Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Biola Cinta


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Leona sudah berada di Amerika. Masih dengan kondisi yang sama. Kali ini Dokter yang menangani Leona hanya Tamara. Angel tidak bisa ikut karena ia juga memiliki tugas di rumah sakit yang ada di Jerman.


Pagi itu Jordan mendapat kabar kalau Zeroun, Emelie, Oliver dan Katterine telah datang untuk menjenguk Leona. Sayangnya Lana dan Lukas tidak lagi ikut. Sepasang suami istri itu lebih memilih untuk menyelesaikan masalah yang ada di Hongkong. Tama dan Biao juga sudah kembali. Mereka juga memiliki banyak pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan.


Aleo memandang kedatangan Jordan dengan tatapan menyelidik. Pria itu tertarik dengan biola yang kini di bawa oleh Jordan. Ia tidak tahu tujuan Jordan membawa benda berdawai itu ke dalam ruangan Leona. Namun, satu hal yang ia yakini kalau Jordan pasti ingin melakukan hal yang membuat Leona cepat sembuh dan membuka mata.


Jordan berdiri di depan tempat tidur Leona. Ia memandang wajah Serena sekilas sebelum mengukir senyuman kecil. “Tante, Jordan ingin memainkan sebuah lagu untuk menghibur Leona.”


Serena mengangguk setuju. “Silahkan, Jordan.”


Jordan mengambil biola dan busurnya dari sebuah kotak yang berbentuk biola juga. Pria itu menatap wajah Leona sekilas sebelum meletakkan biola di pundak kirinya. Satu tangannya mulai menekan senar biola untuk menentukan irama yang ingin ia mainkan. Sedangkan tangan yang satunya lagi memegang busur biola.


“Bangun, Leona. Aku di sini ....”


Jordan mengesekkan senar biola dengan penuh penghayatan. Sebuah lagu sendu telah ia iramakan untuk menghibur wanita yang sangat ia cintai. Kedua matanya terpejam. Jordan terlihat sangat menghayati permainan biolanya.


Instrumen biola yang dimainkan Jordan memang berhasil menyayat hati siapa saja yang mendengarkannya. Bukan hanya Katterine saja yang tersentuh. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu juga membisu dan mulai menghayati alunan nada yang dimainkan Jordan. Mereka bisa tahu sebesar apa cinta Jordan kepada Leona melalui alunan biola tersebut.

__ADS_1


"Kak, Kakak sangat tulus mencintai Kak Leona," guna Katterine di dalam hati.


Buliran air mata menetes di pelupuk mata Jordan. Pria itu tidak sanggup jika harus kehilangan Leona. Cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhir baginya. Jordan sudah terlanjur cinta dan memberikan seluruh hatinya kepada Leona. Bagi Jordan, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan Leona di dalam hidupnya.


Emelie memeluk Zeroun. Ia juga tidak sanggup melihat kisah cinta putranya harus penuh derai air mata seperti itu. Emelie sempat berpikir, keluarga kerajaan yang kaya raya dengan kemampuan geng mafia gold dragon seharusnya bisa mendapat kebahagiaannya dengan begitu mudah. Emelie tidak menyangka kalau kisah cinta anak pertamanya harus seperti ini.


Serena mengukir senyuman kecil. Ia mengusap lembut tangan Leona dan meletakkannya di pipi kanan. Serena memejamkan mata dan memanjatkan doa agar putrinya segera bangun. “Bangun sayang, semua orang yang ada di ruangan ini menginginkan kau membuka mata lagi,” ucap Serena dengan suara pelan.


Jemari Leona mulai bergerak secara perlahan. Gerakan singkat itu bisa dirasakan dengan jelas oleh Serena. Dengan wajah tidak percaya, Serena memandang wajah Leona. Ia mengukir senyuman. “Sayang, kau mendengar mama? Apa kau bisa mendengar lagu yang dibawakan Jordan? Dia memainkan biola itu untukmu,” ucap Serena.


Buliran air mata menetes membasahi pipi Leona yang pucat. Wanita itu belum mau membuka matanya namun ia sudah bisa mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Ingin sekali Leona mengeluarkan kata dan membuka matanya. Namun, hal itu tidak bisa ia lakukan. Leona masih tahap koma. Ia hanya bisa merespon sesuatu dengan pendengarannya. Itu juga sesekali saja.


Serena menatap wajah Jordan sebelum menangis sejadi-jadinya. Daniel mengusap lembut pundak Serena. Pria itu tahu bagaimana perasaan yang kini memenuhi pikiran istrinya.


“Kak Leona merespon apa yang terjadi di sekelilingnya. Itu berarti, dia sudah satu tahap lebih maju,” ucap Tamara dengan wajah berseri.


Oliver memutar tubuhnya. Pria itu ingin keluar dari ruangan tersebut karena ingin menghirup udara segar. Ia merasa terpukau dengan pengorbanan cinta Jordan. Sayangnya, hingga detik ini ia tidak tahu apa itu cinta. Bahkan Oliver sendiri merasa bentuk kesedihan Jordan terkesan unik. Seorang pria harus menangis saat melihat wanita yang ia cintai memejamkan mata seperti Leona.


Katterine melihat kepergian Oliver. Wanita itu ikut karena memang ingin mencari udara segar juga. Ruangan tempat Leona sungguh menyesakkan dada. Hanya ada kesedihan dan derai air mata saja di dalam sana.

__ADS_1


“Kau ini ... selalu saja mengikutiku,” protes Oliver saat mengetahui Katterine berada di belakang tubuhnya.


“Aku akan menghukummu nanti. Kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan putri lagi?” ketus Katterine dengan wajah merona malu. Sebenarnya ia lebih suka Oliver memanggilnya seperti itu daripada harus formal dengan menggunakan sebutan putri.


Oliver menghela napas. “Putri Katterine, kenapa Anda mengikuti saya?” Pria itu memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Katterine dengan begitu jelas.


Katterine mengukir senyuman malu-malu. Bahkan wanita itu harus menggerak-gerakkan tubuhnya dengan centil. “Bukankah hanya berada di dekatmu aku akan aman. Lihat saja kemarin. Kau pergi lalu aku di culik,” ucap Katterine dengan wajah polosnya.


Oliver menaikan satu alisnya sebelum membuang tatapannya ke arah depan. “Maaf.”


Katterine menggeleng pelan. “Aku yakin, kau akan selalu melindungiku. Aku juga yakin, kalau kau akan selalu ada saat aku butuhkan.”


Oliver mulai menyadari kalau kini Katterine telah menggantungkan hidupnya. Oliver merasa ada yang salah dari hal itu. Sejauh ini Katterine belum pernah dekat dengan pria manapun. Wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda sudah memiliki kekasih di dalam hidupnya. Belum ada satu pria pun yang pernah bersama dengan Katterine.


“Apa aku terlalu memanjakannya hingga ia menjadi tergantung padaku seperti ini?” gumam Oliver di dalam hati.


Oliver tersadar dari lamunannya ketika ponselnya berdering. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Dahinya mengernyit ketika melihat panggilan telepon itu dari pasukan Gold Dragon miliknya. Ia merasa ada bahaya yang sedang terjadi hingga membuat pasukan Gold Dragon harus menghubunginya.


“Ada apa?” ketus Oliver sambil memandang ke arah depan. Katterine yang masih ada di samping Oliver hanya bisa diam membisu. Wanita itu tidak berani mengeluarkan kata lagi karena Oliver sedang berbicara di telepon.

__ADS_1


“Bos, Letty dalam bahaya. Pria bernama Kwan dan Zean kini menghajarnya. Kami sudah berusaha menolong Bos Letty, tapi pasukan Zean terlalu banyak.”


__ADS_2