
Jordan beranjak dari sofa yang ia duduki. Pria itu meletakkan minuman kaleng miliknya dan mengambil minuman kaleng milik Leona yang belum terbuka. Jordan membukanya dan memberikannya kepada Leona. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
“Aku akan menemuimu lagi, nanti,” ucap Jordan penuh percaya diri.
Leona menghela napas. Kedua matanya menatap mata Jordan dengan saksama. “Apa kau tidak bosan mengikutiku? Kita memiliki tujuan hidup yang berbeda. Jangan terus-terusan ikut campur dalam urusanku. Atau aku-”
Jordan mendekatkan wajahnya dengan Leona hingga jarak wajah mereka hanya hitungan centimeter saja. Mereka berdua tidak berkedip hingga beberapa saat. Saling bertukar pandang dengan pemikiran masing-masing.
“Atau kau akan membunuhku?” sambung Jordan pelan.
Leona mendorong tubuh Jordan. Tidak hanya sekali. Wanita itu mendorong Jordan lagi dan lagi sambil berteriak. “Pergi! Aku benci pria. Aku tidak lagi bisa percaya pria. Kalian hanya bisa menyakiti hati wanita saja. Pergi! Jangan pernah muncul di hadapanku agi!” teriak Leona dengan wajah kesal. Ia tidak tahu apa yang kini ia rasakan. Ia benci semuanya. Dendamnya belum terbalaskan. Sedangkan kini ada pria yang terus saja mengganggu pikirannya bahkan sudah berhasil menyentuh hati dan waktunya.
Jordan memandang wajah Leona dengan wajah bingung. Pria itu melempar minuman kaleng yang ada di genggamannya ke belakang sebelum memegang kedua lengan Leona. Ia menatap wajah Leona dengan ekspresi yang dingin.
“Kau tidak bisa menyamakan diriku dengannya. Aku berbeda. Sekali cinta, aku berjanji tidak akan menyakiti wanitaku.” Jordan memegang kedua pipi Leona. Kedua matanya terpancar jelas ketulusan yang memang berasal dari hati yang paling dalam. “Aku bersumpah untuk membantumu menghabisi pria yang telah menyakitimu, Leona. Aku berjanji!” ucap Jordan dengan penuh keyakinan. Semakin ke sini pria itu semakin yakin, kalau Zeanlah pria yang sudah membuat Leona berubah menjadi wanita mafia seperti ini.
“Kau ....”
“Ya, Leona. Aku akan membantumu menghabisinya. Tidak peduli siapa dia dan bagaimana dirinya. Demi cintaku padamu, aku akan membantumu menghabisinya jika itu bisa membuatmu tenang dan bahagia,” ucap Jordan mantap.
Leona merasa lega. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Beban hidup yang selama ini membuatnya kesulitan kini terasa hilang bersamaan dengan janji yang baru saja diucapkan oleh Jordan. Untuk pertama kalinya, Leona tersenyum di hadapan Jordan. Ya, wanita itu tersenyum walau hanya ukiran kecil saja. Tapi, itu tulus. Leona memberikan senyuman indah miliknya itu kepada Jordan Zein.
“Terima kasih,” ucap Leona dengan hati bahagia.
__ADS_1
Jordan merasa tenang ketika mendengar jawaban dari Leona. Pria itu mengukir senyuman indah. “Apapun akan aku lakukan. Karena ... aku mencintaimu, Leona ...,” gumam Jordan di dalam hati.
***
San Fransisco.
“Apa kau mau es krim?” tawar Kwan. Pria itu menatap wajah cantik Alana yang kini berjalan bersama dengan dirinya.
“Ya,” jawab Alana singkat. Wanita itu memandang sebuah kursi dengan meja berbentuk lingkaran yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Karena merasa lelah, Alana berjalan dan ingin duduk di kursi tersebut.
Kwan mengukir senyuman. Pria itu membeli dua es krim dari seorang penjual yang ada di hadapannya. Rasa strawberry dan vanilla. Sebenarnya Kwan tidak terlalu suka es krim. Tapi, ini semua demi pendekatannya dengan Alana. Apapun itu akan Kwan lakukan demi mendapatkan hati wanita yang ia cintai.
Setelah membayar dua es krim pesanannya, Kwan berjalan mendekati Alana. Pria itu memberikan rasa strawberry kepada Alana sebelum dirinya sendiri memakan yang rasa vanilla. Mereka berdua terlihat sangat menikmati es krim tersebut.
Kwan memandang es krim yang ada di tangannya. Baru sedikit ia makan. Ia ingin mengatakan kepada Alana untuk mencicipi rasa es krim miliknya. Namun, ia kembali ingat dengan sifat Alana yang tidak mudah ditebak. Bisa saja nanti karena ucapannya yang memiliki niat baik itu menimbulkan perselisihan lagi.
Tetapi, tidak lama kemudian, Alana menarik tangan Kwan. Dengan wajah santainya, Alana mencicipi es krim milik Kwan. Ia memejamkan mata saat merasakan sensasi dingin di dalam mulutnya. Ada sedikit es krim di sudut bibirnya.
Kwan semakin tidak karuan. Siang itu, Alana sangat menggoda bahkan membuatnya sangat tergila-gila. “Alana, apa kau mau beli lagi? Aku akan membelikannya jika kau menyukainya,” tawar kwan dengan penuh kesopanan.
Alana menggeleng pelan. “Aku tidak suka rasa vanilla. Lebih nikmat yang strawberry,” jawab Alana masih dengan tatapan yang fokus pada es krimnya.
Kwan menghela napas. Pria itu menatap sudut bibir Alana yang ada sedikit es krim. Ia ingin membantu Alana membersihkan mulutnya. Tapi ... Kwan ragu. Pria itu sudah berjuang keras menjaga jarak antara dirinya dan Alana selama satu minggu ini. Ia tidak ingin terkesan kurang ajar lagi.
__ADS_1
Kwan mengambil tisu dan memberikannya kepada Alana. Pria itu menunjuk sudut bibirnya sendiri sebagai kode kepada Alana kalau di sudut bibir wanita itu ada sisa es krim.
Alana mengukir senyuman. Wanita itu membersihkan mulutnya dengan tisu tersebut. “Terima kasih.”
Kwan mengangguk pelan. “Sama-sama.” Pria itu melanjutkan makan es krimnya. Ia memandang beberapa pengunjung yang ada pusat perbelanjaan tersebut. Semakin siang memang terlihat semakin ramai. Kwan tidak terlalu suka keramaian. Pria itu juga memperhatikan pengawal tersembunyi yang dimiliki Biao untuk menjaga Alana. Sekilas, Kwan mengukir senyum kecil.
“Kwan, katanya kau dan Kak Leona memulai bisnis. Bagaimana hasilnya?” tanya Alana penasaran.
“Bisnis?” celetuk Kwan bingung. Selama mengikuti Leona mendirikan Queen Star lagi, Kwan belum merasa mendapatkan untung. Baginya itu bukanlah bisnis karena memang tidak berhasil menghasilkan apapun. “Semua baik-baik saja. Berjalan dengan lancar,” jawab Kwan penuh kebohongan.
Alana mengangguk pelan. “Kau pembisnis yang hebat,” ucap Alana dengan senyuman manis.
Kwan hanya membalas senyuman Alana. Pria itu tidak mau banyak berbicara jika itu menyangkut soal perusahaan. Bicara dengan Alana soal perusahaan, itu sama saja membongkar kebohongan dirinya sendiri. Alana wanita yang sangat cerdas. Sudah bisa dipastikan kalau wanita itu pasti akan tahu jika Kwan berbohong soal bisnisnya.
“Alana, malam ini aku akan ke Meksiko. Aku meminta bantuanmu untuk mengurus masalah perusahaan itu,” ucap Kwan dengan wajah penuh harap.
Alana menatap wajah Kwan dengan wajah sedih. Wanita itu mengangguk pelan. “Ya. Aku akan mengurus semuanya. Kapan kau kembali ke sini?” tanya Alana cepat.
Kwan menaikan satu alisnya. “Kau merindukanku?” ledek Kwan dengan suara kecil.
Wajah Alana berubah memerah. Wanita itu membuang tatapannya kearah lain. “Kau juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaanmu,” ucap Alana mencari alasan.
Kwan tertawa kecil. “Aku akan segera kembali. Setelah urusan yang ada di Meksiko selesai, aku akan selalu ada di hadapanmu.” Kwan terlihat sangat percaya diri. Walaupun seperti itu. Alana tidak terlihat marah atau menyangkal apa yang baru saja diucapkan oleh Kwan. Wanita itu justru terlihat bahagia, saat Kwan menunjukkan tanda-tanda kalau mereka akan bertemu lagi. Bahkan dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Abaikan typo...karena laptop author rusak jadi ngetik makin lama...maaf ya reader.