Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Perjodohan Dadakan


__ADS_3

Malam telah tiba. Semua orang telah berkumpul di meja makan yang ada di dalam rumah utama keluarga Edritz Chen. Biao dan Sharin. Shabira dan Kenzo. Beserta dengan anak mereka.


Makan malam itu berlangsung tidak terlalu lama. Setelah selesai makan, semua orang masih tetap ada di meja makan untuk menikmati potongan buah segar. Daniel sengaja memilih meja makan sebagai tempat berkumpul mereka. selain luas dan bisa menatap wajah semua orang. Meja makan itu juga telah tersaji aneka makanan dan minuman untuk hidangan para tamu yang masih ingin makan.


Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman indah. Sebenarnya sejak awal Serena tidak terlalu setuju. Tapi, ini menyangkut permintaan orang-orang yang ia sayangi. Serena tidak bisa menolaknya.


“Aku memiliki pengumuman penting untuk disampaikan kepada semua orang yang ada di meja makan ini,” ucap Daniel dengan wajah serius. Pria itu memandang wajah Alana dan Aleo dengan tatapan serius.


Sharin dan Biao mengukir senyuman indah. Mereka berdua sangat yakin, kalau Alana akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Kabar baik ini adalah hadiah terbaik untuk kesuksesan perusahaan yang di pimpin oleh Alana.


Semua  orang memasang wajah yang sangat serius. Termasuk Aleo. Pria itu merasa sesuatu yang tidak nyaman dengan makan malam yang di adakan malam itu. Di tambah lagi, sang ibu telah menyatakan niat awalnya kalau ada seorang wanita yang akan di jodohkan untuknya.


“Sebagai orang tua, pasti ingin memberi yang  terbaik kepada buah hatinya,” ucapan Daniel tertahan. Pria itu memandang wajah Leona dan Aleo. “Tidak di sangka. Dua bayi kembar yang telah lama menemani hidup kami ini sudah beranjak dewasa. Hingga tidak terasa hari di mana dia harus mencari pasangan hidupnya telah tiba.”


“Pa, kami masih tetap babymu yang manis dan menggemaskan,” ucap Leona dengan senyuman. Wanita itu mengambil jus yang ada di hadapannya. Meneguknya dengan penuh perasaan.


Dari posisi tidak terlalu jauh dari posisi Leona, ada Kwan yang terlihat sibuk mengotak-ngatik potongan buah. Pria itu juga penasaran dengan apa yang ingin diucapkan para orang tua yang malam itu berkumpul.


“Leona, kami mendukung hubunganmu dengan Kwan,” ucap Daniel mantap.


Leona tersedak ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Daniel. Wanita itu tidak menyangka kalau kedua orang tuanya bisa memiliki pemikiran sejauh itu.


“Dan ... Kau Aleo. Papa dan Mama akan segera mengurus proses pertunanganmu dengan Alana,” sambung Daniel dengan wajah berseri.


Kwan menjatuhkan garpu yang ada di genggaman tangannya. Alana memandang wajah Kwan dengan wajah bingung. Aleo dan Leona terlihat syok ketika Daniel telah menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


“Pa ... Ma ... kalian sudah salah paham,” ucap Leona cepat dengan wajah serius.


“Aku permisi dulu,” ucap Kwan sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu tidak ingin terlalu lama hingga menjadi sakit hati mendengar rencana pertunangan Alana dan Aleo. Memang sudah sejauh ini perjuangan cintanya kepada Alana tidak membuahkan hasil. Justru Alana terlihat memang sangat mencintai Aleo.


“Pa, Alana permisi dulu,” ucap Alana sebelum beranjak dari duduknya. Gerakan Alana diikuti dengan Aleo dan Leona. Dua anak Daniel dan Serena itu juga memiliih untuk pergi meninggalkan meja makan.


Serena dan yang lainnya mematung. Bukan seperti ini respon yang mereka harapkan. Seharusnya anak mereka memeluk tubuh mereka dengan senyuman bahagia. Mengucapkan terima kasih dan mengecup pipi mereka berulang kali karena terlalu bahagia.


Kwan masuk ke dalam mobil. Pria itu duduk dan meletakkan kepalanya di depan stir mobil. Pintu samping terbuka. Alana masuk ke dalam mobil Kwan. Wanita itu duduk bersandar dengan posisi yang tenang. Pintu belakang mobil juga terbuka. Aleo dan Leona masuk ke dalam mobil yang sama dengan Kwan.


“Apa itu tidak salah? Aku akan menikah denganmu? Apa yang akan terjadi pada rumah tangga kita nanti?” ucap Leona sambil menggeleng pelan.


“Pasti akan baik-baik saja. Aku pria yang penyayang dan sabar. Cukup berhasil menghadapi sikap Kak Leona yang tidak bisa di tebak itu,” jawab Kwan asal saja.


Kwan memandang wajah Alana dengan tatapan yang sangat tajam. “Apa aku bisa menolak?” Kwan memandang ke arah depan. “Bahkan wanita yang aku cintai saja tidak terlihat benar-benar mencintaiku.”


“Tidak seperti itu,” ucap Alana dengan suara manjanya.


Aleo menghela napas. Pria itu bersandar dan memejamkan mata. Ia lebih suka menghindari perdebatan. Apa lagi jika itu menyangkut soal wanita.


“Kak, lakukan sesuatu. Kau yang paling dewasa di sini,” ucap Leona dengan wajah serius.


“Kwan, apa ada tempat untuk berlibur yang bisa di tempuh dalam waktu singkat?” ucap Aleo sambil memejamkan mata.


“Ada sebuah pantai yang indah. Aku sering ke sana. Ada vila juga untuk menginap,” sambung Kwan cepat.

__ADS_1


“Ayo kita ke sana,” perintah Aleo.


Kwan mengangkat satu alisnya sebelum melajukan mobilnya dengan cepat. Meninggalkan halaman luas rumah utama keluarga Edritz Chen.


Di dalam rumah, semua orang hanya diam membisu dengan wajah bingung. Termasuk Sharin dan Shabira. Mereka yang memiliki anak yang menawarkan diri untuk melamar anak pasangan Daniel dan Serena. Wajah mereka memerah karena malu. Sudah terlalu bersemangat justru rencananya tidak seindah yang dibayangkan.


“Kak, ada yang salah. Sepertinya semua tidak sama dengan apa yang kita pikirkan,” ucap Shabira sambil menatap wajah Serena.


“Hmm, Ya.” Serena menggigit potongan apel yang ada di hadapannya. Wanita itu tetap terlihat tenang walau kini acara besarnya telah gagal total.


“Sepertinya Alana juga tidak setuju, Sayang,” sambung Biao cepat.


“Ya. Dia tidak terlihat bahagia tadi,” ucap Sharin bingung.


“Lalu, Kwan. Juga terlihat tidak mau berpacaran dengan Leona,” ucap Kenzo dengan wajah yang tidak kalah bingung.


“Ini cukup sulit,” sambung Daniel sebelum bersandar pada kursi yang ia duduki. “Sebaiknya kita tidak memiliki niat untuk menjodohkan mereka lagi.”


“Ya. Aku setuju,” jawab Serena pelan.


“Aku juga,” sambung Sharin dan Shabira.


Pada akhirnya, semua orang yang masih berada di meja makan itu memutuskan untuk angkat tangan. Tidak mau ikut campur dengan urusan percintaan putra dan putri mereka. Semua keputusan itu mereka serahkan kepada buah hati mereka yang sudah beranjak dewasa.


 

__ADS_1


__ADS_2