
Pertarungan yang terjadi semakin sengit dan tidak kunjung menemukan titik terang. Zean yang mulai jenuh kini melirik bawahannya. Ia ingin berkata kalau sebaiknya mereka kabur saja dengan mobil. Tapi kalimatnya tertahan di mulut ketika Zean melihat Clara yang tengah asyik main tembak-tembakan. Bahkan wanita itu sesekali tertawa seolah ada yang lucu di sana.
"Bos, Anda ingin mangatakan sesuatu?" Pengawal Zean pria yang begitu peka. Sekali pandang saja ia sudah tahu kalau tuannya ingin mengatakan sesuatu.
"Dimana posisi mobil kita?"
"Setengah kilometer dari vila, Bos."
"Apa jalan menuju ke sana aman?"
"Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa digunakan untuk menuju ke vila ini Bos. Jadi kemungkinan besar, tidak aman. Pasti mereka sudah ada di sana untuk menanti kita."
Zean menghela napas. Hingga detik ini ia masih menganggap semua hanya permainan. Sudah sering ia melihat pertarungan yang jauh lebih mematikan. Hanya menembak seperti ini saja masih level kecil baginya.
Tanpa mau mengajak, Zean memegang erat tangan Clara. Menyeret wanita itu dan membawanya agar pergi meninggalkan vila.
"Hei, Tuan. Mau ke mana? Lepaskan. Sakit!" Clara berusaha berontak. Tapi Zean tidak peduli. Ia terus saja berjalan menuju pintu samping untuk kabur. Sedangkan pengawal Zean tetap waspada menguasai keadaan. Ia tidak akan membiarkan satu peluru pun mengenai tubuh Zean.
"Sudah cukup main-mainnya. Sekarang kita harus pergi!"
"Main-main? Dia menganggap hal seperti ini sebuah permainan?" gumam Clara di dalam hati.
Tembakan demi tembakan dilayangkan Zean dan bawahannya kepada siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Mobil hitam terparkir di lokasi yang tidak jauh dari mobil-mobil musuh. Zean membuka pintu mobil dan memaksa Clara masuk ke dalam.
"Mau ke mana? Apa Anda juga tertarik menculik saya?" tanya Clara dengan tangan di pinggang. Wajahnya sedikit menantang. Namun ekspresi seperti itu tidak akan pernah dihiraukan oleh Zean. Karena kesal Zean mendorong paksa Clara agar masuk lalu ia ikut masuk dan menutup pintu mobilnya rapat-rapat.
Pengawal Zean juga sudah ada di jok kemudi. Ia memandang Zean dari kaca di depannya. Mereka berdua mengambil beberapa senjata api yang memang sudah ada di dalam mobil. Bahkan ratusan peluru juga tersusun rapi di dalam sana.
Clara yang melihat kotak senjata itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Seperti sebuah harta karun. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang menganggapnya harta karun.
"Apa kau seorang kriminal? Pembunuh? Perampok?" Clara benar-benar tidak pernah sadar akan situasi. Dalam keadaan apapun selalu saja ia buat bercanda. Mungkin karena selama ini ia melakukan sesuatu dengan uang. Jadi, baginya hal-hal buruk tidak akan terjadi jika ia masih memiliki banyak uang.
"Apa kau bisa diam? Kemarin aku bertemu dengan seorang wanita yang banyak bicara. Dalam hitungan detik saja aku melihat dia sudah terbujur kaku di jalan dengan luka tembak di dahinya. Mobil ini bukan mobil Anti peluru. Jika musuh menyerang kau bisa terluka."
Clara menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Pengawal Zean yang ada di depan tersenyum. Belum pernah ia melihat Zean sekesal itu. Amarah Zean yang tidak pernah melampaui batas membuat pengawalnya betah berada di sisinya. Mobilpun melaju walau beberapa mobil musuh mengikuti mereka dari belakang.
"Beraninya mengancam," omel Clara di dalam hati.
"Menunduk!" teriak Zean. Clara hanya bengong. Zean berteriak namun tidak tahu kepada siapa perintah itu diberikan. Saat menyadari Clara tidak kunjung menurut Zean mengangkat tangannya untuk menundukkan kepala Clara secara paksa.
"Oke, aku tahu cara menunduk!" jawab Clara sebelum tangan Zean menyentuh kepalanya. Tidak tahu apa yang ingin dilakukan Zean, di suruh menunduk ya menunduk saja.
DUARR DUARR
Zean mengeluarkan senjata apinya dari jendela. Ia mengincar ban mobil yang kini mengikutinya di belakang. Satu tembakan saja berhasil mengenai ban mobil musuh hingga akhirnya pecah. Mobil itu oleng dan menghadang mobil yang lain. Zean merasa puas ketika dalam hitungan detik saja musuhnya berhasil dikalahkan.
Clara melirik wajah Zean sambil menunduk. Melihat Zean ketika beraksi membuatnya terkesima. Sebelumnya ia belum pernah sangat dekat dengan pria tangguh seperti ini. Kebanyakan pria yang dekat dengannya berasal dari kalangan CEO.
"Zean. Wajahnya sangat tampan jika harus menjadi seorang pengawal," gumam Clara di dalam hati yang lagi-lagi masih berpikir kalau Zean mantan pengawal S.G.Group.
***
__ADS_1
Jam 3 Pagi.
Zean dan pengawalnya membahas sesuatu tentang geng mafia mereka. Namun Clara tidak lagi bisa mendengar dengan jelas cerita pria itu. Kedua matanya terpejam dan kini posisinya tertidur sambil bersandar. Sesekali kepalanya terjatuh dan bersandar di bahu Zean.
"Bos, apa yang akan kita lakukan dengan wanita ini? Kita tidak bisa ke bandara. Sepertinya mereka sengaja mengunci kita agar bertahan di kota ini."
Zean yang terus saja menyingkirkan Clara hanya bisa mendengus kesal. "Bersama dengannya beberapa jam saja sudah membuatku lelah. Aku ingin segera memulangkannya ke negara asalnya."
Tiba-tiba pengawal itu memberhentikan mobilnya. Clara yang baru saja di dorong oleh Zean harus terjungkal ke depan. Kepalanya sakit karena terbentur kursi depan. Zean yang menyaksikan hal itu bukan bersalah justru tertawa.
"Au, kenapa kau menganiayaku saat aku sedang tidur?" Clara mengusap kepalanya yang memar.
Zean tidak tertarik menjawab. Ia melihat ke depan untuk memeriksa sebenarnya apa yang sudah membuat bawahannya berhenti secara mendadak.
Sebuah mobil hitam menghadang jalan. Tidak hanya itu saja. Beberapa detik setelahnya, rombongan pria bersenjata muncul dan mengepung mobil Zean. Mereka semua menodongkan senjata api. Tidak memberi celah sedikitpun kepada Zean untuk kabur lagi.
"Bos, bagaimana?"
Zean masih diam untuk memikirkan cara kabur. Sedangkan Clara, ia kembali menunduk tanpa di suruh. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Zean yang lagi berkosentrasi mengeryitkan dahi melihat tingkah laku Clara.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bersembunyi!"
"Siapa yang menyuruhmu bersembunyi?"
Clara mengedipkan matanya berulang kali dengan wajah bodoh. Ia tersenyum setelahnya sebelum duduk kembali.
Zean keluar diikuti pengawalnya. Clara yang mau menjawab 'Ya' saja tidak sempat lagi.
"Sebenarnya pria seperti apa dia?" Clara bersandar untuk menjadi penonton. Ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika situasinya sudah seperti ini.
"lascia andare quella donna e sarai libero! (Lepaskan saja wanita itu, maka kau akan bebas!"
"No! Lei è mia (Dia milikku!)"
"Sei in pericolo (Kalian dalam bahaya)"
"Non mi interessa (Aku tidak peduli)"
Lawan bicara Zean mulai geram. Padahal pasukannya sudah menodongkan senjata api seperti itu. Tapi, Zean tidak terlihat takut. Bahkan menantangnya dengan wajah yang tenang. Lawan bicara Zean maju ke depan dengan wajah sangar. Ia sudah tidak sabar membunuh Zean detik itu juga.
"Jangan!"
Tiba-tiba seorang pria mencegahnya menyerang lebih dulu. Pintu mobil terbuka. Seorang pria dengan mantel cokelat keluar dari mobil. Pria yang tampan dengan usia yang setara dengan Zean. Dari wajahnya saja sudah terlihat jelas kalau dia orang Italia asli. Tatapannya sangat tenang. Bahkan ada senyum kecil di bibirnya.
"Mereka tamu kita. Jangan galak-galak kepada tamu kita!" Pria itu menatap wajah Zean.
"Tuan, selamat datang di rumah Cosa Nostra. Anda telah berada di wilayah kami. Di sini, aturan kami yang berlaku!"
Zean menghela napas. Ia tahu apa yang ia hadapi saat ini. Mungkin hari-harinya akan tidak tenang lagi jika ia terus mempertahankan Clara di sisinya.
__ADS_1
"Wanita yang kini ada di dalam mobil Anda, milik tuan kami. Serahkan dia kepada kami jika Anda tidak mau sengsara seumur hidup Anda."
"Ancaman yang sama! Apa kalian tidak memiliki kalimat yang lain. Yang sedikit berbeda dan berkesan?" jawab Zean masih dengan tenang.
Pria itu justru tertawa kecil mendengar jawaban Zean. "Baiklah, itu keputusan Anda. Jangan katakan kalau saya tidak memperingati Anda."
Satu petikan jari mengawali penyerangan. Zean segera membalas pukulan dari musuhnya. Bahkan pengawal Zean juga sudah babak belur hanya dalam hitungan detik saja. Bagaimana tidak. 1 lawan 10 tentu saja kalah walau ilmu bela diri mereka terbilang hebat. Zean yang menyaksikan pengawalnya sekarat menahan gerakannya dan mulai mengeluarkan senjata api. Ia menodongkan senjata itu ke arah pria yang menantangnya.
Bersamaan dengan itu, para musuh semakin semangat menembak Zean. Bagi mereka Zean hanya seekor semut yang tersesat. Sangat mudah membunuhnya.
"Jangan!" Clara berteriak ketika melihat posisi Zean dalam bahaya. Wanita itu tidak tega jika melihat Zean di bunuh karena dirinya. "Tolong, lepaskan dia!"
Pria bermantel cokelat hanya tersenyum. "Silahkan masuk, Nona." Ia membuka pintu mobil agar Clara masuk ke dalam.
Dengan wajah sedih Clara menatap Zean. Zean yang belum terlihat menyerah sedang menunggu keputusan Clara. Ia mungkin akan benar-benar menyerahkan wanita itu jika wanita itu tidak lagi mau di selamatkan.
"Bunuh mereka." Sesuatu yang tidak terduga. Clara menembak ke sembarang arah. Tidak hanya menembak saja. Ia juga memberikan Zean senjata yang lebih besar dan pastinya lebih cepat untuk membunuh dibandingkan yang ia pegang saat ini.
"Kenapa kau diam saja. Serang!" teriak Clara lagi. Ia bersikap seolah dirinya adalah bos Zean.
Zean yang baru saja di buat kaget hanya bisa tersenyum. Ia menembak lawannya dengan senjata di tangan. Semua musuh terlihat kaget hingga tidak memiliki persiapan. Mereka tidak berani menyentuh Clara. Jika Clara sampai terluka, mungkin nyawa mereka taruhannya.
"Hhhhhhh, rasakan ini!" Clara yang terlihat seperti wanita jagoan mulai besar kepala. Padahal dari seratus peluru yang ia keluarkan hanya 1 atau dua musuh yang berhasil ia tembak.
"Mundur!" perintah pria mantel cokelat. Dia tahu kalau Clara kini mulai pintar dan tidak mudah ia tangkap. Maka dari itu ia butuh diskusi dengan big Boss untuk menangkap Clara.
Clara yang merasa menang bersorak kegirangan. "Hai, apa kalian takut? Kalian takut kalau peluruku ini merobek kulit kalian?"
Zean masih tetap waspada walau kini musuhnya mundur. Ia tidak mau ada penyerangan dadakan yang akan hadir ketika dia lengah.
"Tuan, lihatlah. Kita menang!" Clara menatap wajah Zean.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zean mulai tertarik.
Clara yang tidak lagi di panggil Nona oleh Zean menghentikan tawanya. Ia mengeryitkan dahi sebelum menjawab.
"Apa maksud Anda?"
"Mereka bukan orang biasa. Bagaimana mungkin wanita seperti Anda memiliki masalah dengan Cosa Nostra!"
Clara membisu. Ia menunduk seperti ada yang disembunyikannya. "Dia ingin aku menjadi istrinya!"
"Tidak! Saya kenal siapa pemimpin mereka. Dia tidak akan membuang waktunya untuk wanita!"
Clara mulai terlihat gugup. Ia tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya terjadi.
"Saya tidak akan menolong Anda lagi, jika Anda tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi."
"Maafkan saya, tapi saya belum siap menceritakan semuanya."
"Clara, katakan apa masalahmu dengan mereka agar aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
__ADS_1
Clara hanya bisa pasrah. Ia melirik pengawal Zean yang terluka sebelum mengangguk dengan wajah pasrah. "Baiklah. Aku akan katakan apa yang terjadi sebenarnya."