
Sapporo.
Pagi yang cerah. Di rumah utama, semua orang telah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Leona masih terlelap dalam mimpinya. Tadi malam hampir dua jam ia mengobrol dengan Jordan. Sampai tidak terasa waktu sudah tengah malam. Leona bisa memejamkan matanya dengan tenang ketika sudah mendengar suara pria itu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Leona mulai membuka matanya secara perlahan. Ia merasa kalau tidurnya sudah cukup hari ini.
Leona tertegun. Wanita itu berulang kali mengedipkan matanya. Ia merasa kalau apa yang ia lihat hanya mimpi. Tidak mungkin Jordan bisa ada di hadapannya. Di kamarnya bahkan berada di tempat tidur yang sama dengannya.
"Dokter ... di mana dokter. Mungkin kepalaku yang sempat terbentur kembali kumat." Leona memegang kepalanya dan memejamkan matanya. Ia masih tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Hingga tangan kekar itu menyentuh wajahnya.
"Baby girl, apa kau baik-baik saja? Apa kepalamu kembali terasa sakit?" ucap Jordan dengan wajah khawatir.
Leona membuka matanya lebar-lebar. Ia ingin memastikan kalau kali ini suara Jordan bukan halusinasi semata. Secara spontan bibirnya tersenyum. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
"Jordan, apa ini benar-benar dirimu?" tanya Leona kegirangan.
Jordan mengangguk. Pria itu duduk di atas tempat tidur dan memandang wajah Leona lagi. "Apa kau senang aku ada di sini?" tanya Jordan dengan wajah bahagia juga.
Leona duduk. Dia menghadap Jordan dan mengangguk setuju. Namun, tiba-tiba saja ia tersadar. Leona mengatur ekspresi wajahnya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Detik itu ia baru sadar kalau Jordan telah melihat wajah aslinya setelah bangun tidur. Dan itu sangat memalukan.
"Baby girl, kenapa kau diam saja?" ujar Jordan dengan wajah penasaran.
__ADS_1
"Kenapa kau datang tidak bilang-bilang? Bukankah tadi malam kau bilang masih ada di Cambridge?" Leona memalingkan wajahnya. Ia masih belum sanggup memandang wajah Jordan secara langsung.
Jordan memegang dagu Leona dan membuat wanita itu memandang wajahnya. "Aku merindukanmu," ucap Jordan dengan suara mesra.
Leona mengeryitkan dahi. Ia memandang sekeliling kamarnya. Leona ingin memastikan kalau kini ia masih ada di dalam kamarnya. Ia tidak ingin tiba-tiba terbangun dan tidak menemukan Jordan di sana.
Jordan tertawa geli ketika melihat wajah Leona yang seperti orang ling lung. Pria itu menggeleng pelan sebelum menarik Leona ke dalam pelukannya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku merindukanmu. Kenapa kau menjauh seperti itu?" bisik Jordan mesra. Pria itu bersandar di ujung tempat tidur dan memeluk tubuh Leona dengan begitu erat.
"Berani sekali kau memelukku!" protes Leona.
Jordan memejamkan mata. Pria itu mempererat pelukannya. "Aku merindukanmu, Baby girl."
Leona mengukir senyuman bahagia. Untuk sejenak ia ingin waktu berhenti. Leona ingin momen bersama Jordan tidak ada yang menganggu lagi. Ia ingin merasakan kenyamanan itu dalam waktu yang begitu lama. Bahkan tidak terhingga.
***
Jordan dan Leona sudah ada di meja makan untuk sarapan. Serena dan Daniel menemani mereka sarapan walaupun sebenarnya mereka berdua sudah sarapan tadi bersama Aleo.
"Jordan, kenapa kau tidak memberi kabar kalau ingin datang? Tante sampai tidak percaya tadi kalau kau sudah ada disini," ucap Serena sambil memakan potongan buah yang ada dihadapannya..
__ADS_1
"Ya, Tante. Ada pertemuan yang harus Jordan hadiri di Jepang," jawab Jordan dengan wajah tenang.
Leona hanya menjadi pendengar setia. Baginya semua pertanyaan yang ingin tanyakan sudah terjawab semua.
"Oh ya, bagaimana dengan pembangunan istana? Apa sudah selesai?" sambung Daniel penasaran. Ia kembali ingat aksi perang-perangan yang pernah ia lakukan.
"Belum, Paman. Mungkin akan memakan waktu hingga tiga bulan," jawab Jordan apa adanya.
"Nanti malam kau akan menginap di sini?" tanya Serena lagi.
Jordan memandang wajah Leona. "Tidak, Tante. Setelah pertemuan, Jordan akan kembali ke Cambridge."
Leona memandang wajah Jordan sebelum melanjutkan sarapan paginya. Ada rasa sedih di dalam hatinya ketika membayangkan kini nanti malam akan berpisah lagi dengan Jordan.
"Oh ya, Sayang. Papa dan Mama mau pergi dulu ya. Kami ingin ke rumah Tante Shabira," ucap Serena sembari beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Ya, Ma," jawab Leona pelan. Serena memberi kecupan di pipi kanan dan kiri Leona sebelum pergi. Serena sengaja membiarkan Jordan dan Leona berdua di rumah itu agar merek memiliki banyak waktu untuk bersama.
Leona meletakkan garpu dan pisau yang ada ditangannya. Ia juga membersihkan mulutnya sebelum meneguk air putih yang ada di hadapannya.
Jordan juga sudah selesai dengan sarapan paginya. Pria itu memegang tangan Leona dan membawanya pergi. "Bukankah rumah ini memiliki taman yang indah. Ayo kita mengobrol di sana," ajak Jordan dengan senyuman.
__ADS_1
Leona memandang wajah Jordan sekilas sebelum ke arah lain. Wanita itu menuruti permintaan Jordan untuk pergi menemaninya menuju ke taman yang ada di rumah utama.