
Miller mengotak-ngatik ponselnya. Ia kesulitan menemukan nomor telepon Letty. Nomor yang biasa wanita itu gunakan kini sudah tidak aktif. Padahal awalnya ia berpikir kalau bisa dengan mudah mengajak Letty ketemuan.
"Kenapa dia harus ganti nomor? Saat dibutuhkan dia justru sulit untuk ditemui." Miller meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memandang wajah bawahannya yang baru saja tiba. Pria itu membawa seorang pria di belakangnya.
"Pak, ini keluarga dari korban. Beliau ingin menanyakan perihal kasus pembunuhan kemarin."
Miller menyambut pria itu dengan penuh rasa hormat. Ia mempersilahkannya duduk agar tidak terlihat mencurigakan.
"Saya tidak mau banyak basa-basi. Saya mendapat info kalau Anda belum melakukan penyelidikan apapun. Sebenarnya apa yang Anda inginkan? Apa Anda ingin uang? Saya bisa membayar Anda dengan nominal yang tinggi."
"Tuan, sepertinya Anda sudah salah paham. Saya tidak melakukan penyelidikan bukan karena menunggu bayaran dari Anda. Saya orang kaya yang bisa dengan mudah membeli perusahaan Anda jika ingin," ucap Miller dengan wajah yang tenang namun tetap saja bisa menusuk hati lawan bicaranya.
"Sombong sekali Anda. Siapa Anda? Polisi seperti Anda bekerja karena butuh uang."
"Tadinya saya tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut. Mungkin, Anda kenal dengan Sonia Ananta."
Miller berbangga diri dengan kekayaan ibunya. Ia tahu kalau tidak ada orang yang tidak mengenal ibunya. Wanita sukses yang memiliki pundi-pundi uang yang tidak akan habis tujuh turunan walau tidak bekerja lagi.
Pria itu terdiam. Namun tetap saja ia tidak mau kalah. Ia tidak mau dengan mudah dibodohi oleh polisi yang ia pikir derajatnya jauh di bawahnya.
"Saya tidak kenal dengan Sonia Ananta!" ucapnya berbohong. Padahal hingga detik ini ia berharap kalau bisa bekerja sama dengan perusahaan wanita itu.
"Sombong sekali pria ini. Awas saja kau! Setelah kau keluar dari ruangan ini aku akan meminta mommy untuk membuatmu bangkrut," umpat Miller di dalam hati.
"Terserah Anda saja. Begini, kasus yang sekarang kami hadapi itu tidak jelas."
"Apa maksud Anda tidak jelas? Wajahnya sudah begitu jelas. Jika Anda tidak mau mengambil tindakan, besok saya akan menyebar foto pembunuh itu di mana-mana. Agar seluruh dunia tahu kalau dia seorang buronan."
"Gawat, ini tidak bisa di biarkan." Miller benar-benar berpikir keras saat itu.
"Itu hak Anda. Tapi, saya dan tim saya angkat tangan. Kami tidak suka jika keluarga korban ikut campur dalam proses penyelidikan. Karena dari pengalaman yang saya miliki, ada banyka kasus yang ternyata keluarga korban telribay di dalamnya."
Pria itu diam membisu dengan wajah panik. Ia memandang ke arah lain agar tidak terlihat gugup.
"Kalau begitu, segera tangkap pria itu. Aku mau dia dihukum mati!"
"Kami memiliki tugas yang banyak! Kekayaan Anda tidak bisa membuat kami hanya memprioritaskan masalah Anda saja. Jadi, jika Anda tidak bersabar. Kami akan angkat tangan dengan kasus ini."
Pria itu mengepal kuat tangannya dengan wajah kesal. Tadinya ia sangat percaya diri kalau bisa dengan mudah mengatur Miller. Tidak di sangka kalau Miller adalah pria yang tidak gila uang.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu penyelidikan polisi. Saya pamit dulu."
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan." Miller mengukir senyuman. Pria itu melihat tamu nya pergi hingga pintu ruangannya kembali tertutup.
"Sepertinya dia benar-benar terlibat. Aku sudah mendapat titik terang untuk melindungi Oliver," gumam Miller di dalam hati.
***
Katterine membuka pintu secara perlahan. Ia melihat Oliver berdiri di depan sana. Bibirnya tersenyum bahagia. Memang sejak tadi kehadiran pria itu yang ingin ia temui.
"Oliver, apa kau sudah bertemu Miller? Kenapa cepat sekali?"
"Aku tidak bertemu dengannya. Aku sudah cari dia ke mana-mana tapi tidak juga bertemu. Sepertinya dia sedang sibuk."
Katterine menggandeng lengan Oliver dan membawanya masuk ke dalam. Wanita itu bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya.
"Mungkin kau ditakdirkan untuk menemaniku hari ini."
Katterine membawa Oliver duduk di sofa. Mereka duduk di sofa yang sama dan saling memandang satu sama lain. Katterine terlihat curiga ketika melihat Oliver memegang bagian perutnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tadi di jalan aku bertemu dengan orang aneh. Tiba-tiba saja dia mengajak berkelahi. Sialnya aku kalah!"
Katterine tertegun ketika mendengar jawaban Oliver. "Benarkah? Lalu bagian mana yang terluka?"
"Sini." Pria itu memegang perutnya.
"Aku akan mengobatinya." Katterine beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu ingin mengambil obat yang ada di dapur.
"Jangan!" Oliver memegang tangan Katterine dan membawa wanita itu agar kembali duduk. bahkan kali ini Oliver mendorong tubuhku hingga wanita itu bersandar di sofa. Oliver meletakkan tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Katterine hingga wanita itu terkunci dan tidak bisa pergi kemana-mana.
"Aku merindukanmu ...."
Katterine hanya diam dan memandang wajah pria itu dengan saksama. Hatinya mulai merasa ada yang aneh. Belum pernah Oliver bersikap romantis seperti itu kepadanya. Bisa di bilang ini pertama kalinya Oliver bersikap romantis tanpa di pancing lebih dulu.
"Aku juga merindukanmu," jawab Katterine dengan suara lembut.
Oliver mendaratkan kepalanya di sisi kanan leher Katterine. Ia menghirup aroma tubuh wanita itu dengan penuh kenikmatan. "Aku menginginkanmu," bisiknya mesra.
Ya, pria itu bukan Oliver. Melainkan musuh yang selama ini sudah berhasil menjebak Oliver dan membuat masalah di mana-mana. Kali ini ia memiliki niat jahat karena ingin mencelakai Katterine.
Katterine semakin yang kalau pria itu bukan Oliver. Tidak mungkin Oliver sekurang ajar itu terhadap dirinya. Oliver pria baik yang akan menjaga harga dirinya hingga mereka menikah nanti. Bahkan memeluk dan mencium Katterine saja ia tidak sembarangan. Jika saat keadaan itu dibutuhkan pria itu baru melakukannya.
Namun, Katterine tahu jika dia saat ini bertingkah aneh maka Oliver palsu yang ada di hadapannya akan curiga dan itu akan membuatnya celaka.
"Kenapa kau tiba-tiba menginginkan nya? Bukankah tadi malam kau baru saja ...." Katterine terpaksa merendahkan harga dirinya. Ia ingin memastikan kalau pria itu bukan Oliver kekasihnya.
Pria itu memandang wajah Katterine. Ia mengusap pipi Katterine dengan senyuman nakal. "Aku tidak menyangka kalau wanita yang selama ini di kejar-kejar oleh Roberto adalah wanita murahan," gumamnya di dalam hati.
"Sayang, aku ingin lagi. Apa bisa sekarang kita ke kamar?" Pria itu sudah tidak sabar untuk membawa Katterine ke kamar. Namun dengan sigap Katterine mencegahnya.
"Aku harus mengobati lukamu." Katterine memegang kemeja pria itu. Ia membuka satu persatu kancing kemeja pria itu untuk melihat tato yang ada di dada. Oliver pasti memilikinya dan tato itu tidak sembarang orang bisa memilikinya kecuali dia pemimpin Gold Dragon.
Betapa kagetnya Katterine ketika melihat kalau tidak ada tato di dada pria itu.
Setelah tiba di dapur, Katterine terlihat bingung dan panik. Kini posisinya berada dalam bahaya. Ia tidak memiliki ponsel untuk menghubungi Oliver. Ponselnya tertinggal di dalam kamar bahkan pistol yang diberikan oleh Zeroun juga ada di dalam kamar. Katterine benar-benar buntu dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Bagaimana ini. Kenapa aku bisa sebodoh ini! Bisa-bisanya aku tertipu olehnya dan mengira kalau dirinya adalah Oliver. Kenapa ada pria yang mirip dengan Oliver bahkan suara mereka juga mirip? Jika saja ia bisa menguasai tingkah laku Oliver mungkin tadi aku tidak akan sadar kalau dia adalah Oliver palsu."
Katterine mondar-mandir di dapur sambil memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Ia melihat ke arah jendela yang ada di dapur. Tinggi kamarnya tidak bisa dicapai hanya dengan melompat. Jika ia nekat untuk melompat mungkin nyawanya akan melayang ketika ia tiba di tanah. Katterine melihat pisau yang ada di dapur. Wanita itu berjalan pelan menuju ke tempat pisau itu berada. Debaran jantungnya sudah tidak karuan. Ia benar-benar takut.
"Sayang ... Kenapa lama sekali? Sebenarnya apa yang kau kerjakan di sini?"
Katterine segera memutar tubuhnya dengan wajah kaget. Ia menatap pria itu dengan tubuh gemetar dan nafas yang tidak karuan.
"Aku...." Katterine segera berlari dan mengambil pisau dapur tersebut. Ketika pisaunya berhasil ia genggam ia segera mengarahkan pisau itu ke depan untuk mengancam pria yang kini ada di hadapannya.
Melihat Katterine memegang pisau dengan wajah waspada, pria itu hanya tertawa geli. Ia tetap berjalan secara perlahan mendekati posisi Katterine saat ini berdiri.
"Apa yang kau lakukan sayang? Kau ingin membunuhku? Apa kau lupa kalau aku ini kekasihmu?"
"Tidak! Kau bukan Oliver. Kau pria yang ada di dalam video itu. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau sangat ingin menjebak Oliver."
"Sepertinya apa yang dikatakan oleh orang-orang itu benar. Putri Katterine adalah wanita yang sangat pintar dan tidak mudah dibodohi. Baiklah karena sudah ketahuan aku tidak lagi ingin banyak basa-basi. Aku akan mengatakan tujuanku menemuimu hari ini."
"Jangan mendekat, jika Kau mendekat aku akan mengusukkan benda ini di lehermu!"
"Kau wanita yang sangat berani. Aku bisa menjamin kalau kau akan kalah jika berhadapan denganku. Tapi kau tidak mau menyerah begitu saja sebelum berusaha."
Pria itu berusaha meraih tangan Katterine untuk membuang pisau yang ada di tangannya. Namun ancaman Katterine hari ini tidak main-main. Wanita itu benar-benar melayangkan pisaunya ke arah tubuh pria yang kini menjadi Oliver palsu.
"Aaarrrgghh!" Pria itu kesakitan ketika Katterine berhasil menusuk pisau yang ada di genggaman tangannya ke dalam perut pria itu. Darah segar mengalir begitu saja. Tapi pria itu tidak langsung menyerah. Ia justru semakin murka dan merebut paksa pisau yang ada di genggaman Katterine. Dengan mudahnya ia membuang pisau itu ke lantai.
__ADS_1
"Dasar wanita jalang! Beraninya kau membuatku terluka! Aku akan menghukummu!"
"Lepaskan! Jika kau berani menyentuh ku maka nyawamu tidak akan lama lagi. Secepatnya kau akan meninggalkan dunia ini dan menyesali semua yang telah kau perbuat!" ancam Katterine di sela-sela rasa takutnya.
"Aku tidak peduli. Yang aku inginkan Oliver menderita! Jika kau tidak ada lagi di dunia ini mungkin dia akan berubah menjadi pria gila!"
"Tidak! Lepaskan aku! Tolong!" teriak Katterine dengan suara yang sangat kuat. Sayangnya tidak ada yang mendengar. Seluruh pengawal yang ditugaskan menjaga Katterine telah berbaring di lantai. Entah apa yang sudah dilakukan pria itu hingga dengan mudahnya ia membuat pasukan Gold Dragon tidak berdaya.
Pria mengukir senyuman sambil mencekik leher Katterine. "Selamat tinggal Putri ...."
***
Oliver merasa tidak tenang saat itu. Ia memandang Miller yang berjalan mendekatinya. Pria itu meletakkan dua gelas kopi di meja sebelum duduk di sofa yang berbeda.
"Untuk apa kau ke sini? Apa kau ingin minta maaf? Kau sudah menyadari kesalahanmu?"
"Ya, aku ke sini untuk minta maaf. Jika saja sejak awal aku mendengarkan perkataanmu maka aku tidak akan mengalami hal seperti ini."
"Sebenarnya masalah apa yang kau alami hingga kau percaya dengan semua perkataanku?" Miller memandang wajah pria itu untuk menagih penjelasan.
"Apa itu penting?" Oliver terlihat tidak ingin menceritakan masalah yang kini terjadi antara dirinya dan Katterine.
"Jika kau masih menganggapku sahabat, seharusnya tidak ada yang ditutupi kan?" ledek Miller dengan senyuman.
Oliver bersandar dengan wajah lelahnya. Ia memandang langit-langit ruangan itu dengan serius.
"Pria yang mirip denganku itu, dia telah membuat video aneh. Hal itu membuat Katterine marah dan salah paham padaku."
Miller tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Oliver. Ia tidka percaya kalau pada akhirnya Oliver akan benar-benar jatuh ke dalam cinta Katterine.
"Kau tidak mau dia marah? Apa sekarang posisinya terbalik? Kau yang tidak mau kehilangan Katterine?"
"Apa kau sudah puas meledekku?" Oliver terlihat tidak suka.
"Maaf Maaf. Baiklah, aku juga percaya padamu. Awalnya aku juga berpikir kalau kau adalah pria pembunuh itu. Tapi, ketika kau ceritakan kalau kini pria yang mirip denganmu membuat Katterine cemburu, aku percaya padamu."
Oliver meletakkan flashdisk yang ia bawa dan meletakkannya di atas meja. "Di dalam sini ada video pria itu. Walau dia memiliki wajah yang sama denganku, tapi kau bisa melihat tato yang ada di tangannya. Tato ku ada di dada."
Miller mengangguk dan menerima Fleshdisk tersebut. "Baiklah. Sekarang apa rencanamu?"
"Bantu aku menyelidik tempat di mana video ini di buat. Kita bisa mulai penyelidikan ini dari sana."
"Kali ini lawanmu tidak main-main. Kira-kira dia bisa berubah menjadi orang lain juga atau hanya bisa menjadi dirimu?"
"Aku tidak tahu." Oliver masih melirik jam yang ada di tangannya.
"Jika dia bisa meniru wajah orang lain, kita akan semakin sulit melacaknya. Ada banyak wajah pria di dunia ini. Bisa saja dia menyamar sebagai anggota kita."
Tiba-tiba saja Oliver teringat akan sesuatu. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Hei, kau mau ke mana? Apa ini sudah selesai?"
"Miller, jika benar dia bisa menjadi siapa saja
Itu berarti Katterine saat ini dalam bahaya."
"Apa kau tidak mengirim pengawal untuk menjaganya?" Miller juga beranjak dari kursi.
"Sudah! Tapi aku tidak bisa tenang sebelum melihat dia baik-baik saja."
Oliver pergi menuju ke arah pintu. Miller yang juga merasa khawatir tidak mau diam di tempatnya. Pria itu berlari kencang untuk mengejar kepergian Oliver.
__ADS_1
"Aku ikut!"