Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Apa Yang Terjadi


__ADS_3

"Tentu saja dengan calon suamiku," jawab Leona berbangga diri. Kali ini bukan Leona saja yang menjadi malu-malu. Jordan sendiri merasa seperti ingin terbang tinggi. Pria itu tidak menyangka jika Leona akan menjawab dengan kalimat seperti itu.


Lusya tertawa menggoda, tiba-tiba saja kedua bola matanya memandang wajah Jordan. Lusya tertegun dan diam mematung. "Pangeran? Bukankah kau Pangeran Cambridge yang terkenal tampan dan jago bela diri itu?" celetuk Lusya tidak percaya.


Leona tertegun. Wanita itu kembali sadar kalau sejak tadi ada Jordan. Sudah cukup lama ia mengabaikannya begitu saja. "Jordan," gumamnya di dalam hati.


Lusya tidak lagi peduli dengan Leona. Wanita itu mendekati Jordan dengan wajah genit. Ia merapikan penampilannya di depan Jordan. Walau sudah mau menikah, tetap saja wanita itu kecentilan. Tidak peduli pria yang akan ia goda sudah menikah atau belum. Sudah memiliki pasangan atau belum.


"Pangeran, senang bertemu dengan Anda. Satu kehormatan bagi saya karena bisa berhadapan langsung dengan pria perkasa seperti Anda," goda Lusya tanpa tahu malu.


Jordan mengangguk pelan. Ia memandang wajah Leona yang sudah mulai kesal. Pria itu tertawa geli. "Nona Lusya, senang bertemu dengan Anda," jawab Jordan dengan sopan.


"Pa ... pa ... pangeran. Anda tahu nama saya?" ucap Lusya grogi. Wanita bahkan kesulitan untuk berbicara. Ia berubah gagap karena terlalu bahagia.


"Ya, tadi CALON ISTRI SAYA memanggil Anda seperti itu," jawab Jordan penuh penekanan.


Seketika, ekspresi wajah Lusya berubah. Wanita itu terlihat geram. "Calon istri?" celetuknya lagi tidak percaya. Lusya memutar tubuhnya. Ia melihat wajah Leona yang sudah berubah seperti ingin melahap manusia hidup-hidup. Lusya hanya bisa tertawa gugup. "Eleonora, aku tidak tahu kalau calon suami yang kau bilang tadi adalah Pangeran Tampan ini. Jangan salah paham," ucap Lusya menahan malu.


Leona berjalan cepat mendekati posisi Lusya dan Jordan. Ia memandang wajah Jordan sekilas sebelum menggandeng lengan kekar pria itu. Tanpa peduli dengan Lusya, ia bergelayut manja di sana.


"Aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku juga yang salah karena membiarkannya memamerkan wajahnya yang hancur ini!" ucap Leona asal saja.

__ADS_1


Jordan semakin kesulitan menahan tawa. Pria itu tertawa bahagia melihat ekspresi wajah Leona yang saat itu sedang. Cemburu!


"Permisi," ucap Lusya tanpa mau memandang wajah Jordan lagi. Setelah memutar tubuhnya Lusya segera berlari pergi. Ia tidak mau mendapat amukan dari Leona karena tadi sudah menggoda calon suaminya.


Setelah Lusya menjauh, Leona memiringkan kepalanya. Menatap wajah Jordan dengan tatapan menyalahkan.


Cup. Belum sempat Leona mengeluarkan kata, Jordan lebih dulu memberi kecupan singkat di sana. Pria itu memakai masker dan kaca mata hitamnya. "Kalau begini bagaimana?" tanya Jordan meminta pendapat.


Leona yang tadinya marah, mulai luluh. Wanita itu memeluk Jordan dengan penuh rasa sayang. "Aku tidak mau wanita lain memandangmu seperti Lusya tadi."


Jordan memeluk erat tubuh Leona. "Walaupun ada sejuta wanita yang mengagumiku di luar sana, Tapi hanya satu wanita yang ku cintai. Yaitu, dirimu Leona."


"Semakin hari cintaku semakin bertambah," ucap Leona sebelum memejamkan matanya. Tidak peduli kini dia ada di mana, Leona hanya mau memeluk erat pria yang sangat ia cintai itu.


"Oh ya, dimana Oliver?" Leona mencari keberadaan Oliver yang tiba-tiba menghilang.


"Pasti dia sedang bersama Katterine. Sudah jangan pikirkan mereka. Ayo kita ke sana. Ada beberapa tempat yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Jordan menggandeng pinggang Leona dan membawa wanita itu pergi menjauh. Selama ada Oliver, Jordan tidak pernah memikirkan nasip adik kandungnya. Semuanya ia serahkan kepada pria tersebut.


***


Oliver memandang sinis wanita yang baru saja keluar dari toilet. Ia tahu, kalau dia yang salah. Tapi tidak tahu kenapa Oliver tidak mau disalahkan. Ia ingin masuk ke toilet wanita untuk memastikan Katterine baik-baik saja di dalam sana.

__ADS_1


Oliver melihat satu pintu yang tertutup. Kebetulan sekali memang toilet itu sudah sunyi. Hanya Katterine yang tersisa di dalamnya. Oliver mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.


"Katterine, apa kau di dalam?" ucap Oliver dengan suara pelan.


Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Oliver semakin panik. Pria itu berusaha memastikan kalau benar yang ada di dalam adalah Katterine. Sekali lagi ia ketuk pintunya.


"Katterine!"


"Hei, Tuan. Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak bisa membaca?" protes seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam toilet. Tapi, Oliver tetap saja keras kepala. Ia tidak peduli dengan cacian wanita itu. Oliver hanya ingin memastikan kalau Katterine baik-baik saja.


"Katterine, jika kau tidak menjawab aku akan mendobrak pintu ini!" ancam Oliver dengan suara mengancam.


"Pergilah!" teriak Katterine dari dalam.


Oliver kembali bernapas lega. Ia melihat wanita yang sejak tadi menatapnya sinis. "Baiklah, kalau kau baik-baik saja. Aku akan menunggu di depan."


Oliver memutar tubuhnya. Baru beberapa langkah ia menjauh, tiba-tiba pria itu menahan langkah kakinya. Ia bisa mendengar suara Isak tangis Katterine di dalam sana.


Kali ini tidak ada toleransi lagi. Tapi mengeluarkan kata, Oliver mendobrak pintu itu hingga terbuka. Tidak peduli apa yang dilakukan Katterine di dalam sana.


Pintu itu terbuka dengan mudah. Oliver melebarkan kedua matanya ketika melihat keadaan Katterine di dalam sana.

__ADS_1


"Katterine, apa yang terjadi?"


__ADS_2