Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Akhir Season 1


__ADS_3

"Leona, Baby Girl, Honey, Sayang, Istriku, maafkan aku. Alu tidak berniat bercanda tadi malam. Aku hanya suka melihat wajahmu yang panik itu. Itu sangat menggemaskan."


Jordan terus berlari saat Leona mengejarnya dengan wajah memerah. Tidak bisa dibayangkan kalau di hari pertama pernikahan mereka akan terjadi perdebatan aneh seperti ini. Oliver yang juga ada di sana hanya berdiri mematung tanpa tahu mau berbuat apa.


Bagaimana tidak? Jordan bersembunyi di belakang tubuhnya. Setiap kali Leona melempar barang maka akan terkena tubuhnya. Bukan terkena Jordan yang jelas-jelas pria itulah tersangkanya.


"Kau memang suami tidak tahu diri. Apa kau tahu bagaimana wajahku tadi? Aku sangat malu!" teriak Leona semakin menjadi. Ia mengambil apel yang ada di atas meja dan melemparnya ke arah Jordan lagi. Kali ini karena Oliver tidak mau terkena lemparan Leona yang lumayan keras, jadi dia menangkap apel tersebut. Bahkan setelah ada di genggamannya, ia mengigit apel itu seolah tidak terjadi masalah.


"Oliver, lakukan sesuatu!" bisik Jordan dengan wajah takut.


"Maaf, Pangeran. Saya hanya mengatasi masalah peperangan di dalam dunia mafia. Bukan mengatasi peperangan di dalam rumah tangga," jawab Oliver santai.


"Kau memang menyebalkan. Pantas saja Katterine selalu kesal setelah melihat wajahmu," ucap Jordan lagi.


Leona yang terlihat lelah tidak lagi mau melanjutkan amukannya. Ia melihat danau dan mengatur napasnya. Posisinya membelakangi Jordan dan Oliver.


Serena, Daniel, Tama, Anna, Tamara telah kembali ke Sapporo. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka telah kembali ke negara mereka masing-masing. Kini di Cambridge hanya ada Leona yang tersisa. Oliver juga tidak lama lagi akan ikut Lana dan Lukas kembali ke Hongkong. Masih dengan perasaan yang sama. Terkadang aneh terkadang biasa saja ketika melihat Katterine. Ia sama sekali belum merasakan yang namanya jatuh cinta.


"Sayang, maafkan aku." Jordan memberanikan diri mendekati Leona. Ia harus berlari kencang menuju ke tempat latihan Oliver. Bukan main-main jaraknya, tapi tetap tertenpuh juga karena Jordan ingin menyelamatkan dirinya yang memang bersalah.


"Kau menyebalkan." Leona masih belum mau memandang Jordan. Ia tetap membelakangi pria itu sambil melihat keindahan danau di hadapannya.


Oliver menggeleng pelan. Jadwal latihannya lagi-lagi harus gagal. Biasanya karena ada Katterine. Namun kali ini karena Leona dan Jordan. Ia tetap diam di sana sambil memastikan kalau Jordan dan Leona tidak akan mendapat masalah. Saat itu Oliver pernah di serang secara mendadak. Ia tidak mau hal itu terjadi kepada Jordan.


"Jangan marah lagi. Ya," bujuk Jordan mesra. Ia melingkarkan tangannya di perut rata sang istri yang masih memasang wajah cemberut.


"Besok kita akan berangkat bulan madu. Tidak lucu jika hari ini kita bertengkar. Aku hanya bercanda."


"Itu tidak lucu," jawab Leona dengan suara pelan.


"Oke oke, maafkan aku." Jordan memutar tubuh Leona. Ia ingin melihat dengan jelas wajah istri tercintanya.


"Apa mama Serena menertawakanmu? Apa yang mereka katakan?"


"Mereka bilang, sepolos-polosnya pria akan tahu kalau wanitanya-" Leona menahan kalimatnya. Ada Oliver di sana. Ia akan tambah malu jika Oliver sampai tahu masalah utama yang kini terjadi. Leona membuang tatapannya ke arah lain.

__ADS_1


"Kau memang tidak perkasa!" sambung Leona asal saja.


Oliver tersedak seketika. Padahal apel yang dia makan tidak terlalu banyak mengandung air. Tidak mau Jordan menghukumnya ia segera memlaingkan tubuhnya. Bahkan Oliver harus memasang wajah biasa saja agar Jordan merasa dia tidak sedang menguping.


Leona tersenyum puas ketika berhasil mengerjai suaminya. Ia menahan tawa dengan wajah berseri. Tidak ada lagi amarah di raut wajahnya.


"Baby girl, kau senang?" Jordan mengusap pipi Leona dengan lembut.


"Itu hukuman untukmu."


Jordan menghela napas. "Baiklah, kalau begitu kita harus melakukannya sekali lagi. Kau harus tahu bagaimana diriku yang perkasa."


"Jordan apa yang kau lakukan? Jordan lepaskan." Leona berontak ketika tubuhnya sudah ada di pundak suaminya. Entah bagaimana caranya melawan Jordan. Setiap kali berhadapan dengan pria tangguh itu ia selalu kalah. Berbeda dengan Serena dulu yang selalu menang.


Oliver hanya diam dengan wajah polosnya. Ia menggeleng lagi ketika membayangkan apa yang terjadi di dalam sebuah pernikahan. Hubungan suami istri? seketika pria itu tertawa geli. Bahkan berciuman saja dia tidak pernah bagaimana bisa membayangkan yang aneh-aneh.


Dari kejauhan Lukas muncul dengan Lana. Mereka sempat berpapasan dengan Leona dan Jordan. Sudah lama sepasang suami istri itu tidak mengobrol dengan putra mereka. Jika saatnya Oliver pulang ke Hongkong, pria itu juga tidak benar-benar menghabiskan waktunya di rumah.


"Dad, Mom, ada apa? Kenapa ke sini? Oliver bisa menemui Mommy dan Daddy di sana."


"Apa kau bisa menembak burung yang terbang?" tanya Lana tanpa memandang.


Lukas melirik ketika mendengar apa yang dikatakan istrinya. Sejak menikah dengan Lama, pria itu tidak pernah menggunakan binatang sebagai target sasaran tembak. Lama akan sedih setiap kali hal itu terjadi.


"Itu sangat mudah. Tapi, bukankah Mommy yang melarangku untuk melakukan hal seperti itu?" Oliver mengeryitkan dahi dengan wajah bingung.


"Ya, itu benar. Dulu ada seorang pria sok hebay yang meminta mommy menembak burung yang terbang. Bahkan dengan pistol kecil seperti ini." Lama memamerkan senjata yang dulu ia gunakan di depan Oliver. Seketika Oliver tertawa. Di depan kedua orangg tuanya, Oliver justru lebih terlihat sebagai pria yang periang. Tidak sedingin seperti yang di kenal semua orang.


"Pria itu sangat tidak memiliki hati," ucap Oliver.


"Dari mana kau tahu kalau dia seorang pria?" sambung Lukas dengan wajah menyeramkan ciri khasnya.


"Mommy berulang kali menceritakan hal ini. Dan pria itu adalah Daddy, karena tingkah nakal Daddy ...."


"Sudahlah jangan diteruskan. Nanti Daddy mu bisa besar kepala," ucap Lana dengan satu kedipan mata.

__ADS_1


"Mom, apa yang ingin mommy bicarakan? Oliver tahu mommy ke sini karena ada hal penting." Oliver mengambil senjata apinya. Ia membidik buah yang sudah tertata rapi di depan sana. Ia ingin menembak sasarannya dengan wajah yang tenang.


"Ini soal Katterine," ucap Lana pelan.


Oliver mengukir senyuman. Ia menembaknya satu pelurunya ke buah apel yang sejak tadi ia incar.


"Apa dia mengatakan kalau aku sangat menyebalkan?"


"Oliver, sepertinya sudah saatnya kau bersikap dewasa. Kau terlihat seperti Daddymu." Lana melipat kedua tangannya. Wajahnya serius. Setelah menikah ia tidak lagi takut dengan Lukas. Hanya terkadang jika salah, Lana akan bersikap bersalah dan tidak mau membantah.


Lukas mendekatkan bibirnya di telinga sang istri. "Sayang, jangan bahas soal kita."


"Tapi putramu sangat mirip dengan dirimu!" bantah Lana tidak mau menurut.


"Oliver, jika dalam waktu dekat kau tidak bisa membujuk Katterine untuk menetap di Cambridge, maka Daddy akan memberimu hukuman," ketus Lukas tanpa mau banyak basa basi seperti sang istri.


Oliver menahan gerakannya. "Mau ke mana Katterine?"


"Katterine akan menepat di Jerman. Dia ingi. melakukan banyak kegiatan amal di sana. Ratu Emelie sangat sedih. Apa kau tahu alasan Katterine apa? Dia kesal karena kau memutuskan untuk menetap di Hongkong!"


Oliver hanya diam. Ia meletakkan senjata api yang sempat ia genggam. Tidak tahu mau berkata apa lagi. Oliver lelah berada di dekat Katterine. Wanita itu membuat dirinya menjadi pribadi yang berbeda. Oliver tidak mau terus-terusan seperti itu.


"Apa kau mendengar apa yang mommy katakan?"


"Mom, Katterine sudah dewasa. Sudah saatnya dia memilih apa yang terbaik untuknya. Selama ini dia tidak pernah keluar istana. Biarkan saja dia pergi. Itu akan membuatnya menjadi wanita yang mandiri!".


"Oliver, mommy kecewa denganmu!"


"Mom, sejak awal mommy memintaku menjaga Pangeran Jordan. Oliver sendiri tidak sadar, sejak kapan Katterine menjadi tanggung jawab Oliver sepenuhnya! Dia wanita yang manja Mom."


"Terserah kau saja." Lana memalingkan tubuhnya dan melangkah pergi. Berkata kasar di depan Oliver tidak akan membuahkan hasil. Apa lagi menggunakan kekerasan.


Lukas hanya diam di tempatnya berdiri. Walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu harus memihak siapa, tapi Lukas setidaknya ingin membuat putranya sadar.


"Oliver, jika terjadi sesuatu kepada Katterine. Bukan hanya Cambridge yang berduka. Tapi, Daddy yakin kau akan menjadi pria paling menyedihkan di dunia ini."

__ADS_1


Lukas pergi mengikuti Lana. Sedangkan Oliver hanya diam di tempatnya tanpa tahu harus bagaimana.


__ADS_2