
"Leona, apa kau tidak mau melihat hadiah dariku?" tanya Jordan dengan wajah yang serius.
Leona mengukir senyuman. Wanita itu bergelayut manja di lengan Jordan. "Ini hadiah terindah yang pernah aku dapatkan. Aku tidak ingin menjadi wanita yang serakah," jawab Leona dengan senyuman. Ia memperhatikan cincin yang tersemat indah di jemarinya.
"Tidak tidak. Cincin itu bukan hadiah untukmu. Lebih tepatnya hadiah untukku. Aku orang yang paling bahagia hati ini," tolak Jordan sambil menghentikan langkah kakinya. Pria itu menarik tubuh Leona agar berdiri di hadapannya. "Sekarang, pejamkan matamu. Kau harus melihat hadiah ulang tahun yang sudah aku persiapkan untukmu. Aku tidak tahu kau suka atau tidak."
"Aku suka," jawab Leona cepat.
Jordan tertawa kecil. "Bahkan kau belum melihat hadiahnya," ucap Jordan tidak percaya.
"Apapun yang kau berikan, aku akan menerimanya dengan hati yang bahagia," jawab Leona dengan wajah cerianya.
"Hmm, baiklah." Jordan melekatkan dahinya di dahi Leona. "Aku sangat mencintaimu, apa bisa kita kabur dari sini? Sekarang?" bisik Jordan mesra.
Leona mengeryitkan dahinya. Ia terlihat curiga dan menatap mata Jordan dengan tatapan menyelidik. "Hei Pangeran, apa yang kau pikirkan?"
Jordan tertawa geli melihat reaksi wajah Leona kala itu. "Tentu saja menunjukkan hadiahmu. Memang apa yang kau pikirkan? Kau berharap lebih?" ledek Jordan dengan senyum menyeringai.
"Jordan, kau memang menyebalkan. Baiklah, aku juga sudah tidak sabar untuk melihat hadiahku," ucap Leona penuh semangat.
"Oke, pejamkan matamu dan ikuti langkah kakiku," ajak Jordan sambil menutup kedua mata Leona dari belakang.
Jordan membawa Leona menuju ke halaman depan. Pria itu terlihat percaya diri kalau Leona pasti akan menyukai hadiah yang ia berikan. Setelah melihat hadiah yang telah ia siapkan sudah ready di depan sana, Jordan menghentikan langkah kakinya.
"Jangan di buka dulu matanya," bisik Jordan memperingati.
"Baiklah," jawab Leona dengan senyuman manis.
Jordan memandang wajah Leona dengan saksama. Walau sudah berulang kali memandang wajah Leona hati ini, tetap saja ia tidak pernah bosan untuk menatapnya lagi dan lagi.
__ADS_1
"Jordan, berapa lama lagi?" tanya Leona ketika Jordan tidak kunjung memberi perintah.
Ya, sekarang."
Leona membuka kedua matanya secara perlahan. Ia terlihat kaget ketika melihat sebuah mobil sport terparkir di sana. Sebuah hadiah yang tidak di sangkak-sangka oleh Leona sebelumnya.
"Mobil?" celetuk Leona tidak percaya.
"Daddy bilang kalau wanita tangguh sangat suka hadiah mobil," ucap Jordan dengan debaran jantung yang tidak tenang. Ia takut Leona tidak suka dengan mobil pilihannya.
Leona memandang wajah Jordan dengan senyuman bahagia. Ia memeluk pria itu dengan suka cita. "Terima kasih, aku sangat bahagia hari ini. Aku suka dengan mobil ini," ucap Leona penuh semangat.
"Benarkah?" tanya Jordan untuk kembali memastikan. Leona mengangguk cepat. "Baiklah, apa kau mau mencobanya?" Jordan memamerkan kunci mobil itu dihadapan Leona.
Leona merebutnya dengan segera. "Baiklah, ayo kita coba mobil barunya. Sayang, duduklah di bangku penumpang. Biar aku yang mengambil alih kemudinya," ucap Leona penuh bahagia.
Leona duduk di jok kemudi dengan wajah berseri. Ia menghidupkan mobilnya dan siap untuk melakukannya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli kini posisinya ia belum mandi dan masih pakai baju tidur. Ia terlalu terbawa suasana hingga tidak sadar dengan kebersihan dirinya sendiri.
"Oke, let's go!" teriak Leona kegirangan. Ia ingin membawa mobil itu berputar-putar sebelum akhirnya nanti pulang dan mandi.
Jordan terlihat bahagia ketika melihat senyum Leona tidak kunjung luntur sepeti itu. Hari ini adalah hari terindah dan hari terbaik selama ia mengenal Leona. Jordan sendiri tidak menyangka kalau hari seperti ini akhirnya tiba dan berbuah sangat manis.
***
Beberapa saat kemudian, Leona sudah puas balapan di lapangan yang luas. Mereka kini sudah tiba di rumah. Leona sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Sedangkan Jordan, pria itu duduk di sofa yang ada di kamar Leona sambil mengotak-ngatik ponselnya. Hingga detik ini ia belum sadar dengan kabar adiknya. Pangeran Cambridge itu terlalu fokus dengan Leona hingga tidak sempat menanyakan rencana yang pernah di buat Katterine dan Miller seminggu yang lalu.
__ADS_1
Leona keluar dari dalam kamar mandi dengan gaun yang sangat indah. Wanita itu mengukir senyuman manis sambil memandang wajah Jordan. "Bagaimana?" tanyanya menagih pendapat Jordan.
Jordan mematung melihat penampilan Leona. Pria itu sedikit bingung saat ini. Leona memakai pakaian yang begitu pendek. Ia tidak suka melihat tubuh wanitanya di pandang semua orang. Walau itu saudara mereka sendiri.
"Baby girl, apa ada baju yang lain?" tanya Jordan dengan suara hati-hati. Ia tidak ingin Leona tersinggung.
"Tapi ini baju yang dipilihkan mama. Apa ini jelek?" Leona menunduk dan memperhatikan penampilannya lagi. Ia memeriksa setiap detail baju yang ia kenakan. Leona merasa tidak ada salah saat itu.
Jorda diam sejenak. Ia berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Leona siang itu. "Tidak, ini sangat bagus. Tapi, aku sudah memesan baju untukmu," ucap Jordan asal saja sambil memasang wajah sedih.
"Benarkah?" tanya Leona tidak percaya.
Jordan mengangguk pelan. "Sebentar, biar aku hubungi dulu pihak butiknya. Kenapa mereka tidak juga sampai," ucap Jordan dengan alis saling bertaut. Pria itu bersikap dengan sangat tenang hingga membuat Leona percaya dengan apa yang ia katakan.
Jordan menekan nama Oliver. Tidak ada yang bisa membantunya di saat kondisi mendesak seperti ini. Jordan memandang wajah Leona lagi sebelum melekatkan ponselnya di telinga.
"Gaun putih yang aku pesan, kenapa hingga sekarang belum sampai di rumah utama keluarga Tuan Daniel Edritz Chen. Aku tidak mau tahu, dalma 15 menit, aku mau gaun itu ada di hadapanku!" Jordan memutuskan panggilan telepon ya secara sepihak sebelum lawan bicaranya mengeluarkan kata. Pria itu segera memasukkan ponselnya agar Leona tidak mencurigainya.
"Baiklah, aku akan memakai baju yang kau pesan saja," ucap Leona dengan senyuman.
Jordan mengusap pipi Leona dengan senyuman mengembang. "Semoga saja Oliver mengerti dengan apa yang aku butuhkan saat ini," gumam Jordan di dalam hati.
Di sisi lain, Oliver memandang layar ponselnya dengan tatapan bingung. Dalam 15 menit ia harus membawa sebuah gaun berwarna putih yang ukurannya pas dengan tubuh Leona. Satu perintah yang sangat-sangat sulit bagi seorang Oliver. Selama ini hidupnya selalu melakukan transaksi dalam bidang senjata dan minuman keras. Untuk pertama kalinya ia harus membeli sebuah gaun.
"Apa lagi sekarang!" umpat Oliver dengan mata terpejam. Pria itu segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Ia memandang wajah Katterine yang saat itu masih sendirian. Tanpa banyak kata lagi, Oliver menggenggam tangan Katterine dan membawanya pergi. "Ikut denganku."
"Ke mana?" celetuk Katterine bingung.
__ADS_1
"Beli gaun," jawab Oliver cepat.
Sambil berjalan, Katterine menyimpan seribu tanya di dalam hatinya. Wanita itu kembali menunduk dan memeriksa penampilannya. Tidak ada yang salah. Gaun yang ia kenakan tidak terlalu pendek. Ia sendiri bingung kenapa Oliver marah seperti itu.