Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Firasat Buruk


__ADS_3

Leona berdiri di sebuah tebing yang dipenuhi banyak angin. Wanita itu mengitari tempat yang kini ia kunjungi. Wajahnya terlihat sangat bingung. “Zean, dimana kau?” ucap Leona pelan Wanita itu berjalan pelan untuk mencari keberadaan kekasihnya. Wajahnya terlihat bingung.


“Honey, aku di sini,” jawab Zean dari kejauhan. Pria itu merentangkan kedua tangannya dan mengukir senyuman indah. “Kemarilah,” ucapnya lagi.


Leona mengukir senyuman indah. Wanita itu berlari dengan kencang untuk memeluk tubuh kekasihnya. Ia sangat rindu. Leona tidak suka ada jarak seperti ini antara dirinya dan kekasih.


“Aku mencintaimu, Zean,” ucap Leona setelah tiba di pelukan Zean. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya ditubuh Zean dan memeluknya dengan sangat erat. Kepalanya sengaja ia benamkan untuk mewakili rasa rindunya.


Zean hanya diam. Pria itu mengeluarkan belati lalu menusuk bagian punggung Leona. Membuat Leona terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk memandang Zean dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa sakit di punggung begitu luar biasa. Tapi, tidak seimbang dengan rasa sakit di hatinya.


“Zean, apa yang kau lakukan? Kenapa kau berbuat seperti ini kepadaku?” ucap Leona pelan.


“Kau harus mati, Leona.” Zean melepas pelukan Leona. Pria itu mengangkat tubuh Leona dan meletakkannya di atas pundak kanan. Ia berjalan ke ujung tebing dengan sajian jurang yang cukup dalam. Tanpa peringatan dan kata-kata terakhir, Zean melempar tubuh Leona ke jurang tersebut.


Leona melebarkan kedua matanya. Kedua matanya menatap wajah Zean tanpa berkedip. Satu tangannya memegang hatinya yang terasa sangat sakit. Bibirnya mengukir senyuman kecil sebelum matanya terpejam.


.


.


.


Leona terbangun dengan napas yang terputus-putus. Mimpi itu seperti nyata. Bahkan rasa sakitnya masih bisa ia rasakan hingga ia saat membuka mata. Satu tangannya memegang pipi yang memang ada genangan air mata di sana.


“Mimpi itu? Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Leona pelan.


Leona memandang keadaan sekitar. Wanita itu tertidur di sofa yang sejak tadi ia duduki. Kwan juga masih di sana. Pria itu tertidur dengan lelap. Bahkan tidak lagi sadar dengan Leona yang baru saja melewati mimpi buruk.


Tiba-tiba ponsel Leona yang ada di atas meja berdering. Wanita itu meraih ponselnya dan melekatkannya di telinga. Kwan terbangun saat mendengar deringan ponsel Leona. Pria itu merentangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku.


“Ya, ma,” ucap Leona pelan.

__ADS_1


“Sayang, apa kau bisa pulang ke Sapporo secepatnya?” ucap Serena dengan wajah paik.


“Ada apa, Ma? Kenapa mendadak sekali?” Leona memandang Kwan. Pria itu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum.


“Mama tidak tahu sayang. Mama ingin memelukmu saat ini,” ucap Serena dengan suara sedih. Terdengar jelas kalau wanita itu sedang menangis di sana.


“Ok. Ma. Leona akan pulang bersama dengan Kwan. Mama jangan sedih lagi, ya. Apa Kak Aleo ada di sana?”


“Ya. Aleo dalam perjalanan. Sayang, kalau bisa detik ini juga kau berangkat.” Serena tidak lagi mau putri tercintanya mengulur waktu. Leona memandang jam yang masih menunjukkan pukul tujuh malam. “Ma, Leona akan berangkat jam sepuluh malam.”


“Baiklah, Sayang. Mama menunggumu di sini.”


Panggilan telepon itu terputus. Leona memperhatikan ponselnya dengan wajah bingung sebelum memasukkannya ke dalam tas. Leona ingin menemui Zean untuk memberi tahu kepergiannya ke Sapporo.


Leona masuk ke kamar untuk mandi dan membersihkan dirinya. Ia ingin segera bertemu dengan Zean.


Setelah beberapa menit di kamar, Leona keluar. Wanita itu terlihat segar dengan setelan gaun berwarna biru. Riasannya natural... Ada tas yang ia genggam di tangan kanan.


“Kak, mau kemana?” tanya Kwan penuh selidik.


“Kak, aku ikut,” teriak Kwan.


“Tidak usah. Hanya sebentar,” tolak Leona sebelum menutup pintu. "Sebaiknya kau atur jadwal keberangkatan kita."


Kwan mengangkat kedua bahunya sebelum menghela napas. “Jika ingin bertemu dengan pria itu juga tidak akan lama. Sebentar lagi kami akan kembali ke Sapporo,” gumam Kwan di dalam hati.


***


Leona mengatur pertemuan bersama dengan Zean di persimpangan jalan yang tidak jauh dari gedung hotel. Wanita itu berdiri di pinggiran jalan untuk menunggu Zean. Ia terlihat gelisah dan bingung. Masih terbayang jelas mimpi buruknya tadi. Wanita itu ingin menceritakan mimpi buruknya kepada Zean.


Tidak menunggu terlalu lama, Zean muncul. Pria itu turun dari dalam taksi. Ia mengukir senyuman sebelum membawa Leona masuk ke dalam. Satu tangannya merapikan rambut Leona yang berantakan.

__ADS_1


“Honey, ada apa? Wajahmu terlihat aneh,” ucap Zean pelan.


“Zean, malam ini aku ingin berangkat ke Sapporo. Apa kau bisa mengatur semuanya di sini?” ucap Leona cepat.


“Tentu saja. Itu sangat mudah,” jawab Zean dengan wajah yang tenang. “Tapi, ada syaratnya.” Zean mendaratkan satu kecupan di pipi Leona.


“Apa?” celetuk Leona cepat.


“Kau harus melihat kejutanku saat ini. Sebelum pergi, kau harus membawa kejutanku ini bersama denganmu ke Sapporo,” ucap Zean dengan suara pelan.


Leona mengukir senyuman. “Hmm, baiklah.”


Leona kembali ingat dengan mimpi buruknya. Wanita itu menatap wajah Zean sebelum mendaratkan kepalanya di pundak Zean. Ia bersikap sangat manja dan ingin selalu di sayang.


Zean mengukir senyuman sebelum mengusap lembut rambut Leona. Sesekali pria itu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Leona.


“Apa kau akan tega membunuhku?” ucap Leona tiba-tiba.


Zean mengentikan aktifitasnya dengan wajah kaget. Pria itu menatap wajah Leona dengan tatapan penuh tanya. “Apa maksudmu, Leona? Kenapa kau menanyakan hal aneh seperti itu.”


Leona menghela napas. Wanita itu memandang wajah Zean dengan saksama. “Aku habis mimpi buruk. Aku yakin, kau tidak akan tega melakukannya bukan?” ucap Leona dengan senyuman kecil.


Zean mengukir senyuman. Pria itu menggeleng pelan. “Aku tidak akan pernah membunuhmu. Aku akan membiarkanmu tetap hidup untuk menyaksikan peristiwa penting yang akan terjadi nantinya.”


“Peristiwa penting apa?” tanya Leona bingung.


Zean mendekatkan wajahnya. “Hari pernikahan kita,” bisiknya mesra.


Leona mengukir senyuman dengan wajah malu-malu. “Aku mencintaimu, Zean.”


Zean menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya. “Aku juga mencintaimu, Leona.”

__ADS_1


Zean memandang ke arah lain. Sorot matanya telah berubah. Ia mengukir senyum jahat. Pasukan miliknya sudah bersiap siaga di Sapporo. Bahkan pasukan tambahan juga sudah ia kerahkan untuk menyerang kediaman rumah utama Edritz Chen detik itu juga.


"Kau akan menyaksikan kehancuran keluargamu, Leona," gumam Zean di dalam hati.


__ADS_2