Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 105


__ADS_3

Matahari di kota Cambridge, pagi ini terlihat sangat indah. Burung-burung yang ada di pepohonan bernyanyi dengan merdu hingga membangunkan siapa saja yang mendengarnya.


Istana Cambridge memang sedang diterpa kabar bahagia. Kehamilan Leona sudah menyebar ke seluruh istana. Hanya satu orang yang belum mengetahuinya. Siapa lagi kalau bukan Leona? Ya, hingga detik ini Jordan masih merahasiakan kabar baik itu dari istri.


Leona yang sudah bangun dan berpakaian rapi merasa ada yang aneh pagi ini. Saat bangun tidur dia tidak menemukan Jordan di sampingnya. Bahkan suaminya itu juga tidak ada di dalam kamar. Setelah urusan Leona di dalam kamar selesai, ia segera pergi meninggalkan kamar untuk mencari keberadaan sang suami. Dengan dres berwarna putih, pagi itu Leona terlihat seperti seorang putri raja yang sangat anggun. Tidak akan pernah ada yang menyangka jika wanita anggun itu pernah menjadi ketua mafia.


"Berani sekali Jordan meninggalkanku tanpa kabar. Bahkan tadi malam aku tidak tahu dia kembali ke kamar jam berapa."


Sudah beberapa pengawal ia tanya namun tidak ada yang menjawab kalau mereka melihat keberadaan sang pangeran. Hati Leona semakin khawatir. Bahkan berulang kali mengumpat karena suami pergi ketika ia sedang tidur.


"Ke mana semua orang? Sepertinya aku tidak bangun kesiangan. Tapi kenapa tidak ada satu orangpun di meja makan." Leona memandang menu sarapan pagi yang masih hangat. Perutnya yang lapar membuatnya memutuskan untuk sarapan lebih dulu sebelum mencari Jordan lagi.


Saat seorang pelayan meletakkan air putih di atas meja, Leona memandang wajah pelayan itu dengan saksama. Pelayan yang melayaninya juga terlihat aneh. Mereka seperti kerja cepat-cepat agar bisa terhindar dari pertanyaan yang akan dilontarkan Leona.


"Benar-benar aneh. Tidak biasanya semua orang bersikap seperti ini." Leona hanya bergumam. Ia mengambil roti dan selai. Perutnya yang sangat lapar ingin segera di isi detik ini juga.


Saat selesai menghabiskan rotinya, tiba-tiba Leona mendengar suara ramai di lantai atas. Padahal ia ingat betul kalau tadi di lantai atas tidak ada satu orangpun. Bahkan ia kesulitan mencari pelayan ataupun pengawal.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Karena penasaran, Leona segera beranjak dari kursi. Ia berjalan ke arah tangga sambil memperhatikan lingkungan istana. Ada beberapa wilayah di istana yang memang khusus buat keluarga. Jika ada di dalamnya, semua orang tidak merasa seperti tinggal di istana. Emelie mendesain istananya layaknya rumah yang nyaman. Namun, ada satu sisi istana yang memang diperuntukan jika tamu dari kerajaan atau pemerintah datang. Lokasi itu memang mirip seperti istana pada umumnya. Bahkan aturannya pun sangat ketat di sana.


Leona dan Jordan tinggal di wilayah yang sunyi. Emelie bukan memisahkan mereka, tapi sengaja ingin membuat pengantin baru itu merasa nyaman. Toh mereka masih berada di satu wilayah yang sama. Kapan saja ingin jumpa bisa. Bahkan setiap makan juga selalu satu meja.


Leona naik ke atas tangga dengan hati-hati. Masih di tangga saja ia sudah mulai merasa ada yang aneh. Aroma lantai atas terasa sangat harum. Ketika sudah menjejaki di lantai dua Leona melihat taburan mawar merah yang begitu banyak. Bahkan mawar itu seperti memberikan sebuah petunjuk. Leona mengikuti petunjuk dari kelopak mawar yang ada di lantai.


"Sebenarnya ada apa? Apa semua ini ulah Jordan? Tapi, untuk apa ia melakukan semua ini?" Leona memandang kamar tempat kelopak bunga itu berakhir. Ia kembali ingat kalau ruangan itu bukan ruangan yang selalu digunakan. Hanya ruangan kosong yang mungkin saja tidak pernah dikunjungi.


Leona memutar sekeliling untuk memastikan kalau memang hanya dirinya di sana. Secara perlahan ia melangkah untuk membuka pintu ruangan tersebut. Leona sudah tidka sabar untuk melihat apa yang ada di dalam sana.


Ketika pintu terbuka dan Leona melangkah masuk. Tubuhnya di hujani jutaan kelopak mawar merah. Semua orang yang ada di ruangan itu berteriak secara serempak.


"Surprise!"


Leona kaget bukan main. Namun ia bahagia. Kejutan itu benar-benar menarik.


Jordan berjalan mendekati Leona dengan pakaian yang telah tapi. "Sayang, ke marilah."

__ADS_1


"Jordan ada apa ini?" Leona memandang wajah semua orang yang berkumpul di sana. Ada banyak hadiah, kue tar, balon dan bunga. Leona benar-benar tidak habis pikir dengan semua orang yang kini memberinya kejutan. Jelas-jelas ulang tahunnya lama lagi.


"Kau akan mengetahuinya nanti." Jordan membawa Leona ke tengah-tengah. Emelie yang terlihat paling bersemangat pagi itu. Wanita itu maju dengan membawa kotak di tangannya.


"Sayang, buka lah."


Leona memandang kotak itu dengan saksama. Ia sebenarnya masih bingung. Tapi sangat tidak enak menolak pemberian sang mertua. Leona menerima kotaknya dan membuka isinya. Ia mengeryitkan dahi ketika melihat tespack di dalam kotak tersebut.


"Apa ini?" Leona mengambil tespeck miliknya. Dia melihat garis dua di sana. Namun Leona masih belum paham dengan semuanya.


"Mom, apa ini? Milik siapa ini?"


"Milikmu, Leona," jawab Emelie dengan senyuman.


"Milikku? Bagaimana bisa?" Leona masih belum yakin. Hingga akhirnya Jordan angkat bicara.


"Sayang, maafkan aku telah membohongimu. Tadi malam saat aku meminta urine semua itu karena aku dan mommy ingin menggunakan alat ini. Mommy sudah mencurigaimu selama beberapa hari ini. Gerak gerik yang kau lakukan sudah seperti wanita hamil. Tapi, mommy tidak mau kau kecewa lagi. Maka dari itu, mommy memintaku melakukan hal seperti tadi malam."


"Hamil?" Leona masih tidak menyangka.


"Aku hamil?" Leona menunjuk dirinya. Benar-benar sebuah kejutan yang tidak di sangka-sangka. Bahkan ia ingin menangis karena terlalu bahagia. Lagi-lagi ia memandang tespeck itu untuk memastikan semua buka. sekedar mimpi yang akan hilang ketika bangun.


"Selamat, sayang." Emelie memeluk Leona dengan penuh rasa bahagia.


"Mom, apa ini serius?"


"Ya. Kau akan menjadi seorang ibu."


Leona meneteskan air matanya ketika kedua mata itu terpejam. Pelukannya sangat erat ketika tubuh Emelie masih memeluknya.


"Mom, Leona bahagia. Sangat bahagia."


"Ya. Mommy tahu apa yang kau rasakan. Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah ya."


Leona mengangguk. Ia memandang wajah Jordan dan berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Kita akan segera memiliki anak."

__ADS_1


"Ya, benar baby girl. Nanti kita akan ke dokter untuk periksa dan mengetahui usia kandunganmu."


"Aku ingin memberi tahu kabar ini kepada Mama Serena."


"Ya. Nanti setelah pulang dari dokter kita sama-sama memberi kabar baik ke mama Serena."


"Kak Leona, selamat." Katterine membawa bunga warna pink dan memberikannya kepada Leona. "Aku juga sudah tidak sabar menyambut kehadiran keponakan pertamaku. Semoga sehat dua-dua ya."


"Terima kasih, Katterine. Warna pink, apa kau berharap anak ini perempuan?" ledek Leona.


"Tentu saja. Aku ingin ada yang mewarisi koleksi princesku di lemari."


Leona tertawa. Ia kembali memandang Jordan dengan wajah bahagianya.


"Sejak jam berapa mempersiapkan semua ini?"


"Sejak tadi malam. Hanya saja, selesainya setelah pagi tiba."


"Kau tidak tidur?"


"Tentu saja aku tidur. Ada banyak pelayan yang membantu. Sepanjang malam aku menjaga calon anak dan ibunya."


"Terima kasih. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu baby girl." Jordan mengecup bibir Leona tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Hanya itu yang bisa ia tunjukkan kepada sang istri sebagai bentuk rasa cintanya yang tiada tara. Barang atau hadiah apapun tidak akan mungkin lagi ia berikan karena Leona pernah memilikinya dan sampai sekarang masih memiliki barang-barang mewah tersebut.


Oliver melipat tangannya di depan dada. Melihat Jordan bahagia ia semakin yakin kalau kini dirinya tidak perlu mengkhawatirkan Jordan lagi. Sudah saatnya ia menggapai kebahagiaannya sendiri. Bersama Katterine, Oliver akan membentuk hidup yang bahagia seperti yang sekarang dirasakan oleh Jordan.


Sedangkan Emelie dan Zeroun hanya bisa membayangkan masa-masa kecil anak mereka.


"Sepertinya baru kemarin aku melahirkan Katterine dan melihat Jordan bermain bersama Oliver. Sekarang mereka sudah dewasa dan akan memiliki anak. Tidak lama lagi Katterine juga akan menikah. Apa kita sudah tua?"


Zeroun tersenyum. "Kita memang tua di mata semua orang. Tapi, di mataku kau tetap Emelieku yang cantik. Masih muda sehat dan energik. Kau istriku yang dipandangan mataku tidak akan pernah berubah walau rambutmu sudah memutih."


"Kau tetap big Boss ku yang selalu aku cintai." Emelie memeluk Zeroun. Semakin bertambah usia mereka Emelie khawatir kalau kematian akan semakin dekat. Emelie tidak mau berpisah dari suami.

__ADS_1


"Jika boleh memilih, aku ingin pergi lebih dulu. Aku tidak akan sanggup kehilangan dirimu, Suamiku."


__ADS_2