Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Berlibur


__ADS_3

Sekedar info, Natalie dan Kristal wajahnya mirip. Soal foto tadi malam, itu bukan brrti semua uda jodoh GT ya. Hanya sekedar foto aja pas teman dansa. Jadi jgn berpikir kalau jodohnya uda pas. 🤣🤣


Acara ulang tahun dan pertunangan Leona dan Jordan berjalan dengan lancar. Siang ini, Leona dan Jordan memutuskan untuk jalan-jalan ke London. Sudah beberapa hari ini, Leona ada di Cambridge.


Jordan membawa Leona ke Cambridge karena tidak ingin jauh dari Leona. Mereka juga akan mempersiapkan keperluan pernikahan mereka yang akan berlangsung 3 bulan lagi. Di mulai dari gaun, cincin, dekorasi. Semua yang berhubungan dengan pesta pernikahan.


"Jordan, kenapa kau membuka maskermu? Apa kau tidak takut ada yang mengenalimu? Bagaimana kalau mereka kenal denganmu?" Leona memandang beberapa pengunjung yang ada di hadapannya. Walau saat itu Jordan sudah sangat yakin kalau tidak akan ada yang mengenalnya di gedung itu, tapi tetap saja Leona merasa keberatan. Sunyi belum tentu tidak berpenghuni.


"Tidak, Leona. Aku sudah bilang kalau semua yang ada di gedung ini tidak akan mengenaliku," jawab Jordan penuh percaya diri. Pria itu mengukir senyuman sambil menarik pipi Leona. "Jangan cemberut."


Di belakang Leona dan Jordan, ada Katterine dan Oliver yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang. Mereka berdua hanya menjadi pengawal di belakang sepasang kekasih yang sedang mabuk cinta. Ada rasa iri di dalam hati Katterine. Wanita itu juga ingin diperlakukan seperti itu oleh Oliver. Tapi, saat acara pertunangan hingga detik ini pria itu masih tetap sama. Dingin seperti es di kutup.


"Kak, kau menyebalkan sekali! Jangan pamerkan kemesraanmu itu di hadapanku!" protes Katterine terang-terangan.


Leona dan Jordan menghentikan langkah kaki mereka. Memandang Katterine yang saat itu memasang wajah jutek.


"Katterine, maaf," ucap Leona dengan penuh rasa bersalah. Berbeda dengan Jordan. Pria itu justru menarik Leona dan memeluknya dari belakang. Ia memamerkan kemesraannya di hadapan Oliver dan Katterine.


"Memeluk wanita yang kita sayang rasanya sangat membahagiakan," ucap Jordan sambil memandang wajah Oliver sebelum memandang wajah Katterine lagi.


"Kak, Kau memang keterlaluan!" Katterine terlihat kesal. Wanita itu berjalan menuju ke arah toilet yang berada tidak jauh dari posisi mereka.


Oliver memandang kepergian Katterine. Ia sendiri juga tidak bisa mengikuti karena Katterine masuk ke dalam toilet wanita.


"Jordan, lepaskan. Aku ingin menemui Katterine," ucap Leona sambil berusaha melepas tangan Jordan dari tubuhnya.


"Sayang, Katterine memang seperti itu. Dia tidak marah. Sebentar lagi juga keluar," ucap Jordan dengan wajah santainya.


Oliver hanya diam dan mengatur napasnya. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat ini.

__ADS_1


Leona memutar tubuhnya dan berjalan cepat. Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang hingga melangkah mundur. Leona memegang dahinya karena kepalanya dan seseorang yang menabraknya saling berbenturan.


"Apa-apaan kau ini!" teriak wanita yang ada di hadapan Leona. Wanita itu terlihat marah dan emosi ketika kepalanya terasa sakit.


Leona mengangkat kepalanya. Ia memperhatikan wajah wanita yang kini berdiri di hadapannya. Wanita itu kaget bukan main ketika melihat wanita itu adalah orang yang sangat ia kenal.


"Lusya."


"Eleonora? Kamu Eleonora, Kan?"


Leona diam sejenak sambil mengingat wajah wanita yang kini berdiri di hadapannya. Hingga beberapa saat kemudian, bibir wanita itu mengukir senyuman mengembang. Ia sangat yakin kalau wanita itu bernama Lusya.


"Lusya?" ucapnya setengah histeria.


"Ya, Aku Lusya! Aaa ... Eleonora. I miss you so much." Tanpa menunggu lama lagi, wanita bernama Lusya itu memeluk tubuh Leona. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Saling melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.


"Eleonora, apa kau masih tinggal di Jepang?" Lusya menarik tangan Leona. Tanpa peduli dengan sosok pangeran tampan yang berdiri tidak jauh dari posisi Leona berada. Wanita itu menarik Leona ke arah kursi yang ada di dekat mereka dan mengajaknya duduk di sana.


Begitu juga dengan Leona. Untuk sejenak ia lupa dengan calon suaminya. Jordan hanya bisa membuang napas dengan kasar sebelum memandang wajah Oliver yang ada di sampingnya. "Sepertinya perkataanmu benar. Wanita adalah mahkluk Tuhan yang sulit untuk dipahami. Bisa-bisanya dia mengabaikan ku seperti itu."


Oliver menahan tawa sebelum memandang ke arah Leona lagi. Dua pria itu lebih memilih menjadi patung figuran di hadapan Leona dan Lusya.


"Aku sekarang sudah menetap di Jepang. Aku sudah lama meninggalkan bisnisku di Jerman. Bagaimana denganmu? Apa kau masih tinggal di Jerman?" Leona benar-benar tertarik untuk berbincang dengan Lusya. Jauh berbeda dari sikapnya selama ini yang selalu terkesan tidak peduli.


"Aku sekarang menetap di Inhgris. Aku akan menikah dengan pria Inggris," bisik Lusya dengan wajah malu-malu.


"Benarkah?" Leona terlihat sangat bahagia mendengar kabar pernikahan Lusya. "Kapan? Apa kau mau mengundangku?"


"Eleonora, kau satu-satunya teman sekelas di SMA yang tidak bisa aku temui. Saat ini aku sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu denganmu lagi." Lusya membuka isi tasnya. Ada puluhan undangan di dalamnya. Dengan wajah bahagia, ia memilih satu undangan bertuliskan nama Eleonora.

__ADS_1


Lusya memeriksa nama undangan itu lagi sebelum memberikannya kepada Leona. "Tiga hari lagi di Las Vegas," ucapnya dengan kedipan mata.


"Las Vegas?" celetuk Leona tidak percaya.


Lusya mengangguk cepat. "Aku akan melangsungkan pernikahan di sana. Kami sudah membangun rumah di Las Vegas. Jadi memutuskan untuk menikah di sana," jawab Lusya apa adanya. "Sebenarnya aku sangat suka kota ini. Tapi, suamiku lebih cinta Las Vegas."


Jordan menaikan satu alisnya ketika mendengar kata Las Vegas. Pria itu memandang wajah Oliver. "Apa Gold Dragon ada di sana?"


"Tidak, Pangeran. Tapi jika Anda meminta, saya bisa mengirim mereka agar membuat markas di sana," jawab Oliver dengan wajah santai.


Jordan menghela napas. "Ide yang bagus. Lakukan dari sekarang. Aku ingin pergi ke tempat yang sudah di jamin aman. Aku tidak mau Leonaku celaka dan terluka lagi."


"Baik, Pangeran." Oliver melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Ia memandang toilet yang sejak tadi dimasuki Katterine. Sudah hampir lima belas menit tapi wanita itu tidak kunjung keluar dari sana. Ada rasa khawatir di dalam hatinya. "Apa yang dilakukannya di dalam sana? Apa dia tidak bosan berada di ruangan sempit seperti itu?" umpat Oliver di dalam hati.


"Apa kau sudah menikah?" tanya Lusya dengan wajah ingin tahunya. Ia menyipitkan kedua matanya saat melihat cincin yang tersemat di jemari Leona. "Jangan membohongiku."


Leona tertawa kecil. Ia menggeleng pelan. Dari perbincangan yang sejak tadi di dengar Jordan, percakapan kali ini yang membuat Jordan semakin tertarik. Pria itu memasang telinganya dengan tajam agar bisa mendengar apapun obrolan antara Leona dan Lusya.


"Aku sudah tunangan," jawab Leona dengan wajah malu-malu. Wanita itu menyelipkan rambutnya di balik telinga.


"Benarkah?"


Leona hanya mengangguk. Lusya terlihat bahagia. Wanita itu melihat jam yang ada pergelangan tangannya. Ekspresi wajahnya berubah.


"Oke, aku sudah terlambat. Aku harus pergi." Lusya Tiba-tiba saja berdiri setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Leona, kau akan datang ke resepsi pernikahanku, kan?" tanya Lusya kembali memastikan.


"Ya, aku akan datang," jawab Leona mantap.


Lusya tertawa bahagia. "Dengan siapa?"

__ADS_1


__ADS_2