
Clara di dorong masuk ke sebuah kamar. Ia sampai terjungkal ketika pria itu mendorongnya sangat kuat. Kedua lututnya terasa sakit. Belum sempat ia melampiaskan rasa kesalnya, pintu ruangan itu sudah kembali di tutup. Clara hanya bisa duduk di lantai dengan wajah kesalnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Suara seorang wanita mengagetkan Clara. Ia segera memandang ke belakang untuk melihat wajah sang pemilik suara. Di sana telah duduk wanita cantik dengan senyum yang sangat manis. Clara sendiri sempat bingung karena tadinya ia berpikir kalau ia akan di kurung sendirian di dalam ruangan itu.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Satu wanita lagi keluar dari kamar mandi. Sama dengan Clara, ekspresi wajah wanita itu terlihat kaget ketika melihat Clara ada di ruangan yang sama dengannya.
Wanita yang satu berjalan mendekati Clara. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Clara berdiri. "Bangkitlah. Untuk apa kau duduk di situ? Lantainya sangat dingin."
Clara menerima uluran tangan wanita itu. Ia berdiri secara hati-hati sambil memandang wajah wanita yang menolongnya.
"Terima kasih."
"Jangan katakan terima kasih. Aku tidak membantu apapun untukmu," jawab wanita itu dengan senyuman.
"Kak Ann, siapa wanita ini?" tanya wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku tidak kenal. Yang aku tahu, dia pasti memiliki nasip yang sama dengan kita," jawab wanita itu sambil memandang wajah Clara.
"Apa kalian di culik juga? Atau kalian ada di sini karena menebus utang orang tua kalian?" Clara memandang dua wanita itu bergantian.
"Nama saya Anne dan ini adik saya Sarah. Kami ada di sini karena di jual oleh Tante kami sendiri. Tepat di hari meninggalnya kedua orang tua kami. 2 hari yang lalu," jawab Anne dengan wajah sedih.
"Aku Clara. Kita memiliki nasip yang sama. Bedanya aku ada di sini karena harus menebus utang kedua orang tuaku yang aku sendiri tidak tahu berapa jumlahnya."
"Mereka pasti hanya mencari alasan saja. Clara, apa kau masih virgin?"
Clara tercengang mendengar pertanyaan Anne. Mau jawab malu tapi tidak jawab takut di curigai. "Kenapa kau bertanya seperti itu. Hal itu privasi bagi saya."
"Itu salah satu alasan mereka menangkapmu," jawab sang adik sambil memandang wajah Clara.
"Sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan?"
"Mereka akan melelangmu nanti malam. Siapa yang bisa membayar paling mahal, dia akan tidur denganmu selama satu malam. Besoknya setelah pria hidung belang itu puas, kau akan kembali di kurung. Setelah itu kau akan kembali di lelang sampai kau tidak laku lagi. Hingga nantinya kau akan di periksa dan jika organ tubuhmu ada yang membutuhkan, kau akan di bunuh dan organ tubuhmu akan di jual kepada mereka yang membutuhkan."
"Itu sangat mengerikan. Dari mana kau tahu semua itu?"
"Dari wanita yang kami temui pertama kali. Dia bercerita kalau ia hanya bisa melayani 1 pria saja. Wanita itu ... maafkan saya tapi saya tidak sanggup menceritakannya. Nasipnya sungguh menyedihkan. Intinya, dia tidak bisa di pakai lagi oleh para pria hidung belang karena sudah rusak. Hingga akhirnya ia di bunuh dan organ tubuhnya di jual."
"Mereka bukan manusia."
__ADS_1
"Memang bukan Clara. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Sekarang kita adalah bidak catur bagi mereka. Langkah kita telah di atur."
Clara memejamkan mata sambil membayangkan penyiksaan yang akan ia alami. Semua memang sangat menakutkan. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Clara menyesal karena sudah meminta Zean untuk menolongnya.
"Kalau aku tahu keadaannya akan begitu mengerikan seperti ini, aku tidak akan membiarkan Zean pergi meninggalkanku sendiri. Bagaimana ini? Apa hidupku akan berakhir dengan cara seperti ini?" gumam Clara di dalam hati.
Suara pintu terbuka. Seorang wanita berbadan kekar masuk bersama dua wanita berpakaian pelayan. Wanita itu memandang Clara, Anne dan Sarah dengan tatapan menghina.
"Periksa wanita baru ini!" ujarnya sambil menatap Clara.
"Baik, Bos."
Clara melangkah mundur. Ia tidak mau di sentuh oleh siapapun. Walau jelas-jelas mereka adalah wanita.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Hanya pemeriksaan kecil. Kami harus memastikan kau masih perawan atau tidak!" jawab wanita berbadan kekar.
"Tidak. Kalian tidak bisa melakukan tindakan seperti itu. Tidak!"
Clara menjerit sambil menangis. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Tapi, apa lagi yang ia perbuat. Ia tidak bisa menentangnya. Sambil berbaring Clara menangis dengan hati yang sangat perih.
***
Zean duduk di depan mobil sambil memandang ponselnya yang remuk redam. Kini ia benar-benar hilang arah. Sebenarnya kalau ia pergi ke bandara ia bisa melakukannya. Kabir adalah solusi yang tepat untuk menyelamatkan diri. Tapi, hatinya kembali memikirkan Clara. Ia tidak tega membiarkan Clara ada di dalam lingkungan Cosa Nostra. Zean tahu bagaimana kejamnya geng mafia itu. Bahkan dari berbagai ketua mafia yang pernah ia temui, Cosa Nostra adalah geng mafia paling kejam dan tidak memiliki hati.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bisa menolongnya? Jika sampai tertangkap, semua akan berakhir." Zean memejamkan mata. Ia kembali mengingat anak kecil yang tadi sempat membantunya. Selama berada di kota itu, ia tidak bisa percaya dengan siapapun kecuali anak kecil tadi. Zean segera masuk ke dalam mobil menunju ke rumah anak itu berada.
Tidak butuh waktu yang lama, Zean sudah ada di rumah anak kecil itu. Zean mengitari rumah itu sambil melihat beberapa figuran di dinding. Foto keluarga yang ada di sana membuat Zean tersentuh. Ia tahu bagaimana sakitnya ketika orang tua yang kita sayangi telah tiada. Jika Zean ada di posisi anak itu mungkin ia akan menangis sedih. Tapi tidak. Anak kecil itu terlihat kuat dan tegar melebihi usianya.
"Paman, kenapa paman kembali?"
Zean memutar tubuhnya. Senyumnya mengembang indah. "Tadi kita belum berkenalan. Paman ingin mengucapkan terima kasih."
Anak kecil itu mendekat. "Namaku Ben."
"Ben? Baiklah Ben, Paman Zean punya ini. Apa kau sudah makan?" Zean menunjukkan makanan yang ia bawa. Ia sengaja membeli makanan sebagai ucapan terima kasihnya kepada anak kecil itu.
"Aku sudah makan. Tapi, aku tidak suka menolak pemberian orang lain." Ben segera menerima makanan yang diberikan Zean. Zean merasa bahagia karena bisa melihat Ben tersenyum.
"Apa Paman mengalami kesulitan?" Ben membuka kotak makanan itu untuk memeriksa makanan di dalamnya.
__ADS_1
"Ya. Teman paman di culik oleh Cosa Nostra. Paman ingin membebaskannya."
"Itu sangat mustahil!" Ben mulai melahap makanannya.
"Mustahil?"
"Ya. Tidak ada yang bisa lolos jika sudah mengusik mereka. Tidak ada yang keluar hidup-hidup jika sudah masuk di wilayah mereka," jawab anak itu dengan mulut penuh makanan.
"Ben, apa kau tahu banyak soal Cosa Nostra?"
"Ayahku bekerja dengan mereka. Hanya satu kesalahan, ayahku harus membayar semuanya. Ibuku menyelamatkan nyawaku hingga ia harus tewas bersama ayahku."
"Ben, kau tidak dendam kepada mereka?"
"Paman, apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya anak kecil."
"Ben, jika nanti masalah paman selesai, apakah kau mau ikut dengan paman? Paman akan mengajarimu menjadi pria tangguh."
Ben menghentikan kegiatannya. "Paman, apa Paman orang hebat?"
"Tidak, Ben. Paman bukan orang hebat. Tapi, paman yakin bisa menyelamatkan teman paman dan keluar dari wilayah mereka hidup-hidup."
Ben terlihat berpikir. Sekilas ia tidak percaya. Namun, ini adalah peluang yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja. Ben memang butuh seorang guru untuk mendidiknya menjadi pria tangguh.
"Baiklah, Paman."
"Paman senang mendengarnya. Ben, apa kau tahu di mana mereka membawa teman paman?"
"Aku tahu." Ben berjalan ke arah meja. Ia membuka laci dan mengambil gulungan kertas yang ada di dalamnya. Ben memberikan gulungan kertas itu kepada Zean.
"Apa ini?"
"Ini wilayah Cosa Nostra."
Zean segera membuka kertas tersebut. Wajahnya tersenyum puas ketika ia berhasil mendapatkan peta yang berisi wilayah kekuasaan Cosa Nostra. Bahkan penjara dan lokasi pelelangan juga ada di sana.
"Ben, terima kasih. Paman akan segera menemuimu. Tunggu paman kembali." Zean mengacak rambut anak kecil itu. Ben hanya tersenyum sambil memamerkan giginya.
Zean segera pergi meninggalkan rumah Ben. Ia sudah tidak sabar menguasai lokasi di peta itu agar bisa menyelamatkan Clara. Walau memang ia harus sendirian melakukan semua itu karena bala bantuan tidak kunjung bisa dihubungi.
"Clara, bertahanlah. Aku yakin kalau aku bisa menyelamatkanmu."
__ADS_1