
“Selamat datang Pangeran Jordan, senang bertemu dengan Anda lagi,” ucap Isabel yang tiba-tiba saja muncul di samping Jordan dan Leona.
Leona memandang wajah Isabel dengan sangat serius. Ia memperhatikan penampilan putri kerajaan itu dengan saksama. “Sayang sekali wanita secantik dia harus memiliki sifat yang jahat,” gumam Leona di dalam hati.
“Selamat ulang tahun, Putri Isabel. Senang bertemu dengan Anda,” jawab Jordan dengan sopan.
Isabel memandang wajah Leona dengan tatapan menyelidik. Ia ingin sekali melihat wanita yang menjadi saingannya itu. Sayangnya, wajah asli Leona terhalang topeng hitam yang ia kenakan.
“Pangeran, apa Anda tidak ingin memperkenalkan wanita yang ikut bersama dengan Anda ini?” ucap Isabel dengan senyuman manis di bibir.
Jordan memandang wajah Leona dan mengukir senyuman. “Putri, saya sendiri lupa siapa namanya. Selama ini saya memanggilnya dengan sebutan Baby girl. Bukankah begitu, Baby girl?” ucap Jordan dengan mesra. Pria itu merangkul pinggang Leona untuk memamerkan kemesraannya.
Leona mengukir senyuman. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di dada bidang Jordan untuk membuat Isabel cemburu. “Yes, Baby.”
Isabel menahan napasnya yang mulai terasa sesak. Wanita itu mengukir senyuman agar tidak terlihat kalau sedang kesal. “Pangeran, apa boleh saya membawa wanita Anda ini ke suatu tempat? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.”
Jordan terlihat ragu. Ia memandang wajah Leona dengan saksama. “Aku akan selalu ada di sampingmu,” bisik Jordan mesra.
__ADS_1
Leona mengukir senyuman kecil. “Apa kau mengkhawatirkanku? Dia hanya wanita lemah. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padanya,” jawab Leona dengan suara yang sangat pelan. “Satu kehormatan bagi saya, Putri,” jawab Leona.
“Baiklah. Mari ikut saya,” ajak Isabel sembari memutar tubuhnya. Wanita itu membawa Leona berjalan menuju ke arah tangga.
Jordan hanya diam sambil memandang wajah Oliver yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri. Pria itu pergi ke arah lain yang berlawanan dari arah yang di tuju oleh Leona.
Oliver berjalan mendekati Katterine yang berdiri sambil mengamati satu persatu wajah semua orang yang ada di sana. Tidak ada satupun wajah Clouse di sana. Wanita itu terlihat sangat kecewa karena kali ini ia tidak bisa membantu Jordan dan Oliver.
“Apa kau melihatnya?” tanya Oliver sambil memandang wajah Katterine. Katterine sendiri tidak mau menjawab. Wanita itu hanya menggeleng pelan dengan wajah kecewa. Oliver mengukir senyuman. “Tidak masalah.” Oliver memandang wajah Letty dan mengangguk pelan. Pria itu memberi kode kepada Letty agar segera pergi dari sana karena tidak lama lagi mereka akan melakukan penyerangan besar-besaran.
Isabel terlihat tidak peduli. Berbeda dengan Leona yang melirik Zean dengan tatapan yang sangat tajam. “Kenapa dia bisa ada di sini?”
Zean mengangkat kepalanya ketika Leona sudah berada di belakangnya. Pria itu memutar tubuhnya lagi untuk memastikan kalau wanita yang baru saja lewat adalah Leona. “Mungkin khayalanku saja karena sangat merindukan Leona,” gumam Zean di dalam hati.
Setelah tiba di lantai atas, Isabel berdiri di ujung tangga. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang wajah Leona. Ada tatapan tidak suka di wajahnya. Isabel melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memperhatikan penampilan Leona dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Putri, untuk apa kita ke sini? Bukankah semua orang berkumpul di bawah?” tanya Leona sambil memandang wajah Isabel.
__ADS_1
“Hei, Nona. Apa kau takut? Kau mau pergi ke mana?” ucap Isabel dengan senyum mengembang di bibirnya. Hingga detik itu Isabel belum sabar kalau wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah wanita lemah yang bisa ia tindas dengan begitu mudah.
Leona memandang wajah Isabel. Ia mengukir senyuman kecil. “Putri, kelihatannya Anda sangat tertarik dengan saya?” ucap Leona dengan suara yang pelan. “Apa kita memiliki masalah sebelumnya? Bukankah ini pertama kalinya kita bertemu,” ucap Leona lagi.
Isabel menarik tangan Leona dengan kasar dan menghempaskannya ke sisi pinggiran tangga. Ia membuang napasnya dengan kasar. “Ya. Memang ini pertemuan pertama kita. Tapi, saya tidak suka jika Anda dekat-dekat dengan Pangeran Jordan. Bukankah Anda hanya wanita biasa? Sebaiknya Anda sadar diri. Anda bukan siapa-siapa di sini. Jika tanpa ajakan Pangeran Jordan, Anda tidak mungkin ada di istana megah seperti ini. Wanita kampungan!” sindir Isabel lagi. Ia terlihat sangat puas karena berhasil mencaci dan menghina wanita yang di bawa Jordan hingga seperti itu. “Oh, ya. Satu lagi. Pikirkan nyawamu! Jika kau masih ingin hidup, sebaiknya kau mundur dan jangan dekati Pangeran Jordan lagi!” ancam Isabel dengan tawa kecil di bibirnya.
Leona menggeram. Kedua tangannya terkepal kuat. Ingin sekali detik itu ia melayangkan tamparannya di wajah Isabel yang berias. Tapi, ia masih menahan dirinya. Hingga detik ini, Kwan belum juga memberi petunjuk akan keberadaan Clouse. Leona tidak ingin gegabah hingga membuat semua rencana mereka gagal.
“Putri, Anda memiliki wajah yang sangat cantik. Tapi, sayang sekali sifat Anda sangat jahat. Apa Anda sangat suka membunuh? Apa Anda membunuh dengan tangan Anda sendiri?” ucap Leona dengan suara penuh penekanan. “Jika Anda masih menyuruh orang lain untuk membunuh musuh Anda, jangan pernah bersikap sombong seperti ini. Bisa saja suatu saat nanti Anda yang menjadi korban selanjutnya!”
Isabel semakin emosi ketika wanita yang ia benci tidak juga takut dengan ancamannya. Wanita itu mengangkat tangannya dan siap untuk menampar wajah Leona. Tapi, bersamaan dengan itu, seorang pria muncul di lantai bawah dan berteriak kebakaran. Semua tamu undangan terlihat panik. Mereka pergi meninggalkan istana dengan segera untuk menyelamatkan diri. Leona mengukir senyuman kecil. Kali ini saatnya beraksi. Teriakan itu adalah teriakan kode untuk memulai aksi mereka.
“Sudah saatnya memberi pelajaran kepada wanita sombong ini!” umpat Leona kesal di dalam hati.
Putri Isabel terlihat ketakutan ketika ada yang berteriak kebakaran. Pestanya belum saja di mulai. Isabel tidak ingin pesta ulang tahun yang ia impikan ini gagal begitu saja. “Apa yang terjadi?” teriak Isabel dengan suara panik.
Leona mengulurkan kakinya di depan. Wanita itu menjegal Isabel agar wanita itu terjatuh. Ia sengaja memberi hukuman ringan kepada Isabel sebagai pembuka peperangan mereka saat itu.
__ADS_1