Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Cemburu Jordan


__ADS_3

Leona tidak lagi  mau memberikan Zean kebebasan begitu lama terhadap bibir miliknya. Baru saja beberapa detik bibir mereka bersentuhan, Leona sudah mendaratkan tendangan pada bagian perut Zean.


Bahkan Leona tidak memberikan kesempatan kepada Zean untuk mencicipi bibirnya. Hanya bersentuhan beberapa detik saja, sudah ia buat terlepas lagi. Wanita tangguh itu juga memukul wajah Zean dengan tangannya yang sejak tadi terkepal kuat. Tidak hanya sekali. Hingga berulang kali dan berhasil mengeluarkan darah di sudut bibir Zean.


“Jangan samakan diriku dengan Leona yang dulu kau kenal. Kita tidak lagi sepasang kekasih, Zean. Saat ini kita adalah musuh. Kau tidak perlu mengatakan apapun dan melakukan apapun kepadaku. Begitu juga denganku. Hanya ada satu yang bertahan di antara kita nantinya. Kau atau aku,” ucap Leona dengan sorot mata yang sangat tajam.


Zean mengukir senyuman sambil mengusap bercak darah yang keluar dari sudut bibirnya. Pria itu tertawa riang seperti orang gila. “Kita bermusuhan? Sejak kapan, Honey?” tanya Zean dengan suara merendah. “Honey, selamanya kau akan tetap menjadi kekasihku. Wanitaku. Aku mencintaimu, Honey. Sangat-sangat mencintaimu.”


Leona semakin geram mendengar perkataan Zean. Wanita itu melayangkan satu tamparan keras di wajah Zean. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan Zean siang itu.


Zean mengukir senyuman lagi. Pria itu mengambil pistol dari pinggangnya sebelum menarik tangan Leona. Ia memberikan senjata api itu kepada Leona. Menodongkan ke arah tubuhnya sendiri. “Kau ingin membunuhku? Baiklah, lakukan sekarang. Aku sudah siap jika harus mati di tanganmu, Leona. Mungkin kematianku bisa menembus rasa bersalahku selama ini. Aku juga tidak sanggup hidup jika kau tidak ada lagi di sisiku,” ucap Zean dengan wajah memohon. Memang siang itu, sorot mata dan ekspresi wajah Zean sangat menyayat hati. Siapa saja yang memandangnya mungkin akan merasakan tidak tega. Termasuk Leona.


“Aku memang ingin membunuhmu, Zean. Tapi tidak secepat ini. Aku ingin kau menderita dan merasa bosan dengan hidup ini. Karena membunuh yang paling kejam adalah melukai perasaan seseorang. Saat perasaanmu terluka, maka di saat itu kau merasa tidak lagi memiliki semangat untuk hidup,” gumam Leona di dalam hati.

__ADS_1


“Kenapa Leona? Kau tidak mau membunuhku? Kau masih cinta padaku hingga tidak tega melakukan hal ini kepadaku?” ucap Zean lagi.


Leona menarik senjata api itu. Ia memberikannya kepada Zean. Bibirnya mengukir senyuman. “Memiliki orang tua adalah hal yang sangat membahagiakan. Kau bisa bermanja dan mendapatkan perlindungan darinya tanpa di minta. Bukan hanya itu, kau juga bisa mendapat pelukan hangat dan kasih sayang sejak kecil,” jawab Leona dengan suara pelan. "Bukan dengan senjata ini aku membunuhmu. Aku masih memesan senjata khusus yang nanti akan aku gunakan untuk membunuh dirimu, Zean," sambung Leona lagi.


Zean membuang tatapannya. Pria itu mengepal kuat senjata api miliknya sebelum membuangnya sembarangan. Jawaban dari Leona seperti sebuah sindiran untuk dirinya. Pria itu tidak lagi tahu harus berbuat apa untuk meluluhkan hati Leona. Sudah segala cara ia lakukan namun tidak ada tanda-tanda kalau Leona akan menurut dan kembali kepadanya.


“Ok. Aku sudah terlambat. Aku ingin menemui seseorang. Sebaiknya kau jaga dirimu baik-baik, Zean,” ucap Leona dengan senyuman menghina. Wanita itu berjalan ke arah mobil. Ia terlihat sangat puas karena sudah mengatakan kalimat menyakitkan seperti itu kepada Zean.


Zean yang masih berdiri di sana, terlihat sedih. Ia memandang kepergian Leona hingga mobil wanita itu menjauh.


Seorang pria berjas hitam berjalan mendekati posisi Zean. Pria itu sama dengan pria yang tadi di markas memberikan senjata kepada Zean. Pria itu membungkuk hormat sebelum mengatakan kabar terbaru yang ia dapatkan.


“Bos, kami berhasil mendapatkan informasi mengenai pemimpin Queen Star. Besok ia akan mengadakan pertemuan di sebuah perusahaan. Kita bisa mengatur strategi untuk menyerangnya besok,” ucap pria tersebut dengan sorot mata yang sangat bahagia. Setelah berjam-jam ia berjuang keras untuk mendapatkan informasi mengenai pemimpin Queen Star, akhirnya membuahkan hasil. Walau ia tidak berhasil mendapatkan wajah wanita yang memimpin Queen Star tersebut.

__ADS_1


Zean mengangguk pelan. “Siapkan semuanya. Aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri besok,” ucap Zean dengan sorot mata yang tajam. “Setelah membunuh wanita sialan itu, Aku akan memikirkan cara lagi untuk membujuk Leona agar kembali ke dalam hidupku,” gumam Zean di dalam hati.


Hati Zean sangat bahagia. Baginya, kali ini ia pasti akan menang. Tidak pernah terbayangkan apa yang terjadi dengan Zean besok ketika ia mengetahui kalau Leona adalah wanita yang memimpin geng mafia berbahaya tersebut.


***


Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga kiri. Wajahnya terlihat sangat emosi. Ya. Mungkin rasa cintanya sudah semakin besar terhadap Leona hingga rasa cemburu itu juga sulit untuk dikendalikan. Memang sejak awal, Jordan telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Aku mau kau menyelidiki kehidupan pria itu. Aku mau hasilnya secepat mungkin. Aku ingin tahu, apa tujuan Leona berada di Meksiko dan ada hubungan apa ia dengan pria itu,” ucap Jordan dengan wajah kesalnya. Bahkan napasnya masih memburu cepat dan tidak karuan.


Setelah memberi perintah kepada bawahannya, Jordan mematikan ponselnya. Melemparkan ponselnya begitu saja ke dashboar mobil. Namun, baru beberapa detik saja ponsel itu terletak, tiba-tiba saja ponselnya kembali menyala.


Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu mengambil ponselnya lagi. Ia mengeryitkan dahi saat melihat nama wanita yang memang sangat ia sayangi dan sangat ia pedulikan selama ini. Tiba-tiba saja wajahnya yang semula menyeramkan dan sangat dingin itu berubah dalam hitungan detik saja. Kini Jordan kembali mengukir senyuman indah.

__ADS_1


Jordan segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Ia bahkan menghentikan laju mobilnya agar kosentrasinya hanya terpusat pada suara lawan bicaranya di ponsel.


“Katterin, apa kau merindukanku?” ucap Jordan dengan senyuman penuh arti.


__ADS_2