Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Pria Es


__ADS_3

Leona memakai gaun panjang berwarna hitam. Gaun indah yang sangat elegan. Rambutnya tergerai dengan begitu indah. Leona memandang pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Topeng yang ingin ia gunakan kini ada di genggaman tangannya. Leona sudah tiba sabar untuk bertatap muka langsung dengan Isabel. 


Suara pintu terbuka. Jordan muncul di sana. Pria itu memakai pakaian yang sangat rapi. Ia memperhatikan penampilan Leona dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada kata lain yang bisa ia katakan selain kata sempurna.


“Are you ready, Baby girl?”


“It’s time for action,” jawab Leona sebelum memasang topeng di wajahnya.


Dari balik topeng itu bisa terlihat jelas kalau kini ada sepasang mata yang sudah dipenuhi kekejaman. Leona menghilangkan belas kasihnya. Kali ini ia ingin membunuh lagi tanpa memikirkan rasa kasihan. Tidak peduli bersalah atau tidak. Jika orang itu berdiri di pihak musuh maka Leona tidak akan memberi kesempatan untuk mereka kabur.


Jordan melingkarkan satu tangannya di pinggang Leona secara tiba-tiba. Pria itu memutar tubuh Leona agar memandang jelas wajahnya. Berbeda dengan Leona, kali ini Jordan tidak mau mamakai topeng. Pria itu ingin semua orang tahu kalau kini dirinya datang ke acara ulang tahun Isabel.


Jordan memejamkan mata ketika aroma parfum milik Leona bisa ia hirup dengan jelas. Pria itu mengukir senyuman dan mempererat rangkulannya. Tubuh Leona semakin rapat dengan tubuhnya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.


Leona terlihat sangat gugup di balik topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Bibirnya bergerak kecil seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia tidak berani untuk mengatakannya.


Jordan mendekatkan wajahnya dengan Leona. Pria itu menghirup lagi aroma rambut Leona dan mengukir senyuman di sana. Embusan napas Jordan membuat Leona lebih memilih memejamkan mata dan menikmatinya. Debaran jantungnya sudah tidak karuan bahkan napasnya terhenti secara mendadak.


“Jangan jauh-jauh dariku, Baby girl,” bisik Jordan mesra. Pria itu segera menjauh dari tubuh Leona. Tangannya terlepas dengan wajah puas karena berhasil membuat Leona salah tingkah saat itu.

__ADS_1


Leona mengatur napasnya. Ia menghilangkan rasa groginya agar Jordan tidak menatapnya dengan tatapan meledek. “Kau juga harus bisa menjaga dirimu sendiri. Jika kau ceroboh, aku akan pergi dan lebih memilih menyerang sendirian nanti. Aku tidak akan menunggumu,” ucap Leona sebelum melangkah pergi.


Jordan mengukir senyuman kecil. Pria itu menggeleng pelan sebelum mengikuti langkah Leona dari belakang.


***


Katterine berdiri di depan sebuah hotel sambil memandang punggung Oliver. Wajahnya terlihat sangat bahagia karena kini bisa melihat Oliver lagi setelah sekian lama berpisah. Dengan langkah kaki yang sangat elegan, Katterine berjalan mendekati Oliver. Saat itu Oliver mengenakan setelan yang sepadan dengan Katterine. Setelan abu-abu karena memang Katterine sendiri yang memilih jas yang dikenakan Oliver malam itu.


Katterine hanya diam saja saat sudah berada di samping Oliver. Biasanya tanpa izin dari Oliver, wanita itu akan langsung merangkul lengan kekar Oliver. Tapi tidak tahu kenapa kali ini ia tidak mau melakukannya. Katterine menjaga harga dirinya agar tidak terkesan murahan di depan pria yang ia cintai.


“Putri, apa Anda sudah siap?” tanya Oliver sambil memandang wajah Katterine. Sangat berbeda jauh dari sikap pria pada umumnya yang biasanya selalu memuji ketika ada wanita yang ia kenali berdiri di hadapannya dengan penampilan yang menarik. Oliver benar-benar dingin tanpa memiliki perasaan. 


“Sudah, kau bisa lihat sendiri kan?” ketus Katterine sebelum melangkah maju. Ia meninggalkan Oliver begitu saja tanpa peduli pria itu suka atau tidak dengan sikapnya. Oliver sendiri terlihat biasa saja. Ia juga tidak terlalu mau membesarkan masalah yang menurutnya sepele seperti itu.


Katterine memandang wajah Oliver yang berjalan menuju ke arah jok kemudi. Wanita itu mendengus kesal melihat tingkah laku Oliver yang sangat-sangat cuek terhadapnya. “Dia memang pria kutup!” gumam Katterine sebelum masuk ke dalam mobil.


Katterine duduk dengan posisi yang nyaman. Wanita itu tidak mau memandang wajah Oliver karena takut terkesan cari perhatian. Katterine melepas syal bulu yang ia kenakan di leher. Wanita itu melemparkannya ke arah belakang. Padahal saat itu cuaca sangat dingin. Katterine masih membutuhkan syal itu. Tapi, tidak tahu kenapa ia malas memakainya. 


“Putri, kenapa Anda melepasnya?” tanya Oliver dengan alis saling bertaut.

__ADS_1


“Aku tidak suka menggunakannya. Bulunya kasar dan menjengkelkan!” sindir Katterine sebelum membuang tatapannya ke arah lain.


“Putri, tapi Anda bisa kedinginan nanti,” bujuk Oliver lagi. 


“Aku selalu merasa dingin di manapun aku berada,” jawab Katterine asal saja.


Oliver semakin bingung. Pria itu menghela napas dan mengurungkan niatnya untuk melajukan mobil. Ia memandang wajah Katterine dengan saksama. “Apa ada yang salah? Pakailah. Jangan bersikap manja seperti ini.”


Katterine memiringkan kepalanya. Wanita itu menatap wajah Oliver dengan tatapan yang tajam. “Bagaimana bisa aku merasakan hangat, jika esnya ada di sampingku!”


Oliver tercengang mendengarkan perkataan Katterine. Ia mengambil syal yang sempat di lemparkan Katterine dan memakaikannya di leher wanita itu. “Pakailah. Kau akan sakit nanti jika tidak menggunakannya.”


Katterine memajukan bibirnya dengan wajah tidak suka. Ia frustasi karena tidak berhasil membuat Oliver menjadi sosok yang lebih peka terhadap perasaannya. “Menjauhlah! Aku sudah bilang kalau aku tidak suka dekat es!” teriak Katterine sambil mendorong tubuh Oliver agar menjauh.


Oliver memandang wajah Katterine tanpa berkedip. Pria itu masih belum mundur dari posisinya. Ia berada sangat dekat dengan Katterine dan memandang wajah wanita itu dengan  penuh tanya. 


“Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku jika aku pernah menyinggung perasaanmu. Tapi ... jangan perlakukanku layaknya musuh seperti ini. Kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri,” ucap Oliver dengan bersungguh-sungguh.


Katterine justru semakin bersemangat mendorong tubuh Oliver. “Ya, Kakak. MAAFKAN SIKAP ADIKMU INI!”

__ADS_1


Oliver tidak tahu lagi cara membujuk Katterine. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke Istana Isabel. Pesta akan segera di mulai. Ia juga tidak ingin ketinggalan. Dengan wajah bingung Oliver berusaha konsentrasi dengan laju mobilnya.


“Kenapa wanita selalu saja merepotkan! Mereka sesuka hatinya marah-marah tanpa sebab!” umpat Oliver di dalam hati. Belum juga melihat wajah Isabel, pria itu sudah di buat badmood dengan sikap Katterine. 


__ADS_2