Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 97


__ADS_3

Matahari bersinar dengan cerah pagi hari ini. Miller baru saja selesai mandi. Ia masih bertahan di rumah sakit untuk memastikan Bella baik-baik saja. Ketika Miller melihat ke arah tempat tidur, Bella sudah duduk di atasnya. Wanita itu terlihat bingung dengan lokasi tempat dirinya berada.


"Sekarang kau ada di rumah sakit. Dokter bilang kau harus di rawat satu malam agak kondisimu tidak lemah," ucap Miller yang seolah tahu apa yang dipikirkan Bella.


Bella hanya memandang wajah Miller sekilas sebelum memandang ke jendela. Ia kembali mengingat kejadian tadi malam. Pesta penuh bahagia yang ia bayangkan justru berakhir dengan kesialan.


"Seharusnya kita tidak bertemu lagi," ucap Bella dengan wajah sedih Seolah-olah ia menyesal bertemu lagi dengan Miller. Bahkan memutuskan untuk bertunangan dengan pria tersebut.


Miller tersenyum tipis. Seharusnya dirinya yang marah karena Bella memutuskan pertunangan dalam waktu 1 bulan. Tapi kini yang ia dapat justru sebaliknya.


"Apa yang kau pikirkan saat kau memutuskan untuk menjadikanku tunanganmu? Apa Kau pikir aku adalah pria yang tepat untuk menemani hidupmu? Bella kau pasti tahu kalau pertunangan adalah ikatan sebelum pernikahan. Kau yakin akan menjadi istriku?"


"Siapa yang ingin menjadi istrimu, Miller!" bantah Bella dengan volume tinggi. "Kita hanya bertunangan. Bukan menikah."


Miller semakin bingung. Ia berjalan mendekati Bella untuk menagih penjelasan wanita itu. Karena ulah Bella yang tidak tahu apa tujuannya itu kini dirinya jadi jauh dengan Letty.


"Bella, apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau melakukan semua ini?"


Bella menunduk sedih. "Perlindungan. Aku membutuhkanmu untuk melindungiku. Aku tahu kau seorang polisi yang hebat. Segala masalah pasti bisa kau atasi dengan mudah. Tapi kini benda yang seharusnya aku lindungi sudah tiada. Tidak lama lagi ... Bisnisku juga akan hancur."


"Benda?"


"Gelang itu, Miller! Gelangnya hilang. Kau tidak tahu ada berapa banyak uangku di dalamnya!" Bella terlihat kesal. Ia tidak bisa membayangkan kalau dalam hitungan jam ia akan mendapat kabar kalau dirinya akan bangkrut.


"Bella, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan membantumu. Tapi, sebelumnya aku ingin membuat kesepakatan denganmu. Jika aku berhasil membawa gelang itu kepadamu, apa kau mau membatalkan pertunangan kita?"


"Tentu saja. Aku juga tidak mau sampai menjadi istrimu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku merasa kita tidak akan pernah cocok. Tapi kau harus berjanji untuk melindungiku. Bukan satu dua orang yang menginginkan gelang itu. Ada banyak kriminal di luar sana yang ingin kaya mendadak. Hanya dengan satu langkah, mereka bisa menjadi kaya."


"Kau tahu kalau gelang itu sangat berharga. Kenapa menyimpannya hanya di sebuah ruangan seperti itu? Kenapa tidak membawanya kemanapun kau pergi?"


"Aku tidak suka modelnya. Terlalu kuno. Semua orang memandangku ketinggalan jaman jika aku memakainya di depan umum."


"Oke, deal. Kita sudah sepakat. Aku akan membantumu menemukan gelang itu. Saat aku sudah berhasil mendapatkannya, aku akan menemuimu. Untuk saat ini, sebaiknya kau istirahat saja di rumah."


"Baiklah. Aku juga tidak mau lama-lama ada di rumah sakit."


"Aku antarkan pulang. Setelah itu aku akan pergi mencari gelang tersebut. Aku juga butuh foto gelangnya agar tidak salah."

__ADS_1


"Aku akan mengirim foto nya nanti."


Miller kini bisa bernapas dengan lega. Tidak lama lagi semua masalah yang ia hadapi akan berakhir. Gelang itu ada sama Letty. Setelah Miller mengembalikan gelang itu kepada Bella, maka masalah antara dirinya dan Letty juga akan teratasi. Sekali jalan dua masalah dilewati.


"Sepertinya takdir masih berpihak padaku. Aku benar-benar beruntung. Mungkin karena aku pria yang tampan, maka dari itu takdir tidak mengizinkanku mendapat masalah yang sulit," gumam Miller di dalam hati dengan wajah penuh percaya diri.


***


Letty berjalan tertatih-tatih ketika ingin mandi. Tubuhnya terasa sakit semua akibat bertarung tadi malam. Penyerangan dadakan itu memang menyisakan luka di beberapa bagian tubuhnya. Beruntungnya ia membawa parasut dan bisa kabur.


Tadinya memang Letty ingin turun dari gedung itu dengan parasut. Menikmati keindahan dengan menggunakan parasut merupakan permainan menyenangkan yang ingin ia ulangi seperti saat ia kabur dari ruang perhiasan Bella. Sayang, ketika angin tidak terlalu kencang ia harus lompat tanpa strategi apapun. Untungnya dia masih selamat.


"Ah, sial. Luka ini kenapa sakit sekali." Letty memegang cermin kecil dan mengobati luka di wajahnya. Pukulan pria-pria itu tidak berhasil ia tangkis karena mereka keroyokan.


"Awas saja. Aku akan membalas perbuatan mereka lebih kejam dari ini. Jangan panggil namaku Letty jika mereka semua tidak mati di tanganku!" umpat Letty penuh dendam.


Letty kembali ingat dengan gelang yang ia curi. Untuk saat ini hal yang ingin ia lakukan adalah menyelidiki keistimewaan gelang tersebut.


"Gelang itu adalah tujuan utama mereka. Aku harus bisa mempertahankan gelang itu. Sepertinya menarik permainan kali ini," ujar Letty penuh semangat.


"Apa kabar? Kelihatannya kau tidak baik-baik saja? Apa kau terluka saat melompat dari jendela?" ledek Miller. Ia berpikir kalau luka yang di dapat Letty akibat melompat dari lantai 20 hotel yang di tempat Bella.


"Bukan urusanmu!" ketus Letty dengan wajah juteknya. Wanita yang membawa Miller memutuskan pergi setelah berpamitan dengan Letty.


"Kau masih marah padaku?" Miller duduk di sofa yang sama dengan Letty. Letty yang terlihat tidak suka mengambil bantal kursi sebagai pembatas antara dirinya dan Miller.


"Kenapa kau ada di sini? Apa kau mengikutiku?" tuduh Letty tanpa mau basa-basi.


"Kok tahu? Apa kau peramal?" jawab Miller mantap.


"Aku tidak sedang bercanda."


"Aku juga serius. Aku di kota ini karena mengikutimu. Tidak. Bukan mengikuti lebih tepatnya aku ingin bertemu denganmu."


"Kau ingin mengajakku menemanimu ke pesta Bella?" sambung Letty cepat.


"Letty. Aku tahu kau masih marah karena hal itu. Tapi, bisa tidak kita lupakan sejenak. Setelah masalah yang sekarang selesai, aku akan menerima hukuman yang kau berikan. Bagaimana?"

__ADS_1


"Tidak semudah itu," tolak Letty tidak setuju.


"Oke. Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi?"


Letty memandang wajah Miller sekilas sebelum beranjak. "Pergi dari sini!"


Miller menghela napas. Menghadapi wanita seperti Letty memang membutuhkan kesabaran ekstra. Miller tidak mau menyerah sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Apa gelang itu masih bersamamu?" tanya Miller dengan suara ragu-ragu.


Letty menahan langkah kakinya. "Tidak."


"Benarkah?" Miller terlihat panik. Rencana yang ia pikirkan ternyata tidak semudah itu. "Di mana gelang itu berada?"


"Mana aku tahu. Aku mencurinya karena ingin mendapatkan uang. Setelah berhasil mencurinya aku segera menjualnya," jawab Letty santai.


"Tapi aku harus mengembalikan gelang itu kepada Bella." Miller terlihat frustasi. Ia berpikir keras agar bisa mendapatkan gelang itu lagi


"Bella lagi Bella lagi. Apa yang ada dipikiran nya sekarang hanya Bella? Aku tidak akan mengembalikan gelang itu kepada wanita seperti dia. Walau harus bertaruh nyawa aku akan tetap mempertahankan gelangnya."


"Letty, apa kau tahu siapa yang membeli gelang tersebut?"


"Sepertinya aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Dalam bisnis kami, privasi pelanggan sangat berharga. Walau kau temanku, aku tidak bisa memberikan informasi pelanggannku padamu."


"Letty, please ...."


"Miller, aku masih banyak urusan. Apa kau bisa meninggalkan ruangan ini. SEKARANG!"


Miller terlihat tidak menyerah. Ia berjalan mendekati Letty untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk apa yang dikatakan Bella di rumah sakit tadi.


"Letty, kau harus mendengarkanku."


"Pergi! Jangan pancing amarahku, Miller." Letty berjalan pergi menuju ruangan lain. Wanita itu terlihat tidak peduli dengan apapun yang ingin dijelaskan Miller. Satu kali percaya dan kecewa sudah membuat Letty menutup hatinya untuk percaya yang kedua kalinya. Miller yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam memandang kepergian Letty.


"Sepertinya aku harus berjuang sendirian. Baiklah, aku akan meminta bantuan yang lainnya. Tapi, bagaimana kalau yang lain tahu kalau aku sudah mengecewakan Letty? Apa lagi Oliver. Bisa-bisa aku di bunuh olehnya." Miller mengacak rambutnya.


"Sepertinya aku memang harus berjuang sendirian. Baiklah. Tidak buruk. Setelah semua masalah antaraku dan Bella selesai, aku akan membujuk Letty. Aku yakin, di balik wajahnya yang galak masih ada kata maaf yang ia siapkan untukku."

__ADS_1


__ADS_2