnya layaknya seorang anak.
“Letty, kau mau ke mana?”
“Pergi, Mom. Di sini tidak nyaman,” jawab Letty asal saja sebelum pergi. Lana menghela napas dengan wajah kecewa.
“Dia sudah dewasa. Biarkan dia menjalani hidup sesuai dengan yang ia inginkan,” bujuk Lukas dengan nada pelan.
“Tapi dia wanita. Bagaimana kalau ....”
“Letty pasti bisa menjaga diri.”
Saat lana dan Lukas asyik berbisik, Jordan kembali memikirkan buah leci permintaan Leona. Berdasarkan info yang ia dapat. Cina adalah satu-satunya tempat yang sudah pasti panen leci saat ini. Jordan ingin berkunjung ke sana. Tapi, mengingat keadaan istana yang belum stabil membuatnya sedikit ragu.
“Jordan, apa yang kau pikirkan?” tanya Emelie ketika melihat perubahan sikap putranya.
Leona memandang wajah Jordan dengan bingung. Sejak tadi memang Jordan terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Tidak seperti biasanya yang terlihat tenang.
“Mom, Jordan dan Leona ingin pergi ke China.”
“Apa yang ingin kau lakukan di sana? Kondisimu belum pulih total Jordan.” Emelie terlihat tidak setuju.
“Kak, apa yang ingin kakak lakukan di sana?” Katterine juga terlihat penasaran dengan tujuan kakak kandungnya berangkat ke China.
“Memetik leci,” jawab Jordan ragu-ragu. Ia melirik wajah Leona sebelum memamerkan gigi putihnya yang rapi.
Leona memalingkan wajahnya. “Aku sudah tidak menginginkannya,” jawab Leona dengan wajah tidak semangat.
“Tidak menginginkannya? Bukankah semalam ....”
“Aku inginnya detik itu juga. Jika tidak ada di saat aku ingin, aku tidak lagi berminat untuk memakannya.” Leona bersandar dengan posisi yang nyaman.
Emelie dan Lana saling memandang dengan pemikiran yang sama. “Sayang, kau ingin buah leci?”
“Bukan menginginkan, Mom. Tapi Leona ingin memetik buah leci langsung dari pohonnya,” sambung Jordan dengan wajah kecewa. Ia juga merasa bersalah karena tidak bisa mengabulkan keinginan sang istri.
“Apa itu benar, Leona?” tanya Emelie untuk kembali memastikan.
Leona hanya mengangguk setuju. “Mom, Leona ke kamar dulu ya. Leona ngantuk.”
Jordan memegang tangan Leona. “Biar aku antar ya.”
__ADS_1
“Tunggu-tunggu. Sayang, apa kau sudah periksa ke dokter?” tanya Emelie penuh semangat.
“Periksa? Apa Leona terlihat pucat mom? Apa Leona terlihat seperti orang sakit?” tanya Jordan semakin panik.
“Tidak Jordan. Bukan seperti itu maksud mommy, tapi ....”
Seorang pengawal tiba di samping Zeroun. Pria itu menunduk untuk menyampaikan sesuatu. “Yang Mulia, rombongan kerajaan Monaco ada di depan istana.”
***
Letty menendang kaleng kosong yang ada di hadapannya. Ia terlihat tidak bersemangat karena ekspresi wajah semua orang seolah terlihat menyalahkannya. Tatapan itu membuatnya merasa seperti orang asing. Letty merasa dirinya tidak pantas ada di antara keluarga besar yang terkenal kompak itu.
Letty menahan langkahnya saat ia sadar kini ada di sebuah bandar udara. Tidak tahu mau pergi ke mana yang pasti ia ingin meninggalkan Cambridge secepatnya.
"Nona, ini tiket yang anda minta." Seorang wanita memberikan tiket pesawat. Tidak lama lagi pesawatnya akan berangkat. Letty menghela napas sambil menerima tiket tersebut lalu ia berjalan untuk masuk ke dalam.
"Nona, bagaimana saya menjawab pertanyaan Bos Lukas nanti?"
"Katakan saja saya pergi keliling dunia." Letty terlihat santai dengan keputusannya. Ia tidak peduli bagaimana khawatirnya Lana nanti ketika tahu dia pergi entah ke mana.
Tidak lama kemudian Letty sudah tiba di dalam pesawat. Pesawat itu terbang tinggi hingga memperlihatkan lukisan alam yang tiada tandingannya. Semua orang terlihat tenang saat itu.
Letty memandang kertas yang ada di tangannya. Setelah ia sadari ia kini akan berangkat ke Jerman. Tiba-tiba saja Letty kembali ingat dengan Miller. Ia berharap setelah bertemu Miller ia bisa jauh lebih tenang.
"Leluconnya boleh juga," gumam Letty di dalam hati. Ia memandang penumpang yang ada di sekitarnya. Ada ibu-ibu yang membawa anak kecil hingga pria tua yang memutuskan untuk tidur. Biasanya Letty selalu memakai pesawat milik Lana jika ingin berpergian. Tapi kali ini ia tidak mau orang lain tahu tujuannya pergi ke mana.
Saat pesawat sudah beberapa jam berada di udara, Letty kembali geram dengan perkataan Jordan. Memang tadi saat menjelaskan Jordan sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Letty geram.
"Letty, kau tidak akan pernah bisa percaya dengan orang lain selama di dalam pikiranmu hanya tersimpan pikiran jahat!"
Letty mengepal kuat tangannya. "Bisa-bisanya dia mengatakan seperti itu di depan semua orang. Apa aku salah menuduh Zean kemarin? Kalau memang Zean tidak melakukan apa-apa ya sudah. Seharusnya tidak perlu di bahas lagi bukan? Kenapa seolah jadi aku yang salah."
Letty mengambil rantai yang selalu ia bawa. Wanita itu melilitkan Rante tersebut di empat jarinya. Ia terlihat benar-benar kesal kali ini. Wanita itu memandang ke arah jendela sebelum memukul jendela pesawat dengan penuh emosi.
"Kalian jahat!" teriak Letty tanpa peduli dengan orang sekitar. Jelas saja semua orang menjadi panik ketika Letty memukul kaca pesawat. Bagaimana kalau kaca itu pecah. Bukankah hal itu bisa membahayakan nyawa semua penumpang?
"Aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi!" umpat Letty lagi sebelum memukul kaca jendela pesawat lagi. Kali ini penumpang lain tidak bisa diam. Seorang wanita berteriak memanggil pramugari sedangkan sisanya memaki Letty dengan kata-kata kasar.
"Hei, apa kau sudah gila! Kau ingin membunuh semua penumpang? Jika kau ingin mati, bunuh diri saja sana. Jangan ajak penumpang lainnya."
Letty semakin geram mendengar cacian pria tua itu. Ia mengambil senjata apinya dan siap untuk menembak. Suasana di dalam pesawat berubah kacau balau. Di tambah lagi kaca yang sempat di pukul Letty mulai retak.
"Angkat tangan!" Seorang polisi berdiri di sana dengan senjata apinya. Letty mengarahkan senjata apinya sebelum akhirnya ia sadar dengan apa yang sudah ia perbuat.
"Apa yang aku lakukan!" gumamnya di dalam hati. Polisi yang sempat ada di dekat Letty segera mendekati Letty dan memasang borgol di tangan wanita itu. Hingga akhirnya Letty tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ikut saya!" polisi itu menyeret paksa Letty ke ruangan lain. Sedangkan Letty hanya bisa pasrah walau sebenarnya ia bisa melawan polisi tersebut.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak ingat kalau kini ada di pesawat. Bisa-bisanya aku merasa kalau ada di dalam markas," umpat Letty lagi dengan penuh penyesalan.