Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Diam Membisu


__ADS_3

Leona terlihat sangat kesal ketika mendengar jawaban santai yang baru saja di ucapkan Jordan. Dengan gerakan cepat, wanita itu melayangkan tangannya yang sudah terkepal kuat ke arah wajah Jordan.


Tapi, dengan gerakan cepat. Oliver mencegahnya. Pria itu menahan gerakan Leona. Mencengkram tangan wanita itu dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. Kwan terlihat tidak terima saat melihat kelakuan Oliver. Pria itu segera menarik tangan Leona agar Leona kembali di sisinya.


“Jangan sentuh wanitaku!” ucap Kwan dengan tatapan yang sangat tegas. Pria itu memancarkan aura membunuh kepada Oliver. Sejak dulu, Leona seperti berlian yang sangat berharga bagi Kwan. Ia tidak suka ada pria asing seperi Oliver menyentuh tubuh kakaknya.


Jordan menaikan satu alisnya. Pria itu juga tidak terima saat mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Kwan. Ia berjalan mendekat untuk menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya. Merebutnya paksa dari genggaman Kwan.


Dari sisi yang tidak terlalu jauh, Letty menatap mereka berempat. “Mereka benar-benar bodoh. Mereka sepupu. Kedua orang tua mereka juga memiliki hubungan yang sangat baik sebelumnya. Tapi, sayangnya sesuatu terjadi hingga membuat hubungan itu rusak. Mereka tidak saling kenal. Sangat di sayangkan. Tapi, baguslah. Aku jadi bisa memanfaatkan situasi ini untuk memanfaatkan Leona,” gumam Letty di dalam hati. Wanita itu hanya diam di posisinya. Melipat kedua tangan dengan wajah yang sangat tenang.


Kwan menangkis tangan Jordan yang ingin merebut Leona. Pria itu menarik tubuh Leona dan meletakkannya di belakang tubuhnya. Kwan menjauhkan Leona dari jangkauan dua pria yang kini ada di hadapannya. Pria itu juga tidak segan-segan melayangkan pukulan kepada Oliver lebih dulu. Setelah pukulan itu berhasil mengenai perut Oliver, ia melayangkan tendangan ke arah Jordan.


Tapi, memang kewaspadaan Oliver tidak sama seperti Jordan. Jordan pria tangguh yang sangat waspada. Pukulan Kwan yang datang secara tiba-tiba bisa ia tebak. Dengan gerakan cepat, pria itu menghalangi pukulan Kwan agar tidak berhasil menyentuh bagian tubuhnya.


Leona tidak ingin diam saja. Melihat Kwan kesulitan bertarung dengan Jordan, ia juga maju dan menyerang Oliver yang terlihat lengah. Bersamaan dengan serangan yang dilakukan Leona. Seluruh pasukan Queen Star dan Gold Dragon juga melakukan pergerakan penyerangan. Suasana yang tadinya sunyi senyap itu telah berubah gaduh. Suara pukulan terdengar dimana-mana. Hanya Letty sendiri yang masih bisa tenang pada posisinya. Ia menjadi penonton di sana.


Jordan melihat Oliver yang bertarung dengan Leona. Pria itu tidak bisa kosentrasi dengan pertarungannya. Ia melintir tangan Kwan hingga membuat pria itu merasakan sakit bukan main. “Berikan padaku!” perintah Jordan kepada Oliver.


Oliver yang baru saja mendengar perintah Jordan menatapnya dengan tatapan kesal. Dengan gerakan menghindar, Oliver berjalan menghindar. Pria itu memberikan Leona agar menjadi lawan Jordan malam itu.

__ADS_1


Leona menatap wajah Jordan masih dengan tatapan kesal. Belum bertarung saja, Leona sudah yakin akan kalah dari Jordan. Memang semua sudah terbukti dari pertemuannya beberapa kali dengan Jordan selama ini. Walau sudah tahu akan kalah, tapi Leona tidak ingin menyerah begitu saja. Ia melakukan penyerangan lagi dan berjuang keras untuk menang.


Leona memutar tubuhnya dan mengangkat kakinya. Bersamaan dengan itu, ia mengambil belati yang terselip rapi di pahanya. Kakinya mengincar perut Jordan ia ingin mendaratkan tendangan di sana.


Entah malam itu Leona Sedang beruntung entah karena Jordan mengalah. Tendangan Leona tepat sasaran. Jordan bahkan sampai mundur beberapa langkah. Kekalahan pertama Jordan itu menarik perhatian Oliver. Pria itu berhenti sejenak hingga membuatnya lengah. Kwan memanfaatkan kesempatan itu. Pria itu menghajar wajah Oliver hingga membuat bercak darah dan kemerahan di wajah tampan pria tangguh itu.


Jordan memandang wajah Leona. “Leona, dengarkan aku dulu,” ucap Jordan di tengah-tengah usahanya membela diri.


Leona tidak lagi bisa berpikir jernih. Wanita itu melayangkan ujung senjata tajam itu ke arah wajah Jordan. Mengincar salah satu mata Pangeran Cambridge tersebut. Tangannya melayang dengan sangat ringan. Kedua mata Leona memandang Jordan dengan tatapan membunuh. Tidak ada rasa kasihan saat itu. Ia merasa di bohongi. Leona benci pria yang suka berbohong.


Oliver menghajar Kwan saat pria itu terus-terusan saja menghajarnya. Ia tidakingin terus-terusan kalah. Kali ini, Oliver mengeluarkan teknik bela diri andalannya. Satu tendangan ia lakukan dengan gerakan tiba-tiba. Kwan merasa sakit yang begitu luar biasa pada bagian perutnya. Pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Tenaga Oliver memang tidak bisa di remehkan.


“Aku memiliki alasan melakukan semua ini,” ucap Jordan dengan wajah tenangnya walaupun kini ada senjata tajam yang siap menusuk matanya. “Maafkan aku.”


Leona menarik belatinya. Ia mengurungkan niatnya untuk melukai mata Jordan. Wanita itu bahkan menghempaskan belatinya ke belakang. Ada wajah kesal bercampur emosi di sana. Wanita itu juga kecewa bukan main terhadap Jordan.


“Jangan pernah temui aku lagi. Jika kita bertemu secara tidak sengaja, sebaiknya kita terlihat seperti orang yang tidak saling kenal,” ucap Leona sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu memandang wajah Kwan sejenak sebelum menariknya agar berjalan ke arah mobil.


Letty yang saat itu sudah memiliki harapan besar terhadap kemenangannya, hanya bisa merasa kecewa. Ia mengepal kuat tangannya. Pergerakan yang dilakukan Leona membuat semua pasukan milik dua mafia itu juga menghentikan perkelahiannya. Tidak tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang mereka tahu, Big Boss telah melangkah mundur maka mereka akan mengikuti jejaknya.

__ADS_1


“Seperti ini gaya bertarung Big Boss Queen Star?” teriak Letty tidak terima saat Leona sudah memegang gagang pintu mobilnya.


Leona memandang wajah Letty sejenak sebelum  masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin banyak bicara. Kwan yang saat itu sudah babak belur juga tidak mau mengeluarkan kata lagi. Ia menurut dan masuk ke dalam mobil. Mengambil alih kemudi dan membawa Leona kembali ke markas dengan selamat.


Seluruh pasukan Queen Star juga masuk ke dalam kendaraan mereka. Sebagian yang naik sepeda motor sudah melaju cepat di depan mobil Leona. Letty terlihat semakin kesal.


“Kalian semua berhenti. Mulai sekarang, aku yang mengambil alih Queen Star. Bukan lagi wanita lemah itu!” teriak Letty dengan suara lantang.


Tapi, tidak ada satupun pasukan Queen Star yang mau mendengarkan perkataan Letty. Mereka lebih memilih untuk mengikuti Leona dan melindungi sang majikan. Bagi mereka, Letty bukan siapa-siapa. Hingga perintah wanita itu tidak harus di patuhi. Sejak awal memang Leona yang memberi perintah kepada mereka agar mereka menjaga Letty. Tapi, jika keadaannya sudah seperti ini. Queen Star tidak lagi mau menurut.


Oliver tertawa kencang saat melihat wajah kesal Letty. Baginya, mereka berempat tidak ada yang kalah. Justru Letty yang kalah malam itu. Wajah kesal Letty sudah cukup membuktikan kekalahannya.


“Letty, apa kau pikir kau bisa mengambil Queen Star begitu saja? Apa kau pikir pasukan mafia itu seperti pengawal bayaran? Mereka rela  mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi Big Boss. Kau lupa kalau Big Boss Queen Star, Eleonora. Bukan Letty!” tegas Oliver dengan tatapan tajamnya.


Jordan menghela napas untuk mengatur rasa sakit hatinya atas perkataan Leona tadi. Pria itu berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalamnya. Oliver yang melihat Jordan juga segera masuk ke dalam mobil. Pria itu mengedipkan sebelah matanya sebagai bentuk ledekannya terhadap Letty.


Letty semakin kesal. Wanita itu membuang tatapannya agar tidak melihat kepergian Oliver dan Jordan. Seluruh pasukan Gold Dragon juga pergi meninggalkan lokasi.  Membuat Letty sendirian di tempat sunyi tersebut.


“SHI*T!” teriak Letty kesal.

__ADS_1


__ADS_2