
Katterine duduk di sebuah tempat tidur sambil menekuk kedua kakinya. Kedua matanya memerah dan bengkak. Gaun cokelat muda yang terakhir kali ia kenakan masih belum terganti. Perutnya kosong tenggorokannya kering. Rambutnya terlihat berantakan. Ada darah di sudut bibirnya. Lututnya membiru karena terbentur keras.
Katterine berada di sebuah ruangan sunyi yang sangat mewah. Perabotan di kamar berukuran luas itu sangat lengkap dan indah. Ukiran kayu yang indah dan aroma vanilla yang manis. Ada beberapa rangkaian bunga yang sengaja di letakkan untuk memperindah kamar tersebut. Sayangnya, di dalam ruangan sunyi itu hanya terdengar isak tangis Katterine.
Putri kerajaan Cambridge itu tidak lagi berada di lingkungan istana. Katterine kini berada di Belanda. Sebuah negara yang tidak terlalu jauh dari negara miliknya. Padahal empat jam yang lalu ia masih tertawa bahagia saat sedang berbelanja beberapa barang yang ia inginkan. Tidak di sangka detik ini ia sudah ada di kamar tersebut. Katterine masih inga betul bagaimana cara penjahat yang memaksanya untuk ikut tadi.
Puluhan pengawal kerajaan yang menjaganya tidak berhasil melindunginya. Saat sedang bersedih dan ketakutan seperti ini, Katterine kembali ingat dengan Oliver dan Jordan. Dua pria tangguh selalu melindunginya. Tidak mungkin ada yang berani menyentuh tubuhnya jika dua pria itu ada di sampingnya.
“Apa Kak Jordan dan Oliver tidak menyayangiku lagi? Kenapa mereka tidak juga datang untuk menyelamatkanku? Apa mereka lebih sayang dan peduli dengan Kak Leona?” lirih Katterine dengan tetes air mata. Ia sempat mendengar kabar Leona dari Oliver.
Awalnya Katterine kaget saat mengetahui Oliver tidak ada di wilayah Cambridge lagi. Namun, ketika Oliver berjanji untuk segera kembali dan menjaganya lagi, Katterine bisa kembali tenang. Kini saat semuanya sudah menjadi seperti ini. Katterine mulai berpikir kalau hidupnya tidak lagi penting bagi Oliver dan Jordan.
__ADS_1
“Daddy ...,” lirih Katterine lagi. Ia mengerti bagaimana hebatnya ayah kandungnya itu. Namun, sudah selama ini Zeroun tidak juga muncul. Membuat hati Katterine semakin terluka.
Suara pintu terbuka. Katterine mengangkat kepalanya. Seorang pria yang sangat tampan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia membawa makanan dan minuman untuk Katterine. Lengannya di penuhi dengan tato. Bahkan lehernya juga ada tato yang merupakan bagian dari tato yang terbentuk ke arah bagian dadanya yang tertutup kemeja putih. Saat itu kancing kemejanya terbuka hingga dua kancing. Walau tidak terlalu jelas, tapi dari ukiran tatonya saja Katterine bisa mengerti tato itu berbentuk kalajengking.
“Apa kau lapar?” ucap pria itu dengan tatapan mata yang sangat tajam. Ia terlihat menyelidik penampilan Katterine sebelum mengalihkan sepasang mata cokelat ke arah lain.
Katterine menatap tajam wajah pria itu. Ia melihat pintu yang masih terbuka lebar. Kedua kakinya telah siap siaga untuk berlari. Katterine tidak tahu keputusan ini benar atau tidak. Satu hal yang pasti, ia tidak ingin berlama-lama ada di tempat asing tersebut.
Saat pria itu menunduk untuk meletakkan makanannya, Katterine segera menjejaki kakinya dan berlari ke arah pintu. Ia berlari dengan sangat cepat. Bahkan tidak mau melihat ke belakang lagi.
Pria asing itu mengangkat tubuhnya dan berdiri tegap. Ia tidak meu memutar tubuhnya untuk memandang kepergian Katterine. Pria itu justru lebih tertarik untuk berjalan ke arah balkon. Ia ingin menikmati pemandangan indah yang ada di balik jendela kaca tersebut. Bibirnya mengukir senyuman kecil. Kedua tangannya di masukkan di dalam saku. Dengan langkah yang sangat tenang, pria itu tiba di balkon. Ia menghirup udara segar yang ada di sekitarnya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Katterine terus berlari menuju ke arah tangga. Rumah itu sunyi tanpa penghuni. Tapi Katterine tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya ingin segera berlari ke arah tangga untuk turun dan kabur. Katterine berharap kali ini niatnya terlaksana dan ia bisa meminta pertolongan setelah keluar dari dalam rumah megah tersebut.
“Aku harus segera kabur dari tempat ini. Setidaknya aku bisa bersembunyi di suatu tempat yang tidak diketahui pria tersebut,” gumam Katterine di dalam hati. Katterine menjejaki anak tangga dengan begitu lincah. Ia bahkan tidak lagi memperhatikan sekitar rumah. Kedua bola matanya hanya tertuju pada pintu berukuran besar dan megah yang berjarak beberapa meter lagi dari posisinya.
Namun, dalam hitungan detik saja. Langkah Katterine terhenti. Suara tembakan begitu memekakan telinga. Katterine sendiri tidak tahu suara tembakan itu berasal dari mana. Pantulan peluru itu ada di depannya. Ya, tepat di bawah kakinya. Katterine mematung seperti pajangan yang ada di dalam istananya. Ia sudah sering mendengar suara tembakan. Tapi, belum pernah menemui posisi terancam seperti itu.
“Apa kau ingin mati?” ucap seseorang dengan suara bariton.
Katterine diam dan mengatur napasnya yang sesak. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah sang pemilik suara. Setelah tubuhnya berhasil menghadap langsung dengan pria si pemilik suara, Katterine mematung. Ia kembali mengingat kalau pria asing itu yang menculiknya. Bahkan pria itu juga yang melukainya beberapa jam yang lalu.
“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?” teriak Katterine dengan suara yang tegas. Namun, suaranya tidak bisa terlalu kuat. Katterine terlalu banyak menangis hingga membuat suaranya terdengar serak.
__ADS_1
“Clouse,” jawab pria itu dengan senyuman.