
Ketika jarak mobil Oliver tinggal beberapa meter lagi dengan jurang curam tersebut tiba-tiba saja Katterine menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Bahkan Oliver bisa melihat dengan jelas ketika kepala wanita itu terbentur dengan setir mobilnya sendiri. Oliver juga segera memberhentikan mobilnya sebelum mobil itu terjun ke jurang. Ia turun dari mobil untuk memeriksa keadaan Katterine di dalam sana.
"Katterine, keluarlah! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bersikap seperti ini!" teriak Oliver sambil memukul kaca mobil milik Katterine.
Katterine mengambil foto yang ada di dalam tasnya. wanita itu mendorong pintunya dengan kekuatan penuh tanpa peduli dengan adanya Oliver di samping sana. Oliver merasakan sakit ketika perutnya terbentur dengan pintu mobil. Namun ia tidak mau memikirkan hal itu karena masih ada masalah yang lebih serius yang harus segera ia selesaikan.
PLAKK
Bukan mendapatkan penjelasan dari Katterine, justru Oliver mendapatkan tamparan yang begitu menyakitkan. Setelah puas mendaratkan telapak tangannya di pipi sang kekasih, ia mendorong tubuh pria itu dengan penuh emosi
"Pergi kau! untuk apa kau ada di sini? Aku sangat membencimu. Kau pria yang paling memalukan yang pernah aku temui. Aku sangat kecewa denganmu."
"Katterine, katakan apa yang terjadi? Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah tadi malam kau baik-baik saja."
"Aku akan tetap baik-baik saja jika aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana."
"Apa yang aku lakukan? Tadi malam aku berkumpul dengan Gold Dragon untuk membahas masalah."
"Bohong! Jangan gunakan Gold Dragon sebagai alasan. Kau selalu menggunakan Gold Dragon untuk menutupi kebohonganmu. Aku sangat membencimu Oliver! Sangat sangat membencimu. Apa di matamu Aku ini wanita bodoh yang bisa dengan mudah kau bohongi. Pergi Oliver! Pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin bertemu denganmu."
__ADS_1
Katterine terus saja memukul dada bidang pria itu agar segera pergi dari hadapannya. Ia tidak sanggup menatap wajah Oliver secara langsung. Hatinya benar-benar sakit. Setiap kali ia menatap wajah Oliver secara langsung ia kembali ingat dengan video ketika pria itu mencium wanita lain dengan begitu mesra.
"Katterine, tenanglah ... katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Jika kau seperti ini aku akan semakin bingung."
Katterine melempar foto yang sejak tadi ada di genggamannya. Foto itu mengenai wajah Oliver dan jatuh ke tanah bahkan sebagian ada yang terbang karena tertiup angin yang kencang. Oliver menunduk untuk melihat salah satu foto yang ada di permukaan tanah. Dia mengambil foto itu dengan segera.
Betapa kagetnya Oliver ketika melihat wajah dirinya sendiri sedang bermesraan dengan wanita. Padahal jelas-jelas tadi malam saat ia sedang berkumpul tidak ada satupun wanita yang bergabung dengan mereka. Bahkan Oliver sendiri tidak terlalu banyak meminum alkohol hingga ia sendiri bisa sangat yakin kalau dirinya dalam keadaan sadar hingga pagi menjelang.
"Kenapa kau diam? Kau kaget karena aku sudah mengetahui tingkah lakumu selama ini?"
Oliver memandang wajah Katterine dengan bibir membisu. Ia sadar kalau semua perkataan yang pernah diucapkan oleh Miller bukan hanya sekedar candaan semata. Bukan juga trik pria itu agar ia bisa mendapatkan hati Katterine. Oliver sadar kalau kini masalah yang ia hadapi bukan masalah yang kecil.
"Katterine, jika aku katakan pria yang ada di dalam foto ini bukan diriku apakah percaya?"
"Aku tidak akan percaya dengan perkataan mu. Saat ini aku ingin mendengar alasan dari bibirmu langsung kenapa kau tega melakukan perbuatan ini di belakangku. Jika kau ingin melakukan hal seperti ini kau bisa memintaku untuk melakukannya. Aku sangat mencintaimu Oliver. Aku rela kehilangan harga diri ku daripada aku harus melihat dirimu bersenang-senang dengan wanita lain. Itu benar-benar sangat menyakitkan!" lirih Katterine dengan genangan air mata yang sudah siap jatuh ke pipi mulusnya.
Oliver semakin tidak tega melihat Katterine seperti itu. Dia menarik tubuh Katterine dan memeluknya dengan erat. Oliver berusaha menenangkan hati Katterine yang ia tahu saat ini sedang kacau balau. Bujukan apapun mungkin tidak akan berhasil untuk menenangkan hati wanita itu. Foto itu sudah bisa dibilang sebagai bukti yang cukup nyata. Sebuah vonis yang tidak bisa ia hindari. Ia benar-benar tersangkanya, jika ia tidak memiliki bukti untuk menyangkal semua itu.
Sambil merema*s rambut gelombang Katterine, ia mulai merasa sangat marah dengan orang yang sudah berani bermain-main dengannya. Kali ini bukan dirinya saja yang dirugikan. Bahkan wanita yang ia cintai yang tadinya tidak tahu apa-apa kini harus menangis sedih dengan hati yang begitu perih.
__ADS_1
"Aku membencimu Oliver! Seharusnya kau tahu bagaimana rasa cinta ku terhadapmu. Aku benar-benar sangat mencintaimu tapi kenapa kau mempermainkan perasaanku seperti ini," lirih Katterine dengan tangis yang begitu pilu. Bahkan Oliver sendiri tidak tega mendengarkannya.
"Maafkan aku karena sudah membuat hatimu terluka. Aku berjanji akan segera mengobati luka yang ada dalam hatimu. Maafkan aku ... Jangan menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatku menangis hingga seperti ini. Aku merasa seperti pria lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika wanita yang aku cintai terluka."
Oliver semakin kuat memeluk tubuh Katterine. Lama-kelamaan ia bisa merasakan kalau wanita itu sudah mulai tenang. Bahkan tangisnya sudah mulai reda. Oliver melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Katterine agar bisa menatap wajah wanita itu dengan jelas. Ia menghapus sisa air mata yang ada di pipi wanita itu dengan begitu lembut.
"Percayalah padaku. Pria itu bukan diriku. Aku yakin kalau ada orang lain yang dengan sengaja ingin merusak hubungan kita."
"Oliver berhentilah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau perbuat. Tolong biarkan aku sendiri. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Oke baiklah, aku akan membiarkanmu menyendiri. Tapi izinkan aku untuk mengantarkanmu ke tempat yang kau inginkan. Aku tidak ingin kau menyetir mobil dalam keadaan seperti ini. Nyawamu sangat berharga Katterine. Jika kau benar-benar marah padaku, setidaknya kau harus memikirkan keluarga yang kini sangat mencintaimu. Mereka akan terluka jika kau celaka."
Katterine tidak mengatakan satu katapun. Wanita itu berjalan ke samping mobil dan memilih duduk di belakang. Oliver mengatur nafasnya dan berusaha agar tetap tenang. Ia masuk ke dalam mobil untuk membawa Katterine kembali pulang ke apartemennya. Setelah wanita itu ada disana ia akan segera pergi menemui Miller. Oliver ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang mau mengeluarkan satu kata pun lagi. Sesekali masih terdengar isak tangis Katterine dari arah belakang. Kali ini Oliver benar-benar kehilangan akal untuk membujuk Katterine.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk diam agar Katterine bisa jauh lebih tenang. Setelah mendapatkan bukti-bukti yang pas Oliver bertekad untuk menjelaskannya kembali kepada Katterine agar wanita itu bisa percaya lagi padanya.
Katterine menghapus sisa air matanya yang terkadang masih jatuh dan membasahi pipi. Ia lebih memilih memandang ke luar jendela karena tidak ingin melihat wajah Oliver di depan sana. Hatinya benar-benar sakit saat itu.
__ADS_1
"Baru saja beberapa hari aku bahagia karena cintaku telah diterima oleh pria yang sangat aku cintai selama ini. Kenapa ketika kebahagiaan itu terasa hampir sempurna aku harus melihat kenyataan yang begitu menyakitkan. Jika saja pria di dalam foto itu memejamkan mata mungkin aku masih bisa menerima alasanmu. Tapi jelas-jelas di dalam video itu kau terlihat sangat menikmatinya dan itu membuatku sangat sakit dan kecewa."