Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Ledekan Kecil


__ADS_3

Miller menahan tawanya. Pria itu merasa sangat geli ketika melihat ekspresi wajah Leona. Miller tertawa riang seolah ada yang lucu di sana.


"Miller, kenapa kau menertawakanku?" protes Leona tidak terima.


"Kau terlihat sangat lucu. Apa kau takut? Jordan tidak ada di sini Leona. Ayolah, jangan seperti itu. Kau bisa mengatakan apa yang kini kau rasakan. Aku sebagai adik hanya ingin kakakku mendapatkan pria yang ia cintai." Miller mengedipkan sebelah matanya.


Leona duduk di kursi yang ada di dekatnya Wanita itu memandang ke arah depan. Bibirnya tersenyum kecil.


"Aku wanita yang disayangi semua orang. Aku tahu mereka semua pasti menyayangiku. Tapi, aku tidak tahu bagaimana rasanya menyayangi. Sejenak aku mati rasa. Tidak bisa merasakan sakit atau bahagia. Tapi, ketika bertemu dengannya aku mulai bisa membedakan mana rasa sakit mana rasa bahagia. Aku juga menjadi tahu kapan aku takut, kapan aku harus berani. Apa itu cinta?"


Miller mengukir senyuman. Pria itu duduk di samping Leona sambil memandang wajah Leona dalam-dalam. "Sebenarnya cinta itu tidak bisa dilihat dan diketahui. Terkadang kita melihat seseorang dan merasa tertarik. Tapi, itu belum bisa di bilang cinta. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu Leona. Masalah cinta, hanya kau sendiri yang memahami perasaanmu. Aku hanya tahu, biasanya ketika kita mencintai seseorang kita akan rela melakukan apapun asal orang yang kita cinta bahagia. Tidak peduli kini orang itu harus bahagia dengan orang. Yang terpenting dia bahagia."


Leona tertegun. Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan Zean. Pengorbanan yang di maksud Miller sangat pas untuk menggambarkan posisi Zean saat ini.


"Ayo kita pulang. Hari sudah mulai gelap." Ia beranjak dari kursi dan melangkah cepat menuju mobil.


"Leona, ada satu pertanyaan lagi." Miller menghentikan langkah kaki Leona.


"Apa?" tanya Leona dengan wajah yang sangat serius.


"Jika Jordan pergi meninggalkanmu, apa kau akan bersedih? Leona, jika benar itu terjadi. Kau jangan bersedih ya. Masih ada aku yang setia menunggumu," ucap Miller dengan wajah menahan tawa. Pria itu hanya ingin membuat Leona tertawa saja. Tidak lebih dari itu.


"Miller! Aku akan mengirim nuklir dari sini untuk membuat tubuhmu menjadi serpihan debu!" ancam Jordan dari kejauhan.


Miller mengeryitkan dahi. Pria itu bisa mendengar dengan jelas teriakan Jordan. Memang sejak tadi ponsel itu di speakerkan oleh Leona agar Jordan bisa mendengar dengan jelas percakapannya dengan Miller.

__ADS_1


Leona menahan tawa. Wanita itu menggeleng kepalanya dengan wajah geli. "Bahkan aku sendiri hampir lupa kalau dia ada di dalam tas," ucap Leona pelan.


"Dalam tas?" celetuk Miller tidak percaya. Pria itu merebut paksa tas Leona. Ia mencari ponsel Leona yang tadi sempat memaki dirinya. Miller terlihat kaget ketika melihat panggilan Jordan masih aktif. Pria itu tertawa kecil.


"Hai, Pangeran! Apa kau sudah sehat?" ucap Miller dengan suara ramah.


"Sebaiknya kau segera pergi dari Sapporo. Jika besok pagi kau masih ada di sana. Habislah kau!" ancam Jordan dari kejauhan.


"Pangeran, aku hanya bercanda. Kau jangan sensitif seperti itu. Kau seperti wanita saja," ledek Miller dengan tawa kecil. "Aku hanya membantumu."


"Membantu kau bilang? Kau memprovokasi Leona agar meragukanku!"


"Pangeran Cambridge, sekali lagi maaf. Kau saat ini sangat jauh. Jadi, aku tidak perlu takut dengan ancamanmu. Sekali lagi maafkan aku." Miller mematikan panggilan telepon Jordan.


"Kenapa kau mematikannya?" protes Leona.


Leona kembali tertawa. Ia tidak menyangka kalau Miller benar takut dengan ancaman Jordan. "Hei, dia hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya dengan begitu serius?"


"Benarkah?" tanya Miller lagi.


Leona menggeleng pelan. "Ayo kita pulang. Bukankah kau juga akan mengunjungi rumah Paman Tama? Tante Sonia pasti sudah menunggu kita."


"Baiklah. Nanti ketika Pangeran Cambridge itu menghubungimu lagi. Katakan padanya kalau aku hanya bercanda."


"Ya ... ya. Baiklah."

__ADS_1


***


Jordan tersenyum kecil. Ia memandang wajah cantik Leona melalui layar laptop miliknya. "Dia semakin cantik jika tertawa seperti itu," ucap Jordan penuh semangat.


Jordan sudah tahu kalau kini Leona berada di luar rumah bersama dengan Miller. Pria itu memiliki banyak pasang mata yang bisa membantunya untuk melihat keberadaan Leona. Bahkan panggilan telepon tadi, hanya sekedar keisengannya saja untuk mengganggu Leona dan Miller.


Suara pintu terbuka. Katterine muncul di dalam kamar Jordan. Putri Cambridge itu terlihat kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menopang kepalanya dengan tangan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jordan penasaran.


"Kak, kenapa masih ada pria di dunia ini yang memiliki sifat tidak peka?" jawab Katterine masih dengan wajah kesal.


"Apa kau membicarakan Oliver?"


"Hanya dia pria yang dekat denganku," jawab Katterine cepat. Antara Jordan dan Katterine tidak ada lagi rahasia. Mereka sama-sama mengakui kalau kini mereka telah jatuh cinta pada seseorang.


"Oliver memang sangat sulit di tebak. Aku sendiri saja kadang tidak pernah bisa memahami jalan pikirannya," jawab Jordan sebelum memandang layar laptopnya lagi.


"Kak, kau harus membantuku!" pinta Katterine dengan wajah memohon. "Aku suka padanya."


"Katterine, berpikirlah dua kali sebelum meminta sesuatu. Oliver memang pria yang sulit untuk jatuh cinta. Kau melarangku untuk mengatakan padanya kalau kau mencintainya. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Jordan sedikit protes.


"Kak, apa Oliver memiliki kelemahan?"


"Tidak," jawab Jordan cepat. "Tapi dia tidak bisa melihatmu dekat dengan pria lain."

__ADS_1


Katterine mengukir senyuman penuh kemenangan. Wanita itu terlihat jauh lebih semangat. "Kak, aku punya ide!"


__ADS_2