
Serena duduk di atas tempat tidur dengan tubuh bersandar. Semua kejadian yang pernah ia alami dulunya kembali memenuhi pikirannya. Daniel duduk di samping Serena sambil mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. Sesekali pria itu mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
“Sayang, semua akan baik-baik saja,” bujuk Daniel pelan. Pria itu mengukir senyuman kecil agar Serena tidak lagi bersedih.
Shabira, Kenzo dan Kwan telah kembali pulang. Mereka merasa sangat lelah karena pertarungan sejak pagi tadi. Ada banyak pasukan musuh yang harus mereka hadapi. Bahkan beberapa pasukan S.G. Group juga ada yang berubah menjadi musuh. Pertahanan Serena dan Daniel memang tidak lagi sebagus Ny. Edritz saat dulu kala. Serena menganggap segala halnya menjadi mudah.
Apapun masalah yang ada Serena berpikir kalau pasti bisa menghadapinya. Tidak di sangka, kali ini ia terjatuh. Semua hal yang biasa ia anggap mudah telah berubah menjadi sangat sulit. Semua itu karena putri kesayangannya terlihat kecewa terhadap dirinya. Terlihat jelas, bagaimana sakit hatinya Leona setelah mendengar semua cerita Serena.
Pintu terbuka dengan perlahan. Leona dan Aleo muncul dari balik pintu. Serena yang sejak tadi duduk kini sudah beranjak dari tempat tidur. Wanita itu ingin meminta maaf agar putri tercintanya tidak lagi marah terhadap dirinya. Serena berharap besar kalau Leona mau memaafkannya.
“Mama,” sapa Leona lebih dulu. Wanita itu berjalan cepat untuk mendekati posisi Serena berada.
Sama halnya dengan Serena. Daniel juga beranjak dari tempat tidur untuk mendekati posisi Aleo dan Leona berada. Pria itu mengukir senyuman saat melihat Leona telah mau berbicara dengan Serena.
“Maafkan Mama, Sayang,” ucap Serena lirih. Wanita itu menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya dan mengusapnya dengan lembut. Ada tetes air mata penyesalan yang tiada henti di pipi Serena.
Leona membalas pelukan Serena. Wanita itu memejamkan mata sambil mengukir senyuman kecil. “Leona yang salah, Ma. Seharusnya, apapun yang terjadi dengan hidup Leona. Leona harus menceritakannya kepada Mama,” ucap Leona dengan suara pelan.
“Tidak, Sayang. Mama yang salah. Seharusnya Mama memberi tahumu masa lalu Mama. Maafkan mama, Sayang,” ucap Serena lagi.
Aleo dan Daniel saling memandang. Mereka melempar senyuman sebelum mengangkat kedua bahu mereka.
__ADS_1
“Sepertinya masalah ini sudah selesai, Pa,” ucap Aleo dengan wajah santainya. “Aleo mau memeriksa beberapa email dulu,” ucap Aleo sebelum memutar tubuhnya.
“Aleo, Papa ikut kamu saja. Biar Leona dan Mama memiliki banyak waktu untuk bercerita. Bukankah urusan wanita sangat sulit kita pahami?” ledek Daniel dengan tawa kecil.
Serena dan Leona memandang wajah Aleo dan Daniel yang mau pergi. Mereka memasang wajah tidak suka.” Jangan pergi!” teriak Serena dan Leona yang terlihat begitu kompak.
Aleo dan Daniel menghentikan langkah kaki mereka. Kedua pria itu menatap wajah Leona dan Serena secara bergantian. “Hmm, baiklah. Apa yang harus kami lakukan saat ini?” ucap Daniel kepada Serena.
“Bagaimana kalau kita bermain kartu. Bukankah kita sudah lama tidak main kartu. Yang kalah harus mau di coret dengan lipstik,” ucap Leona dengan senyuman indah.
Serena mengangguk dengan wajah penuh semangat. “Ide yang bagus,” jawabnya cepat.
“Begini saja, Leona. Bagaimana kalau kita tidak perlu bermain kartu. Lipstik itu ambil dan coret sesuka hatimu di wajah Papa. Beberapa jam lagi juga akan seperti itu wajah Papa,” sindir Daniel sebelum membuang pandangannya.
Leona melepas tangan Serena. Wanita berusia 25 tahun itu merangkul tangan Daniel dan menjatuhkan kepalanya di pundak kanan Daniel. “Pa, itu namanya curang. Papa pasti menang kali ini,” bujuk Leona agar sang ayah mau ikut main kartu.
“Bagaimana kalau berpasangan. Aku dengan Leona. Mama dengan Papa,” ucap Aleo dengan wajah yang tidak kalah semangat dari Leona.
“Hmm, ide yang bagus. Mama setuju,” jawab Serena sambil melirik wajah Daniel. Wanita itu mengukir senyuman yang sangat indah.
“Ok, deal!” sambung Daniel cepat. Ia tahu, kalau kali ini akan menang. Serena tidak pernah diragukan cara bermain kartunya. Wanita itu selalu saja memiliki sejuta trik untuk menang walau kini usianya tidak lagi mudah.
__ADS_1
Permainan kartu itu di mulai. Semua orang duduk di sofa yang ada di kamar Serena. Mereka duduk saling berhadapan. Rekan satu tim mereka duduk di samping dengan sofa yang sama. Wajah setiap pemain terlihat sangat serius. Tidak peduli kalau tadinya rumah mereka habis di serang, yang terpenting saat ini mereka sekeluarga bahagia.
Beberapa saat kemudian.
Permainan kartu itu sudah berlangsung hingga dua jam. Langit di luar sudah terlihat sore. Bahkan tidak lama lagi, malam akan segera tiba. Wajah mereka berempat sudah dipenuhi dengan coretan lipstik yang membuat wajah mereka terlihat lucu.
Aleo beranjak dari sofa untuk mengambil tisu. Pria itu berharap besar kalau lipstik itu bisa segera dihilangkan. Ia berdiri di depan cermin. Menggeleng pelan dengan penampilannya yang terlihat aneh. Dengan penuh kesabaran, Aleo menghapus lipstik yang melekat di seluruh wajahnya.
Serena dan Daniel saling memandang. Mereka terlihat sangat bahagia. Habis sedih datanglah kebahagiaan. Tawa saat bermain kartu tadi berhasil mengobati kesedihan Leona dan Serena. Dua wanita itu terlihat bahagia detik ini. Tidak lagi terlihat bersedih walau cerita tentang Zean Zick masih mengiang di dalam ingatan mereka.
“Ma, Leona ke kamar dulu ya.” Leona mendaratkan kecupan di pipi kanan Serena. Wanita itu juga mendaratkan satu kecupan dipipi Daniel sebelum berjalan pergi. Tidak lupa Leona menarik tangan Aleo dan membawa kakak kesayangannya itu pergi meninggalkan kamar Serena.
“Leona, aku malu di lihat sama pelayan,” protes Aleo saat wajahnya masih memerah karena lipstik.
“Lipstik itu tidak akan hilang dengan semudah itu, Kak. Aku akan membantu Kakak untuk menghilangkannya,” jawab Leona sambil terus saja menarik tangan Aleo agar pergi meninggalkan kamar tersebut.
Aleo menghela napas. Pria itu melebarkan tisu yang ada di genggaman tangannya sebelum menutup seluruh wajahnya. Ia tidak mau ada pelayan yang melihat penampilan anehnya.
Serena dan Daniel tersenyum bahagia melihat kekompakan Aleo dan Leona seperti itu. Sudah cukup lama mereka tidak melihat pemandangan yang menyejukkan mata seperti itu.
“Aku sangat bahagia, melihatmu tersenyum seperti ini sayang,” bisik Daniel mesra. Pria itu melingkarkan kedua tangannya di perut rata Serena. Ia memeluk istri tercintanya dari belakang.
__ADS_1