
"Apa kau senang?"
Clouse berjalan mengikuti seorang wanita cantik yang sedang berjalan di tengah-tengah kebun bunga. Lokasinya sangat indah. Ada banyak bunga tulip aneka warna yang sedang bermekaran di sana.
"Kau terlalu berlebihan. Kenapa kau menghancurkan istana Cambridge?" ucap wanita itu sambil memegang beberapa bunga yang bermekaran.
Clouse mengangkat kedua bahunya. "Agar kau bahagia. Bukankah kau bilang kau ingin melihat mereka hancur?" jawab Clouse dengan wajah yang sangat tenang. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di wajahnya. "Berulang kali aku gagal. Hari ini, ketika mereka di sibukkan dengan hilangnya Putri Katterine. Pengawalan istana Cambridge tidak begitu ketat. Hingga akhirnya aku bisa memasukkan orangku ke dalam istana. Kau tenang saja, Kerajaanmu tidak akan terlibat dalam hal ini. Aku memiliki banyak kartu untuk memenangkan pertarungan ini."
Isabel menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memandang ratusan bunga yang ada di hadapannya dengan senyuman kecil.
"Salah satunya?"
"Pertama. Aku berhasil mengumpulkan informasi kalau sebenarnya Raja Cambridge adalah ketua mafia yang pernah membuat kekacauan di Brazil. Apa kau tahu? Bahkan kekacauan itu membuat pemerintah Brazil rugi besar. Sayangnya orang yang tidak bersalah yang menjadi tersangka. Sedangkan pelaku aslinya harus bebas dan menjadi Raja."
"Cukup menarik," ucap Isabel sebelum melanjutkan langkah kakinya menelusuri kebun bunga.
"Bukan hanya itu saja. Selama ini kerajaan Cambridge terlibat dalam penyeludupan pasukan mafia di Inggris. Kau pasti tahu, sejak kejadian beberapa tahun yang lalu seluruh negara mulai bersikap waspada atas keberadaan geng mafia. Bahkan mereka membersihkannya secara tuntas. Tapi, kali ini sebuah fakta telah terungkap. Aku bisa menyeret mereka ke dalam jeruji besi secepatnya. Aku bisa berikan masalah ini kepada Agen FBI." Clouse memetik setangkai bunga tulip dan membawanya mendekati Isabel.
__ADS_1
Isabel menghentikan langkah kakinya ketika melihat Clouse berdiri di hadapannya. "Sebenarnya aku tidak terlalu suka melakukan semua ini. Aku hanya tidak ingin kau bersedih saja. Aku tidak tertarik mengurus hidup orang lain," ucap Clouse sambil memberikan bunga itu kepada Isabel.
Isabel mengukir senyuman kecil. Ia menerima bunga itu dengan ekspresi wajah bahagia. "Hentikan semua ini."
Clouse tercengang. Bukan seperti ini yang ia inginkan sejak awal. Clouse hanya ingin Isabel memintanya untuk menghancurkan keluarga Jordan lebih parah lagi. Bukan meminta untuk menghentikannya.
"Hentikan? Kau bercanda!" protes Clouse tidak terima. "Aku datang jauh-jauh hanya untuk menghancurkan mereka. Lalu kini dengan mudahnya kau bilang hentikan?"
Isabel mengangkat bunga tersebut di depan wajahnya. "Ya. Hentikan. Aku tidak suka ada peperangan. Karir ku sedang melambung tinggi. Aku tidak ingin semua hancur karena tindakanmu yang gegabah ini." Isabel melepas genggamannya hingga membuat bunga yang ada di genggamannya terjatuh di bawah. Setelah itu wanita itu berjalan pergi meninggalkan Clouse yang masih berdiri mematung dengan wajah bingung. "Oh ya. Satu lagi. Menghilanglah selama beberapa bulan. Jangan muncul di hadapanku apa lagi di negaraku."
Clouse mengukir senyuman kecil dengan gigi menggeram. "Aku di usir?"
***
Miller memandang wajah Clouse dengan tatapan yang sangat tajam. "Lalu sekarang bagaimana?"
Clouse baru saja menceritakan semua obrolan yang terjadi antara dirinya dan Isabel beberapa jam yang lalu. Sungguh keputusan yang sangat mencengangkan. Miller sendiri tidak menyangka kalau ia sudah salah langkah hingga terjebak dalam posisi seperti ini.
"Bersembunyi seperti sebelumnya," ucap Clouse dengan wajah yang santai.
__ADS_1
Miller mendengus kesal. "Lalu bagaimana denganku? Aku bisa di pecat dari pekerjaanku. Kau tahu? Mami akan murkah dan mengusirku dari rumah!" umpat Miller kesal.
Dibalik wajah tenang dan sangar milik Miller, memang ada wanita cantik yang selalu ia takuti. Siapa lagi kalau bukan Mommy tercinta.
"Maaf," ucap Clouse dengan wajah serius. Kini pria itu juga sangat frustasi. Ia juga tidak berniat kalau akan menyeret sahabat terbaiknya terjebak seperti ini. Jika Isabel tidak lagi mendukung keputusannya, cepat atau lambat. Clouse sendiri yang akan berada di dalam penjara.
"Maaf kau bilang. Kau menjebakku berulang kali. Pertama kau bilang kalau wanita yang aku culik adalah kekasihmu yang selingkuh dan sedang marah. Aku tidak menyangka kalau wanita yang kita culik adalah putri kerajaan Cambridge. Ok! Sampai di situ aku masih bisa tenang. Kau berkata melakukan semua ini demi wanita yang sangat kau sayangi. Karena tidak ingin kau terluka, aku ikut melindungimu. Sekarang, setelah kita berada di tengah jalan ... kau bilang mundur saja dan kita menghilang. Apa kau berpikir dulu sebelum mengatakannya?" protes Miller dengan wajah kesal. Bahkan pria itu tidak lagi sanggup memasang wajah yang tenang. "Wanita itu sudah melihat wajahku. Mereka bisa menyebarkan fotoku dan merusak masa depanku. Habislah aku." Miller mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
Clouse duduk di kursi dengan kepada yang bersandar. Ia memandang langit-langit kamar dengan wajah bingung. "Kita akan hadapi, jika mereka datang untuk balas dendam."
"Wow, ide yang bagus! Kau memang sahabat yang selalu memiliki ide yang brilian. Kenapa tidak kau katakan saja untuk menemui mereka dan minta maaf kepada mereka?" ucap Miller dengan penuh penekanan. "Berapa nyawa yang sudah kau habiskan karena ledakanmu itu! Kau bahkan merusak sebuah istana. Bayangkan Clouse. Istana! Sebuah rumah megah yang dilindungi negara!"
"Jika kau tidak mau membantuku. Aku juga tidak akan memaksa. Aku akan melakukan semuanya sendiri. Sejak dulu seperti ini pekerjaanku. Membunuh dan menghancurkan. Tidak ada yang sulit bagiku," ucap Clouse dengan wajah sombong. "Aku akan menghilang selama beberapa bulan. Aku akan kembali setelah siap untuk menghadapi mereka. Setelah hari itu tiba, aku akan menghancurkan semua orang yang ingin membunuhku."
Miller memandang kepergian Clouse. Memang seperti itu sahabatnya. Muncul secara tiba-tiba dan menghilang sesuka hatinya juga.
"Aku tidak menyangka kalau bisa terjebak dalam masalah serumit ini," protes Miller di dalam hati. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia mengeryitkan dahi saat melihat panggilan teleponnya dari wanita yang sangat ia sayangi.
"Kakak, Mommy menyuruhmu untuk kembali. Jangan terlambat ya. Hari Minggu, sebelum jam makan malam kau harus sudah datang."
__ADS_1
"Ya. Aku akan pulang," ucap Miller sebelum memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu memutar-mutar mutar ponsel miliknya sambil membayangkan wajah adik yang sangat ia cintai.
"Cepat atau lambat, aku pasti bertemu dengan pria itu lagi. Pria itu akan datang menemuiku untuk membalas perbuatanku karena menculik adik kandungnya," gumam Miller di dalam hati. "Kenapa aku seceroboh ini! Seharusnya sejak awal aku menyelidiki dulu rencana Clouse!"