Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 34


__ADS_3

Di salah satu kamar hotel yang sama dengan kamar Jordan dan Leona, ada Lusya yang terlihat tidak tenang. Barang-barang yang ada di dalam kamar itu tidak lagi pada tempatnya. Bahkan beberapa botol minuman keras sudah ada di dalam kamarnya. Ia tahu kalau beberapa jam ke depan Leona tidak akan mengunjunginya hingga ia merasa punya banyak waktu untuk bertingkah sesuka hatinya.


Malam itu saat Leona membelanya dan menemaninya pulang ke kamar hotel, Lusya benar-benar percaya kalau wanita itu tidak mencurigainya. Ada rasa sedikit tenang di dalam hatinya. Walau jelas-jelas Jordan ingin membunuhnya.


"Aku harus memikirkan cara untuk menyelesaikan semua masalah ini," gumam Lusya di dalam hati.


Lusya mondar-mandir di dalam kamarnya dengan wajah bingung. Di tangannya ada sebuah ponsel yang ia genggam dengan begitu erat. Sambil sesekali memandang ke arah pintu, Lusya terlihat memikirkan sesuatu.


"Bagaimana bisa Pieter di tangkap. Bukankah dia pria yang hebat." Lusya merasa kalau ia akan kalah jika Pieter tertangkap dan tidak bisa bebas dengan sendirinya. Sementara Lusya sendiri tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menolong Pieter.


"Sepertinya aku harus mempercepat rencana ini sendiri. Ratu Emelie harus segera tewas. Dengan begitu semua rencana kami akan berjalan lancar." Lusya menekan nomor seseorang.


Selama ini sudah ada mata-mata yang ia persiapkan agar selalu ada di samling Emelie. Dengan bantuan Pieter, sangat mudah menyerupai wajah siapa saja yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Sebaiknya segera campurkan racun itu ke dalam minuman Ratu Emelie. Setelah kau memastikan kalau racun itu di minum hingga habis, pergi tinggalkan istana Cambridge secepat mungkin. Ingat, jika kau tertangkap maka tidak ada satu orangpun yang bisa menolongmu."


Lusya segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Ia tidak mau ada yang mendengar ucapannya. Lusya merapikan penampilannya di depan cermin sambil membayangkan wajah Jordan. Sebenarnya ia sangat mengharapkan kalau Jordan bisa menjadi miliknya. Sayangnya tidak ada harapan kalau pria itu mah mengkhianati sang istri.


"Aku masih memiliki seseorang yang bisa menolongku menyelamatkan Pieter." Lusya tersenyum penuh kelicikan. Ia segera mengambil tasnya dan membawanya pergi meninggalkan kamar. Walau di mata Lusya saat ini Leona masih baik dan percaya terhadapnya, tapi ia yakin cepat atau lambat wanita itu akan mengkhianatinya dan melukainya.


***


Di dalam ruangannya Katterine memandang wajah Oliver dan Roberto yang kini duduk bersebrangan di tempat tidurnya. Oliver ada di sisi kanan sedangkan Roberto di sisi kiri. Roberto terlihat sangat bahagia bisa mendapatkan maaf dari Katterine. Bagaimanpun juga penjelasan yang diucapkan Zeroun ada benarnya.


Zeroun sudah berpamitan untuk kembali ke Cambridge. Emelie tidak tahu kalau putri mereka mengalami semua hal ini. Zeroun tidak mau Emelie sampai khawatir hingga mengganggu kesehatannya yang memang akhir-akhir ini tidak baik.


"Roberto, kau bilang tidak tahu sedikitpun rahasia yang diinginkan Pieter. Lalu, kenapa kau dengan percaya diri ingin membantu dia mendapatkan informasi tentang Cambridge?". Katterine memandang wajah Roberto. Namun, karena saat itu ada Oliver yang ternyata sudah cemburu berat, Katterine memalingkan wajahnya dan memandang ke depan saja.

__ADS_1


"Putri, soal itu ... saya hanya modal percaya diri saja. Walau sebenarnya hingga sekarang saya penasaran sebenarnya apa rahasia yang dia inginkan."


Katterine memandang wajah Oliver. Ia memegang tangan pria itu agar tidak marah lagi.


"Berapa jam lagi kita berangkat? Tiba-tiba saja aku sangat mengkhawatirkan Mommy."


"Beberapa jam lagi setelah obatnya habis. Kondisimu juga tidak baik. Jika kau pergi dalam keadaan sakit itu sama saja membuat Ratu Emelie khawatir," ucap Oliver memberi pengertian.


"Tapi putri, Pieter pernah menyingung soal Jordan ... ehm maksud saya Pangeran Jordan."


"Apa lagi yang kau rencanakan kali ini!" ketus Oliver kesal.


"Maafkan saya Oliver. Masalahnya saya tidak tahu apa yang dia pikirkan. Saya bukan bos mafia seperti Anda. Saya hanya pria biasa yang berjuang demi cinta." Roberto memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Katterine semakin khawatir. Ia tidak mau kakaknya berada dalam bahaya. "Oliver, kirimkan orang untuk memastikan keadaan Kak Jordan dan Kak Leona baik-baik saja."


"Tenanglah. Mereka ada di Swiss. Dalam waktu dekat kita bisa memastikan keadaan mereka. Jangan khawatir lagi ya." Oliver sengaja mengusap lembut pipi Katterine di depan Roberto. Tidak tahu kenapa sejak tadi ia ingin membuat Roberto pergi meninggalkan mereka berdua. Hanya saja pria itu tetap bertahan di sana.


__ADS_2